
Cerpen Maya Meta Sandhi
Hari ini aku sangat bahagia. Tanggal 5 Desember adalah tanggal terbaik dari semua tanggal yang pernah aku lalui. Pada hari ini aku resmi menjadi istri Mas Broto. Akhirnya setelah melalui perjalanan cinta yang cukup melelahkan, sang janur kuning pun menyerah pada kegigihan kami menuju pelaminan. Sang janur kuning tidak lagi tegak melainkan melengkung sebagai tanda kekalahannya pada kami.
Di tengah hiruk pikuk pesta, jantungku berdetak sangat hebat. Napasku mulai tidak teratur, tanganku mulai dingin, hingga perutku terasa sangat mual. Kalian jangan salah menduga, yang aku alami ini karena aku takut berdiri di pelaminan. Aku menjadi kacau karena membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam antara aku dan Mas Broto. Aku malu! Tetapi aku harus melakukannya karena ini sudah kewajibanku dan tidak bisa ditunda lagi. Aku harus melakukannya malam ini juga karena esok hari sampai tiga minggu ke depan, Mas Broto akan pergi berlayar.
Aduh…indahnya malam ini. Aku memang bodoh, membayangkan yang aneh-aneh. Ya…aku memang aneh, mempunyai ketakutan-ketakutanku sendiri. Padahal Mas Broto sangatlah romantis dan sabar membimbingku. Kami melakukannya hampir sepanjang malam bahkan saat Mas Broto sudah menggunakan baju layarnya keesokan harinya, kami melakukannya lagi. Ha...ha..ha..ternyata rasanya membuatku ketagihan.
Mas, jangan lama-lama ya perginya, entar tidak ada yang menemaniku di kamar, godaku nakal.
Aduh kamu ini, bajuku jadi lungset nih! Aku akan pulang secepat mungkin. Kamu hati-hati di rumah ya, kalau ada sesuatu telepon aku saja.
Lalu Mas Broto mencium keningku dan ia mulai berjalan dengan gagahnya. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang pasti akan kurindu.
***
Sepeninggal Mas Broto, aku mulai membenahi rumah baru ini yang dirancang untukku dan anak-anak kami kelak. Aku membuka kado-kado dari para tamu dan menyimpannya baik-baik. Ketika sedang mengatur dekorasi rumah, aku teringat pesan mertuaku, kamu pasti akan sering ditinggal sama Broto, sebagai penganten baru kayak kamu, di semua sudut rumah harus kamu tebar dengan peniti atau jarum. Alasannya saat itu adalah agar tidak ada makhluk halus yang mengganggu aku. Ah..tetapi tentu saja aku tidak percaya, aku kan orang modern, masa harus percaya terhadap hal-hal seperti itu.
Akhirnya pekerjaan hari ini selesai juga. Lelah rasanya, untung saja tidak ada Mas Broto jadi aku tidak harus melayaninya. Ketika aku mulai berbaring di atas peraduan, aku mendengar bunyi derum mobil yang aku kenal sebagai bunyi derum mobil Mas Broto. Aku berlari keluar kamar dan menuju pintu utama. Ah..benar saja, ternyata itu Mas Brotoku tersayang. Aku langsung berlari dari persembunyianku di balik pintu dan memeluknya erat-erat.
Kok Mas udah pulang? Katanya tiga minggu, kok ini belum sehari sudah pulang?
Aku kangen.
Ah..Mas nakal nih!! Nanti kerjaannya bagaimana?
Mas dapat izin satu minggu sebagai hadiah perkawinan dari kantor.
Mendengar pernyataannya ini, aku sudah tidak bertanya macam-macam. Lagipula, aku membutuhkan kehadirannya setiap detik yang kulalui. Aku tidak ingin munafik.
Mas Broto membuktikan keperkasaannya padaku lagi. Ia membopongku dari garasi hingga ke tempat peraduan kami. Dari menit itu sampai bunyi ayam berkumandang, kami terus bercinta tanpa mengenal lelah, terlebih lagi Mas Broto. Ketika aku tidak sengaja terlelap, Mas Broto terus saja melumuri seluruh tubuhku dengan air liurnya. Aku juga bingung, mengapa ia mempunyia banyak tenaga untuk semua melakukan ini. Akan tetapi apa peduliku, toh aku sangat menikmatinya. Dalam waktu seminggu tersebut, hal yang kami lakukan dari pagi sampai malam, sama sekali tidak ada perubahan. Sampai akhirnya aku memandangi punggungnya dari balik pintu lagi.
***
Akhirnya setelah dua minggu berlalu, aku mendengar derum mobil Mas Brotoku tersayang. Aku langsung berlari ke arahnya dan menunjukkan tespek.
Mas lihat, lihat! Garisnya ada dua! Ini berarti aku hamil!
Hah yang benar? Wah berarti aku hebat juga ya. Ha..ha..ha..
Betapa bahagianya kami saat itu. Kami jadi tidak sabar menunggu saat-saat yang mengesahkan kami menjadi orang tua. Pada usia kendunganku yang menginjak umur lima bulan, kami melakukan USG. Betapa terkejutnya kami, ketika dari tiga dokter yang kami kunjungi, semuanya menyatakan bahwa aku mengandung anak kembar. Kami berdua menjadi bingung karena jika dirunut dari silsilah, baik dari pihakku maupun Mas Broto, tidak ada bakat mempunyai anak kembar. Akan tetapi kami menyikapi sebagai anugerah dari Allah SWT.
***
Setelah mengalami penantian panjang selama sembilan bulan, akhirnya pada 13 September aku melahirkan bayi kembar tersebut. Di dalam ruang bersalin aku ditemani oleh Mas Broto yang dengan siap mendokumentasikan kelahiran anak kami yang pertama. Persalinanku berjalan dengan normal, hingga ia muncul. Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dengan sekuat tenaga akhirnya aku mampu mengeluarkan bayi mungil dari vaginaku. Aku sempat melihat anakku yang pertama. Ia bayi perempuan dan ia terlihat tetap cantik meskipun masih berlumuran darah dan tali pusar masih menjuntai dari perutnya.
Bu, jangan berhenti, ingat masih ada satu bayi lagi. Ibu harus tetap berjuang, ujar dokter mengingatkanku.
Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Aku begitu lelah dan vaginaku terasa sangat perih. Aku pun melanjutkan perjuanganku. Akan tetapi, mengapa bayi yang satu lagi ini sangat sulit untuk dikeluarkan. Biasanya, pada kelahiran anak-anak kembar yang normal pada umumnya, hanya berselang beberapa menit, atau yah…paling lama tidak satu jam. Akan tetapi, mengapa dalam kasusku sampai pukul 23.30, bayi itu belum juga muncul.
Dok!!! Mengapa lama sekali, saya mulai tidak kuat lagi, napas saya mulai habis, teriakku menahan kesakitan.
Sabar Bu, kami juga tidak tahu apa yang terjadi, sepertinya ada sesuatu yang membelitnya hingga ia sulit keluar.
Dokter bego!!! Dari tadi ngapain aja? Tidak lihat istri saya tidak kuat lagi. Cepat lakukan apa saja! bentak Mas Broto.
Akhirnya tepat pukul 00.00, bayi itu keluar dari vaginaku juga. Saat keluar, vaginaku seperti tertusuk jarum. Lebih perih daripada saat aku mengeluarkan bayiku yang pertama. Entah karena aku sudah lelah dan kesakitan yang tiada tara , sepertinya aku melihat bayi keduaku itu mempunyai banyak bulu hitam yang panjang dan hitam. Ah..mungkin ini hanya bayanganku saja.
***
Ketika terbangun, aku sudah berada di dalam ruang perawatan. Aku dikelilingi oleh Mas Broto dan kedua orang tua dari pihakku maupun Mas Broto. Aku heran mengapa mereka tidak tampak bahagia. Rautnya wajah mereka semuanya tegang.
Mana anak kita, Mas?
Sebentar lagi juga ke sini.
Ah..mengapa jawaban Mas Broto tidak semesra biasanya sih! Dingin sekali. Lalu aku melihat seorang berjubah putih menggunakan sorban masuk ke dalam kamarku sambil membopong dua bayi.
Ah..itu anakku ya. Coba bawa sini, aku mau lihat.
Saya akan bawa ke kamu, tetapi siapkan mentalmu ya, jawab pria bersorban itu.
Ah..jawaban konyol. Mana mungkin aku tidak mau menerima anakku.
Ini anakmu yang pertama, berjenis kelamin perempuan yang lahir pada pukul 22.50. Aku tersenyum melihatnya. Persis seperti dugaanku tadi, ia begitu cantik. Bayi perempuanku itu lalu digendong oleh ibuku.
Ini anakmu yang kedua, berjenis kelamin laki-laki yang lahir pada pukul 00.00.
Aaahhh…!!! Apa itu? Itu bukan bayi. Kalian pasti mempermainkan aku. Iya kan ? Iya kan ? aku melihat sekelilingku tetapi tidak ada yang berani menatapku.
Kamu dikerjain sama gundoruwo, jawab pria bersorban itu.
Hah??? Maksud Bapak?
Coba kamu inget-inget, pernah ndak sekali waktu kamu bercinta dengan lelaki yang menyerupai Broto?
Maksudnya? Jadi maksud Bapak saya ini selingkuh?
Bukan itu, karena ini di luar kuasa kamu. Maksudnya, pernah tidak ketika Broto pergi, tiba-tiba ia cepat kembali dan mengajakmu bercinta terus-menerus?
Oh…kalau itu mah pernah. Kejadiannya saat pertama kali kami baru menikah. Pada saat itu ia bilang akan pergi selama tiga minggu tetapi tiba-tiba malam harinya ia pulang dan tinggal di rumah sampai seminggu.
Hah??? Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Saya ini termasuk orang yang setia terhadap pekerjaan. Jadi jangan aneh-aneh! jawab Mas Broto dengan kasar.
Sudah, sudah! Kalian jangan bertengkar. Tidak ada yang dapat disalahkan, kalau mau, salahkan takdir yang mempermainkan kalian. Orang yang kau maksud itu bukan Broto melainkan gundoruwo yang menyerupai Broto, mendengar hal ini tubuhku bergetar hebat. Aku jijik pada tubuhku ini.
***
Setelah kejadian itu berlalu, kehidupan rumah tanggaku seperti berada di dalam neraka, semakin banyak cobaan yang mnerpa. Cobaan yang pertama, pada saat aku masih lemah dan butuh perawatan di rumah sakit, aku harus cepat-cepat kembali ke rumah. Hal ini disebabkan pihak rumah sakit keberatan dengan bayiku ini berada di dalam ruang perawatan bayi.
Akan tetapi untung saja, bayi perempuanku yang cantik ini tidak menangis jika ad di sebelah kembarannya ini. Bila kuperhatikan baik-baik, bayi lelakiku ini mempunyai wajah yang seram dan seluruh bagian mukanya ditumbuhi banyak rambut. Akan tetapi dari semuanya itu, aku sangat senang melihat matanya yang sayu.
Cobaanku yang kedua adalah ketika keluarga Mas Broto dan justru Mas Broto sendiri, mulai menyudutkanku. Mereka selalu bilang, Ini aib, aib keluaga! mereka mengatakan semua ini seolah akulah yang melakukan perselingkuhan. Padahal aku juga tidak mengetahui hal ini. Lalu untuk menutupi kesalahanku ini, kami sekeluiarga sepakat mengatakan kalau aku tidak jadi mempunyai anak kembar. Ketika ada tamu yang berkunjung ke rumah, kami selalu mengurung anak lelaki kami di dalam kamar. Untungnya ia sangat pengertian, tidak menangis dan tidak juga mengeluh. Kami hanya memamerkan bayi perempuan kami yang cantik.
Aku sebenarnya tidak tega membiarkan anak lelakiku ditelantarkan seperti itu. Akan tetapi apa yang bisa aku perbuat. Aku juga ketakutan menghadapinya, terlebih lagi saat ia meminta air susuku. Ia menyedotnya sangat keras hingga sesudah selesai menetek padaku, dua hari ke depan aku tidak mempunyai air susu lagi yang harus kuberikan pada putriku. Keberadaan putraku hanya bisa diterima olehku dan putriku yang cantik. Yah..bagaimanapun juga putraku ini pernah tinggal di dalam rahimku.
***
Waktu terus berjalan. Kedua anak kembarku kini berusia tujuh tahun. Putriku berwajah cantik dan ia juga mempunyai sikap yang ramah sehingga tidak mengherankan ia disukai banyak orang. Sedangkan putraku, lebih sering terkurung di kamarnya yang gelap dan tentu saja keberadaannya hingga kini masih menjadi rahasia dalam keluarga kami. Wajahnya tambah seram dan rambut yang menyelimuti wajahnya terus tumbuh dan mengembang. Entah karena ikatan batin atau apa, mereka berdua saling menyayangi dan mempunyi ikatan emosional yang sama.
Pernah sekali waktu, Mas Broto sangat kesal dengan putraku ini. Alasannya sangatlah sepele. Ia merasa waktu yang dihabiskan putriku ini, lebih banyak dihabiskan oleh saudara kembarnya di kamar gelap itu. Ketika kesabaran Mas Broto mulai habis, sekali waktu ia menuju kamar putraku dan memecut putraku ini dengan sabuk. Seperti yang kubilang tadi, putraku sangatlah pengertian, ia tidak menangis apalagi membalas. Entah berapa pecutan yang diterimanya. Hatiku sangat pilu melihat ini. Setelah Mas Broto meninggalkan kamar, aku langsung menghampiri putraku dan melihat kalau ada luka. Aku sangat terkejut. Putraku ini tidak terluka sedikit pun, ia hanya melihatku dengan mata sayunya, ia tidak berkata apa pun.
Lalu terdengar teriakan, Kenapa ini? Kenapa anakku tersayang bisa seperti ini? Istriku, mengapa putri kita bisa seperti ini? Coba katakan siapa yang berani berbuat seperti ini? teriak Mas Broto dari dalam kamar putriku.
Aku pun berlari menghampiri suara teriakan itu. Aku melihat sekujur tubuh putriku penuh dengan luka. Teptnya, luka pecutan.
Nak, apa yang terjadi? Kamu kenapa? Siapa yang melakukannya? tanyaku.
Putriku berlari dari pelukan Mas Broto dan menghampiriku.
Ma, Papa yang melakukannya. Tolong aku, aku takut, ujar putriku dengan tubuh gemetar.
Omongan macam apa ini. Bohong, itu tidak benar, teriak Mas Broto.
Aku tidak peduli lagi. Saat itu yang kutahu adalah aku harus mengobati luka putriku yang cantik ini. Lalu karena merasa ganjil dengan kejadian hari ini, Mas Broto memanggil pria bersorban putih yang pernah hadir di rumah sakit.
Pak, tolong jelaskan, sebenarnya apa yang terjadi dengan putri kami? tanya mas Broto tidak sabaran.
Saya hanya dapat berpesan, jangan kau lukai putramu itu.
Ia bukan putraku, bukan!
Iya, iya, baiklah. Intinya jangan kau lukai anak itu. Karena jika kau melukai anak itu, sebenarnya anakmulah yang akan terluka. Anak itu dijaga oleh bapak kandungnya, yaitu gundoruwo. Ia tidak rela anaknya kau perlakukan seperti itu. Maka ia berubah wujud menyerupai dirimu dan melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan terhadap anaknya.
Jadi ini disebabkan gundoruwo keparat itu?
Hati-hati, jaga bicaramu.
Lalu apa tidak ada jalan keluarnya? Apakah kehidupan keluarga kami masih terus dibayang-bayangi oleh gundoruwo itu?
Tadi saya mencoba berdialog kepada gundoruwo. Ia sebenarnya ingin sekali mengambil anak itu kembali, tetapi anak itu tidak ingin pergi dari rumah ini. Rupa-rupanya ia sangat menyayangi putrimu itu.
Persetan!! Apa kita bunuh saja anak itu?
Jaga bicaramu!! Gundoruwo itu ada di sekitar sini. Seperti tadi yang kubilang, apa yang kau lakukan dengan anak itu, maka anak itu tidak akan apa-apa, tetapi anakmulah yang akan mendapat perlakuanmu.
Lalu bagaimana?
Cobalah untuk bersabar, ini jalan Allah untuk kamu.
Mendengar perkataan pria bersorban putih ini, tidak membuat Mas Broto sadar. Ia justru semakin mempersulit kehidupan putraku ini. Ia mengunci kamar putraku hingga putriku tidak dapat lagi bermain dengannya. Akibatnya, baru dua hari ini berjalan, putriku sakit panas yang tidak kunjung sembuh. Ketika ia kupertemukan lagi oleh saudara kembarnyatentu saja tanpa sepengetahuan Mas Brototiba-tiba ia langsung sehat walafiat. Aneh, ya memang aneh!
Tidak cukup sampai di situ, Mas Broto memutuskan tidak memberi makan putraku ini, ia juga mencukur habis semua rambut yang tumbuh di wajahnya. Saat Mas Broto melakukan ini, terdengar jerit pilu dari putraku tersayang. Hatiku pun tambah tersayat mendengarnya. Lalu tanpa sebab musabab yang jelas, Mas Broto mengalami kelumpuhan pada bagian kakinya dan mulutnya. Sampai akhirnya ia hanya menjadi manusia yang hanya bisa berbaring di tempat tidur sampai akhir hayatnya.
Ketika malam hari, ketika tulang rusukku rasanya mau patah, dan ketika aku baru selesai menjerit dalam batin, aku pun terlelap. Akan tetapi aku mengalami sebuah kenyataan, entah mimpi atau kenyataan. Jika mimpi, tetapi ini benar-benar terjadi dan jika ini nyata, sepertinya ini terjadi di alam mimpi. Di dalam peraduanku dengan Mas Broto, tiba-tiba datang tiga sosok dari pintu kamarku. Aku mengenali sosok tersebut. Aku melihat putriku yang tetap cantik meski menggunakan piyamanya, aku juga melihat putraku yang semakin mempunyai wajah yang seram terlebih lagi setelah rambut di wajahnya digunting habis oleh Mas Broto. Sebentar, siapa lagi yang bersama mereka. Aku tidak mengenalinya. Aku hanya melihat sebuah sosok yang sangat besar, tinggi, dan hitam. Aku tidak dapat melihat bentuk wajahnya dengan jelas, begitu banyak rambut yang menutupi wajahnya.
Aku hanya ingin pamit, aku ingin mengajak putrimu. Sebenarnya aku juga tidak mau, tetapi putrimu memaksaku, kata sosok hitam itu dengan suara yang parau dan berat.
Kalian mau ke mana? tanyaku dengan ketakutan.
Yang jelas pergi jauh dari sini, entah kapan akan kembali lagi.
Mama, aku mau pergi dulu ya, aku tidak mau berpisah dengan saudara kembarku. Tetapi bukan berarti aku tidak sayang mama. Aku sayang sekali pada mama. Mama hati-hati ya, jagain papa ya. Nanti pasti aku doain dari tempat yang jauh. Aku tidak bakal melupakan mama dan papa.
Lalu mereka pergi menembus dinding kamarku. Aku pun terbangun dari tidurku. Ah…ternyata hanya mimpi. Tetapi entah mengapa aku langsung berlari melihat kamar kedua anakku. Kosong, kamar mereka kosong. Menerima kenyataan ini, aku hanya bisa menangis sejdi-jadinya. Keesokan harinya, aku menanyakan hal ini kepada pria bersorban putih itu, jawabnya hanyalah Putrimu tersayang memilih mengikuti saudara kembarnya ke alam yang lain. Tetapi kau jangan khawatir, ia tidak mati, hanya pindah ke dimensi yang lain saja mengikuti putramu.
***
Kejadian itu sudah berlalu lima belas tahun yang lalu. Kini aku hidup seorang diri. Semenjak kematian Mas Broto dua tahun silam, tidak ada lagi yang peduli padaku, mereka malah menyangkaku sudah gila. Rambutku kini sudah putih dan kubiarkan tergerai tidak beraturan sangat panjang. Aku selalu duduk di kursi goyangku menghadap ruang tamu, karena aku yakin putri dan putraku pasti akan kembali. Saat aku sedang bersenandung Nina Bobo, tiba-tiba, Halo mama, apa kabar? Mama masih belum lupa dengan putri mama ini kan ?
Ia lalu memelukku dan mencium keningku. Lalu di belakangnya menyusul putraku dan sosok hitam yang dulu mengambil anak-anakku. Ah…bahagianya aku. Kini aku mempunyai keluarga baru lagi.
***
Maya Meta Sandhi adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar