
Cerpen Siffa Arimbi Putri
Menaka berjalan lunglai di sepanjang koridor rumah sakit yang gelap. Beberapa perawat terlihat mondar-mandir dengan membawa baskom merah berisi air hangat yang uapnya menguap ke udara, sementara seorang anak kecil dengan wajah penuh koreng meraung tanpa henti dan para perawat tidak mempedulikannya. Mereka terus sigap berjalan menuju beberapa kamar pasien.
Menaka menghembuskan napasnya dalam-dalam. Ia menarik mantelnya lebih erat. Udara malam membuatnya menggigil. Sebenarnya ia ingin menghampiri anak itu serta mengelus rambut hitam lebatnya, mengatakan padanya bahwa di dunia yang jahat ini sebaiknya tidak usah merasa aneh jika ia memiliki keinginan untuk melompatkan diri ke jurang curam. Bunuh diri adalah hal paling wajar yang pernah disaksikan di muka bumi. Seharusnya para malaikat mengernyitkan dahi dengan manusia-manusia yang memilih untuk bertahan hidup dengan menyaksikan perang di mana-mana. Manusia-manusia yang betah menghirup udara di mana anak-anak perempuan mereka diperkosa oleh sekumpulan binatang buas. Manusia-manusia yang betah menghirup udara di mana mereka mesti mengandalkan hidup pada tembakau demi mengikis keperihan batin. Manusia-manusia malang. Menaka tersipu dengan pikiran gilanya. Ia pun terkekeh geli sambil menyaksikan bunglon-bunglon yang mengumpet di antara daun-daun tebal pohon pisang.
Anak lelaki yang berumur enam tahun itu bernama Wisnu. Ia dirawat sejak empat hari yang lalu di koridor rumah sakit. Selang-selang infus bergelantungan di sebagian tubuh kurusnya. Ia pernah mendadak stres, menggigit selang-selang, lalu mencopotnya keras hingga darahnya berceceran membentuk danau kecil di lantai koridor. Tadinya Menaka bingung mengapa Wisnu mesti dirawat di koridor rumah sakit, lalu seorang petugas kebersihan menjelaskan padanya jika kamar rumah sakit telah terisi penuh, tidak memungkinkan jika anak yang sekarat itu harus digotong lagi ke rumah sakit di ujung kota. Ia bisa keburu meninggal. Tapi menurut Menaka hal itu sama saja, sebab anak kecil itu sebentar lagi pasti akan terserang demam parah kemudian mati karena gigitan nyamuk yang berkeliaran bebas di koridor.
Hari ini adalah hari kesembilan Menaka berada di rumah sakit. Bapak menyuruhnya untuk menjaga ibunya yang tengah koma. Beberapa minggu lalu, ibunya menyayat pergelangan tangan dengan silet cukur karena tingkah Bapak yang kerap meniduri banyak perempuan. Sayangnya, cara murahan untuk bunuh diri itu tidak berjalan sempurna. Menaka sungguh kesal. Ia berpikir jika ibunya bukanlah orang yang pintar maupun sukses, sebab untuk membunuh dirinya saja ia gagal. Hal itulah yang membuat ibunya ada di rumah sakit. Menaka rindu pulang, meski dengan kepulangannya ia harus berhadapan dengan Bapak. Ia bosan mengendus bau obat-obatan yang menyiksa hidungnya. Lebih mengerikan ketimbang bau mayat yang ia simpan di bawah kolong ranjangnya. Tepatnya, mayat bayi perempuan yang ia panggil Tala. Menaka membunuh Tala karena tidak ada seorangpun yang menginginkan bayinya, termasuk bapak bayi itu sendiri. Dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, ia menaruh tubuh mungil Tala yang telanjang bulat di dalam keranjang rotan setelah ia menyusuinya sambil mendengungkan Lela Ledung. Ia mengajak Tala ke hutan pinus yang lebat agar seekor macan menemukan Tala, kemudian mencabik Tala dengan taring-taringnya yang runcing. Menaka tidak sanggup menyakiti Tala dengan tangannya sendiri. Ia butuh seekor macan untuk membawa Tala pergi ke alam lain.
Keesokan paginya, Menaka datang lagi ke hutan itu untuk memastikan apakah Tala sudah menjadi bangkai. Ia terkejut bukan kepalang tatkala mendapati Tala tertidur pulas di dalam keranjang rotan. Bahkan nampaknya keranjang rotan itu tidak bergeser sedikit pun. Maneke bertanya-tanya sendiri, kemanakah binatang-binatang buas yang mencari mangsa di malam hari? Mengapa mereka tidak menerkam Tala? Seakan tidak percaya dengan penglihatannya, ia mendekati Tala, memperhatikannya begitu lama sampai akhirnya Menaka tersadar jika Tala tidak tertidur. Ia meraba denyut jantung Tala. Tidak berdetak. Tala sudah mati. Menaka berteriak kencang, membangunkan para penghuni hutan yang masih terlelap. Lalu ia membawa Tala kembali pulang ke rumah, menaruhnya di bawah kolong ranjang bersama buku-buku bekas yang sudah jarang dibaca.
Wajah cantik Tala yang merah jambu, senyum kecilnya dengan bibir menguncup dan terutama mata hijaunya yang bercahaya selalu terngiang di kepala Menaka. Jika Tala sudah besar, ia yakin Tala akan menjadi aktris panggung terkenal seperti dirinya. Ia akan menjaga Tala dari pengaruh luar yang membahayakan seperti laki-laki pengecut yang tidak lebih dari seonggok daging mentah. Bagi Menaka, hubungan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya hanya didasari oleh nafsu. Keinginan kekasih-kekasihnya yang terdahulu cuma berharap dapat melucuti celana dalamnya dan menidurinya diikuti desahan persis babi. Tidak ada cinta. Ia sudah lama ingin membunuh cinta.
*
Dua hari sebelumnya Menaka merasa jika ia tidak akan pernah bertemu belahan jiwanya.
Cahaya bulan tampak merona di langit. Dari kejauhan, Menaka bisa melihat seekor serigala di atas bukit hijau. Serigala itu tengah berdiri dengan kepala mendongak, nampak tenang dengan keadaan malam hari. Menaka ikut senang dengan suasana yang jauh dari kebisingan itu. Ia pergi keluar kamar bernomor 013, membeli lima balon dari seorang nenek berpunuk seperti unta yang sering berlalu lalang di rumah sakit untuk berjualan. Menaka membayar balon-balon itu tiga kali lipat dari harga yang nenek itu minta, tapi nenek itu menolaknya mentah-mentah. Ketika Menaka mengajaknya berdansa di sepanjang koridor rumah sakit, nenek itu malah memandangnya dengan raut jijik. Menaka tidak peduli. Ia meliuk-liukan tubuhnya sembari menyanyikan lagu-lagu The Beatles seolah malam yang agung itu akan bertahan selamanya.
Menaka berhenti bersiul-siul gembira ketika seorang perempuan setengah baya berpakaian serba hitam memanggil dirinya untuk duduk di kursi kayu dekat halaman rumah sakit. Ia mengiyakan permintaan perempuan yang suaranya sangat halus itu. Seketika perutnya mual saat ia menyergap bau dupa yang menyengat dari sosok perempuan itu.
“Siapa namamu?”
“Menaka.”
“Kau sedang gembira ya?”
“Iya, begitulah.”
“Tapi hidupmu begitu perih, kan?”
“Hahaha..kau bertingkah seperti peramal gadungan.”
“Saya memang peramal. Saya bisa melihat masa lalumu.”
“Oya? Bagaimana masa lalu saya?”
“Seseorang membencimu setengah mati, karena kau pernah mengandung bayinya.”
“Hmm..saya tidak peduli jika ia membenci saya. Saya harap ia mati terlindas kereta api.”
“Kau mencintainya?”
“Cinta? Entah. Menurutmu apakah definisi cinta?”
“Cinta itu bagai tuhan, semua orang begitu ingin mempercayainya.”
“Ya, betul sekali. Cinta dan tuhan tidak eksis. Bagaimana bisa kita mengharap mereka membahagiakan kita jika mereka tidak pernah tumbuh dekat di sisi kita?”
Mereka berdua berpandangan mata sambil tersenyum tipis. Sesuatu yang menyentuh hati Menaka terjadi begitu tidak diduga: bibir mereka bertemu.
*
Ritme hidup berputar cepat, sementara Menaka berjalan amat lambat. Ia merasa ketinggalan. Ia masih bernapas, tapi sebenarnya ia sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Oleh karena itu, ia seringkali merasa bosan. Biasanya, untuk melenyapkan kebosanan ia akan memutar film-film yang ia rajut sendiri di dalam kepalanya. Di sana ia bisa berperan sebagai gadis muda lugu yang disekap di dalam sebuah benteng tua, didandani persis ratu dan digilir oleh sejumlah laki-laki berpakaian tuksedo. Atau seorang penjual korek api yang membalas dendam pada orang-orang yang tidak ingin membeli koreknya dengan membakar rumah mereka satu persatu.
Ibu kerap menasehatinya agar ia bisa tumbuh seperti anak-anak sebaya lainnya yang ceria, pergi berpetualang ke desa-desa terpencil dan berdandan cantik ala putri dongeng. Tapi Menaka tidak ingin dan tidak bisa. Ia lebih senang menghabiskan waktu di kamarnya yang penuh kedamaian di mana ia bisa leluasa menulis puisi dan melukis. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan menganggunya, karena itulah ia sering mengunci pintu kamarnya selama berhari-hari tanpa makan. Ya, ia mampu hidup tanpa makan. Ia mempunyai semacam ketakutan tak beralasan kalau makanan yang disuguhkan padanya itu terdiri atas racun-racun yang dapat membunuhnya dalam hitungan detik. Menaka memang takut mati, sekaligus takut hidup.
Kadang ia menyulut tembakau juga demi kepuasan sementara, tapi setelahnya ia akan menjedoti kepalanya lagi ke dinding sampai membiru. Terlebih lagi jika bapaknya sedang kumat, ia ingin lari kabur dari rumah, tapi ia terlalu takut untuk berhadapan dengan dunia luar sendirian. Ia terasing dalam keramaian, tidak suka berkumpul dan mengobrol dengan orang-orang. Tapi ia juga bersikukuh tidak ingin terlalu lama mendekam di rumah yang lambat laun akan melempar dirinya menjadi orang tidak berguna.
Ia pernah bermimpi ia masuk kembali ke dalam rahim ibu. Di sana ia menemukan dunia baru yang mencengangkan. Ternyata rahim Ibu adalah sekolah asrama khusus perempuan yang terbuat dari kayu dan sangat sempit sehingga untuk bergerak saja sulit. Kaki kita pasti akan terantuk benda-benda kecil yang terhampar sembarangan di lantai. Berbagai macam benda unik menghiasi setiap sudut: payung bergagang tubuh ular yang sudah mengeras diberi raksa, topeng-topeng badut sebesar kepala bayi, karpet lama yang akan bergelombang persis ombak ketika disentuh dan sebagainya. Apa yang dipikirkan Menaka ialah bahwa suasana sekolah itu sepertinya pernah ia temui di suatu tempat. Mungkin ia pernah akrab dengan sekolah semacam itu di sebuah film yang ia tonton di masa kecil, ia lupa, atau berdasarkan imajinasinya atas buku Malory Towers karangan Enid Blyton yang sangat ia suka sampai dibaca berkali-kali tanpa merasa jemu.
Sekolah asrama yang sederhana itu memiliki dua lantai di mana setiap lantai dihuni anak-anak kecil berpakaian cerah bak pelangi di pagi hari. Mereka bukan anak-anak kecil yang bisa mengubah semut menjadi kodok. Mereka anak-anak kecil biasa yang senang membaca buku dan melempar barang-barang sambil tertawa jahil. Hal yang membuatnya merasa aneh adalah bahwa mereka semua berambut pirang dan berwajah khas kaukasia. Tidak ada yang berambut legam seperti dirinya. Namun mereka semua baik terhadapnya. Setiap hari Menaka belajar berhitung bersama mereka, bergosip tentang ibu guru yang memakai lipstik berwarna merah norak, menggoda poster Andy Warhol sambil bermasturbasi. Menaka sangat bahagia. Nyatanya, kebahagiaan itu menendangnya keras saat Menaka terbangun dari mimpi dengan kasur basah berbau amis. Ia mengompol.
*
Menaka berhenti berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Tungkai kakinya lemas. Matanya kabur, terhalang genangan air mata. Ia pun berbalik badan. Dan ia sungguh terperanjat saat menemukan banyak anak kecil berambut pirang berlari-lari di taman rumah sakit. Mereka memanggil-manggil namanya. Ada yang merentangkan tangan ingin dipeluk. Ada yang melambaikan tangan. Ada yang menyodorkan senjata api.
Menaka seakan dipukul palu godam. Ia menarik kaki-kakinya ke belakang satu dua langkah. Dadanya berdebar kencang. Segera bayangan Tala menghampiri dirinya. Ia tahu ia merindukan Tala, sekaligus rindu untuk memberitahukan kebenaran pada ibunya. Ia tidak peduli jika kebenaran itu akan membuat kesehatan ibunya makin parah. Bahwa Tala adalah anaknya sekaligus anak Bapak.
Suara-suara anak kecil yang parau itu makin mendekat, mendekat dan mendekat. “Menaka! Menaka!”
***
Siffa Arimbi Putri adalah mahasiswa Program Studi Rusia FIB UI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar