Kamis, 01 Januari 2009

Aku dan Kapten Nakamura



Cerpen Wida Kristiani

Aku sudah melihat beberapa tentara Jepang yang bermata sipit dan bertubuh pendek dari jendela dapur rumah majikan kami. Teman-temanku yang lain mulai panik dan mencari tempat bersembunyi, seakan kami bisa bersembunyi. Kami semua tahu mengapa mereka datang ke rumah Raden Mas Hatmosarodjo, tuan besar kami. Mereka akan mengambil salah satu dari pembantu perempuan untuk diserahkan pada pemimpin mereka, Kapten Nakamura. Cuih.
Teman-temanku saling mendekatkan diri, seakan dengan berbuat begitu mereka akan selamat. O, tentu saja mereka akan selamat… kali ini aku yang akan diambil oleh tentara-tentara Jepang itu. Majikan kami sudah mengatakannya padaku seminggu yang lalu, setelah Suminten mereka ambil.
Aku ingat, keesokan harinya setelah Suminten kembali, dia tidak bisa berkata apa-apa, hanya terus menangis. Sekujur tubuhnya lebam, di punggungnya ada bekas cambukan yang malang melintang. Sampai sekarang pun dia masih sering menangis. Dia bercerita pada kami kalau orang yang bernama Kapten Nakamura berlaku sangat kejam. Dia menyiksa terlebih dahulu sebelum memperkosanya. Jepang sialan.
Majikan kami menyuruh kami untuk merawat Suminten dengan baik, Suminten bahkan dibebastugaskan selama beberapa saat. Namun, dia tidak bisa melawan kehendak tentara Jepang yang mau mengambil budak perempuannya yang masih perawan. Kalau melawan, kami semua akan mati. Tepat seminggu yang lalu, Raden Ayu berkata dengan penuh penyesalan kalau tentara-tentara itu sudah menunjukku. Jadi, hari ini aku akan ikut bersama mereka untuk melayani pimpinan mereka yang terkenal sadis.
Mereka kira aku bodoh, aku budak, tapi tidak bodoh. Najis menyerahkan keperawananku pada pimpinan mereka. Tentu saja sekarang aku sudah tidak perawan, aku senang akan hal itu. Aku sudah menyerahkan keperawananku pada Karjo, pacarku yang bekerja sebagai supir di rumah Raden Mas Manguntenoyo.

“Tunggu di sini!” Setelah mendorongku masuk ke kamar, salah satu tentara Jepang yang tadi menggiringku berkata dalam bahasa yang bisa kumengerti. Aku melihat ke sekeliling kamar. Perabotnya sedikit, kursi, meja, tempat tidur ukuran besar… lalu mataku tertuju pada benda yang tergantung di dinding. Cambuk.
Aku merasakan keringat mulai menetes dan membasahi keningku. Aku takut. Tanpa kusadari airmata mulai menetes, cepat-cepat kuhapus. Kakiku bergetar karena ketakutan, aku cepat-cepat duduk di kursi di pojok kamar. Aku tahan getaran kakiku dan sebisa mungkin menenangkan diri. Ya, bapak… doakan aku dari surga. Aku mengucapkan doa yang dulu diajarkan almarhum bapakku, namun semakin aku mengucapkannya, semakin besar ketakutanku. Aku tidak tahu seperti apa Kapten Nakamura, tapi aku tahu apa yang dia lakukan pada gadis-gadis yang ditidurinya. Seluruh kampung tahu. Gadis-gadis itu selalu disiksa sampai berteriak-teriak mohon ampun, setelah itu baru dia berhenti menyakiti mereka, namun setelah itu dia akan memperkosa mereka. Kejam. Binatang. Apa yang diajarkan oleh ibu bapaknya sampai dia bisa seperti itu. Bukan hanya dia, aku tahu Jepang jauh lebih pandai menyiksa para tahanan daripada Belanda. Bara api panas, gergaji, pencabut kuku… aku bergidik.
Kriek…suara pintu dibuka.
Jantungku berdegup dengan kencang, kakiku gemetar lebih hebat, keringat dingin membasahi kening dan telapak tanganku. Namun, aku kuatkan hatiku dan menatap langsung pada orang yang baru saja masuk.
Sosoknya membelakangiku, dia berbadan tegap namun tidak terlalu tinggi. Dia melepaskan topi dinasnya dengan tetap membelakangiku. Lalu, aku bisa melihat dia melepaskan satu-satu kancing seragam kebesarannya yang berwarna putih, dia meletakkannya begitu saja di atas meja. Jantungku berdegup lebih kencang, tanganku basah oleh keringat, kakiku gemetaran. Aku menelan ludah karena takut. Namun, aku menguatkan diriku untuk tetap duduk tegak seolah aku berani melawannya. Aku ingin membenahi kain kebayaku, namun ternyata tanganku tidak sanggup untuk bergerak, tanganku terasa sangat sulit digerakkan.
Bapak, doakanlah anakmu ini.
Dia berbalik menghadapku. Aku terkejut melihat wajahnya yang masih muda, bukan seperti yang kuperkirakan. Dia memiliki mata yang sipit, tajam, sangat hitam, mungkin aku akan tersedot ke dalam hitamnya mata itu kalau aku terus menatapnya. Namun, aku kuatkan diri untuk berani menatap langsung pada matanya. Wajahnya begitu tanpa ekspresi, sangat menakutkan untukku, menunjukkan kalau mungkin dia sudah tidak takut lagi akan apapun, bahkan kematian.
Dia memperhatikanku dari atas sampai bawah, tetap dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Lalu, dia tersenyum kecil. Aku merinding, hanya dengan satu senyuman kecil, seluruh raut wajahnya berubah kejam, memperlihatkan dengan jelas luka seperti bekas sabetan pedang yang melintang memanjang dari atas dahi kiri sampai pipi kirinya. Aku sangat takut.
“Tidak perlu takut….” Dia berkata dalam bahasa yang kumengerti dengan terbata-bata. Dia berjalan dengan langkah ringan mendekatiku, membuat seluruh badanku menjadi gemetaran. Setelah cukup dekat dengan aku yang masih duduk di kursi kayu, dia berjongkok sampai mata kami sejajar. Hitamnya mata itu sangat menakutkan, namun aku tidak sudi untuk berpaling terlebih dahulu. Aku balas menatapnya, walaupun aku jantungku sebenarnya berpacu sangat cepat karena perasaan takut yang amat sangat. Dia membelai pipiku dengan tangannya yang kasar, aku langsung meludahinya. Sebenarnya aku ingin menamparnya, namun tanganku masih membeku di tempat, sama sekali tidak bisa digerakkan. Aku memang sudah gila, meludahinya berarti menyediakan diriku untuk lebih mendapat siksaan. Tapi, aku tidak sudi pasrah pada bangsa yang sudah membuat bapakku terbunuh. Bangsa yang mengaku-ngaku sebagai saudara tua kami, tapi mereka bahkan lebih biadab dari Belanda.
Cuih. Aku meludahinya sekali lagi.
PLAKKKK. Dia menamparku dengan sangat keras sampai aku terjatuh dari kursi. Sakit. Aku merasakan darah pada bibirku, aku mengusapnya dengan tangan. Ternyata, hanya seperti ini rasa sakit itu, tidak semenakutkan yang aku bayangkan, kalau hanya seperti ini, aku masih bisa menahannya. Tanpa kusadari aku tersenyum kecil. Lalu, aku kembali duduk di kursi seperti tadi. Aku menatap orang yang berada di hadapanku dengan sewajar mungkin. Ketakutan memang menjalari seluruh tubuhku, namun aku tidak sudi memperlihatkannya, hal itu hanya akan memberinya kesenangan.
Dia tampak terkejut, aku tahu dia pasti berharap aku akan mulai menangis. Huh! Jangan harap. Beberapa saat kemudian, raut mukanya sudah kembali datar, namun dalam beberapa detik, dia mengeluarkan senyum yang bahkan lebih keji dari sebelumnya. Seketika itu juga aku tahu akan ada hal yang lebih buruk. Jantungku berdegup dengan lebih cepat, namun aku menguatkan diri, dan aku tetap bisa menatap langsung pada mata hitamnya.
“Kamu… nama… siapa…?” Dia berdiri dari kejauhan dengan mata yang terus melekat padaku. Perlahan-lahan dia melepas sabuk kulitnya, lalu menyabetkannya ke meja. Nafasku tertahan, aku kembali berkeringat, namun aku sangat pandai bersandiwara dan aku tetap bisa memperlihatkan mimik tidak peduli di hadapannya.
“Kamu… nama… siapa!” Pria itu berteriak kali ini sambil kembali menyabetkan sabuk kulitnya. Aku diam saja, tidak mau menjawab. Dalam sekejap, dia tiba-tiba sudah berada di depanku, menarik kebayaku dan melepasnya dari badanku dengan kasar. Aku masih memakai korset, dia lalu juga menariknya sampai lepas. Aku menutupi dadaku, dia mendorongku sampai aku jatuh terjerembab membentur tembok. Dia memaksaku membelakanginya dan mulai menyabetkan sabuknya itu. Berkali-kali, aku bisa merasakan kulitku terkelupas, perihnya membuatku ingin berteriak, airmata menetes tanpa kusadari. Aku segera mengusapnya dan menggigit lidahku agar jangan sampai aku berteriak.
“Bicara!” Dia berteriak setelah merasa cukup menyabetku dengan sabuk. Aku berbalik menatapnya dengan datar sambil menutupi dadaku yang telanjang. Walaupun aku menahan kesakitan yang amat sangat, namun aku tidak mau mengalah padanya dengan memperlihatkan kesakitanku.
Cuih! Aku meludahinya lagi. Mengapa aku harus menurutinya untuk berbicara, menuruti orang dari bangsa yang membunuh bapak dan teman-temanku. Mereka membuatku tidak bisa lagi belajar dan terpaksa menjadi budak. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk melawan mereka. Mereka tidak tahu aku tergabung dalam kelompok pemberontak. Lihat saja kau Nakamura bangsat, kami akan menghabisimu dan pasukanmu.
Dia kembali menamparku, lalu segera berbalik membelakangiku. Berjalan menuju dinding sebelah kanan. Tempat cambuk itu digantung. Nafasku tertahan ketika dia melepaskan cambuk itu dari tempatnya digantung dan menyabetkannya ke sekeliling, mengahmburkan barang-barang.
Kaki gemetar hebat, aku tahan dengan sekuat tenaga dengan tanganku. Rasa dingin yang aneh menjalari kaki sampai ujung rambutku, aku akan mati, karena ketakutan. Sekali ini aku menunduk, aku merasakan aku akan menangis, tanganku sudah ikut gemetar.
Ceetttarrr.
Dia mencambuk punggungku. Aku tak tahan untuk tidak berteriak, sekali rintihan keluar dari mulutku, buru-buru aku menggigit lidah dengan keras. Tanganku meremas kain dengan keras, menahan kesakitan. Kesakitan yang lebih hebat dari yang pertama tadi. Selama mencambuk, dia terus berteriak dalam bahasa yang tidak kumengerti, yang jelas, dia ingin aku bicara.
Selanjutnya, aku terus menerima cambukan, pukulan, tendangan. Dia sudah merobek-robek kain yang membungkus tubuhku, menelanjangiku sampai aku merasa sangat malu. Ketakutanku perlahan surut, diganti dengan kemarahan yang luar biasa. Aku lampiaskan kemarahanku dengan tidak mengeluarkan suara sedikit pun, hal itu membuatnya sangat marah. Aku senang membuatnya makin kesal. Dia sudah setengah telanjang, namun dia tidak memperkosaku… orang itu malah semakin gencar menyakitiku. Aku tahu dia sangat kesal, dia ingin memaksaku menjerit kesakitan, namun berbicara pun aku tidak mau.
Lalu dia melepaskan celananya, dia telanjang sekarang. Aku menahan diri untuk tidak menangis saat dia menarikku dengan paksa ke tempat tidur. Aku memukul-mukulinya, menjambak rambutnya, menggigit tangannya, namun dia masih terlalu kuat untukku. Aku frustasi sekarang, aku tidak mau melayaninya. Aku jijik pada badannya yang tegap, kulitnya yang kuning, matanya yang sipit. Menjijikkan!
Aku sudah berada di atas tempat tidur, dia sudah menindihku. Aku berontak sekuat tenaga, meraih apa pun di sekitarku untuk menyerangnya, namun dia tetap tidak menyingkir dari atas tubuhku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat dia menggerayangi setiap inci tubuhku dengan tangannya. Namun, dia tidak memperkosaku. Dia tidak mampu melakukannya.
Sampai pagi harinya, dia tetap tidak menyetubuhiku. Sebagai gantinya, aku mengalami luka yang cukup parah. Tubuhku penuh dengan luka cambukan dan pukulan, mukaku penuh dengan lebam, aku sulit berjalan karena kakiku terluka karena tendangannya di tulang keringku. Tapi… aku puas, dia tidak menyetubuhiku, dan aku bisa membuatnya sangat kesal dengan diam saja. Saat aku diseret keluar oleh anak buahnya, aku sempatkan untuk tersenyum padanya, tanda kemenanganku. Aku tertawa dalam hati mengetahui ketidakmampuannya itu.

“Kamu tidak dibunuh, Sri?” Temanku bertanya setengah kagum setengah kasihan saat dia mengobati lukaku. Aku hanya menggeleng dengan lemah, tangisanku yang tak berhenti membuatku sulit bicara.
“Kamu sama saja dengan Suminten, menangis terus. Pasti sangat menakutkan bertemu dengan Kapten Nakamura. Apa jadinya aku kalau belum menikah… Yang sabar, ya, Sri.” Kartini berkata prihatin. Aku hanya bisa mengangguk sementara airmata tak berhenti mengalir dengan deras. Aku menangis bukan karena lukaku, lebih pada melampiaskan semuanya, karena sepanjang malam kemarin, aku begitu ketakutan, namun aku menguatkan diri untuk tidak menangis di depan bajingan itu. Sekaranglah pelampiasanku.
BRAK!! Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dengan paksa. Sekelompok tentara Jepang menyeruak masuk dan langsung menyeretku, aku tidak bisa melawan, badanku terlalu lemah. Kartini yang berusaha menarikku kembali ditendang sampai jatuh, aku ingin menolongnya, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Mengakulah kalau kamu yang menjadi mata-mata!” Seorang penerjemah yang satu bangsa denganku menerjemahkan apa yang dikatakan oleh tentara Jepang di belakangnya. Aku menggelengkan kepala, gagang senjata mendarat di kepalaku dengan keras. Aku sudah terlalu lemah, bahkan untuk meludahi orang itu. Kepalaku terkulai tak berdaya, namun tubuhku tidak dapat begitu saja rebah di tanah, karena ada dua orang yang memegangiku.
“Sri, kamu dalam bahaya, mereka menuduhmu sebagai mata-mata. Kalau kau tidak mau mengakui, kau akan disiksa dengan sangat kejam. Mereka tidak akan peduli kau adalah perempuan. Kalau kau mau mengaku….” Penerjemah itu menghentikan kata-katanya.
“Aku akan langsung dibunuh. Aku tahu hal itu jauh lebih enak… tapi, aku akan dipaksa mengatakan nama teman-temanku. Mereka akan diburu. Aku tidak mau. Lagipula, aku memang bukan mata-mata….” Aku berkata terbata-bata.
Selanjutnya, mereka merantaiku, dengan begitu mereka bisa melemparkan apapun padaku dengan mudah. Kotoran manusia, pistol, batu… apa saja mereka lempar padaku. Aku sudah habis mereka perkosa, aku sudah begitu kotornya dipaksa melayani mereka semua. Tapi, aku tidak akan bicara. Biar saja aku mati! Jepang bangsat! Aku benci mereka! Aku benci bangsa sadis itu! Dari mana mereka belajar untuk menyakiti orang lain seperti itu? Aku yakin, negeri mereka penuh dengan penjahat, perampok, pembunuh… semuanya kejam.
Lalu, tiba-tiba kudengar teriakan kemarahan. Segenap tentara Jepang yang tadi bermain-main dengan diriku langsung siap siaga. Aku tidak kuat untuk melihat siapa yang datang, kepalaku terus terkulai. Aku hanya mendengar bentakan, tamparan, pukulan… lalu aku dilepaskan dari ikatan. Lalu aku tak sadarkan diri.
Ketika aku bangun, Kapten Nakamura berdiri di sampingku. Aku melihat diriku sudah dalam keadaan bersih dengan balutan perban di mana-mana. Melihat aku tersadar, Kapten Nakamura segera menyuruh orang yang merawatku pergi.
“Kau… pergi… cepat… jauh. Akan… mengejar… Saya tidak… menolong… bisa….” Kapten Nakamura berkata terbata-bata, lalu menolongku bangun. Semalam sebelumnya, dia adalah sosok kejam yang menyeramkan, namun saat ini, mata hitam itu tidak menunjukkan kebengisannya, dia tenang.
“Mengapa membantu saya?” Aku berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku. Namun, ternyata tanpa bantuannya, aku tidak bisa berdiri tegak. Dia lalu kembali menolongku berdiri. Kami tidak lewat pintu depan, dia membopongku lewat pintu belakang, tanpa ada orang yang melihat kami.
“Mengapa membantu saya?” Aku kembali bertanya setelah kami berada di luar. Hanya ada satu orang penarik riksaw yang menungguku.
“Saya… tidak… tahu… Pergi, cepat!” Dia mendudukkanku ke atas riksaw. Penarik riksaw lalu langsung berlari menarik riksaw secepat mungkin. Sampai di belokan, aku masih meliaht Kapten Nakamura berdiri menatap kami pergi.
“Bapak kenal dia?” Aku berkata pada penarik riksaw dalam bahasa Jawa.
“Iya. Beliau Kapten Nakamura… sangat kejam, semua orang berkata begitu. Dia suka menyiksa dan memperkosa gadis perawan. Tapi, dia baik kepada saya,” si penarik riksaw memperlambat larinya.
“Kenapa dia menolong saya?”
“Saya juga tidak tahu. Dia memberi saya banyak uang untuk membawa anda ke tempat yang aman. Dia tidak pernah seperti itu, biasanya dia hanya menyuruh saya mengantarnya berkeliling dengan tentara mengawal kami. Sekarang, dia diam-diam menyuruh saya mengantar anda.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya diam sambil berusaha menahan sakit di kemaluanku.

Aku tinggal bersama Bude Kerjo, kakak Bapak, di desa sebelah desa asalku. Tentara Jepang masih mencariku, namun aku bisa menyembunyikan diri. Aku tidak tahu kalau salah satu kelompok kami berbohong dan menyebutku sebagai mata-mata sekutu. Aku dianggap pengkhianat yang harus dihukum mati oleh Jepang. Bude Kerjo sama sekali tidak tahu-menahu soal aku yang menjadi incaran Jepang.
Lalu, aku mendengar kabar itu.
“Kita harus bersyukur kepada Allah SWT. Mulai sekarang, sudah tidak ada lagi pemimpin Jepang yang akan mengincar anak perawan,” Bude berkata padaku setelah dia kembali dari sawah.
“Kenapa Bude? Jepang sudah pergi?” Aku bertanya dengan penuh semangat.
“Bukan semuanya. Pemimpin mereka yang terkenal kejam, Kapten Nakamura. Dia dihukum mati, dituduh bersekongkol dengan sekutu karena menyelamatkan mata-mata pribumi. Alhamdulillah! Kamu bisa tenang, kamu bisa kembali ke rumah majikan kamu. Kamu bisa kembali bekerja…! Alhamdulillah!”
Aku terpaku di tempat. Aku tahu… dia dihukum mati karena aku. Kapten Nakamura… aku membencinya karena menyakitiku dan karena dia berasal dari bangsa yang paling biadab… tapi, dia menyelamatkan nyawaku dan mengorbankan dirinya.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un… Allah, ampunilah dia….” Airmataku menetes mengucapkan doa untuknya.

***

Wida Kristiani adalah mahasiswa Program Studi Cina FIB UI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar