
Cerpen Ratih Dewi
Malam berhasrat hampir tiba, para bintang mulai bermunculan—bergilir bercinta dengan rembulan. Manusia-manusia yang rindu akan percintaannya dengan Tuhan, sebentar lagi akan mulai bersenandung memuji nama-Nya.
Entah mengapa, kau lebih memilih untuk bersamaku, menemaniku pulang kampung. Katamu kau ingin mengenal keluargaku—persiapan pertama untuk menjadi seorang istri. Sejak awal aku jatuh cinta kepadamu, aku sudah tahu kamu gadis baik-baik yang akan menjadi istriku kelak. Sehingga betapa gembiranya aku saat kau mau pergi bersamaku.
Sayang, kegembiraan itu berubah. Kemacetan yang menjadi-jadi setiap mudik membuatku kesal dan menumpahkan amarahku kepadamu. Padahal aku tahu kau juga lelah, berulang kali di tiap pemberhentian bus kau mengganti kerudungmu yang lembap karena keringat. Kemacetan pun memakan waktu perjalanan yang seharusnya singkat.
“Mas, aku capek...” bisikmu lirih.
“Kita pasti sampai besok pagi, Rin. Kamu sabar ya,” aku berusaha menenangkannya.
“Mas, kita...turun saja, yuk,”
“Eh? Kita mau ke mana?”
“Mas, aku lihat ada penginapan di situ. Aku capek sekali, Mas...aku mau tidur.”
“Ah, sudahlah, Rin. Nggak aman,”
“Tapi aku mau istirahat, Mas...”
Tanpa mengulang permintaannya untuk yang ketiga kali, aku mengiyakan.
Sesungguhnya aku tidak menyesal bahwa aku bohong kepadamu, Rin. Aku bilang tadi kamarnya hanya ada satu. Sebenarnya masih ada tiga kamar lagi, tapi aku ingin tidur bersamamu, Rin. Kukira kamu akan menolak atau apa, ternyata kamu menurut saja masuk ke kamar itu. Aku tidak menyesal, tapi aku juga merasa bersalah. Apakah aku menjerumuskanmu, Rin? Aku hanya ingin tidur di pangkuanmu saja.
Tak berapa lama tidur-tidur ayam di pangkuanmu, ternyata keinginanku cepat berubah seperti kegembiraanku yang tadi berubah wujud menjadi kekesalan. Perasaanku kok, sekarang ingin...mengakrabkan tubuhku dengan tubuhmu.
“Rin, kamu benar-benar mau jadi istri Mas, ‘kan?”
Kau mengangguk.
“Rin, Mas punya satu permintaan. Boleh Mas mengecup keningmu?”
Kau terdiam sejenak. Berpikir.
Akhirnya kau mengangguk meski ragu-ragu.
Begitu mendapat jawaban, seketika aku bangun dan duduk di sebelahmu. Wajahku kudekatkan, lantas aku mengecup keningmu. Namun kemudian bibirmu merekah—entah kau sengaja atau tidak—aku pun mendekatkan bibirku ke bibirmu, dan menciumnya. Ada suatu dorongan untuk terus lekat dengan bibirmu, magnet atau apa aku tidak tahu, yang jelas aku menciummu lagi. Kamu membalas. Kita berciuman mesra.
Setelah beberapa menit berlalu, setelah puluhan cium dan rabaan terlewati, hasratku semakin meninggi. Kancing pertama blus panjang putih yang kau kenakan itu kubuka tanpa kau sadar. Demikian pula dengan kancing kedua, ketiga, dan keempat. Pada kancing kelima, kau menahanku halus.
“Mas, Rini...”
“Sstt. Sudah, jangan bilang apa-apa. Mas yang salah. Mas tidur di bawah saja.”
Rini, Rini. Sesungguhnya aku sama sekali tak berniat tidur di bawah. Aku tahu sifatmu, kamu yang begitu baik dan mencintaiku, pasti tidak akan membiarkanku seperti itu.
“Mas, jangan. Tidur di atas saja,” katamu, mencegahku menghamparkan selimut di lantai. Aku memandangmu sejenak, tapi tetap menghamparkan selimut itu.
Kau diam memperhatikanku.
Aku telah menyandarkan kepalaku di hamparan selimut itu ketika kau mengeluarkan suaramu, “Mas, Rini...mau ke kamar mandi dulu.”
Kau beranjak pergi mengambil tasmu, melenggang ke kamar mandi. Saat kau menutup pintunya, jantungku benar-benar berdegup kencang.
Aku lama menunggumu. Apa yang kamu lakukan di dalam sana, Rini?
Tiba-tiba dalam redup keremangan, disitulah kau terpaku, berdiri tepat di hadapanku. Pandanganku tergugah pada sutera ungu tipis yang sedikit menghalau keindahan tersembunyi di balik tubuhmu. Penasaranku memuncak, melarikan bayangan-bayangan liar diriku dan dirimu. Namun sekilas aku tahu, oh aku sangat tahu.. kau hanya menaruh piyamamu begitu saja di luar, sementara kau tak mengenakan apapun lagi di dalamnya; terlihat dari buah dadamu yang menggunung, mencuat menggemaskan. Tinggal aku sedapat mungkin menahan nafsu ini, membendung keinginan tuk segera, secepatnya...
“Rini! Kamu...kamu yakin mau melakukan ini?” aku agak terkejut. Namun ucapan basa-basi yang terlontar dari bibirku tak membuat tatapanku beralih ke tempat lain.
Kau mengangguk pelan. Aku bangkit, hampir terlonjak mungkin karena sudah tak sabar lagi.
“Tapi...”
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, kamu telah menaruh telunjukmu di bibirku. Sudah, sudah cukup introduksinya.
“Kalau begitu, kamu tenang saja ya, Ni.. Aku akan melangkah satu demi satu,”
Denyutmu terasa keras di dadaku ketika aku memelukmu lembut. Kulepaskan simpul tali piyamamu, dan kubiarkan terjatuh di lantai. Kini tiada lagi yang menjadi penutup tubuh sintalmu. Kukecup samping lehermu dan sekilas kau memejamkan mata. Kau mendesah singkat dan menegakkan punggungmu—reaksi alamiah ketika tubuh seorang wanita yang sedang berhasrat disentuh laki-laki. Semakin lama, gerakanku kupercepat. Kurebahkan dirimu ke atas ranjang, kau berbaring menggeliat lembut. Aku mulai melucuti seluruh pakaianku. Kita pun menjadi seperti manekin-manekin yang dibuat manusia sebelum didandani.
Namun tiba-tiba kau terkesiap, seakan sadar telah melakukan perbuatan yang berdosa. Kau bergegas bangun dan bermaksud mengambil piyamamu yang teronggok di lantai. Aku menahanmu.
“Aah, Rini. Kamu kenapa sih? Cepat ke sini, ah!” setengah memerintah aku berseru.
Kau diam saja. Kini kau duduk membelakangi ranjang. Aku gemas.
“Rini, Rini sayangku, ayolah...” kuberanikan diri berdiri di hadapanmu. Kepalamu yang semula menunduk, cepat-cepat kau alihkan. Pandanganmu jatuh ke sudut ruangan. Mungkin kau begitu karena tadi tak sengaja melihat tongkat saktiku sudah tegap tegak, sejajar dengan kedua matamu.
Melihat gelagatmu yang tak mau melanjutkan permainan, dengan sigap aku memanfaatkan kesempatan. Tangan kirimu yang nganggur kuambil dan kugesekkan pelan menyentuh mesin benihku. Kau tersentak. Lalu buru-buru menarik tanganmu. Aku semakin tidak sabar.
“Rin, aku mau...”
“Aku nggak mau. Aku takut...Aku mau pulang.” Serta merta kau bergegas menuju kamar mandi. Aku bingung dan heran. Jelas-jelas kau yang mengusulkan bermalam di losmen ini, tapi sekarang kau tidak mau melakukannya.
“Lho, yang mau ‘kan kamu, Rin. Sekarang kita udah kayak gini, kamu nggak mau. Gimana sih?” aku menghentikanmu masuk ke dalam kamar mandi dan memandangmu tajam.
“Iya, tapi bukan dengan tujuan seperti ini, Mas!”
“Bukan dengan tujuan seperti ini bagaimana? Lantas buat apa kamu bawa baju tidur sutra ungu itu kalau bukan untuk begini?”
Kau terdiam lagi. Sial.
“Mas nggak ngerti perasaan Rini. Rini takut, Mas...Rini takut Mas akan meninggalkan Rini, nanti...” di pelupuk matamu airmata terbendung.
“Ya ampun, Rini. Mas ‘kan tunanganmu, sayang. Mas nggak akan sia-siain kamu...Mas cinta sama Rini,” aku membelai wajahmu yang murung itu. Dasar wanita, mereka suka memancing, tapi mereka tidak mau basah.
Kau menangis. Aku mendekapmu.
“Mas janji, ya nggak akan ninggalin Rini?” tanyamu, sendu. Aku menggangguk.
Sebenarnya untuk apa wanita mempertahankan keperawanannya? Untuk dinikmati laki-laki yang dicintainya ‘kan? Lalu mengapa mereka sok menangis segala, padahal dalam permainan itu mereka juga senang.
“Rini cinta sama Mas, ‘kan? Rini mau membahagiakan Mas, ‘kan?” aku ganti bertanya. Pertanyaan klise yang akan membuatnya takluk malam ini.
Kau mengangguk. Aku puas mendengarnya.
“Kalau begitu tolong buat Mas bahagia malam ini,”
Kau langsung memandangku dalam-dalam, seakan ingin melumat dan menerkamku saat itu juga. Apa kau tahu apa yang kupikirkan barusan?
Setelah beberapa detik berlalu, kau putuskan berjalan kembali ke arah ranjang, menaikinya, lalu berbaring di atasnya. Rambutmu yang panjang, tergerai indah sempurna. Senyumku mengembang. Kau lebih cantik seperti ini, seharusnya dari dulu kau tidak usah memakai kerudung.
“Cuma sebentar kok, Rin. Mas janji akan membahagiakanmu,” aku ikut naik ke ranjang dan telah berada di atasmu, tapi kutahan dulu tubuhku dengan kedua tangan. Aku ingin sungguh-sungguh merasai kesucianmu, Rini.
Kusingkap kedua pahamu: terlihatlah surga duniawi. Nafasmu tak beraturan.
Rasaku memuncak. Aku menindihmu. Menciumimu. Tak kupedulikan lagi suara isak tangismu yang terdengar bersamaan dengan seruan takbir sayup-sayup.
Sebelah Tol Jagorawi, Maret 06
Ratih Dewi adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI
saya pernah baca ini bertahun-tahun lalu di sebuah majalah. adakah ini penjiplakan, atau si penulis memang menggunakan karyanya untuk mata kuliah penpop?
BalasHapus