Selasa, 13 Januari 2009

Ibu



Cerpen Tyagita Silka Hapsari

Kubuka mataku begitu alarm telepon genggamku berbunyi nyaring pada jam tujuh pagi. Aku lihat adikku masih terlelap di sampingku, di atas sofa bed. Ayahku tidak terlihat, namun terdengar gemericik air dari arah kamar mandi. Aku lihat ibuku terbaring lemah di ranjang, di rumah sakit ini. Ibu tidak tidur, matanya menatapku kosong. Aku bangkit dan menghampirinya, memberinya kecupan selamat pagi. Ibu tampak teramat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Sudah beberapa hari ini Ibu tidak mau tidur. Takut dijemput malaikat maut saat terlelap.
Ibuku sakit. Sejak tahun 2001 payudara kirinya digerogoti sel-sel kanker yang ganas. Ia menolak untuk dioperasi, karena ayahnya yang menderita kanker pankreas meninggal beberapa saat setelah dioperasi. Operasi hanya mempercepat kematian, kata Ibu setiap saat. Ibu trauma pada rumah sakit karena Mbah Kakung meninggal di sana. Ibu memilih pengobatan alternatif. Apa pun jenisnya, Ibu mencobanya tanpa henti. Kami tidak kaya, namun rupiah tidak menjadi masalah. Kesembuhan Ibu adalah yang paling utama.
Ibu tidak berhenti berusaha, sel-sel kanker pun tidak berhenti bekerja. Perlahan tapi pasti, payudara kiri Ibu habis dimakannya. Tidak puas dengan payudara, paru-paru kiri Ibu pun dilahap. Tulang belakang Ibu disantap. Tungkai kanan Ibu dibuat keropos.
Pertengahan Maret 2005, Ibu tidak bisa berjalan karena kaki kanannya terlalu sakit untuk digerakkan. Walaupun Ibu sudah terbatuk-batuk dari bulan Januari, baru pada awal Juni Ibu sulit bernapas. Ibu tidur dalam keadaan duduk di kursi roda. Apa yang semula kami kira batuk biasa menjadi sebuah tanda bahaya.
Kami membawa Ibu ke rumah sakit di ujung selatan Jakarta yang lebih berkesan seperti hotel dibanding sebagai rumah sakit, supaya Ibu merasa tenang. Ibu benci rumah sakit. Ibu selalu menarik lepas selang infusnya. Ibu selalu minta pulang. Seminggu di rumah sakit, tidak terjadi perubahan yang berarti. Dokter sudah angkat tangan karena paru-paru dan tulang Ibu sudah tidak dapat dipulihkan. Kehancuran yang terjadi sudah sangat parah, dan dokter hanya dapat memberikan morfin untuk menghilangkan rasa sakit supaya Ibu bisa tertidur.
Tapi Ibu tidak mau tidur, takut dijemput Malaikat Maut saat terlelap. Ibu pun memaksa kami semua untuk menemaninya saat ia terjaga. Di malam hari, Ibu sering meracau. Berteriak-teriak pada orang-orang yang tak terlihat. Kami tahu, Malaikat Maut sudah datang beberapa kali ke kamar kami, tapi Ibu berjuang menolaknya. Mbah Kakung pun sudah datang untuk menjemput Ibu, tapi Ibu tidak mau ikut. Ibu tidak mau meninggal di rumah sakit. Beberapa hari kami lewatkan dengan penuh air mata dan permohonan maaf, serta berkata pada Ibu untuk pergi jika memang sudah tiba waktunya.
Ibu menangis dan meminta maaf pada kami semua. “Maaf, ya Pak, aku nggak bisa sampe selese,” kata Ibu pada Bapak. “Maaf, ya, Sil,” kata Ibu padaku. Satu kata singkat yang mengandung banyak arti. “Nggak apa-apa, Bu,” jawabku. Aku tak mau menangis di depan Ibu, tetapi air mataku mengalir tanpa dapat kuhentikan. Aku tahu suatu saat Ibuku akan dipanggil Tuhan, namun aku tak pernah mengira Ibuku yang selalu ceria dan awet muda akan pergi saat aku belum lagi lulus kuliah.
Ada kuliah yang harus kuhadiri, maka aku diantar Bapak ke kampus. Seusai kuliah aku pulang ke kos. Aku tidak kembali ke rumah sakit karena aku ada kuliah keesokan harinya. Saat itu kondisi Ibu stabil, sehingga aku berani meninggalkannya. Saat aku sedang makan siang di kantin, kakak sepupuku menelepon, dan bertanya benarkah Ibu akan dibawa pulang hari itu. Aku tidak tahu, karena memang tidak ada rencana untuk membawa Ibu pulang. Aku telepon Bapak, dan benar saja, Ibu memang akan dibawa pulang. Aku tidak berpikiran macam-macam saat itu. Bahkan dengan polos aku berharap Ibu dibawa pulang supaya dapat beristirahat lebih enak di lingkungan yang Ibu kenal dengan baik. Aku salah.
Sekitar jam setengah enam sore, Bapak meneleponku, “Silka, kamu di mana?”
“Di kos,” jawabku, “Kenapa, Pak? Ibu jadi dibawa pulang?”
“Jadi. Di sana ada siapa? Ada yang bawa mobil nggak?”
“Ada Sandra. Aku tanya dulu, nanti kalo dia ternyata nggak bawa, aku naik taksi deh.”
“Ya udah. Cepetan ya.”
Bapak tidak mengatakan apa pun tentang Ibu. Berarti sesuatu yang buruk terjadi. Sandra, teman sekamarku, tidak membawa mobil. Aku segera mengganti baju, mengambil tasku, dan lari keluar. Aku naik ojek sampai halte terluar, lalu aku masuk ke dalam taksi. Selama perjalanan aku hanya bisa berdoa, Tuhan, kalau memang Kau akan mengambil Ibu, biarkan aku melihatnya untuk terakhir kali dalam keadaan hidup. Jangan ambil Ibu sekarang, Tuhan, tunggulah satu jam lagi.
Lalu lintas sore itu cukup padat, seperti hari-hari kerja lainnya. Aku sudah sangat frustrasi. Tante dan salah seorang kakak sepupuku berkali-kali menelepon, “Udah sampe mana?” tanya mereka. “Macet…,” jawabku pasrah. Aku tidak mau bertanya tentang keadaan Ibu dan mereka tidak mengatakan apa pun.
Ketika taksi itu berhenti di depan rumahku, aku langsung terbang keluar, masuk ke dalam rumah dan melempar tasku. Aku sungguh takut Ibu sudah pergi untuk selamanya. Begitu memasuki rumah, aku melihat sebuah ranjang diletakkan di ruang keluarga. Ibuku yang tercinta berbaring di atasnya. Hidup dan bernapas.
Aku segera naik ke sisi kanan Ibu di tempat tidur. Hatiku miris melihat Ibuku yang amat kusayang terbaring lemah, matanya terpejam tetapi bagian putih matanya terlihat sedikit. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan selang infus terpasang di punggung tangan kanannya. Mulutnya terbuka dan terdengar suara berat setiap kali Ibu menarik nafas. Ia sudah tidak mampu lagi menarik nafas lewat hidung. Paru-paru kirinya hanya tinggal sepertiga, bagaimana mungkin Ibu dapat bernafas dengan normal? Ibu berkali-kali mengangkat tangan tanpa sadar, seakan-akan memberontak untuk melepaskan diri.
Aku kecup wajah dan punggung tangan Ibu. Aku letakkan tangannya di atas kepalaku. Tangannya hangat, namun tak bertenaga. Aku tahu aku akan sangat merindukan belaiannya. Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Adikku yang duduk di sebelah kiri Ibu pun bermata merah dan sembab.
Setelah aku agak tenang, kulihat sekeliling ruangan. Banyak sekali orang yang berkumpul di dalam ruangan itu. Adik-adik Bapak, saudara Ibu, teman-teman Ibu, beberapa tetanggaku, semua berwajah sendu. Beberapa tetanggaku dan teman-teman Ibu membacakan Surat Yaasin. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain berdoa mohon Ibu dilapangkan jalannya.
Semalaman keadaan Ibu tetap sama. Nafasnya berat, mulutnya terbuka, kesadarannya hilang. Aku dan adikku meninggalkan Ibu hanya untuk shalat. Beberapa kali Oom Agus, adik Bapak yang berprofesi dokter, memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Ibu. Denyut nadi Ibu sangat cepat, lebih cepat dari orang normal, dan tekanan darah Ibu berkali-kali melonjak dan menurun. Tanganku hampir selalu berada di pergelangan tangan Ibu, supaya aku tahu jika denyut nadi Ibu melemah dan nyawa Ibu mulai lepas.
Adzan subuh terdengar, sinar matahari pagi yang lembut kembali menyinari bumi. Ibu masih bertahan, karena Ibu memang perempuan yang kuat. Namun aku tidak tega melihatnya. Berkali-kali kumohon pada Tuhan, jika memang Ibuku tidak bisa sembuh, tolong jemput Ibu secepatnya. Tubuh Ibu sudah terlalu rusak dan jika Ibu sadar, kesembuhan masih jauh dan hampir mustahil terjadi.Aku tidak rela Ibuku menderita lebih lama lagi.
Hari itu hari Rabu, dan Ibuku masih terus bertahan. Hari itu kembali penuh tangis dan doa. Teman-teman Ibuku terus berdatangan, bahkan yang telah datang hari sebelumnya. Teman-temanku pun datang jam delapan malam. Semua ingin ikut melepas Ibu.
Jam delapan lewat empat puluh lima menit malam itu, setelah aku bertemu teman-temanku, aku kembali ke sisi Ibu dan memegang pergelangan tangan Ibu. Entah mengapa, aku terdorong untuk berbisik di telinga kanannya, “Ibu, lepas ya… Udah cukup. Nanti Ibu nggak sakit lagi. Aku sama Tata udah ikhlas kok. Bapak juga. Kalo Mbah Kakung jemput, Ibu ikut ya. Nanti kalo Ibu liat ada cahaya, ikut yang paling putih, paling terang, paling lurus. Ibu jangan mau kalo jalannya belok-belok, cahayanya nggak terang. Pokoknya cari yang paling lurus dan terang ya Bu...”
Tidak ada air mata setitik pun di mataku. Aku sungguh tenang dan ikhlas. Aku ciumi wajah Ibu, aku letakkan tangannya di pipiku. Aku rasakan denyut nadi Ibu perlahan sama dengan denyut nadiku. Nafas Ibu menjadi pelan. Denyut nadi Ibu semakin melambat. Jam delapan lewat lima puluh menit, denyut nadi Ibu sudah hilang. Ibu tidak lagi bernafas. Aku berteriak sangat keras dan menangis tersedu-sedu, begitu pula adikku dan Bapak. Semua orang melarangku meneteskan air mata, karena akan menahan Ibu.
Aku minta Oom Agus memeriksa denyut nadi, detak jantung, dan tekanan darah Ibu untuk memastikan Ibu benar-benar telah pergi. Sekitar satu jam kemudian Ibu dimandikan dan dikafani, lalu dibaringkan di dalam peti. Aku tahu, Ibu pasti ingin dimakamkan dekat Mbah Kakung di Jogja, maka kami menelepon keluarga di sana untuk mengurus segala keperluan pemakaman.
Sampai saat ini, aku merasa Ibu tidak pergi untuk selamanya. Ibu hanya pergi sebentar keluar kota, untuk urusan dinas atau kongres seperti biasa. Ibu masih di sini. Di dalam hatiku.

Tyagita Silka Hapsari adalah mahasiswa Program Studi Inggris FIB UI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar