
Cerpen Silvi Fitri Ayu
Pekerjaanku sebagai reporter di sebuah stasiun televisi swasta begitu menyenangkan, walaupun pekerjaan ini begitu banyak menyita waktuku. Tetapi semenjak tiga hari yang lalu, aku mulai tidak menikmati pekerjaanku sebagai reporter, semenjak aku dipindahkan dari divisi olahraga ke divisi berita lokal. Dulu aku meliput acara-acara olahraga bergengsi, tidak hanya di Indonesia tetapi bahkan sampai keluar negeri, itulah pekerjaanku. Kini pekerjaanku yang menyenangkan itu hanya tinggal kenangan, karena sekarang aku harus meliput berita-berita dalam negeri yang rata-rata isinya monoton dan bahkan terkadang membosankan.
Mungkin sebenarnya pekerjaan baruku ini tidak akan seburuk yang aku bayangkan jika aku meliput situasi menjelang pemilu 2009 atau peristiwa aktual yang berbobot lainnya, setidaknya aku dapat mewawancarai tokoh-tokoh terkenal dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkualitas. Tetapi yang terjadi sekarang, aku harus terjebak di dalam mobil yang sedang menuju sebuah dusun kecil bernama Kedungsari, Kabupaten Jombang hanya untuk meliput sebuah berita yang tidak masuk akal tentang seorang anak kecil berumur tidak lebih dari sepuluh tahun yang mampu mengobati orang sakit dengan batu ajaib miliknya. Aku tidak bisa percaya dan mengerti mengapa seorang anak desa seperti ini bisa menyedot perhatian banyak orang serta mengapa hal yang tidak masuk akal seperti ini bisa begitu populer di kalangan masyarakat negeri ini. Yang terlintas dalam otakku bahwa hal ini hanya bentuk pengeksploitasian terhadap anak-anak dan hanya untuk mencari popularitas semata.
*
Memasuki dusun ini, aku disambut dengan banyaknya warung-warung dadakan yang menjajakan makanan hingga ember yang memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Mobil yang dikemudikan Pak Udin mulai menepi dan akhirnya berhenti sama sekali. Ditemani oleh seorang juru kamera, dengan sangat enggan aku melangkahkan kaki menuju rumah Ponari, sang dukun cilik. Sesampainya aku di sana, aku dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang sangat luar biasa, di depan mataku terbentang lautan manusia yang jumlahnya mungkin ratusan orang bahkan ribuan orang. Sebenarnya aku tidak perlu seterkejut ini, karena semenjak aku memasuki dusun kecil ini suasana hiruk pikuk telah menyambutku.
Setelah menemui Bapak Kepala Desa yang bernama Muhlison dan memperkenalkan diri serta memperlihatkan id card, aku diantarnya menuju rumah Ponari. Sebuah dusun kecil tidak tersentuh oleh pembangunan dengan jalan-jalan kecil yang becek seperti yang aku bayangkan, ternyata tidak terlalu aku temui di sini. Sebuah jalan sepanjang 100 meter yang tertata rapi oleh paving block, membuat jalanan dusun ini terasa nyaman walaupun tidak terlihat kontras dengan rumah-rumah sederhana dari bilik bambu yang berada di sekitarnya. Dari keterangan yang aku dapat dari kepala desa ini, bahwa pembangunan jalanan tersebut didapat dari sumbangan pasien Ponari.
“Desa ini bisa seperti sekarang, semuanya berkat ponari Pak,” jawab sang Kepala Desa ketika aku menanyakan hal ini. “Dananya didapat dari pasien Ponari, anak itu dan batunya memang pembawa berkah untuk desa ini.”
Aku tersenyum sedikit mengejek kepada sang Kepala Desa ketika mendengar jawabannya. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran orang tua seperti Bapak Kepala Desa dan sebuah pertanyaan terlintas di otakku, inikah gambaran orang-orang berpendidikan rendah di negeri ini? Rasa penasaranku terhadap Ponari pun semakin bertambah.
*
Tidak terasa aku sudah sampai di depan rumah Ponari. Aku datang ke rumahnya di saat Ponari sedang beristirahat dari kegiatan praktiknya. Ketika aku masuk ke dalam rumah yang ukurannya mungkin tidak lebih dari 5x7 meter itu, orangtua Ponari menyambutku dengan sangat baik dan mengajakku menemui Ponari. Rumah Ponari terasa sangat sederhana dan tidak ada barang berharga di dalamnya, kecuali sebuah televisi berukuran 14 inci. Sesaat aku terperanjat ketika melihat Ponari, inikah anak ajaib yang sedang heboh diberitakan itu? Dia tidak terlihat ajaib, penampilannya sama saja dengan anak-anak sebayanya.
Ponari menyambutku dengan sangat ramah dan dia langsung tidur dengan manjanya di pangkuanku. Sesaat perasaan aneh menghinggapiku, melihat anak kecil yang ada di pangkuanku ini begitu polos dan dia begitu asyik memainkan handphone yang ada di tangan kirinya. Aku merasa bersalah telah merendahkannya selama perjalananku untuk menemuinya.
“Ponari, sedang apa?” tanyaku.
“Aku lagi main hp, om. Ini kemarin dikasih sama bapak-bapak dari Surabaya.”
“Oh…Ponari sekarang umurnya berapa? Sekolah di mana?” Aku bertanya lagi.
Dengan gaya yang manja Ponari menjawab, “SD Balongsari I, kelas tiga…Om, datang dari mana?”
“Om dari Jakarta. Ponari kenapa ga ngobatin orang?” Sambil mengelus kepalanya dengan lembut, aku bertanya.
“Capek, mau main dulu…” Dia menjawab dengan singkat dan tetap sibuk bermain dengan handphonenya.
“Ponari, sejak kapan punya batunya? Dapat dari mana? Kok tahu batunya bisa ngobatin orang?”
“Waktu itu main hujan sama teman-teman, terus aku kesambar petir. Ya… setelah itu tiba-tiba ada batu di dekat aku, terus aku bawa pulang.” Dia menjawab dengan logat Jawa yang kental. “Waktu adik Lintang sakit, aku coba masukin batunya ke dalam air, aku suruh adik lintang minum. Sembuh! Terus anaknya eyang Djamil, mbak Luluk… Aku kasih minum yang udah dicelupin batu itu, sekarang bisa ngomong.”
“Om boleh liat batunya ga?” Aku semakin menikmati pembicaraanku dengan Ponari.
“Ga boleh.” Jawabnya dengan lantang. “Nanti Rono marah.”
“Rono? Itu siapa?”
“Yang tinggal di dalam batu.” Dia menjawab tanpa melihat wajahku. “Nanti kalau Rono marah, dia ga mau main lagi sama aku.”
“Oh…” Aku hanya bisa menjawab singkat. Aku tidak ingin memaksanya, karena dia mulai terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaanku. “Ponari sampai kapan mau mengobati orang? Sekolahnya masih rajin kan?”
“Aku capek, mau main. Mau sekolah sama teman-teman. Tapi orang yang berobat banyak. Kasihan.” Dia menjawab dengan lesu dan tertunduk.
Dari wajahnya yang polos dan nada suaranya yang manja, aku bisa merasakan bahwa anak kecil ini mulai lelah dengan rutinitasnya sebagai seorang dukun cilik. Aku baru menyadari bahwa dia adalah anak kecil yang masih ingin menikmati masa kecilnya, tetapi di satu sisi aku merasa kagum pada Ponari. Di dalam tubuh kecilnya, Ponari telah memiliki rasa peduli yang besar kepada orang lain, yang mungkin orang dewasa sekalipun sangat jarang memilikinya, termasuk aku.
Rasa bersalah kembali menghinggapi hatiku. Ternyata kemiskinan tidak membuat orangtua Ponari berniat untuk mengeksploitasi anaknya, mereka sebenarnya merasa sedih melihat kondisi Ponari yang tidak dapat bermain dengan bebas lagi dan mereka ingin Ponari dapat menikmati masa kecilnya.
“Sebenarnya Mas, saya tidak mau anak saya menjadi dukun. Dia masih kecil, kasihan. Gara-gara ini Ponari ga bisa main dengan teman-temannya, sekolahnya juga terganggu.” Suara ibu muda itu terasa sangat memilukan, sambil menarik napas beliau melanjutkan ucapannya, “Tapi orang yang mau diobatin juga banyak, jadi kita belum tahu sampai kapan Ponari akan praktik. Terus Pak Dauk sebagai ketua panitia praktiknya Ponari juga tidak mau praktik Ponari berhenti. Katanya kasihan orang kampung nanti ga punya pekerjaan.” Ibu Ponari menatap kosong ke arah pintu dan wajah beliau memperlihatkan betapa besarnya beban pikiran yang beliau tanggung saat ini.
*
Ketika juru kameraku sedang sibuk mengabadikan kesibukan orang-orang di depan rumah Ponari, ternyata di antara para pasien itu ada beberapa petugas kesehatan dari Departemen Kesehatan Kabupaten Jombang yang sedang mengambil sample. Setelah melakukan wawancara singkat dengan mereka, aku baru mengetahui bahwa mereka bermaksud meneliti air celupan batu ponari dan seberapa besar air tersebut berkhasiat untuk kesehatan.
“Setelah kami teliti berdasarkan sample yang ada, ternyata air tersebut mengandung bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan seseorang dapat terjangkit diare,” ujar dokter Heru yang merupakan ketua rombongan dari Depkes. “Sebenarnya kesembuhan para pasien Ponari itu bukan oleh air tersebut, tetapi hanya sugesti saja.” Dokter Heru mencoba menjelaskannya secara singkat.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada dokter Heru, aku mencoba mencari keterangan dari para pasien dan para tetangga Ponari.
“Ibu tahu kabar tentang Ponari dari siapa?” tanyaku pada seorang wanita paruh baya bernama ibu Karomah yang ternyata datang dari Solo.
“Saya dapet kabar ini dari sodara saya. Sodara saya itu dulu sakit paru-paru, sekarang udah mulai sembuh. Jadi saya juga mau coba ngobatin sakit ginjal saya.”
“Kenapa ibu tidak pergi ke dokter saja? Kenapa lebih percaya kepada Ponari?”
“Wah…Boro-boro mau ke dokter. Mahal! Di sini saya cuma bayar 5.000 saja udah bisa sembuh. Ya, saya jelas lebih memilih ke sinilah. Semenjak kesini sakit saya mulai berkurang.” Wajah Ibu Karomah terlihat sangat yakin ketika menjawab pertanyaanku. Perasaanku begitu sedih mendengar jawaban ibu Karomah.
*
Akhirnya perjalananku ditutup dengan mewawancarai seorang tetangga Ponari. Ternyata semenjak Ponari membuka praktiknya, kehidupan ekonomi dusun tersebut mulai mengalami kemajuan. Masyarakat di sana mulai dapat merasakan hidup yang layak. Karena warung-warung makan yang ada di sekitar tempat tersebut ramai dikunjungi oleh para pasien yang ingin berobat kepada Ponari. Selain itu pemuda-pemuda desa mendapat pekerjaan sebagai tim pengaman untuk praktik Ponari dan mendapatkan bayaran yang layak.
“Bagaimana perasaan Bapak semenjak Ponari membuka praktiknya?” tanyaku penasaran.
“Ya, jelas senang Mas. Sekarang saya dan teman-teman punya pekerjaan, desa ini juga jadi lebih maju. Pokoknya hidupnya jadi lebih enak.” Tetangga Ponari ini menjawab dengan wajah yang bahagia.
“Apa harapan Bapak kedepan terhadap praktik Ponari ini?”
“Saya maunya ya terus, jangan berhenti. Walau banyak ulama bilang ini syirik tapi tetap saja gara-gara Ponari jadinya saya punya pekerjaan. Wong mereka ga bisa kasih saya makan. Cuma bisa komentar saja. Pokoknya Ponari itu pembawa berkah.” Tetangga Ponari terlihat sedikit emosi.
*
“Pemirsa, seperti yang anda lihat di belakang saya. Beginilah suasana di Rumah Ponari setiap harinya. Beribu-ribu orang datang untuk mendapatkan kesembuhan dari Ponari. Walaupun banyak ahli dari berbagai bidang memberikan komentar-komentar positif maupun negatif tentang fenomena Ponari ini, tetapi Ponari telah memberikan sumbangan kehidupan dan harapan kepada beratus-ratus orang. Perekonomian Dusun ini pun mulai mengalami kemajuan. Para Penduduk mulai mendapatkan kehidupan yang layak. Tetapi di satu sisi, ini merupakan sebuah pekerjaan rumah untuk pemerintah tentang betapa menyedihkannya sistem kesehatan dan ekonomi di negara ini. Pemerintah harus mulai menyadari keadaan yang saat ini berkembang di masyarakat kita. Saya Harya Pelita Shidiq, Agus Kuncoro, melaporkan dari Jombang, Jawa Timur.”
*
Mobil mulai bergerak menjauhi Dusun Kedungsari, sembari merebahkan diri ke sandaran kursi, ada perasaan lega dan menyesal menghinggapi pikiranku. Baru kali ini dalam hidupku, aku merasa sangat bersyukur atas pekerjaan yang aku jalani. Ternyata pengalamanku meliput Ponari lebih berharga dari perjalanan-perjalanan liputanku ke luar negeri. Fenomena Ponari telah mengajarkan aku tentang arti kehidupan dan mengenal kehidupan rakyat di tanah airku yang sangat menyedihkan. Mulai detik ini aku berjanji akan menghargai semua pekerjaan yang diberikan padaku dan aku berharap dapat bertemu peristiwa-peristiwa lain seperti fenomena Ponari yang membuat mataku terbuka. Dengan tulus hatiku berkata “Terima Kasih Ponari.”
***
Silvi Fitri Ayu adalah mahasiswa Program Studi Korea FIB UI




