Minggu, 04 Januari 2009

Tuhan buat Vasty



Cerpen Dahlia Isnaini


Hujan turun sangat deras ketika bel sekolah berbunyi. Aku segera membereskan alat tulisku dan berjalan ke luar kelas.
“Ra, bawa payung nggak?” Teriak Vasty ketika aku baru keluar dari kelas. Rupanya kelasnya Vasty sudah bubar dari tadi. Kelas IPS memang selalu selesai lebih awal, tidak seperti kelas IPA-ku yang baru selesai tepat ketika bel dibunyikan.
“Ya ampun, nggak bawa tuh! Gimana nih pulangnya? Lo juga nggak bawa payung ya?” aku balas bertanya.
“Iya, tapi gue udah telepon rumah, minta dijemput. Mungkin satu jam lagi Pak Edi baru datang. Katanya di Mampang banjir. Kita tunggu di kantin aja ya, sambil makan, lapar nih!” lanjut Vasty.
Aku berjalan di belakang Vasty. Kami harus berjalan beriringan karena lorong kelas dipenuhi oleh anak kelas satu yang sedang menunggu jemputan.
Ternyata di kantin juga ramai. Banyak teman-temanku yang juga sedang menunggu hujan reda sambil makan dan ngobrol di kantin. Vasty menunjuk ke arah dua bangku kosong di pojok kantin, dekat tukang mie ayam. Hanya tinggal bangku itu yang tersisa.
“Ya udah, duduk di sini aja deh. Gue mau makan mie ayam aja. Lo mau makan apa Ra?”
“Mmmhh, gue nggak lapar. Lo aja yang makan,” jawabku pada Vasty. Sebenarnya aku lapar. Tadi siang jam dua belas aku cuma makan nasi goreng yang aku bawa dari rumah. Sedangkan sekarang sudah jam empat. Tapi uang di kantongku tinggal dua ribu. Pas buat ongkos ke rumah.
“Gue beli es teh manis aja deh, tapi pulangnya gue nebeng sampai rumah ya?” lanjutku kemudian.
“Siip!” kata Vasty.
Ia mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan membaca sms yang baru saja diterimanya. Handphonenya baru, warna biru keperak-perakkan. Itulah enaknya jadi anak tunggal seperti Vasty. Bisa gonta-ganti handphone sesukanya. Segala sesuatu yang ia minta pasti diberikan oleh kedua orangtuanya.
“Ra, lo percaya Tuhan nggak?” tanya Vasty tiba-tiba.
“Percayalah! Parah lo, hari gini masih tanya percaya Tuhan apa nggak!” ledekku sambil kemudian meminum es teh manis di depanku.
“Hehehe, emang lo pernah ketemu Tuhan Ra? Kok lo bisa percaya sama sesuatu yang belum pernah lo lihat?”
Aku menatap Vasty penuh selidik. Kenapa Vasty tiba-tiba ngomong begitu? Sebelumnya Vasty tidak pernah mempertanyakan hal-hal yang filosofis begini. Sudah lima tahun aku mengenalnya. Sejak kami sama-sama duduk di bangku SMP sampai sekarang kami bersekolah di SMA yang sama. Obrolan kami tidak jauh dari masalah sekolah, teman, dan hal-hal ringan lainnya.
“Tuhan memang nggak bisa dilihat Vas, tapi bisa dirasakan keberadaannya. Tuhan tuh...”
Tiba-tiba mata Vasty berkaca-kaca.
“Ra, gue bingung...” ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku semakin bingung. Kenapa sih Vasty?
“Bokap-nyokap gue mau cerai. Lo tahu kan selama ini agama mereka beda. Sekarang mereka tanya masalah pilihan agama gue. Gue nggak mau bikin salah satu dari mereka sedih atau kecewa.”
Cerai? Tanyaku dalam hati. Seingatku selama ini Vasty tidak pernah cerita kalau orangtuanya bermasalah. Kok tiba-tiba keadaannya sudah gawat begini?
“Ya ampun Vas, kenapa baru cerita?” tanyaku sambil memeluk Vasty yang masih menangis tersedu-sedu.
“Tadinya gue pikir gue masih bisa membujuk mereka supaya membatalkan perceraian mereka, tapi semalam mereka bertengkar lagi. Gue nggak tahu mesti gimana lagi, Ra! Gue nggak mau mereka cerai. Cuma mereka yang gue punya Ra.” Vasty berusaha menyeka air matanya. Aku menyodorkan sebungkus tissue kepadanya. Untung kami duduk di pojok, jadi tidak ada satu pun orang di kantin yang menyadari apa yang terjadi di sini.
“Semalam gue bilang kalau gue akan ikut tinggal sama nyokap dan juga akan ikut agama Kristen kayak nyokap. Setelah gue bilang begitu, mereka bertengkar hebat Ra! Kalau udah begitu, gue bingung Ra.”
“Vas, gue tahu ini berat buat lo. Tapi lo tetap harus punya sikap. Lo nggak mungkin bisa menyenangkan semua pihak.” Aku mencoba memberikan pendapat. Aku sendiri nggak tahu harus bicara apa lagi. Di rumah, ayah dan ibuku jarang bertengkar. Paling ibu marah-marah kalau ayah terlalu sering membeli ikan hias yang menurut ibu hanya sebuah pemborosan. Itu pun bukan pertengkaran besar karena pasti ayah hanya senyum-senyum mendengarkan ibu yang marah-marah. Kalau sudah begitu, pasti ibu tidak meneruskan marah-marahnya. Aku sendiri tidak terbayang kalau harus lihat ayah dan ibu bertengkar masalah agama begitu. Pasti bingungnya bukan main.
Tiba-tiba handphone di tangan Vasty berdering.
“Pak Edi, kayaknya dia udah ada di depan sekolah. Kita pulang Ra!” Vasty merapikan rambutnya yang berantakan. Meskipun air matanya telah kering, tapi matanya masih terlihat sembab.
“Yakin nggak apa-apa pulang sekarang? Mata lo masih sembab begitu!” tanyaku padanya.
“Nggak apa-apa Ra, sebenarnya masih banyak yang mau gue ceritain. Tapi gue harus pulang. Tadi nyokap gue sms minta gue pulang. Gue takut ada apa-apa di rumah. Nanti malam gue ke rumah lo ya?” tanya Vasty penuh harap.
Aku hanya mengangguk.

*

Vasty mengantarku sampai depan rumah. Ibu sedang membaca majalah di ruang tamu ketika aku masuk dan mengucapkan salam dengan nada tak bersemangat.
“Lho, muka kamu kenapa bingung begitu Ra?” ibu kebingungan melihat wajahku yang kusut. Aku meletakkan tasku di atas meja kemudian duduk di samping ibu yang langsung mengambil posisi siap mendengarkan ceritaku. Aku menceritakan masalah Vasty pada ibu. Ibu mendengarkan dengan seksama dan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. Ibu agak kaget mendengar cerita tentang Vasty.
“Kok bisa ya Ra? Ibu kira selama ini agama Vasty Islam.”
“Rara pikir juga begitu. Selama ini memang Rara tahu kalau orangtuanya beda agama. Tapi Rara kira Vasty sudah memilih menjadi muslim. Habis, dia juga nggak pernah cerita banyak ke Rara,” kataku sambil merebahkan kepalaku di pangkuan ibu.
“Tadi di mobil Vasty cerita. Dia memang nggak pernah sungguh-sungguh menjalankan salah satu agama orangtuanya. Setiap tahun pasti dia ikut puasa bareng ayahnya, begitu juga kalau natal. Dia pasti ikut misa bersama ibunya di gereja. Menurutnya sama saja. Dia tetap bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang dia terima. Menurut dia, itu yang penting,” ceritaku pada ibu.
“Rara takut Vasty jadi berpikiran ekstrem Bu,” lanjutku.
“Ekstrem gimana Ra?” dahi ibu mengernyit. Bingung rupanya.
“Ya, jadi aneh gitu. Masa tadi di mobil dia bilang dia mau cari Tuhan buat dia dan orangtuanya. Tuhan yang nggak memaksa umat-Nya menggunakan cara tertentu buat menyembah-Nya. Itu kan ekstrem Bu.” Aku sendiri tidak mengerti maksud perkataan Vasty tersebut. Sepertinya masalah perceraian orangtuanya berimbas besar pada keimanannya.
“Ra, Allah enggak pernah memaksa umat-Nya dalam menyembah-Nya. Ia hanya menunjukkan jalan yang Dia ridhoi. Kan ada di Al-quran. Lakum diinukum wa liyadiin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Vasty harus memilih. Bukan karena siapa-siapa. Tapi karena dia percaya pada Tuhan.”
Seandainya Vasty ada di sini untuk mendengarkan nasihat ibu.

**

Malamnya aku menunggu telepon dari Vasty sampai jam satu. Handphonenya tidak aktif waktu kuhubungi. Begitu juga waktu aku mencoba menelepon ke rumahnya. Tidak ada yang menjawab teleponku. Aduh, aku takut terjadi apa-apa dengan Vasty.
Esoknya aku tidak bertemu Vasty di sekolah. Waktu kutanyakan kepada teman-teman sekelasnya, tidak ada seorang pun yang tahu kabarnya. Begitu juga pihak sekolah. Sorenya aku pulang sekolah dengan masih memikirkan Vasty. Sesampaiku di rumah, ibu memelukku sambil berbisik.
“Ra, Vasty meninggal satu jam yang lalu.”
Aku diam dan menangis. Badanku lemas mendengar berita tersebut.
Ibu yang menerima telepon dari salah satu kerabat Vasty. Menurut kerabat Vasty, Vasty dan kedua orangtuanya mengalami kecelakaan mobil dua jam yang lalu. Mereka dalam perjalanan menuju pengadilan negeri ketika kecelakaan itu terjadi. Kedua orangtua Vasty sekarang masih dalam keadaan kritis, sedangkan Vasty meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah.
Malamnya ada seorang kerabat Vasty yang mengantarkan sebuah amplop ke rumahku. Di dalamnya terdapat selembar kertas post-it yang ditulis Vasty untukku.

Rara,
Nggak tahu kenapa. Malam ini gue ngerasa deket banget sama Tuhan. Tadi gue baru aja berdoa ke Tuhan. Gue minta sama Tuhan supaya gue bisa terus deket sama Tuhan. Gue juga minta sama Tuhan supaya gue bisa terus deket sama bokap-nyokap gue. Gue berdoa supaya sidang besok gagal dan orangtua gue nggak jadi cerai. Gue nggak mau pisah sama mereka Ra.


Kertas post-it itu ditemukan di atas tempat tidur Vasty. Sepertinya ia sudah mempunyai firasat atas kejadian yang akan menimpanya. Esok paginya aku kembali menerima kabar duka. Kedua orangtua Vasty gagal melewati masa kritis. Selang lima menit setelah ibunya meninggal, ayahnya juga meninggal. Sepertinya Tuhan mengabulkan doa Vasty. Kini Vasty bisa terus berada di dekat Tuhan dan kedua orangtuanya.

***

Dahlia Isnaini adalah mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar