
Cerpen Dania Diniari
Surya namanya. Dia yang selalu mengisi benakku tiga tahun terakhir ini. Aku heran mengapa baru sekarang aku menyadari perasaan ini.
“Wah, enak dong di Jakarta cowoknya kan ganteng-ganteng. Kok kamu masih jomblo sih? Nyama-nyamain aja nih. Hehehe…” Entah aku harus senang atau tidak mendengar pertanyaannya barusan.
“Modal tampang doang tapi otaknya kosong. They aren’t my type, “ ujarku sambil nyengir ke arahnya.
“Yee dasar. Ya udah buruan gih, orang rumah udah pada nunggu nih.”
Saat ini kami berada di salah satu minimarket dekat rumah Surya. Bude Watiek, ibunda Surya, menyuruh kami membeli beberapa bahan untuk makan malam nanti. Keluarga besar kami sedang berkumpul di rumah Bude Watiek sekarang. Mumpung lagi liburan panjang, jadi kami semua bersilaturahmi ke rumah kerabat selama beberapa hari. Rumah Bude Watiek di daerah Kaliurang, Yogyakarta inilah yang selalu menjadi basecamp keluarga besar kami. Bude Watiek adalah kakak dari ayahku. Ya, Surya itu sepupuku. Mengapa aku menyukai sepupuku sendiri ya? Padahal perasaanku dulu terhadap Surya tidak ada yang istimewa. Malah, waktu masih di bangku sekolah dasar, aku sering sekali bertengkar dengannya. Ia kerap menjambak rambutku dan selalu membuatku menangis. Aku dan dia suka tersenyum geli saat mengingat konyolnya kami dulu. Tak kusangka ia akan tumbuh menjadi Surya yang tampan, ramah, dan idealis seperti ini. Ia berbeda sekali dengan teman-teman pria sebayaku di Jakarta. Meskipun terkadang konyol, ia memiliki pemikiran-pemikiran yang dewasa dan cenderung bijaksana. Ia selalu memiliki pandangan tersendiri pada masalah-masalah hangat di negeri ini. Terutama yang menyangkut Yogyakarta, kota yang amat dicintainya, dan Jakarta, kota yang sedikit dibencinya.
Surya memang tinggal di Yogyakarta dan aku tentu saja menetap di Jakarta. Usia kami sama. Meskipun tinggal berjauhan, kami sering sekali mengobrol lewat sms. Banyak topik yang menjadi pembicaraan kami. Mulai dari masalah ringan seputar kampus kami, sampai masalah yang menyangkut kebijakan-kebijakan di kota kami. Ya, kami sering sekali memperdebatkan mana yang lebih baik, Jakarta atau Yogyakarta. Pada akhirnya sih kami sepakat bahwa masing-masing kota tersebut memiliki hal-hal positif dan negatifnya sendiri.
* * *
Selesai makan malam. Aku menyusul Surya ke teras. Udara Yogya sangat sejuk, bahkan dingin, di malam hari. Tak heran ia sering menghabiskan waktu di sini. Kami juga sering mengobrol di sini.
“Kenapa sih kamu nggak suka Jakarta? Nggak semua remajanya hedonis kok. Remaja-remaja yang alim juga banyak, tapi emang sih segalanya tuh mungkin kalo di Jakarta. Yang halal bisa jadi haram.” Aku langsung nyerocos. Memang menyebalkan mengetahui orang yang kita sayang ternyata membenci tempat dimana kita tinggal. Sebenarnya aku juga sama saja dengannya. Siapa yang tidak kesal dengan sopir angkot yang suka seenaknya berhenti di jalan. Siapa yang tidak kesal dengan polisi lalu lintas yang kadang berlagak bagai pemalak berseragam. Bandingkan dengan warga Yogya yang ramah dan bersahabat. Mereka lebih polos dibandingkan orang-orang di Jakarta. Kesopanan dan ketradisionalan merekalah yang membuatku turut jatuh hati dengan kota pelajar ini. Bahkan aku bertekad jika telah menikah nanti, aku akan menetap di Yogyakarta. Namun tetap saja Jakarta adalah bagian dari hidupku. Sudah belasan tahun aku menetap di sini. Aku meminum airnya pun dari sini.
“Di Jakarta itu susah membedakan mana yang benar dan yang salah, Rin. Coba deh, menurut kamu penggusuran tuh salahnya siapa? Aparat atau warganya?” Surya buka mulut. Aku suka sekali melihat Surya seperti ini. Cerdas tetapi tidak sombong. Kutatap lekat wajahnya. Ia terlihat sangat menawan dengan sepasang mata sayu yang dibingkai kacamata, hidung mancung, dan pancaran wajah yang ramah.
“Hei, kok bengong? Nah, kamu bingung ya?” Ia tersenyum jail penuh kemenangan padaku.
Gawat. Jangan sampai ia melihatku menatapnya seperti tadi. Rasa suka, sayang, cinta memang dapat membuatmu melakukan hal-hal bodoh. Tidak apa-apa lah, toh bodoh itu kan subjektif.
Aku tak mau kalah dengannya. Aku juga bertanya tentang Yogyakarta, “Di Yogya juga sama aja kan. Coba deh kamu pikir, kenapa banyak orang yang nggak setuju kalo Sultan mau melepas jabatannya sebagai gubernur? Itu kan hak beliau.”
“Mungkin masalah identitas. Takut kehilangan identitas. Yogya kan daerah istimewa yang sejak dulu dipimpin oleh keturunan keraton. Kalau gubernur Yogya nanti bukan dari kalangan keraton, mereka takut Yogya akan kehilangan identitasnya sebagai kota yang jadul dan njaweni ini. Aku nggak kebayang deh kalo di sini nantinya banyak gedung-gedung seperti di Jakarta itu. Kita nggak bisa jalan-jalan bareng ke Malioboro, Pasar Beringharjo, atau Keraton lagi dengan tenang. Pasti polusi udara juga akan bertambah,” jelasnya panjang lebar sambil tersenyum padaku.
Lagi-lagi senyuman itu. Apa aku menyayanginya karena keindahan fisik yang dimilikinya ya? Ah aku tidak mau menjadi orang yang hanya tergoda bungkusan luar sesaat. Namun kurasa tidak demikian denganku. Surya memiliki hati yang baik. Aku tahu ia juga menyayangiku. Yang aku tak tahu adalah ia menyayangiku sebagai sepupu atau lebih dari itu. Mengapa aku harus memiliki hubungan sepupu dengannya? Memangnya kenapa kalau aku naksir sepupuku sendiri? Hal itu bukanlah hal yang baru dalam dunia percintaan. Ibunda temanku menikahi sepupunya sendiri. Mereka satu kakek dan nenek, sama seperti aku dan Surya. Aku sendiri belum yakin apakah benar ini cinta atau hanya simpati yang mendalam. Kunikmati saja perasaan ini selama itu tidak menyakiti seorang pun termasuk diriku.
Kami terus mengobrol. Surya berkata padaku bahwa akulah orang yang paling asyik untuk diajak berdiskusi macam-macam topik, walaupun kuakui obrolan kami juga tak terlalu berbobot.
“Kamu kenapa nggak kuliah di Yogya aja? Bukankah kamu menyukai Yogya juga sepertiku? Nanti kan kita bisa berangkat ke kampus bareng. Sayang ya kamu tinggal berjauhan denganku. Padahal aku seneng banget menghabiskan waktu sama kamu.”
Wah! Ucapannya barusan membuatku sumringah setengah mati. Aku berusaha menyembunyikannya. Surya tidak berbohong. Aku mengetahuinya karena sudah lama sekali kami berteman. Sadarlah Sabrina, senang menghabiskan waktu denganku bukan berarti ia memiliki perasaan lebih terhadapku.
“Aku sih pengen banget tinggal di sini, tapi gimana ya, dari lahir aku sudah besar di Jakarta. Pasti asing rasanya kalau tiba-tiba aku kuliah di sini. Lagipula aku kan memang tidak lulus SPMB kemarin, jadi nggak bisa kuliah di UGM bareng kamu juga dong, hehehe…”
Surya nyengir, “Iya juga ya, hehe… Eh, mau ikut aku keliling kompleks ini sebentar nggak? Jalan-jalan aja. Kalau malam gini suasananya enak lho. Biar nggak susah tidur juga nanti.”
Kuturuti saja ajakannya. Berjalan-jalan di sekitar rumah sebelum tidur malam memang kebiasaanku dari dulu. Bila di Jakarta, aku sering melakukan kegiatan itu bersama ibu. Mengasyikkan saja melihat rumah-rumah tetangga kami yang lengang dan beberapa penghuninya yang siap bertualang ke alam nan indah. Biasanya aku dan ibu sering membeli sekoteng dan menikmatinya di warung Pak Haji, bersama dengan Pak Haji yang gemar guyon dan istrinya yang ramah.
* * *
Aku dan Surya berjalan kaki mengitari kompleks rumah Surya. Kami sudah berpamitan pada Bude Watiek dan ibuku tentu saja. Beberapa pria setengah baya tampak berbincang ringan di teras salah satu rumah tetangga Surya. Lalu ada seorang remaja pria yang asyik memainkan gitar di rumah sebelahnya. Suasana yang tak jauh beda dengan kompleks rumahku.
“Apa cita-citamu?” tanya Surya memecah keheningan yang menyelimuti kami sejak tadi.
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, “Hah, kok kayak nanya anak SD sih? Citaku-citaku banyak banget! Nih ya aku urutin. Waktu SD aku pengen banget jadi astronot. Terus begitu tahu kalo astronot harus pintar fisika dan matematika, aku beralih pengen jadi arkeolog. Asyik aja waktu nonton film-film tentang perburuan benda-benda antik dan kuno. Aku kan sampai sekarang suka banget Yunani. Aku pengen banget suatu saat bisa ke Athena, Kairo, Venisia, juga London. Kalo sekarang sih aku belum tahu lagi mau jadi apa, hehehe… Pengennya sih kerja di surat kabar… Kamu sendiri gimana?”
“Aku pengen jadi dosen,” jawabnya mantap. “Tapi buat jadi dosen kan paling nggak aku harus lulus S2 dan itu pasti lama banget. Nanti aku nikahnya gimana dong.”
“Nikah ya nikah aja kok ribet?” Aku geli mendengar ucapannya tadi.
Surya berucap lagi, “Ih, maksud aku siapa yang bakalan jadi istriku coba? Pacaran aja aku belum pernah. Lagipula mana ada perempuan yang mau nikah sama pria yang sibuk banget kayak aku.”
“Pede banget sih kamu!” Aku terkikik mendengarnya. “Tenang aja, pasti banyak deh cewek yang mau sama kamu.”
“Iya ya? Kamu juga mau?”
Aku senang bercampur kaget. Aku menoleh.
“Mau nggak ya? Hehehe… Kita sepupu gitu, emang bisa nikah? Tapi kalo kamu nanti seganteng Andrea Pirlo boleh juga deh,” candaku.
“Yee, muka orang mana mungkin berubah. Sudahlah lupakan yang tadi. Tapi setahu aku sih sepupu itu boleh menikah asalkan menaati aturan-aturan yang berlaku.”
“Nah, berarti itu topik debat kita selanjutnya,” ujarku bersemangat. Tidak ada habisnya bila mengobrol dengan Surya.
“Oke, kita lanjut besok. Pulang yuk, udah jam setengah sepuluh.”
Kami lalu berjalan menuju rumah Bude Watiek. Ah malam yang indah. Biarlah aku menjaga persahabatan dengan sepupuku tersayang ini. Let it flow, itulah prinsipku sejak dulu. Bukannya aku malas berusaha, tapi untuk apa merusak segala keindahan yang sudah banyak tercipta ini. Bila tiba waktunya, kau harus mengetahui perasaanku ini, sepupuku. Karena yang namanya cinta itu harus diungkapkan. Hanya orang yang terlalu cinta pada dirinya sendiri yang tidak berani mengungkapkannya. Begitulah yang tertulis dalam salah satu novel favoritku.
***
Dania Diniari adalah mahasiswa Program Studi Jepang FIB UI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar