
Cerpen Evlin
Sudah dua bulan aku berada di Jakarta. Aku sudah lancar berbahasa Jakarta dari percakapan sehari-hari dengan tetangga di sini. Kehidupan di sini ternyata berbeda jauh dari apa yang tetanggaku katakan di kampung. Mereka mengatakan hidup di Jakarta enak. Segala macam fasilitas memang ada di sini. Pusat hiburan, restoran, serta hotel-hotel berbintang menjamur di kota ini. Semua memang bisa didapat di Jakarta. Namun, tidak semua orang bisa menjalani hidup enak dan mendapatkan apa yang mereka mau. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati fasilitas tersebut, lebih tepatnya hanya orang-orang yang mempunyai uang yang bisa. Untuk mendapatkan semua fasilitas tersebut, banyak orang yang tidak mampu memilih jalan yang salah. Untungnya, aku bukan orang yang seperti itu. Walaupun baru sekali ke Jakarta, aku tidak terlalu berminat untuk menjelajahi kota ini. Lagipula, di Jakarta, aku dan kakakku, yah…kakakku, hidup sederhana.
Aku tidak berminat keluar untuk berjalan-jalan karena masih mengingat kematian ibuku belum lama ini. Sebelum pindah ke sini, aku dan ibuku tinggal berdua di kampung. Bapakku sudah lama meninggal. Sebagai orangtua tunggal, ibuku membiayai uang sekolahku serta semua kebutuhan kami seorang diri. Ibuku memang orang yang gigih. Ia bisa menyekolahkan aku sampai tamat SMA. Padahal, kami hanya bergantung dari hasil panen sawah kami yang hanya beberapa petak dan beternak bebek. Sampai sekarang, aku masih bingung bagaimana ia mencukupi semua kebutuhan kami dengan pekerjaan tersebut.
“Ngelamun lagi, Tar?” mbak Rani mengejutkanku. Ternyata ia masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Sudah Mbak bilang, kamu jangan terlalu sedih dengan kematian Ibu, biar Ibu tenang di sana.”
“Kok, Mbak nggak ngetok pintu dulu, sih?” jawabku ketus. Terlihat sekali ia sedih dengan jawabanku tadi.
Biar saja! Aku tidak peduli dengan perasaannya! Ia juga tidak pernah peduli dengan aku dan ibuku! Aku masih bisa terima jika ia hanya tidak memedulikan aku, tapi ini… Ibunya sendiri! Ibu yang melahirkannya ke dunia ini! Aku masih tidak habis pikir dengan sikapnya itu. Sejak kecil, aku tidak pernah melihat mbak Rani datang ke kampung menjenguk kami. Berkirim surat pun tidak. Aku hanya tahu tentang mbak Rani dari ibu dan pamanku. Waktu Ibu meninggal pun ia tidak hadir! Aku diantarkan ke Jakarta oleh pamanku. Aku masih heran kenapa aku harus tinggal dengannya setelah Ibu meninggal. Jika saja ibu tidak memintaku untuk tinggal dengan mbak Rani di saat-saat terakhirnya, aku lebih memilih tinggal dengan pamanku. Paman juga masih bersedia menampungku di kampung. Kenapa harus mbak Rani? Seseorang yang sama sekali tidak kukenal. Ia menelantarkan aku dan ibuku di kampung, padahal ia tahu bapak sudah meninggal. Ia membiarkan ibu mencari biaya untuk kami berdua. Oleh karena itu, aku membencinya. Sangat membencinya. Aku pernah memberitahu hal ini kepada ibu. Namun, ia langsung marah besar begitu mandengarnya.
“Tari, cukup! Kamu tidak tahu apa-apa soal mbakmu itu!” ibu langsung menangis histeris di depanku. Ia terlihat sangat sedih. Oleh karena itu, aku tidak pernah lagi menyinggung masalah itu.
Ibu sangat menyayangi mbak Rani. Ia selalu menyuruhku menghormati mbak Rani. Ia juga selalu mengatakan suatu saat, aku akan tinggal bersama mbak Rani, dan di sinilah aku sekarang.
“Maaf, Tar. Mbak buru-buru. Lagipula, sarapannya sudah siap. Mbak ke kantor dulu. Hati-hati di rumah,” mbak Rani keluar dari kamarku dengan tergesa. Begitu mendengar pintu luar ditutup, aku keluar dari kamarku.
Aku berjalan ke meja makan. Ketika melewati kamar mbak Rani, tiba-tiba aku ingin masuk ke kamarnya. Aku belum pernah masuk ke kamarnya. Biasanya, kamar itu selalu terkunci. Aku iseng mencoba memutar gagang pintu. Tidak terkunci! Pasti tadi mbak Rani lupa mengunci pintu kamarnya karena terlambat pergi ke kantor. Aku berpikir lagi. Sepertinya tidak enak masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuan mbak Rani. Namun, akhirnya aku memutuskan untuk masuk, lagi pula aku belum terlalu lapar untuk makan. Aku yakin mbak Rani tidak akan tahu karena ia baru akan pulang sore nanti.
Ketika masuk, mataku langsung menyapu seluruh bagian ruangan. Terdapat satu tempat tidur berdempet dengan dinding. Setelahnya, ada sebuah meja kayu kecil dengan dua laci. Di atasnya, terdapat sebuah jam weker dan beberapa alat kosmetiknya. Di samping meja, terdapat lemari yang juga berdempetan dengan sisi dinding yang lain. Lemari tersebut sudah sangat tua dan terdapat kaca setengah badan yang menempel pada pintu lemari. Di dinding depan tempat tidur, digantung kalender, jam dinding, dan sebuah foto dengan bingkai tua. Aku tertarik dengan foto itu. Foto itu menggambarkan seorang gadis yang sedang hamil. Ketika kuteliti lagi, sepertinya aku kenal dengan gadis dalam foto tersebut. Ya, Tuhan! Itu mbak Rani! Jadi ternyata, ia pernah punya seorang anak! Aku langsung berpikir yang tidak-tidak. Ketika aku mencoba menyentuh foto itu untuk memastikannya, bingkai foto yang sudah tua itu bergoyang lalu terjatuh. Foto itu keluar dari kaca pigura yang telah pecah. Aku sangat kaget dan ketakutan. Apa yang akan aku katakan kepada mbak Rani saat dia melihat fotonya sudah tidak berbingkai lagi? Ketika aku mengambil foto itu, aku melihat tulisan yang ada di balik foto tersebut.
“Ibu…” belum sempat aku membaca tulisan itu sampai tuntas, mbak Rani sudah ada di depan pintu kamar. Ia pasti ingat belum mengunci pintu kamarnya dan kembali lagi untuk menguncinya. Ia langsung menangis begitu melihatku memegang foto itu. Aku bertanya-tanya kenapa ia bersikap seperti itu. Aku melanjutkan membaca tulisan yang ada di balik foto.
“Mbak… apa maksud tulisan ini?” aku mulai gemetar. Suaraku tercekat seakan tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Mbak Rani menjatuhkan dirinya ke lantai sambil menutup mukanya dengan tangan. Aku langsung menghampirinya dan mengguncang-guncangkan bahunya.
“Jawab Tari, Mbak!” aku berteriak di depan mukanya dan mulai menangis. Aku ikut menjatuhkan diri di depannya dan menangis sejadi-jadinya. Setelah beberapa lama, mbak Rani membuka tangannya dan menatapku.
“Sudah waktunya…kamu mengetahui semuanya, Tar…” ia mengusap air matanya yang terus menerus mengalir.
“Dulu, Mbak tinggal di Jakarta dan kerja sebagai pembantu. Setelah beberapa lama, Mbak jatuh cinta dengan majikan Mbak. Ternyata, cinta Mbak dibalas. Kami… Kami akhirnya melakukan hal yang tidak pantas dilakukan pasangan yang belum menikah…” tangisnya meledak lagi.
“Sebulan kemudian, Mbak hamil,” ia menangis sambil menggelengkan kepalanya dan memukul dirinya sendiri.
“Waktu Mbak minta pertanggungjawabannya, ia malah memaki dan mengusir Mbak… Akhirnya, Mbak pulang ke kampung. Di kampung, kehamilan Mbak sudah tidak dapat lagi disembunyikan. Mbak diejek orang-orang di kampung, Tar. Puncaknya, Mbak diusir. Waktu itu, mereka sangat marah dan mengancam akan membakar rumah kita… Mbak menyerah dengan pergi dari kampung setelah… Melahirkan anak perempuan…” Ia kini menangis tak bersuara. Bukan… Bukan itu maksudnya, aku terus meyakinkan diri bahwa pikiranku salah.
“Waktu itu, Mbak tidak tahu harus ke mana membawa anak Mbak. Akhirnya, Ibu menyuruh menitipkan anak itu kepadanya…” Aku mulai menutup kupingku dan menangis sekeras-kerasnya agar tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya.
“Anak itu kamu, Tar! Ibumu ini tidak pernah ke kampung menemuimu dan Ibu karena tidak diperbolehkan menginjak kampung itu lagi! Ibu disangka pembawa aib bagi mereka! Ya, Tuhan! Apa salah hamba sampai harus menanggung semua cobaan ini!” Ia berteriak di depan mukaku. Aku mulai menjauh darinya dan mencoba ke luar rumah. Ia menangkapku dan mencoba memelukku. Aku mendorongnya sampai terjatuh.
“Tari, aku ibumu, nak… Ibu tidak pernah menelantarkanmu… Ibu selalu mengirim uang untuk membiayai semua kebutuhan kalian. Ibu sangat merindukanmu! Namun, waktu Ibu nekat ingin pulang dan menemuimu, Ibu dihalangi oleh nenekmu. Ia takut terjadi apa-apa dengan Ibu. Ibu sangat sayang padamu, Tar…” Ia bangun dan mendekatiku perlahan.
Sekarang, aku mengerti semuanya, sikap ibu saat mendengar aku membenci mbak Rani, sumber penghasilan ibu untuk membayar kebutuhan kami, ketidakhadiran mbak Rani selama bertahun-tahun… Perasaanku campur aduk. Ya, Tuhan… Bagaimana ini? Jadi selama ini yang kuanggap ibu adalah nenekku sendiri dan mbak Rani adalah… Aku tidak sanggup memikirkannya lagi. Suara mbak Rani atau siapa pun dia terdengar menjauh, tubuhku terasa lemas… Sesaat kemudian, segalanya kelam…
***
Evlin adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar