
Cerpen Rieke Saraswati
Ia menggelung syal hitamnya lebih merapat di leher. Tubuhnya hampir bobrok. Punggungnya nanar seperti dilecut berkali-kali oleh cemeti. Ia menarik napas dalam-dalam.
Cericit tikus-tikus berbau busuk di dekat tong sampah mengejutkannya bukan kepalang. Napasnya terputus beberapa detik. Ia pun menggerutu. Tak ada hal apapun yang dapat menghangatkannya, kecuali kembali ke dalam perut Ibu, mendapatkan asupan makanan lezat dari sana dan bersenang-senang dengan kembarannya yang tidak sempat menikmati dunia. “Ofelia mati untuk menyelamatkanku,” itulah yang selalu ia ucapkan ketika ia menziarahi kuburan kembarannya, yang bersebelahan dengan kuburan Ibu, maupun Kakek.
Jalanan makin sepi. Suara-suara di kejauhan membuat bulu kuduknya berdiri setegak tiang saka. Urat-uratnya terasa sangat lunglai. Ia seketika ingat kembali pada mimpi kemarin malam. Ia bermimpi sedang bermain boneka dengan Ofelia di sebuah taman bunga. Boneka itu bukan seperti boneka anak perempuan pada umumnya. Boneka itu berwajah bulat telur dengan banyak noda hitam, yang jika digabungkan akan menjelma tompel yang amat besar menyelimuti sebagian wajah. Terlebih lagi, boneka itu gempal berbulu, hingga kau bisa menjadikannya bola dan ditendang kesana kemari. Bapak memandang mereka dari jauh tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Tak lama kemudian Bapak menghampiri mereka sambil mengernyitkan dahinya yang telah berkerut. Ia tidak segan-segan merebut boneka itu, melemparkannya ke kolam ikan, seraya bernyanyi senang dengan raut wajah menyeramkan, “Boneka anjing! Boneka jelek! Di mana Barbie kalian yang cantik jelita? Barbie oh Barbie yang cantik jelita. Di mana kamu, Sayangku?” Bapak mendadak tidak gagap ketika menyanyi atau mengolok-olok mereka, padahal di depan umum Bapak seringkali gagap. Bapak memang selalu bertingkah makin bodoh semenjak ditinggal istri keduanya. Bapak tidak pernah mencintai Ibu, ia lebih suka mendatangi tiap bar untuk menyewa pelacur-pelacur. Ketika Ibu tiada, ia langsung menikah dengan salah satu pelacur yang sering ditidurinya. Pelacur itu sungguh manis dan lugu. Ia tidak mengerti mengapa perempuan itu mau dinikahi oleh bapaknya yang dekil. Beberapa tahun kemudian, si pelacur gantung diri dengan mata mencelat. Ia masih dapat merekam beberapa kejadian yang selalu membuatnya mual. Kerap si pelacur meringis seperti anak kecil saat mendapati Bapak keluar malam hingga subuh tanpa kabar. Ketika Bapak pulang, si pelacur akan diberikannya banyak uang dari hasil judi, dan mereka akan tertawa-tawa di ruang tamu sembari memakai mariyuana. Si pelacur juga pernah mengeluh akan bagian rahimnya yang sakit terus menerus sepanjang hari. Ketika ia mengantarkan si pelacur ke rumah sakit, ternyata ditemukan alat pembuka botol di dalam rahim. Bapak pernah memasukkan alat itu saat mereka tengah bercinta. Bapak memang orang brengsek yang mengerikan. Dan akhir mimpinya adalah akhir yang menyedihkan. Ofelia pamit dijemput sesosok perempuan yang wajahnya berbintil-bintil rusak penuh koreng. Si perempuan berjanji akan menjaga Ofelia, sebab ia adalah perempuan kesepian yang membutuhkan teman untuk bersenda gurau.
Rintik-rintik hujan datang membasahi kepalanya. Ia merasa kedinginan, kemudian menyesali dirinya yang tidak membawa jaket atau payung. Kepalanya mulai berat, matanya pusing membentuk gambar episentrum dan gigi-geliginya bergemeretuk. Ia menepi sejenak di bawah pohon rindang tak berbunga. Ia butuh rokok. Namun uang di dalam dompetnya telah ludes untuk bersenang-senang. Lagipula warung-warung terdekat sudah tutup. Jam berapa sekarang? Ia tak bisa menerka. Hatinya tertekan bara api yang menyulutnya dalam-dalam. Ia sudah tak bisa berpikir apa-apa. Kosong.
Hujan berhenti. Kedua kakinya terasa berat untuk kembali melangkah menuju rumah. Rumah yang lebih menyesakkan ketimbang jalanan berpolusi. Bunyi klakson terdengar dari ujung yang berbeda dengan tempatnya saat ini. Ia merasa agak tenang dengan bunyi-bunyian apapun dan dari manapun. Ia tidak pernah takut kegelapan, tetapi ia takut kesunyian di malam hari; menerkam mengutuk menghisap.
Bisa ia rasakan kerinduannya akan lagu-lagu Sinatra yang sering dinyanyikan Bapak. Suara berat Bapak kadang menyesakkan dada kadang menghangatkan dada. Ketika ia mendengar nyanyian Bapak yang muncul dari lubang-lubang di atas pintu kamar mandi, ia takkan bisa mengerjakan apa-apa, selain mendengarkan dengan khusyuk, kemudian tertidur lelap. Tetapi ia pernah mendengar suara Bapak diselingi isak tangis si pelacur. Ia keluar kamar, masuk kamar si pelacur, lalu menenangkan si pelacur jika gonorrhea yang ia derita pasti akan sembuh. Si pelacur menggelengkan kepala dengan pasti. Baginya kesembuhan hanyalah mimpi belaka yang terkubur dalam tanah.
“Kau takkan pernah tahu bagaimana rasanya terbakar di saat buang air kecil. Perih sekali. Dan bapakmu hanya bisa menyanyi,” keluh si pelacur dengan nada marah yang tertahan. Air mata beningnya terurai pelan. Si pelacur makin cantik saat ia menangis.
Ia bingung harus berkata apa, lalu semenit kemudian ia memutuskan untuk memberikan si pelacur jalan keluar terbaik. “Mengapa kau tak menggantungkan dirimu saja dengan seutas tali untuk bertemu Tuhan?”
“Aku tak mengenal Tuhan. Aku hanya mengenal bapakmu.”
“Setidaknya dengan mati, kau akan bebas.”
“Mengapa kau berpikir begitu?”
Ia mengangkat bahu, bangkit menuju kamar tidurnya dan meninggalkan si pelacur sendirian. Bapak masih menyanyi merdu. Si pelacur masih menangis sesenggukan. Ia meraih boneka beruang berbaju anak sekolah, memeluknya erat dan mendendangkannya lagu Lela Ledung yang biasa dinyanyikan Ibu untuknya di malam hari sebelum tidur. Ibu adalah sosok perempuan yang selalu membuatnya tak pernah kesepian. Ia bisa merasakan ciuman Ibu kala tangan Bapak menampar kedua pipinya. Ia bisa merasakan pelukan Ibu kala ia menggubris makian Bapak yang tak putus-putus. Dan ia bisa merasakan kehadiran Ibu sekaligus Ofelia dalam mimpi-mimpi indah.
Suatu hari, Bapak pernah memaksanya keluar kamar untuk melayani seorang lelaki tua berumur hampir enam puluhan di ruang tamu. Ia memberontak, tetapi fisik Bapak jauh lebih kuat. Bapak merampas boneka beruang dari tangannya dengan kasar, lalu melempar boneka beruang ke dinding hingga kapas-kapas putih di dalamnya keluar. Ia ketakutan setengah mati dan akhirnya menyerah. Di ruang tamu, si lelaki tua langsung melucuti pakaiannya. Tak ada waktu untuk gemetaran. Pakaiannya sudah terlepas nyalang tanpa sempat ia kabur, karena ia tahu kalau Bapak mengintip mereka melalui lubang pintu kamar. Ia pikir si lelaki tua akan menjilat tubuhnya dengan liur yang kehausan, lalu memasukkan alat pembuka botol seperti yang dilakukan Bapak pada si pelacur. Ternyata si lelaki tua hanya memagut bibir merahnya, kemudian membacakan dongeng Putri Rapunzel dengan suara lembut. Tak ada air mata yang menetes. Ia merasa bahagia. Ia jatuh cinta pada si lelaki tua. Sebelum si lelaki tua pulang, ia diberikannya beberapa receh uang yang terdengar bergemerincing seperti harta karun. Ia kecewa. Ia ingin sesuatu yang bukan materi. Ia ingin dicium kembali.
Ujung genting rumahnya sudah hampir terlihat. Burung-burung gagak menapakkan kaki-kaki kurusnya di sana sambil menggemakan suara-suara serak. Jantungnya berdegup tak normal. Apakah yang hendak ia lakukan di rumah setelah perjalanan panjang ini? Ia bertanya berkali-kali pada dirinya sendiri, hingga terhuyung hampir jatuh. Sepatunya masuk ke dalam genangan lebar penuh air bekas hujan. Ia makin basah kuyup. Sialan! rutuknya kesal. Ia merogoh sakunya, mengambil sapu tangan milik si pelacur. Sapu tangan yang ia curi dari lemari si pelacur karena ia sangat menyukai sapu tangan berbordir kupu-kupu merah muda itu. Tetapi Bapak malah memberikannya untuk si pelacur sebagai hadiah ulang tahun. Ia menghembuskan napas, mengelap titik-titik air kecil di wajahnya dengan gusar dan mulutnya tak henti mengeluarkan kata-kata kotor.
Tas ranselnya semakin lama semakin berat. Ia ingin cepat-cepat menaruhnya di kamar, lalu enyah ke kota Praha, tinggal di salah satu gereja gotik seperti pemulung susah tanpa harus kembali ke rumah. Ia selalu berkeinginan untuk menetap di salah satu negara Eropa, merencanakan untuk memiliki anak jenius bermata hijau lewat bank sperma dan hidup bahagia tanpa seorang suami. Pikirannya begitu nyeri bagaikan ditusuk-tusuk pisau saat ia menyadari bahwa khayalan-khayalan itu cuma sesuatu yang berlebihan.
Sebelum Bapak terkena penyakit jantung, ia pernah mencoba untuk kabur. Betapa tak beruntungnya ia, karena Bapak memergokinya memanjati pintu pagar. Ia mengira Bapak sudah tidur pulas. Bapak menghampirinya dengan hanya memakai sarung, menjambak rambutnya, menyeretnya untuk kembali ke dalam kamar sambil berteriak lantang, “Besok kamu sekolah anak tengik! Tidur sana!”
Keesokan hari, Bapak malah membelikannya banyak permen warna-warni yang kenyal. Di dalam permen-permen itu ada gula coklat yang membuatnya sakit gigi di kemudian hari. Ia tak tahu mengapa Bapak berubah menjadi baik hati. Si pelacur berkata padanya jika Bapak takut kehilangan anak perempuan satu-satunya, oleh karena itu Bapak berusaha menyenangkan hatinya supaya ia tak kabur lagi. Anehnya, ia tidak senang, sebab ia pernah sakit hati mendengar ucapan Bapak ketika Bapak sedang mabuk. Bapak bergumam jika memiliki anak perempuan tak lebih untuk mendapatkan banyak uang. Ucapan itu benar-benar dibuktikan oleh Bapak. Ia kerap dirapati oleh banyak lelaki di malam hari yang tak pernah ia hapal wajah-wajahnya. Kebanyakan dari mereka hadir dengan senyum serigala yang menakutkan, serta parang panjang yang berkilat pekat. Dan di pagi hari ia selalu menemukan dirinya sudah terbungkus selimut katun dengan tidak ada siapa-siapa di sampingnya.
Ia menundukkan kepala, memperhatikan langkah-langkah kakinya dan tertawa kecil penuh kemirisan. Percakapan musim kemarau di bulan lalu adalah percakapan terakhirnya dengan Bapak. Ia sudah semakin jarang bertemu dengan Bapak, meski mereka berada di satu atap. Ketika ia pergi sekolah, Bapak masih tidur mengorok ditemani pigura si pelacur. Ketika ia pulang sekolah, Bapak belum beranjak dari tempat judi. Kendati demikian, Bapak kadang menyiapkan sarapan pagi kesukaannya tanpa diminta; jus jeruk, nasi goreng hitam manis yang dimasak dengan kecap seperempat botol dan telur setengah matang dicampur garam.
Bapak mengira jika ia sudah bahagia dengan sarapan pagi buatannya. Padahal ia lebih membutuhkan Ibu yang tak akan pernah tega menawarkan tubuhnya pada lelaki-lelaki asing. Ia lebih membutuhkan Ofelia yang bisa membuatnya nyaman hanya dengan bermain petak umpet di pekarangan rumah. Ia lebih membutuhkan si lelaki tua yang senang membacakan dongeng-dongeng yang selalu membuat dirinya serasa terbang ke negeri ajaib Alice. Ia yakin jika Bapak tak pernah tahu bahwa ia sering mengecap sarapan pagi dengan air mata, hingga jus jeruk yang ia minum terasa makin asam.
Keringatnya menetes perlahan dari pelipis. Ia melihat seekor ular di dekat selokan gelap. Ular sepanjang dua meter itu bersisik emas dengan bintik-bintik hitam di sekujur kulit lincirnya. Tengkuk lehernya menggeriap. Ia membayangkan ular itu berubah menjadi seorang lelaki yang siap menggerogoti setiap jengkal tubuhnya. Lelaki itu mendesis-desis dengan lidah kecil menjulur yang bergoyang-goyang bagaikan siap mencatuknya. Tubuh lengket lelaki memalunnya seolah tak membiarkannya melarikan diri. Kepala besar lelaki lalu mendekati selangkangannya dengan gerak pelan yang makin lama makin gesit. Lelaki itu akan membuatnya kehabisan darah tanpa sempat terselamatkan. Lebih baik begitu, bukan? Aku bisa segera bertemu bertemu Ibu dan Ofelia, pikirnya sinis.
Lehernya tercekat seperti kekurangan oksigen. Imajinasi yang ada di dalam kepalanya benar-benar seperti kenyataan. Ular itu seakan memang telah mencekiknya dengan kejam. Air matanya sudah tak tertahan lagi. Ia melewati jalan-jalan beraspal bolong-bolong dengan cepat hampir berlari. Ia tak ingin mengingat Bapak kembali. Kedua mata suramnya menatap sisi kirinya dengan hati tak karuan. Rumah kayunya yang kecil tegap berdiri. Lampu-lampu tak dinyalakan seolah ini adalah malam Halloween di mana lampu-lampu sengaja dipadamkan. Alang-alang jangkung di depan halaman membuat rumah itu terlihat seperti tempat tinggal hantu. Ia berhenti sejenak. Menutup kedua matanya. Apakah ia harus lari atau menetap di rumah itu? Menghabiskan masa tuanya sendirian bersama bayangan-bayangan masa lalu?
Ia melangkahkan kaki-kakinya kembali dengan langkah yang lebih pasti. Pintu pagar berderit keras saat ia membukanya dengan tangan bergetar. Ia buru-buru mengambil kunci di dalam saku celananya, memutar gagang pintu dapur yang terhubung dengan kamar tidurnya. Tiba-tiba bau jahe manis menyergap hidungnya. Ibu ada di dekatku. Langkah-langkah kakinya sudah sangat lemas ketika ia memasuki kamar tidurnya yang lembab. Ia segera melempar tas ranselnya di atas lantai, membuka resleting dan mengambil sebilah pisau berlengkung tajam berbercak merah dari dalam tas.
“Bapak, maafkan aku yang telah memenggal kepalamu.”
Setelah membakar pisau yang ia pakai untuk membunuh Bapak diam-diam di tempat pelacuran itu pada perapian hangat, ia menghilang di balik kelengangan malam. Ia mungkin akan ke kota Praha, tinggal di salah satu gereja gotik seperti pemulung susah tanpa harus kembali ke rumah.
***
Rieke Saraswati adalah mahasiswa Program Studi Rusia FIB UI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar