Selasa, 06 Januari 2009

Hancur Sudah



Cerpen Inayah Wahid

Hancur sudah hidupku. Sudah tidak perlu ada lagi yang dipertahankan. Semuanya sia-sia. Ternyata hanya begini saja suratan nasibku. Maafkan aku Ayah, Ibu, Mbak Nina, Riza, Wina dan semua teman-temanku. Hanya sampai sini saja perjumpaan kita. Semoga kelak kita semua dapat berjumpa lagi di surga. Oh iya, dan semoga saja si bajingan dan cewek barunya itu dijerumuskan ke neraka terbawah… Amiiin.
Kulangkahkan kaki kananku ke luar jendela kelas. Kemudian disusul oleh kaki kiriku. Waduh, ternyata tinggi juga ya, batinku gugup. Dengan sedikit gemetar aku berusaha berdiri di pinggiran tembok lantai tiga gedung sekolahku. Tangan kiriku mencengkram pinggiran jendela.
“Aduh, Irma jangan dong…please?” Wina sahabatku berusaha mencegah aksi nekatku. “Masa depan loe masih panjang, masa cuma gara-gara si Johan ninggalin loe, loe mau bunuh diri, sih? Nggak worth it tau gak? Ayo dong, turun!” Wina berusaha menggapai tanganku.
“Loe gak tau rasanya kayak apa, Win. Loe tau kan, kalo gue tuh cinta mati sama dia, Win. Gue selama ini selalu yakin kalo dia itu jodoh gue. Kok tega-teganya dia jadian sama cewek laen. Cewek itu tuh, ga cakep tau ga? Apa sih, yang dia liat dari cewek kurus kering kayak gitu?” aku sudah mulai terisak-isak. Sakit hati.
Wina masih berusaha memegangi tanganku supaya aku tidak nekat meloncat ke bawah. Untung sekolah sudah sepi, jadi tidak ada yang memperhatikan tingkahku. Malu juga rasanya kalau jadi tontonan orang-orang.
Wina masih berusaha membujukku dengan omongannya, tapi aku sudah tidak mendengarkan lagi ocehannya. Kalau sedang berada di titik paling bawah dalam hidupmu, seperti sekarang ini, yang terlihat hanyalah bayangan-bayangan hidupmu. Persis seperti di film-film Hollywood yang sering kutonton. Di depanku sekarang tampak slide demi slide potongan-potongan hidupku. Mulai dari ulang tahunku yang ke-lima, jatuh dari tangga hingga tanganku patah, menstruasi pertama yang memalukan karena rok seragamku merah terkena noda darah ketika aku sedang presentasi di depan kelas dan ketika dirawat di RSPAD karena sakit demam berdarah. Kemudian muncul bayangan orang-orang yang kucintai, Ibu yang sedang membidani kelahiran anak tetangga sebelah, Ayah yang sedang mengotak-ngatik mobil kijang bututnya, Mbak Nina yang genit sedang berdandan, adikku Riza yang sedang sibuk mencuri pakai barang-barangku, sahabat-sahabatku dan yang terakhir bayangan Johan. Cowok yang saat ini kutaksir. Lebih tepatnya bukan taksir, tetapi obsesi. Siang malam yang terbayang hanya Johan seorang. Suatu hari ia menyatakan rasa sukanya padaku (atau lebih tepatnya pasrah, karena lelah kukejar-kejar). Dua bulan aku jadian dengannya, tiba-tiba kemarin kulihat dia jalan dengan anak kelas satu yang kegenitan itu. Tadi pagi ketika kukonfrontasi mengenai hal ini, tanpa rasa bersalah Johan mengiyakan dan menambahkan bahwa dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padaku. Turun sudah derajatku sebagai wanita. Lelaki yang begitu kucintai malah meninggalkanku untuk cewek kerempeng kegenitan. Tidak ada jalan lain, lebih baik aku mati saja.
Bayangan Johan membuatku makin yakin akan niatku. Kulangkahkan kaki kiriku di udara, bersiap untuk terjun. Kudengar suara Wina mulai gemetar, tangannya masih memegangi tanganku dengan kuat. Selamat tinggal dunia. Aku mengedarkan pandangan ke tanah di bawahku yang sudah siap menerima tubuhku. Pandanganku berhenti pada suatu sosok di bawah yang sedang sibuk membuka kunci sepeda motor.
“Itu…sssiapa Win?” tanyaku dengan gemetar
“Hah, siapa, apa?” Wina yang masih dengan suara gemetar karena bingung melongokkan kepala keluar jendela. “Lah, itu sih, si Agus, anak 2-c”
“Kok, gua gak pernah liat. Emangnya loe kenal?”
“Kenal. Dia kan, satu SMP sama gue. Dia kan, masuk pagi, jelas aja loe gak pernah liat. Kenapa emang?” Wina tampak semakin bingung, pegangan tangannya di tanganku mulai melonggar.
“Udah punya cewek?”
“Kayaknya belom deh, kenapa?” sepertinya Wina mulai menangkap maksudku. Pegangan tanganya sudah dilepas.
“Punya nomer telfonnya?” tanyaku sambil membalikkan badan hati-hati, melangkahkan kakiku pelan-pelan memasuki jendela kelas.
***

Inayah Wahid adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar