
Cerpen Cempaka Fajriningtyas
“Papa kangen kamu, Ga.”
“Iya, Pa. Jingga tahu. Jingga juga kangen banget sama Papa.”
“Dulu kamu sering peluk Papa.”
“Sekarang Jingga kan juga lagi peluk Papa. Aaah, Papa masih saja pakai minyak rambut itu ya? Baunya sudah kuno, Pa.”
Lelaki setengah abad itu mengusap-usap rambut putih di kepalanya. Sesekali ia merapikan anak-anak rambut yang membandel di dahinya sampai tangan keriput itu lengket oleh minyak rambut beraroma lavender.
“Papa lebih ganteng kalau nggak pakai minyak rambut. Minyak rambut itu bikin Papa jadi seperti mafia-mafia Italia yang klimis itu. Sudah gitu, baunya itu loh...”
“Papa tahu kamu nggak suka sama aroma lavender.”
“Loh kok, malah Papa pakai terus minyak rambut itu? Gimana sih?”
“Sengaja, Jingga. Biar kamu ngambek setiap kali kamu peluk Papa.”
“Kok gitu?”
“Suara cempreng kamu terdengar sangat lucu tiap kali kamu ngambek. Papa selalu kangen saat-saat seperti itu.”
“Sini aku peluk Papa lagi. Aku juga kangen...”
Aku memeluk Papa dengan erat. Begitu erat sampai-sampai minyak rambut lavender yang membanjiri rambut lelaki yang sangat kucintai itu menempel di pipiku. Papa hanya diam. Ia malah mengambil satu album foto tua dari tumpukan buku di nakas.
“Kamu lucu sekali di foto-foto ini. Waktu umur kamu baru lima tahun ya?”
“Sudahlah, Pa. Jangan terlalu sering melihat album foto itu.”
“Hari ini usia kamu sudah 29 tahun ya, Ga?’
“Dengerin Jingga dong, Pa. Tutup saja album foto itu. Untuk apa Papa lihat- lihat foto itu. Jingga ada di sini. Lihat Jingga saja...”
“2 Pebruari. Selamat ulang tahun, Sayang”
Ia tersenyum getir sambil memandang foto-foto masa kecilku. Bandel sekali orang tua ini, sudah berapa kali aku melarangnya untuk melihat foto-foto itu. Tapi itulah Papa. Keras kepala.
“Papa bikin wafel coklat kesukaan kamu loh, Ga. Sengaja Papa taruh di meja makan supaya kalau kamu pulang, bisa langsung makan.”
“Jingga tadi sudah ke meja makan kok. Terima kasih ya, Pa...”
“Habiskan ya, Ga. Papa bikin spesial buat kamu. Kamu kan habis dari perjalanan jauh, pasti kamu lapar.”
“Maaf, Pa, Jingga nggak bisa makan wafel spesial Papa.”
“Habiskan ya, Ga.”
“Jingga ingin sekali, Pa. Tapi Jingga nggak bisa. Maafin Jingga...”
“Sekali ini saja, Ga. Habiskan wafel itu. Papa cuma minta itu dari kamu.”
Pelupuk mata yang terbingkai keriput milik lelaki setengah abad itu mulai basah. Lagi-lagi ia menangis. Lagi-lagi aku penyebabnya. Aku ingin sekali menghabiskan wafel buatanmu, Pa. Tapi aku nggak bisa. Mengertilah, Pa.
“Kenapa kamu pergi lama sekali, Ga?”
“Jangan dibahas lagi lah, Pa... Kita berdua tahu itu bukan salah Papa dan Mama.”
“Kapan kamu pulang, Ga? Cepat pulang. Pulang, Ga... Papa letih menunggu kamu di sini.”
“Jingga sudah pulang, Pa. Lihat Jingga dong! Jingga selalu ada di dekat Papa!”
“Pulang, Ga... Cepat pulaaaaaang... Papa sangat rindu kamu...”
“Papa! Ini Jingga, Pa! Jingga di sini!”
“Jinggaaaaaa......! Pulang, Nak. Papa kangen... Papa ingin ketemu kamu, Papa mau lihat senyum kamu.”
“Jingga selalu tersenyum, Pa. Makanya Papa lihat Jingga dulu.”
“Papa salah sama kamu, Nak. Papa bikin kamu sedih terus... Papa bikin kamu kecewa...”
“Nggak, Pa. Papa nggak pernah punya salah sama Jingga, Jingga juga nggak kecewa sama Papa.”
“Papa cuma mau kamu bahagia, Nak... Punya istri yang cantik, punya anak-anak yang lucu... Cuma itu, Nak...”
“Lihat Jingga, Pa! Jingga bahagia! Jingga sudah menemukan kebahagian yang lebih indah dari yang Papa bayangkan.”
“Pulaaaaaang lah, Nak... Papa mohooon...”
Tubuh kurus Papa yang dulu kekar itu segera kupeluk dengan erat. Namun, kali ini ia meronta-ronta. Berteriak-teriak memanggil namaku. Terus saja begitu sampai suaranya serak lalu habis. Kalau suaranya sudah habis, maka lelaki yang dulu sering menyisiri rambutku itu akan memukul-mukulkan tangannya ke kepalanya. Selalu begitu. Dan setiap kali Papa melakukan itu, tidak sedetikpun aku melepaskannya dari pelukanku. Seperti yang sekarang sedang kulakukan.
“Berhenti, Pa. Jangan teriak-teriak, Pa, Jingga mohon. Nanti mereka datang...”
“Jinggaaaaa...! Jingga anakku...! Pulang, Nak... Pulaaaaang... Jinggaaaa...!”
“Sssshhh... Diam dulu, Pa. Sssshh... Jingga di sini, Pa, Jingga sudah pulang...”
“Kenapa kamu tinggalin Papa, Nak? Papa kan sudah minta maaf...”
“Jingga nggak pernah marah sama Papa. Sssshh... sekarang Papa diam dulu, nanti mereka datang.”
“Jinggaa...! Sini, Nak... Papa kangen... Papa nggak tahan lagi... Jinggaaaaa...! Papa kangeeeeen... Di sini sepi... Papa kesepian, Nak...”
“Sssssshh... Ssssshhh... Sssshh... Iya... iya... Tenang... Tenang dulu, Pa. Ini Jingga sudah pulang. Papa nggak akan kesepian lagi.”
Kutepuk-tepuk punggung Papa dengan lembut agar beliau tenang. Namun, sepertinya aku terlambat. Langkah-langkah kaki mereka yang berseragam putih mulai terdengar dari balik pintu kamar. Semakin mendekat... mendekat... mendekat... BRAK!
“Siapa kalian? Mana Jingga?”
“Papa! Jangan berteriak terus. Nanti mereka suntik Papa lagi!”
“Mana Jingga? Mana dia?”
Mereka yang berseragam putih langsung memegangi Papa. Satu orang memegangi kepala Papa, empat orang menekan tangan-tangan Papa, dan dua orang lagi terlihat berusaha mati-matian menahan kaki Papa.
“Pegangi dia!”
“Cepatlah, kuat sekali tenaga Pak Tua ini.”
“Pegang tangannya! Nanti jarumnya patah kalau dia berontak terus.”
“Ayo cepat!”
“Jangan sakiti Papa! Pergi kalian! Pergi! Hey, kamu! Ya, kamu! Lepaskan kepala Papa. Dia lebih tua dari kamu, Brengsek! Apa kamu tidak punya sopan santun?”
“Cepatlah, suntikkan saja, dia berontak terus”
“Jangan! Jangan suntik Papa lagi! Dia nggak gila! Dia cuma kangen aku. Hey, jangan suntik dia atau kuhajar kalian!”
Kepalan tanganku tepat mengenai pelipis salah seorang manusia berseragam putih yang memegang jarum suntik itu. Aku yakin pukulan itu sangat keras. Aku yakin sekali. Tapi orang seperti angin. Ia malah semakin mantap mendekati Papa dan dengan angkuhnya, ia menusukkan jarum itu ke lengan Papa.
“Akhirnya tenang juga dia...”
“Kuat sekali orang ini, tangan saya sampai sakit semua waktu memegangi kakinya.”
“Kasihan dia. Begitu merindukan anaknya, sampai-sampai nggak menyadari kalau anaknya sudah meninggal.”
“Padahal sudah 24 tahun yang lalu ya...”
“Sudahlah, dia sudah tidur lagi. Biarkan saja dulu. Nanti kita cek lagi pada saat makan malam.”
“Cepat telepon istrinya. Biar Pak Tua ini ditemani istrinya agar tidak mengamuk lagi seperti tadi.”
“Baik, nanti saya segera telepon istrinya.”
KLIK. Mereka mengunci pintu kamar Papa. Lagi-lagi begini. Papa tertidur dan aku hanya bisa memandangi wajahnya. Perlahan, kudekati ranjangnya, kurapikan setiap helai rambutnya yang kusut masai akibat dipegangi perawat tadi. Aroma lavender menusuk hidungku, tapi aku tidak peduli. Baju tidur Papa yang berantakan kurapikan juga. Tapi tidak bisa. Rambutnya tetap kusut dan baju tidurnya pun tetap berantakan. Selalu saja begini. Kalau sudah seperti ini, aku hanya bisa duduk di samping Papa, menatap wajahnya dan menunggunya samapai ia sadar. Wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya, seperti sudah berumur 70 tahun, seperti digerogoti sepi dan rindu. Namun, bagiku ia tetap tampan.
Kesedihan rupanya tidak mampu mengalahkan ketampanannya. Hanya saja, tubuhnya tidak tegap lagi seperti terakhir kali aku melihatnya. Maksudku, terakhir kali ketika aku masih hidup.
***
Hari itu hari ulang tahunku yang ke lima, 2 Pebruari 1984, 24 tahun yang lalu. Papa dan Mama mengajakku jalan-jalan ke Monas sebagai hadiah ulang tahunku sekaligus untuk merayakan kesembuhanku. Aku baru saja sembuh dari sakit demam. Dua hari yang lalu, suhu tubuhku sempat tinggi, namun hari ini aku sudah merasa segar dan sangat bersemangat.
Angin sore itu cukup dingin karena memang masih musim hujan. Papa dan Mama membungkusku dengan jaket tebal, celana panjang dari bahan wool, sarung tangan, kaus kaki dan topi yang dirajut sendiri oleh Mama. Sore itu merupakan sore yang paling indah dalam hidupku. Setelah puas mengagumi Monas, Papa mengajariku menaikkan layang-layang sedangkan Mama tidak henti-hentinya menyemangatiku yang terus-terusan gagal menerbangkan layang-layang itu. Kami bertiga tertawa, tertawa, tertawa dan tertawa. Kami begitu bahagia. Aku sangat bahagia.
Semua bahagia itu menguap dengan sangat cepat ketika suhu tubuhku kembali tinggi. Aku sempat mendengar Mama mengatakan pada Papa bahwa suhu tubuhku mencapai derajat ke 40. Papa sayang kamu, Jingga. Itulah kata terakhir yang kudengar sebelum semuanya gelap dan sunyi. Ketika tersadar, aku sudah berada di rumahku. Saat itu, Papa sedang memeluk Mama. Mereka menangis sambil memeluk fotoku. Aku memanggil-manggil nama mereka. Menarik-narik tangan Mama. Memeluk Papa. Berteriak-teriak. Berguling-guling di lantai. Meloncat-loncat. Menjambak rambut Mama. Mencubit hidung Papa. Kujulurkan lidah di depan wajah mereka. Sampai akhirnya aku menangis karena kelelahan. Mereka tetap tak acuh. Mama tetap sibuk menangis sesenggukan. Papa tetap memeluk tubuh Mama yang gemetaran menahan duka.
“Kamu jadi begitu gara-gara Papa... Maafkan Papa, Ga...”
“Kenapa Tuhan memilih anak kita, Pa? Masih ada ribuan anak lain di dunia ini, kenapa Jingga? Tuhan kan tahu cuma Jingga yang kita miliki...”
“Ssshh... Tuhan nggak pernah salah, Ma. Kita yang salah. Kita nggak bisa menjaga Jingga...”
“Tapi kenapa cepat sekali Tuhan mengambil Jingga dari kita? Kenapa Jingga yang harus terkena radang otak? Kenapa Tuhan... Kenapaaaa...? Papa! Tanya sama Tuhan, Pa, kenapa Tuhan ambil Jingga?”
“Jangan marah sama Tuhan...”
“Kenapa cepat sekali kamu meninggalkan kami, Ga?”
Saat itu aku bingung, yang aku tahu aku hanya sakit. Tetapi aku tidak pernah pergi meninggalkan Papa dan Mama. Detik menjadi menit, menit berganti jam, jam melaju hari, hari melangkah minggu dan minggu menyapa bulan. Mama dan Papa tetap tak mengacuhkanku. Mereka tetap menjalani hari-hari mereka dan aku tetap berada di sekitar mereka. Aku tahu Papa sering bersembunyi di bawah tangga untuk menangis sendirian lalu berpura-pura tegar jika Mama datang. Aku juga tahu Mama sering menangis sebelum tidur. Tangis itu ditahan Mama sesunyi mungkin agar Papa tidak terbangun. Aku tahu, mereka sebenarnya selalu menangis di dalam hati dan selalu berpura-pura tegar di hadapan semua orang. Aku tahu semua, kecuali kematianku.
Akhirnya setahun pun berlalu. Aku pun bersiap-siap merayakan ulang tahunku yang ke enam. Hari itu hari ulang tahunku yang ke enam, 2 Pebruari 1985. Namun, tidak ada pesta, tidak ada kemeriahan, tidak ada acara jalan-jalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya ada Mama, Papa, wafel coklat kesukaanku dan fotoku.
“Sudah setahun kamu meninggal, Ga.”
“Mama dan Papa kangen banget sama kamu.”
“Selamat ulang tahun, Jingga Anakku.”
***
Cempaka Fajriningtyas adalah mahasiswa Program Studi Jepang FIB UI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar