
Cerpen Pratiwi Dayangbuana
Tidak terasa sudah satu tahun aku berpacaran dengan Ivan. Senang sich bisa melalui satu tahun bersama-sama. Tapi kenapa sekarang aku biasa-biasa aja ya? Tadi siang aku kumpul dengan teman-teman di kantin. Mereka ngomongin tentang hubungan mereka dengan pacar mereka masing-masing. Sepertinya mereka bahagia sekali. Ada yang selalu dianterin pulang naik mobil. Ada yang selalu ditelepon sekadar untuk menanyakan kabar, udah makan belum, udah mandi belum. Pokoknya banyak deh, beda banget dengan Ivan. Setelah aku pikir-pikir…iseng-iseng aku menulis list tentang kekurangan Ivan. Jahat gak ya aku? Aah…masa bodo! Minus satu karena dia naik sepeda ke sekolah. Minus satu karena dia jarang memiliki pulsa handphone. Minus satu karena dia gak punya jaket bermerek. Dia hanya mempunyai jaket yang dibelinya di Poncol, Senen. Minus satu karena potongan rambutnya yang aneh. Dan yang lebih memalukan, minus satu karena dia bawa makanan ke sekolah. Duh…dia udah gak punya urat malu ya? Dia kan cowok!
Hari ini aku bertemu dengan teman-temanku. Mereka menanyakan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Ivan. Sebenarnya mereka sudah lama ingin menanyakan hal ini. Apa sich yang menarik dari Ivan. Kenapa juga dulu aku menerimanya menjadi pacarku. Padahal sewaktu Ivan menyatakan cintanya, ada cowok lain yang sedang PDKT –pendekatan- denganku. Namanya Indra. Dilihat dari fisiknya, ia lebih ganteng dari Ivan. Dan dari segi ekonomi, memang kelihatan sekali ia tergolong menengah ke atas. Mobilnya yang mewah selalu ia bawa ke sekolah.
“Apa jangan-jangan gue dipelet ya?” tercetus ucapanku dengan spontan.
“Bisa jadi tuh…,” kata salah satu temanku.
“Jadi kapan lo mau putusin Ivan?”
“Mm…kapan ya? Besok atau lusa deh. Gue gak tahan lagi ma dia. Malu-maluin aja.”
Tiba-tiba salah satu temanku memberikan signal kalau ada sesuatu yang tak beres. Aku tak mengerti. “Gawat! Ada orangnya tuh di belakang lo,” bisik temanku. Aku langsung memalingkan mukaku untuk melihat siapa sebenarnya yang ada di belakangku. Ternyata Ivan. Saat mata kami berdua saling bertemu, ia langsung pergi meninggalkanku. Tanpa satu huruf pun, apalagi kata. Dengan enteng aku berkata “Bagus deh kalo dia denger. Jadi gue gampang mutusin dia.”
Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Ivan. Pada awalnya tidak terasa apa-apa. Biasa aja. Semua berjalan seperti biasa. Hanya saja bila kami bertemu di sekolah, ia sengaja menghindariku. Sekarang aku merasakan sesuatu yang hilang dari hidupku. Terasa hampa dan sunyi. Kesepian. Di sekolah aku tak pernah merasakan hal ini. Tapi ketika di rumah perasaan itu muncul. Terlebih lagi ketika aku tak berhubungan dengan Ivan. Mungkin inilah siklus hidup yang harus kulalui. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Hari ini hujan membasahi Jakarta. Aku hanya berdiam diri di kamar. Membaca buku, majalah, sampai buku pelajaran, menulis diary. Bosan rasanya seharian di kamar. Untuk mengusir kebosanan ini, aku menyalakan radio. Kebetulan hari ini ada program acara kesukaanku di salah satu radio ternama di Jakarta. I’ll be at your side. There’s no need to worry. Together we’ll survive through the haste and hurry....
Lagu At Your Side-The Corrs ini mengingatkanku pada Ivan. Tanpa terasa aku menangis. Menangisi kebodohanku karena menyia-nyiakan orang yang tulus mencintaiku. Tangisanku semakin deras sederas hujan di luar sana. Sang penyiar memberitahu bahwa ada seseorang yang akan mengucapkan Happy Valentine kepada pacarnya. Aah…valentine? Memangnya hari ini valentine? Pikirku dalam hati. Kulihat kalender di atas meja belajarku. Benar. Hari ini tanggal 14 Februari. Valentine’s Day. Pacar saja aku tak punya, apalagi ber-Valentine-ria. Cowok di radio itu mulai berbicara. Namanya Ivan. Aah…pasti bukan Ivan yang aku kenal. Ivan tak mungkin seromantis ini. Aku mendengarkannya dengan seksama. Ivan yang ada di radio menyatakan maaf untuk pacarnya, Tamia. Tamia? Itu namaku. Tak mungkin ada Tamia lain yang juga mempunyai pacar bernama Ivan. Ia menjelaskan bahwa ia masih mencintai Tamia walaupun Tamia merasa malu dengan keadaannya. Ia hanya ingin Tamia hidup bahagia. Ia berjanji akan selalu di sisinya dalam keadaan senang maupun sedih.
Lalu sang penyiar bertanya, “Van, lo dimana sekarang? Kok ada suara hujan?”
“Gue sekarang di depan rumahnya. Gue mau ngasih kado buat dia.”
Tanpa berpikir panjang aku berlari menuju pintu depan dengan air mata yang masih berlinang. Aku berharap Ivan dan Tamia yang aku dengar di radio adalah Ivan dan aku. Segera kubuka pintu. Sesosok tubuh menggigil kedinginan sambil memeluk sebuah boneka beruang. Aku langsung memeluknya dan berbisik, “Maafin aku ya…” Ia tersenyum dan menyerahkan boneka tersebut sebagai hadiah untukku.
Pandanganku tentang Ivan selama ini ternyata salah. Dari lima minus yang ia miliki ada lima ratus plus di dalamnya. Plus seratus untuk sepedanya. Ivan selalu mengantarku pulang ke rumah dengan sepeda itu. Padahal jarak rumah kami cukup jauh. Plus seratus karena walaupun kami jarang ngobrol di telepon, ia rela setiap hari menelponku hanya sekadar untuk mengucapkan, “Selamat tidur sayang. Mimpi indah.” Klise tapi memiliki makna yang dalam. Plus seratus untuk jaketnya. Don’t judge by the cover. Mungkin pepatah ini cocok untuk jaketnya. Walaupun ia tidak memiliki jaket bermerek tapi jaket ini sering kali melindungiku di saat hujan. Plus seratus untuk rambutnya. Model rambut Ivan memang agak aneh, tapi ia tidak pernah complain saat aku salah potong rambut atau bau matahari. Ia tak malu dengan potongan rambutku yang salah. Ia suka sekali mengusap rambutku. Plus seratus karena ia membawa makanan ke sekolah. Memang kurang lazim bila ada cowok yang membawa bekal ke sekolah. Tapi luar biasa untuk Ivan, karena ternyata ia menabung uang jajannya untuk membeli hadiah untukku. Oia, plus seratus untuk kesabarannya menemani di saat aku sedang down karena masalah pribadi maupun sekolah.
Bagiku Ivan bukan saja pacar yang sempurna, tetapi ia kakak, teman, sahabat yang sempurna yang Tuhan berikan untukku. I’ll be at your side. There’s no need to worry. Together we’ll survive through the haste and hurry. I’ll be at your side. If you feel like you’re alone, and you’ve nowhere to turn. I’ll be at your side…
-Tamia-
***
Pratiwi Dayangbuana adalah mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar