Cerpen Rizky Amelia
Perpisahan dengan anak-anak adalah hal yang paling kubenci. Selama beberapa bulan aku terpaksa meninggalkan istri tercinta dan dua buah hatiku, Rendra dan Nia. Mereka mungkin akan sedih. Namun setidaknya mereka tidak khawatir dengan kepergian ayahnya kali ini. Kali ini untuk menuntut ilmu di negara Kincir Angin, tidak untuk berdemo menyuarakan hak orang-orang kecil yang dirampas oleh para petinggi negeri ini.
Bisa dibilang aku jarang sekali di rumah. Aku sibuk dengan masalah hak asasi manusia. Aku terlalu lantang menyuarakan ketidakadilan di negeri ini. Entah mengapa kehausanku akan keadilan nampaknya sebanding dengan kecintaanku dengan keluarga.
Malam ini pukul sembilan malam aku akan terbang ke Belanda. Uci istriku, Rendra dan Nia mengantar kepergianku. Rendra dan Nia yang tampak mengantuk, kusuruh bersandar di bahuku. Kuusap-usap rambutnya. Biasanya jika aku mengusap kepala kedua anakku, mereka akan segera tertidur. Selagi anak-anakku tertidur, aku memeriksa segala kelengkapanku. Paspor, tiket, dan berkas-berkas lainnya kusimpan rapi di tas jinjing hitam yang melingkar di tubuh kecilku. Uci berkali-kali menasihatiku agar tidak terlambat makan. Ini memang kebiasaan burukku. Jika sudah melakukan aktivitas yang kusenangi, hal lainnya menjadi tidak penting-termasuk makan. Maka dari itulah aku merapatkan hatiku di pelabuhan hati Uci. Sosok wanita tangguh yang bisa mendukung kegiatan yang nyawa taruhannya sekaligus menjadi sosok istri dan ibu yang sempurna buatku dan anak-anakku.
Sudah saatnya boarding. Aku berpamitan, kupeluk dan kucium kening mereka. Aku melangkah pasti sambil beberapa kali berbalik ke arah mereka dan melambaikan tangan. Wajah mereka sudah tidak tertangkap pandanganku lagi. Setelah boarding, aku kembali menunggu. Kali ini sendiri tanpa istri dan anak-anakku. Daripada diam menunggu, kuambil sebuah buku dan mulai membacanya. Aku tidak dapat tenang membaca. Mataku berkali-kali menatap layar televisi besar yang menginformasikan jadwal keberangkatan. Ya, suara halus wanita itu menginformasikan bahwa pesawat yang kutumpangi GA 974 akan segera terbang. Segera kukemasi barang-barangku lalu berjalan menuju pesawat.
40 A. Aku terus mencari kursi dengan nomor tersebut. Nah, ini dia. Kursi kelas ekonomi dan dekat dengan jendela. Jadi sepanjang perjalanan aku bisa memandangi indahnya ciptaan Tuhan yang tampak sangat kecil dari udara. Aku menyandarkan diriku di kursi tersebut sambil terus memangku tas jinjing hitamku. Beberapa menit kemudian pesawat berkapasitas sekitar 380 orang penumpang ini sudah hampir terisi seluruhnya. Rencananya aku akan menghabiskan waktu selama perjalanan dengan membaca buku. Semoga saja buku ini bisa rampung ketika aku tiba di Belanda.
Hampir satu jam pesawat ini terbang di angkasa. Dari kejauhan kulihat dua orang pramugari mulai menawari makanan. Namun aku masih fokus dengan bukuku. Tidak lama berselang, mereka sudah berada di sampingku. Mereka menyodorkan semangkok bakmi dan menanyakan minuman yang kuinginkan.
“Jus saja!” ujarku sambil menerima segelas jus buah.
Kututup buku yang sedang kubaca dan beralih ke mie-mie panjang hangat yang siap untuk disantap. Aku memang tidak pandai menggunakan sumpit! Maka dari itu kugunakan sendok dan garpu untuk menikmati bakmi itu. Setelah perut terisi, aku meneguk jus buah itu dalam satu kali tegukan. Para pramugari itu kembali mengumpulkan sampah-sampah bekas makanan kami. Aku membersihkan meja tempatku menyantap bakmi kemudian melipatnya ke bangku di depanku. Aku pun kembali melanjutkan membaca buku.
Setelah dua jam di udara, kami mendarat di Changi Airport untuk transit. Begitu menuruni pesawat aku buru-buru mencari toilet terdekat. Perutku sangat mual hingga harus berkali-kali keluar masuk toilet. Akhirnya reda juga mual di perutku. Aku mengirim pesan singkat ke Uci memberitahu bahwa perutku mual.
Saat duduk menunggu keberangkatan, aku berkenalan dengan Dokter Taher. Beliau adalah dokter dari Rumah Sakit Harapan yang sedang melakukan studi banding dengan rumah sakit di Belanda. Aku sempat membicarakan banyak hal yang berhubungan dengan pekerjaanku. Beliau amat tertarik dengan kerjaku sebagai aktifis Hak Asasi Manusia (HAM).
“Anda ini hebat!! Berani menyuarakan penyelewengan HAM di negeri ini,” begitu katanya.
Perbincangan kami pun terhenti karena sepuluh menit kemudian kami harus kembali ke pesawat melanjutkan perjalanan ke Belanda. Sebenarnya selain berkenalan dengan Dokter Taher, aku juga berbincang dengan seorang pilot yang saat ini sedang tidak bertugas.
Aku kembali ke kursi 40 A sementara Dokter Taher masuk lewat pintu satu E di kelas bisnis.
Tiga jam kemudian, aku kembali mengeluh sakit pada perutku dan badanku pun ikut melemas. Mungkin aku telah kehilangan banyak cairan saat aku muntah barusan. Setidaknya aku sudah enam kali bolak-balik ke toilet. Aku memanggil pramugari meminta dipanggilkan dokter Taher. Untunglah, di saat seperti ini aku punya kenalan yang bisa menangani keluhanku. Beberapa menit kemudian Dokter Taher datang. Aku bisa melihat dari matanya kalau dia baru saja terbangun dari tidurnya.
“Maaf ya Dok! Saya jadi menyusahkan. Tapi perut saya sakit sekali. Sudah enam kali saya muntah!!” jelasku dengan muka pucat.
“Mas, emang tadi makan apa? Kok bisa sampai begini? Tadi jajan ya, waktu lagi transit di Changi?” Dokter Taher memeriksa kondisiku.
“Dokter ini bisa aja!! Sayang uangnya Dok! Mendingan untuk jajan nanti di Belanda!! Saya cuma makan bakmi dan jus buah. Tadi di Jakarta minum susu coklat.”
“Nah, kebetulan saya punya obat untuk mengurangi frekuensi muntah Mas ke toilet.”
Aku menenggak butiran obat dari Dokter Taher. Obat itu hanya bekerja sebentar. Setidaknya aku sudah dua kali muntah setelah minum obat itu. Aku tidak bisa jauh-jauh dari toilet. Aku memutuskan untuk tidur di lantai dekat toilet. Kondisiku agak membaik. Seorang pramugari memberikan secangkir teh hangat campur garam dan air putih campur garam. Selanjutnya Dokter Taher juga memberiku obat penenang dengan dosis ringan.
Saat aku tertidur, seseorang membangunkanku dan menyuruhku beristirahat di kursi nomor empat kelas bisnis. Karena kebetulan kursi tersebut letaknya tidak jauh dari toilet aku menerimanya. Kalau aku tidak salah dengar ada seseorang yang merelakan kursi kelas bisnisnya di tukar dengan kursi kelas ekonomi milikku. Namun aku tak tahu persis siapa orangnya. Aku bersandar di kursi tersebut dan kembali melanjutkan tidurku.
Selimut biru tebal melindungiku dari dinginnya AC. Aku meringkuk, memeluk dengkulku dan kemudian terlelap. Kututup mataku, menghirupkan napas dalam-dalam dan tidur nyenyak dalam balutan selimut. ***
Rizky Amelia adalah mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar