Kamis, 22 Januari 2009

Yogyamu, Jakartaku



Cerpen Dania Diniari

Surya namanya. Dia yang selalu mengisi benakku tiga tahun terakhir ini. Aku heran mengapa baru sekarang aku menyadari perasaan ini.
“Wah, enak dong di Jakarta cowoknya kan ganteng-ganteng. Kok kamu masih jomblo sih? Nyama-nyamain aja nih. Hehehe…” Entah aku harus senang atau tidak mendengar pertanyaannya barusan.
“Modal tampang doang tapi otaknya kosong. They aren’t my type, “ ujarku sambil nyengir ke arahnya.
“Yee dasar. Ya udah buruan gih, orang rumah udah pada nunggu nih.”
Saat ini kami berada di salah satu minimarket dekat rumah Surya. Bude Watiek, ibunda Surya, menyuruh kami membeli beberapa bahan untuk makan malam nanti. Keluarga besar kami sedang berkumpul di rumah Bude Watiek sekarang. Mumpung lagi liburan panjang, jadi kami semua bersilaturahmi ke rumah kerabat selama beberapa hari. Rumah Bude Watiek di daerah Kaliurang, Yogyakarta inilah yang selalu menjadi basecamp keluarga besar kami. Bude Watiek adalah kakak dari ayahku. Ya, Surya itu sepupuku. Mengapa aku menyukai sepupuku sendiri ya? Padahal perasaanku dulu terhadap Surya tidak ada yang istimewa. Malah, waktu masih di bangku sekolah dasar, aku sering sekali bertengkar dengannya. Ia kerap menjambak rambutku dan selalu membuatku menangis. Aku dan dia suka tersenyum geli saat mengingat konyolnya kami dulu. Tak kusangka ia akan tumbuh menjadi Surya yang tampan, ramah, dan idealis seperti ini. Ia berbeda sekali dengan teman-teman pria sebayaku di Jakarta. Meskipun terkadang konyol, ia memiliki pemikiran-pemikiran yang dewasa dan cenderung bijaksana. Ia selalu memiliki pandangan tersendiri pada masalah-masalah hangat di negeri ini. Terutama yang menyangkut Yogyakarta, kota yang amat dicintainya, dan Jakarta, kota yang sedikit dibencinya.
Surya memang tinggal di Yogyakarta dan aku tentu saja menetap di Jakarta. Usia kami sama. Meskipun tinggal berjauhan, kami sering sekali mengobrol lewat sms. Banyak topik yang menjadi pembicaraan kami. Mulai dari masalah ringan seputar kampus kami, sampai masalah yang menyangkut kebijakan-kebijakan di kota kami. Ya, kami sering sekali memperdebatkan mana yang lebih baik, Jakarta atau Yogyakarta. Pada akhirnya sih kami sepakat bahwa masing-masing kota tersebut memiliki hal-hal positif dan negatifnya sendiri.

* * *

Selesai makan malam. Aku menyusul Surya ke teras. Udara Yogya sangat sejuk, bahkan dingin, di malam hari. Tak heran ia sering menghabiskan waktu di sini. Kami juga sering mengobrol di sini.
“Kenapa sih kamu nggak suka Jakarta? Nggak semua remajanya hedonis kok. Remaja-remaja yang alim juga banyak, tapi emang sih segalanya tuh mungkin kalo di Jakarta. Yang halal bisa jadi haram.” Aku langsung nyerocos. Memang menyebalkan mengetahui orang yang kita sayang ternyata membenci tempat dimana kita tinggal. Sebenarnya aku juga sama saja dengannya. Siapa yang tidak kesal dengan sopir angkot yang suka seenaknya berhenti di jalan. Siapa yang tidak kesal dengan polisi lalu lintas yang kadang berlagak bagai pemalak berseragam. Bandingkan dengan warga Yogya yang ramah dan bersahabat. Mereka lebih polos dibandingkan orang-orang di Jakarta. Kesopanan dan ketradisionalan merekalah yang membuatku turut jatuh hati dengan kota pelajar ini. Bahkan aku bertekad jika telah menikah nanti, aku akan menetap di Yogyakarta. Namun tetap saja Jakarta adalah bagian dari hidupku. Sudah belasan tahun aku menetap di sini. Aku meminum airnya pun dari sini.
“Di Jakarta itu susah membedakan mana yang benar dan yang salah, Rin. Coba deh, menurut kamu penggusuran tuh salahnya siapa? Aparat atau warganya?” Surya buka mulut. Aku suka sekali melihat Surya seperti ini. Cerdas tetapi tidak sombong. Kutatap lekat wajahnya. Ia terlihat sangat menawan dengan sepasang mata sayu yang dibingkai kacamata, hidung mancung, dan pancaran wajah yang ramah.
“Hei, kok bengong? Nah, kamu bingung ya?” Ia tersenyum jail penuh kemenangan padaku.
Gawat. Jangan sampai ia melihatku menatapnya seperti tadi. Rasa suka, sayang, cinta memang dapat membuatmu melakukan hal-hal bodoh. Tidak apa-apa lah, toh bodoh itu kan subjektif.
Aku tak mau kalah dengannya. Aku juga bertanya tentang Yogyakarta, “Di Yogya juga sama aja kan. Coba deh kamu pikir, kenapa banyak orang yang nggak setuju kalo Sultan mau melepas jabatannya sebagai gubernur? Itu kan hak beliau.”
“Mungkin masalah identitas. Takut kehilangan identitas. Yogya kan daerah istimewa yang sejak dulu dipimpin oleh keturunan keraton. Kalau gubernur Yogya nanti bukan dari kalangan keraton, mereka takut Yogya akan kehilangan identitasnya sebagai kota yang jadul dan njaweni ini. Aku nggak kebayang deh kalo di sini nantinya banyak gedung-gedung seperti di Jakarta itu. Kita nggak bisa jalan-jalan bareng ke Malioboro, Pasar Beringharjo, atau Keraton lagi dengan tenang. Pasti polusi udara juga akan bertambah,” jelasnya panjang lebar sambil tersenyum padaku.
Lagi-lagi senyuman itu. Apa aku menyayanginya karena keindahan fisik yang dimilikinya ya? Ah aku tidak mau menjadi orang yang hanya tergoda bungkusan luar sesaat. Namun kurasa tidak demikian denganku. Surya memiliki hati yang baik. Aku tahu ia juga menyayangiku. Yang aku tak tahu adalah ia menyayangiku sebagai sepupu atau lebih dari itu. Mengapa aku harus memiliki hubungan sepupu dengannya? Memangnya kenapa kalau aku naksir sepupuku sendiri? Hal itu bukanlah hal yang baru dalam dunia percintaan. Ibunda temanku menikahi sepupunya sendiri. Mereka satu kakek dan nenek, sama seperti aku dan Surya. Aku sendiri belum yakin apakah benar ini cinta atau hanya simpati yang mendalam. Kunikmati saja perasaan ini selama itu tidak menyakiti seorang pun termasuk diriku.
Kami terus mengobrol. Surya berkata padaku bahwa akulah orang yang paling asyik untuk diajak berdiskusi macam-macam topik, walaupun kuakui obrolan kami juga tak terlalu berbobot.
“Kamu kenapa nggak kuliah di Yogya aja? Bukankah kamu menyukai Yogya juga sepertiku? Nanti kan kita bisa berangkat ke kampus bareng. Sayang ya kamu tinggal berjauhan denganku. Padahal aku seneng banget menghabiskan waktu sama kamu.”
Wah! Ucapannya barusan membuatku sumringah setengah mati. Aku berusaha menyembunyikannya. Surya tidak berbohong. Aku mengetahuinya karena sudah lama sekali kami berteman. Sadarlah Sabrina, senang menghabiskan waktu denganku bukan berarti ia memiliki perasaan lebih terhadapku.
“Aku sih pengen banget tinggal di sini, tapi gimana ya, dari lahir aku sudah besar di Jakarta. Pasti asing rasanya kalau tiba-tiba aku kuliah di sini. Lagipula aku kan memang tidak lulus SPMB kemarin, jadi nggak bisa kuliah di UGM bareng kamu juga dong, hehehe…”
Surya nyengir, “Iya juga ya, hehe… Eh, mau ikut aku keliling kompleks ini sebentar nggak? Jalan-jalan aja. Kalau malam gini suasananya enak lho. Biar nggak susah tidur juga nanti.”
Kuturuti saja ajakannya. Berjalan-jalan di sekitar rumah sebelum tidur malam memang kebiasaanku dari dulu. Bila di Jakarta, aku sering melakukan kegiatan itu bersama ibu. Mengasyikkan saja melihat rumah-rumah tetangga kami yang lengang dan beberapa penghuninya yang siap bertualang ke alam nan indah. Biasanya aku dan ibu sering membeli sekoteng dan menikmatinya di warung Pak Haji, bersama dengan Pak Haji yang gemar guyon dan istrinya yang ramah.

* * *

Aku dan Surya berjalan kaki mengitari kompleks rumah Surya. Kami sudah berpamitan pada Bude Watiek dan ibuku tentu saja. Beberapa pria setengah baya tampak berbincang ringan di teras salah satu rumah tetangga Surya. Lalu ada seorang remaja pria yang asyik memainkan gitar di rumah sebelahnya. Suasana yang tak jauh beda dengan kompleks rumahku.
“Apa cita-citamu?” tanya Surya memecah keheningan yang menyelimuti kami sejak tadi.
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, “Hah, kok kayak nanya anak SD sih? Citaku-citaku banyak banget! Nih ya aku urutin. Waktu SD aku pengen banget jadi astronot. Terus begitu tahu kalo astronot harus pintar fisika dan matematika, aku beralih pengen jadi arkeolog. Asyik aja waktu nonton film-film tentang perburuan benda-benda antik dan kuno. Aku kan sampai sekarang suka banget Yunani. Aku pengen banget suatu saat bisa ke Athena, Kairo, Venisia, juga London. Kalo sekarang sih aku belum tahu lagi mau jadi apa, hehehe… Pengennya sih kerja di surat kabar… Kamu sendiri gimana?”
“Aku pengen jadi dosen,” jawabnya mantap. “Tapi buat jadi dosen kan paling nggak aku harus lulus S2 dan itu pasti lama banget. Nanti aku nikahnya gimana dong.”
“Nikah ya nikah aja kok ribet?” Aku geli mendengar ucapannya tadi.
Surya berucap lagi, “Ih, maksud aku siapa yang bakalan jadi istriku coba? Pacaran aja aku belum pernah. Lagipula mana ada perempuan yang mau nikah sama pria yang sibuk banget kayak aku.”
“Pede banget sih kamu!” Aku terkikik mendengarnya. “Tenang aja, pasti banyak deh cewek yang mau sama kamu.”
“Iya ya? Kamu juga mau?”
Aku senang bercampur kaget. Aku menoleh.
“Mau nggak ya? Hehehe… Kita sepupu gitu, emang bisa nikah? Tapi kalo kamu nanti seganteng Andrea Pirlo boleh juga deh,” candaku.
“Yee, muka orang mana mungkin berubah. Sudahlah lupakan yang tadi. Tapi setahu aku sih sepupu itu boleh menikah asalkan menaati aturan-aturan yang berlaku.”
“Nah, berarti itu topik debat kita selanjutnya,” ujarku bersemangat. Tidak ada habisnya bila mengobrol dengan Surya.
“Oke, kita lanjut besok. Pulang yuk, udah jam setengah sepuluh.”
Kami lalu berjalan menuju rumah Bude Watiek. Ah malam yang indah. Biarlah aku menjaga persahabatan dengan sepupuku tersayang ini. Let it flow, itulah prinsipku sejak dulu. Bukannya aku malas berusaha, tapi untuk apa merusak segala keindahan yang sudah banyak tercipta ini. Bila tiba waktunya, kau harus mengetahui perasaanku ini, sepupuku. Karena yang namanya cinta itu harus diungkapkan. Hanya orang yang terlalu cinta pada dirinya sendiri yang tidak berani mengungkapkannya. Begitulah yang tertulis dalam salah satu novel favoritku.

***

Dania Diniari adalah mahasiswa Program Studi Jepang FIB UI.

Senin, 19 Januari 2009

Mbak Rani



Cerpen Evlin

Sudah dua bulan aku berada di Jakarta. Aku sudah lancar berbahasa Jakarta dari percakapan sehari-hari dengan tetangga di sini. Kehidupan di sini ternyata berbeda jauh dari apa yang tetanggaku katakan di kampung. Mereka mengatakan hidup di Jakarta enak. Segala macam fasilitas memang ada di sini. Pusat hiburan, restoran, serta hotel-hotel berbintang menjamur di kota ini. Semua memang bisa didapat di Jakarta. Namun, tidak semua orang bisa menjalani hidup enak dan mendapatkan apa yang mereka mau. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati fasilitas tersebut, lebih tepatnya hanya orang-orang yang mempunyai uang yang bisa. Untuk mendapatkan semua fasilitas tersebut, banyak orang yang tidak mampu memilih jalan yang salah. Untungnya, aku bukan orang yang seperti itu. Walaupun baru sekali ke Jakarta, aku tidak terlalu berminat untuk menjelajahi kota ini. Lagipula, di Jakarta, aku dan kakakku, yah…kakakku, hidup sederhana.
Aku tidak berminat keluar untuk berjalan-jalan karena masih mengingat kematian ibuku belum lama ini. Sebelum pindah ke sini, aku dan ibuku tinggal berdua di kampung. Bapakku sudah lama meninggal. Sebagai orangtua tunggal, ibuku membiayai uang sekolahku serta semua kebutuhan kami seorang diri. Ibuku memang orang yang gigih. Ia bisa menyekolahkan aku sampai tamat SMA. Padahal, kami hanya bergantung dari hasil panen sawah kami yang hanya beberapa petak dan beternak bebek. Sampai sekarang, aku masih bingung bagaimana ia mencukupi semua kebutuhan kami dengan pekerjaan tersebut.
“Ngelamun lagi, Tar?” mbak Rani mengejutkanku. Ternyata ia masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Sudah Mbak bilang, kamu jangan terlalu sedih dengan kematian Ibu, biar Ibu tenang di sana.”
“Kok, Mbak nggak ngetok pintu dulu, sih?” jawabku ketus. Terlihat sekali ia sedih dengan jawabanku tadi.
Biar saja! Aku tidak peduli dengan perasaannya! Ia juga tidak pernah peduli dengan aku dan ibuku! Aku masih bisa terima jika ia hanya tidak memedulikan aku, tapi ini… Ibunya sendiri! Ibu yang melahirkannya ke dunia ini! Aku masih tidak habis pikir dengan sikapnya itu. Sejak kecil, aku tidak pernah melihat mbak Rani datang ke kampung menjenguk kami. Berkirim surat pun tidak. Aku hanya tahu tentang mbak Rani dari ibu dan pamanku. Waktu Ibu meninggal pun ia tidak hadir! Aku diantarkan ke Jakarta oleh pamanku. Aku masih heran kenapa aku harus tinggal dengannya setelah Ibu meninggal. Jika saja ibu tidak memintaku untuk tinggal dengan mbak Rani di saat-saat terakhirnya, aku lebih memilih tinggal dengan pamanku. Paman juga masih bersedia menampungku di kampung. Kenapa harus mbak Rani? Seseorang yang sama sekali tidak kukenal. Ia menelantarkan aku dan ibuku di kampung, padahal ia tahu bapak sudah meninggal. Ia membiarkan ibu mencari biaya untuk kami berdua. Oleh karena itu, aku membencinya. Sangat membencinya. Aku pernah memberitahu hal ini kepada ibu. Namun, ia langsung marah besar begitu mandengarnya.
“Tari, cukup! Kamu tidak tahu apa-apa soal mbakmu itu!” ibu langsung menangis histeris di depanku. Ia terlihat sangat sedih. Oleh karena itu, aku tidak pernah lagi menyinggung masalah itu.
Ibu sangat menyayangi mbak Rani. Ia selalu menyuruhku menghormati mbak Rani. Ia juga selalu mengatakan suatu saat, aku akan tinggal bersama mbak Rani, dan di sinilah aku sekarang.
“Maaf, Tar. Mbak buru-buru. Lagipula, sarapannya sudah siap. Mbak ke kantor dulu. Hati-hati di rumah,” mbak Rani keluar dari kamarku dengan tergesa. Begitu mendengar pintu luar ditutup, aku keluar dari kamarku.
Aku berjalan ke meja makan. Ketika melewati kamar mbak Rani, tiba-tiba aku ingin masuk ke kamarnya. Aku belum pernah masuk ke kamarnya. Biasanya, kamar itu selalu terkunci. Aku iseng mencoba memutar gagang pintu. Tidak terkunci! Pasti tadi mbak Rani lupa mengunci pintu kamarnya karena terlambat pergi ke kantor. Aku berpikir lagi. Sepertinya tidak enak masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuan mbak Rani. Namun, akhirnya aku memutuskan untuk masuk, lagi pula aku belum terlalu lapar untuk makan. Aku yakin mbak Rani tidak akan tahu karena ia baru akan pulang sore nanti.
Ketika masuk, mataku langsung menyapu seluruh bagian ruangan. Terdapat satu tempat tidur berdempet dengan dinding. Setelahnya, ada sebuah meja kayu kecil dengan dua laci. Di atasnya, terdapat sebuah jam weker dan beberapa alat kosmetiknya. Di samping meja, terdapat lemari yang juga berdempetan dengan sisi dinding yang lain. Lemari tersebut sudah sangat tua dan terdapat kaca setengah badan yang menempel pada pintu lemari. Di dinding depan tempat tidur, digantung kalender, jam dinding, dan sebuah foto dengan bingkai tua. Aku tertarik dengan foto itu. Foto itu menggambarkan seorang gadis yang sedang hamil. Ketika kuteliti lagi, sepertinya aku kenal dengan gadis dalam foto tersebut. Ya, Tuhan! Itu mbak Rani! Jadi ternyata, ia pernah punya seorang anak! Aku langsung berpikir yang tidak-tidak. Ketika aku mencoba menyentuh foto itu untuk memastikannya, bingkai foto yang sudah tua itu bergoyang lalu terjatuh. Foto itu keluar dari kaca pigura yang telah pecah. Aku sangat kaget dan ketakutan. Apa yang akan aku katakan kepada mbak Rani saat dia melihat fotonya sudah tidak berbingkai lagi? Ketika aku mengambil foto itu, aku melihat tulisan yang ada di balik foto tersebut.
“Ibu…” belum sempat aku membaca tulisan itu sampai tuntas, mbak Rani sudah ada di depan pintu kamar. Ia pasti ingat belum mengunci pintu kamarnya dan kembali lagi untuk menguncinya. Ia langsung menangis begitu melihatku memegang foto itu. Aku bertanya-tanya kenapa ia bersikap seperti itu. Aku melanjutkan membaca tulisan yang ada di balik foto.
“Mbak… apa maksud tulisan ini?” aku mulai gemetar. Suaraku tercekat seakan tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Mbak Rani menjatuhkan dirinya ke lantai sambil menutup mukanya dengan tangan. Aku langsung menghampirinya dan mengguncang-guncangkan bahunya.
“Jawab Tari, Mbak!” aku berteriak di depan mukanya dan mulai menangis. Aku ikut menjatuhkan diri di depannya dan menangis sejadi-jadinya. Setelah beberapa lama, mbak Rani membuka tangannya dan menatapku.
“Sudah waktunya…kamu mengetahui semuanya, Tar…” ia mengusap air matanya yang terus menerus mengalir.
“Dulu, Mbak tinggal di Jakarta dan kerja sebagai pembantu. Setelah beberapa lama, Mbak jatuh cinta dengan majikan Mbak. Ternyata, cinta Mbak dibalas. Kami… Kami akhirnya melakukan hal yang tidak pantas dilakukan pasangan yang belum menikah…” tangisnya meledak lagi.
“Sebulan kemudian, Mbak hamil,” ia menangis sambil menggelengkan kepalanya dan memukul dirinya sendiri.
“Waktu Mbak minta pertanggungjawabannya, ia malah memaki dan mengusir Mbak… Akhirnya, Mbak pulang ke kampung. Di kampung, kehamilan Mbak sudah tidak dapat lagi disembunyikan. Mbak diejek orang-orang di kampung, Tar. Puncaknya, Mbak diusir. Waktu itu, mereka sangat marah dan mengancam akan membakar rumah kita… Mbak menyerah dengan pergi dari kampung setelah… Melahirkan anak perempuan…” Ia kini menangis tak bersuara. Bukan… Bukan itu maksudnya, aku terus meyakinkan diri bahwa pikiranku salah.
“Waktu itu, Mbak tidak tahu harus ke mana membawa anak Mbak. Akhirnya, Ibu menyuruh menitipkan anak itu kepadanya…” Aku mulai menutup kupingku dan menangis sekeras-kerasnya agar tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya.
“Anak itu kamu, Tar! Ibumu ini tidak pernah ke kampung menemuimu dan Ibu karena tidak diperbolehkan menginjak kampung itu lagi! Ibu disangka pembawa aib bagi mereka! Ya, Tuhan! Apa salah hamba sampai harus menanggung semua cobaan ini!” Ia berteriak di depan mukaku. Aku mulai menjauh darinya dan mencoba ke luar rumah. Ia menangkapku dan mencoba memelukku. Aku mendorongnya sampai terjatuh.
“Tari, aku ibumu, nak… Ibu tidak pernah menelantarkanmu… Ibu selalu mengirim uang untuk membiayai semua kebutuhan kalian. Ibu sangat merindukanmu! Namun, waktu Ibu nekat ingin pulang dan menemuimu, Ibu dihalangi oleh nenekmu. Ia takut terjadi apa-apa dengan Ibu. Ibu sangat sayang padamu, Tar…” Ia bangun dan mendekatiku perlahan.
Sekarang, aku mengerti semuanya, sikap ibu saat mendengar aku membenci mbak Rani, sumber penghasilan ibu untuk membayar kebutuhan kami, ketidakhadiran mbak Rani selama bertahun-tahun… Perasaanku campur aduk. Ya, Tuhan… Bagaimana ini? Jadi selama ini yang kuanggap ibu adalah nenekku sendiri dan mbak Rani adalah… Aku tidak sanggup memikirkannya lagi. Suara mbak Rani atau siapa pun dia terdengar menjauh, tubuhku terasa lemas… Sesaat kemudian, segalanya kelam…

***

Evlin adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI.

Sabtu, 17 Januari 2009

Teman Sunyi



Cerpen Cempaka Fajriningtyas

“Papa kangen kamu, Ga.”
“Iya, Pa. Jingga tahu. Jingga juga kangen banget sama Papa.”
“Dulu kamu sering peluk Papa.”
“Sekarang Jingga kan juga lagi peluk Papa. Aaah, Papa masih saja pakai minyak rambut itu ya? Baunya sudah kuno, Pa.”

Lelaki setengah abad itu mengusap-usap rambut putih di kepalanya. Sesekali ia merapikan anak-anak rambut yang membandel di dahinya sampai tangan keriput itu lengket oleh minyak rambut beraroma lavender.

“Papa lebih ganteng kalau nggak pakai minyak rambut. Minyak rambut itu bikin Papa jadi seperti mafia-mafia Italia yang klimis itu. Sudah gitu, baunya itu loh...”
“Papa tahu kamu nggak suka sama aroma lavender.”
“Loh kok, malah Papa pakai terus minyak rambut itu? Gimana sih?”
“Sengaja, Jingga. Biar kamu ngambek setiap kali kamu peluk Papa.”
“Kok gitu?”
“Suara cempreng kamu terdengar sangat lucu tiap kali kamu ngambek. Papa selalu kangen saat-saat seperti itu.”
“Sini aku peluk Papa lagi. Aku juga kangen...”

Aku memeluk Papa dengan erat. Begitu erat sampai-sampai minyak rambut lavender yang membanjiri rambut lelaki yang sangat kucintai itu menempel di pipiku. Papa hanya diam. Ia malah mengambil satu album foto tua dari tumpukan buku di nakas.

“Kamu lucu sekali di foto-foto ini. Waktu umur kamu baru lima tahun ya?”
“Sudahlah, Pa. Jangan terlalu sering melihat album foto itu.”
“Hari ini usia kamu sudah 29 tahun ya, Ga?’
“Dengerin Jingga dong, Pa. Tutup saja album foto itu. Untuk apa Papa lihat- lihat foto itu. Jingga ada di sini. Lihat Jingga saja...”
“2 Pebruari. Selamat ulang tahun, Sayang”

Ia tersenyum getir sambil memandang foto-foto masa kecilku. Bandel sekali orang tua ini, sudah berapa kali aku melarangnya untuk melihat foto-foto itu. Tapi itulah Papa. Keras kepala.

“Papa bikin wafel coklat kesukaan kamu loh, Ga. Sengaja Papa taruh di meja makan supaya kalau kamu pulang, bisa langsung makan.”
“Jingga tadi sudah ke meja makan kok. Terima kasih ya, Pa...”
“Habiskan ya, Ga. Papa bikin spesial buat kamu. Kamu kan habis dari perjalanan jauh, pasti kamu lapar.”
“Maaf, Pa, Jingga nggak bisa makan wafel spesial Papa.”
“Habiskan ya, Ga.”
“Jingga ingin sekali, Pa. Tapi Jingga nggak bisa. Maafin Jingga...”
“Sekali ini saja, Ga. Habiskan wafel itu. Papa cuma minta itu dari kamu.”

Pelupuk mata yang terbingkai keriput milik lelaki setengah abad itu mulai basah. Lagi-lagi ia menangis. Lagi-lagi aku penyebabnya. Aku ingin sekali menghabiskan wafel buatanmu, Pa. Tapi aku nggak bisa. Mengertilah, Pa.

“Kenapa kamu pergi lama sekali, Ga?”
“Jangan dibahas lagi lah, Pa... Kita berdua tahu itu bukan salah Papa dan Mama.”
“Kapan kamu pulang, Ga? Cepat pulang. Pulang, Ga... Papa letih menunggu kamu di sini.”
“Jingga sudah pulang, Pa. Lihat Jingga dong! Jingga selalu ada di dekat Papa!”
“Pulang, Ga... Cepat pulaaaaaang... Papa sangat rindu kamu...”
“Papa! Ini Jingga, Pa! Jingga di sini!”
“Jinggaaaaaa......! Pulang, Nak. Papa kangen... Papa ingin ketemu kamu, Papa mau lihat senyum kamu.”
“Jingga selalu tersenyum, Pa. Makanya Papa lihat Jingga dulu.”
“Papa salah sama kamu, Nak. Papa bikin kamu sedih terus... Papa bikin kamu kecewa...”
“Nggak, Pa. Papa nggak pernah punya salah sama Jingga, Jingga juga nggak kecewa sama Papa.”
“Papa cuma mau kamu bahagia, Nak... Punya istri yang cantik, punya anak-anak yang lucu... Cuma itu, Nak...”
“Lihat Jingga, Pa! Jingga bahagia! Jingga sudah menemukan kebahagian yang lebih indah dari yang Papa bayangkan.”
“Pulaaaaaang lah, Nak... Papa mohooon...”

Tubuh kurus Papa yang dulu kekar itu segera kupeluk dengan erat. Namun, kali ini ia meronta-ronta. Berteriak-teriak memanggil namaku. Terus saja begitu sampai suaranya serak lalu habis. Kalau suaranya sudah habis, maka lelaki yang dulu sering menyisiri rambutku itu akan memukul-mukulkan tangannya ke kepalanya. Selalu begitu. Dan setiap kali Papa melakukan itu, tidak sedetikpun aku melepaskannya dari pelukanku. Seperti yang sekarang sedang kulakukan.

“Berhenti, Pa. Jangan teriak-teriak, Pa, Jingga mohon. Nanti mereka datang...”
“Jinggaaaaa...! Jingga anakku...! Pulang, Nak... Pulaaaaang... Jinggaaaa...!”
“Sssshhh... Diam dulu, Pa. Sssshh... Jingga di sini, Pa, Jingga sudah pulang...”
“Kenapa kamu tinggalin Papa, Nak? Papa kan sudah minta maaf...”
“Jingga nggak pernah marah sama Papa. Sssshh... sekarang Papa diam dulu, nanti mereka datang.”
“Jinggaa...! Sini, Nak... Papa kangen... Papa nggak tahan lagi... Jinggaaaaa...! Papa kangeeeeen... Di sini sepi... Papa kesepian, Nak...”
“Sssssshh... Ssssshhh... Sssshh... Iya... iya... Tenang... Tenang dulu, Pa. Ini Jingga sudah pulang. Papa nggak akan kesepian lagi.”

Kutepuk-tepuk punggung Papa dengan lembut agar beliau tenang. Namun, sepertinya aku terlambat. Langkah-langkah kaki mereka yang berseragam putih mulai terdengar dari balik pintu kamar. Semakin mendekat... mendekat... mendekat... BRAK!

“Siapa kalian? Mana Jingga?”
“Papa! Jangan berteriak terus. Nanti mereka suntik Papa lagi!”
“Mana Jingga? Mana dia?”

Mereka yang berseragam putih langsung memegangi Papa. Satu orang memegangi kepala Papa, empat orang menekan tangan-tangan Papa, dan dua orang lagi terlihat berusaha mati-matian menahan kaki Papa.

“Pegangi dia!”
“Cepatlah, kuat sekali tenaga Pak Tua ini.”
“Pegang tangannya! Nanti jarumnya patah kalau dia berontak terus.”
“Ayo cepat!”

“Jangan sakiti Papa! Pergi kalian! Pergi! Hey, kamu! Ya, kamu! Lepaskan kepala Papa. Dia lebih tua dari kamu, Brengsek! Apa kamu tidak punya sopan santun?”

“Cepatlah, suntikkan saja, dia berontak terus”

“Jangan! Jangan suntik Papa lagi! Dia nggak gila! Dia cuma kangen aku. Hey, jangan suntik dia atau kuhajar kalian!”

Kepalan tanganku tepat mengenai pelipis salah seorang manusia berseragam putih yang memegang jarum suntik itu. Aku yakin pukulan itu sangat keras. Aku yakin sekali. Tapi orang seperti angin. Ia malah semakin mantap mendekati Papa dan dengan angkuhnya, ia menusukkan jarum itu ke lengan Papa.

“Akhirnya tenang juga dia...”
“Kuat sekali orang ini, tangan saya sampai sakit semua waktu memegangi kakinya.”
“Kasihan dia. Begitu merindukan anaknya, sampai-sampai nggak menyadari kalau anaknya sudah meninggal.”
“Padahal sudah 24 tahun yang lalu ya...”
“Sudahlah, dia sudah tidur lagi. Biarkan saja dulu. Nanti kita cek lagi pada saat makan malam.”
“Cepat telepon istrinya. Biar Pak Tua ini ditemani istrinya agar tidak mengamuk lagi seperti tadi.”
“Baik, nanti saya segera telepon istrinya.”

KLIK. Mereka mengunci pintu kamar Papa. Lagi-lagi begini. Papa tertidur dan aku hanya bisa memandangi wajahnya. Perlahan, kudekati ranjangnya, kurapikan setiap helai rambutnya yang kusut masai akibat dipegangi perawat tadi. Aroma lavender menusuk hidungku, tapi aku tidak peduli. Baju tidur Papa yang berantakan kurapikan juga. Tapi tidak bisa. Rambutnya tetap kusut dan baju tidurnya pun tetap berantakan. Selalu saja begini. Kalau sudah seperti ini, aku hanya bisa duduk di samping Papa, menatap wajahnya dan menunggunya samapai ia sadar. Wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya, seperti sudah berumur 70 tahun, seperti digerogoti sepi dan rindu. Namun, bagiku ia tetap tampan.
Kesedihan rupanya tidak mampu mengalahkan ketampanannya. Hanya saja, tubuhnya tidak tegap lagi seperti terakhir kali aku melihatnya. Maksudku, terakhir kali ketika aku masih hidup.
***

Hari itu hari ulang tahunku yang ke lima, 2 Pebruari 1984, 24 tahun yang lalu. Papa dan Mama mengajakku jalan-jalan ke Monas sebagai hadiah ulang tahunku sekaligus untuk merayakan kesembuhanku. Aku baru saja sembuh dari sakit demam. Dua hari yang lalu, suhu tubuhku sempat tinggi, namun hari ini aku sudah merasa segar dan sangat bersemangat.
Angin sore itu cukup dingin karena memang masih musim hujan. Papa dan Mama membungkusku dengan jaket tebal, celana panjang dari bahan wool, sarung tangan, kaus kaki dan topi yang dirajut sendiri oleh Mama. Sore itu merupakan sore yang paling indah dalam hidupku. Setelah puas mengagumi Monas, Papa mengajariku menaikkan layang-layang sedangkan Mama tidak henti-hentinya menyemangatiku yang terus-terusan gagal menerbangkan layang-layang itu. Kami bertiga tertawa, tertawa, tertawa dan tertawa. Kami begitu bahagia. Aku sangat bahagia.
Semua bahagia itu menguap dengan sangat cepat ketika suhu tubuhku kembali tinggi. Aku sempat mendengar Mama mengatakan pada Papa bahwa suhu tubuhku mencapai derajat ke 40. Papa sayang kamu, Jingga. Itulah kata terakhir yang kudengar sebelum semuanya gelap dan sunyi. Ketika tersadar, aku sudah berada di rumahku. Saat itu, Papa sedang memeluk Mama. Mereka menangis sambil memeluk fotoku. Aku memanggil-manggil nama mereka. Menarik-narik tangan Mama. Memeluk Papa. Berteriak-teriak. Berguling-guling di lantai. Meloncat-loncat. Menjambak rambut Mama. Mencubit hidung Papa. Kujulurkan lidah di depan wajah mereka. Sampai akhirnya aku menangis karena kelelahan. Mereka tetap tak acuh. Mama tetap sibuk menangis sesenggukan. Papa tetap memeluk tubuh Mama yang gemetaran menahan duka.

“Kamu jadi begitu gara-gara Papa... Maafkan Papa, Ga...”
“Kenapa Tuhan memilih anak kita, Pa? Masih ada ribuan anak lain di dunia ini, kenapa Jingga? Tuhan kan tahu cuma Jingga yang kita miliki...”
“Ssshh... Tuhan nggak pernah salah, Ma. Kita yang salah. Kita nggak bisa menjaga Jingga...”
“Tapi kenapa cepat sekali Tuhan mengambil Jingga dari kita? Kenapa Jingga yang harus terkena radang otak? Kenapa Tuhan... Kenapaaaa...? Papa! Tanya sama Tuhan, Pa, kenapa Tuhan ambil Jingga?”
“Jangan marah sama Tuhan...”
“Kenapa cepat sekali kamu meninggalkan kami, Ga?”

Saat itu aku bingung, yang aku tahu aku hanya sakit. Tetapi aku tidak pernah pergi meninggalkan Papa dan Mama. Detik menjadi menit, menit berganti jam, jam melaju hari, hari melangkah minggu dan minggu menyapa bulan. Mama dan Papa tetap tak mengacuhkanku. Mereka tetap menjalani hari-hari mereka dan aku tetap berada di sekitar mereka. Aku tahu Papa sering bersembunyi di bawah tangga untuk menangis sendirian lalu berpura-pura tegar jika Mama datang. Aku juga tahu Mama sering menangis sebelum tidur. Tangis itu ditahan Mama sesunyi mungkin agar Papa tidak terbangun. Aku tahu, mereka sebenarnya selalu menangis di dalam hati dan selalu berpura-pura tegar di hadapan semua orang. Aku tahu semua, kecuali kematianku.
Akhirnya setahun pun berlalu. Aku pun bersiap-siap merayakan ulang tahunku yang ke enam. Hari itu hari ulang tahunku yang ke enam, 2 Pebruari 1985. Namun, tidak ada pesta, tidak ada kemeriahan, tidak ada acara jalan-jalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya ada Mama, Papa, wafel coklat kesukaanku dan fotoku.

“Sudah setahun kamu meninggal, Ga.”
“Mama dan Papa kangen banget sama kamu.”
“Selamat ulang tahun, Jingga Anakku.”

***

Cempaka Fajriningtyas adalah mahasiswa Program Studi Jepang FIB UI.

Selasa, 13 Januari 2009

Ibu



Cerpen Tyagita Silka Hapsari

Kubuka mataku begitu alarm telepon genggamku berbunyi nyaring pada jam tujuh pagi. Aku lihat adikku masih terlelap di sampingku, di atas sofa bed. Ayahku tidak terlihat, namun terdengar gemericik air dari arah kamar mandi. Aku lihat ibuku terbaring lemah di ranjang, di rumah sakit ini. Ibu tidak tidur, matanya menatapku kosong. Aku bangkit dan menghampirinya, memberinya kecupan selamat pagi. Ibu tampak teramat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Sudah beberapa hari ini Ibu tidak mau tidur. Takut dijemput malaikat maut saat terlelap.
Ibuku sakit. Sejak tahun 2001 payudara kirinya digerogoti sel-sel kanker yang ganas. Ia menolak untuk dioperasi, karena ayahnya yang menderita kanker pankreas meninggal beberapa saat setelah dioperasi. Operasi hanya mempercepat kematian, kata Ibu setiap saat. Ibu trauma pada rumah sakit karena Mbah Kakung meninggal di sana. Ibu memilih pengobatan alternatif. Apa pun jenisnya, Ibu mencobanya tanpa henti. Kami tidak kaya, namun rupiah tidak menjadi masalah. Kesembuhan Ibu adalah yang paling utama.
Ibu tidak berhenti berusaha, sel-sel kanker pun tidak berhenti bekerja. Perlahan tapi pasti, payudara kiri Ibu habis dimakannya. Tidak puas dengan payudara, paru-paru kiri Ibu pun dilahap. Tulang belakang Ibu disantap. Tungkai kanan Ibu dibuat keropos.
Pertengahan Maret 2005, Ibu tidak bisa berjalan karena kaki kanannya terlalu sakit untuk digerakkan. Walaupun Ibu sudah terbatuk-batuk dari bulan Januari, baru pada awal Juni Ibu sulit bernapas. Ibu tidur dalam keadaan duduk di kursi roda. Apa yang semula kami kira batuk biasa menjadi sebuah tanda bahaya.
Kami membawa Ibu ke rumah sakit di ujung selatan Jakarta yang lebih berkesan seperti hotel dibanding sebagai rumah sakit, supaya Ibu merasa tenang. Ibu benci rumah sakit. Ibu selalu menarik lepas selang infusnya. Ibu selalu minta pulang. Seminggu di rumah sakit, tidak terjadi perubahan yang berarti. Dokter sudah angkat tangan karena paru-paru dan tulang Ibu sudah tidak dapat dipulihkan. Kehancuran yang terjadi sudah sangat parah, dan dokter hanya dapat memberikan morfin untuk menghilangkan rasa sakit supaya Ibu bisa tertidur.
Tapi Ibu tidak mau tidur, takut dijemput Malaikat Maut saat terlelap. Ibu pun memaksa kami semua untuk menemaninya saat ia terjaga. Di malam hari, Ibu sering meracau. Berteriak-teriak pada orang-orang yang tak terlihat. Kami tahu, Malaikat Maut sudah datang beberapa kali ke kamar kami, tapi Ibu berjuang menolaknya. Mbah Kakung pun sudah datang untuk menjemput Ibu, tapi Ibu tidak mau ikut. Ibu tidak mau meninggal di rumah sakit. Beberapa hari kami lewatkan dengan penuh air mata dan permohonan maaf, serta berkata pada Ibu untuk pergi jika memang sudah tiba waktunya.
Ibu menangis dan meminta maaf pada kami semua. “Maaf, ya Pak, aku nggak bisa sampe selese,” kata Ibu pada Bapak. “Maaf, ya, Sil,” kata Ibu padaku. Satu kata singkat yang mengandung banyak arti. “Nggak apa-apa, Bu,” jawabku. Aku tak mau menangis di depan Ibu, tetapi air mataku mengalir tanpa dapat kuhentikan. Aku tahu suatu saat Ibuku akan dipanggil Tuhan, namun aku tak pernah mengira Ibuku yang selalu ceria dan awet muda akan pergi saat aku belum lagi lulus kuliah.
Ada kuliah yang harus kuhadiri, maka aku diantar Bapak ke kampus. Seusai kuliah aku pulang ke kos. Aku tidak kembali ke rumah sakit karena aku ada kuliah keesokan harinya. Saat itu kondisi Ibu stabil, sehingga aku berani meninggalkannya. Saat aku sedang makan siang di kantin, kakak sepupuku menelepon, dan bertanya benarkah Ibu akan dibawa pulang hari itu. Aku tidak tahu, karena memang tidak ada rencana untuk membawa Ibu pulang. Aku telepon Bapak, dan benar saja, Ibu memang akan dibawa pulang. Aku tidak berpikiran macam-macam saat itu. Bahkan dengan polos aku berharap Ibu dibawa pulang supaya dapat beristirahat lebih enak di lingkungan yang Ibu kenal dengan baik. Aku salah.
Sekitar jam setengah enam sore, Bapak meneleponku, “Silka, kamu di mana?”
“Di kos,” jawabku, “Kenapa, Pak? Ibu jadi dibawa pulang?”
“Jadi. Di sana ada siapa? Ada yang bawa mobil nggak?”
“Ada Sandra. Aku tanya dulu, nanti kalo dia ternyata nggak bawa, aku naik taksi deh.”
“Ya udah. Cepetan ya.”
Bapak tidak mengatakan apa pun tentang Ibu. Berarti sesuatu yang buruk terjadi. Sandra, teman sekamarku, tidak membawa mobil. Aku segera mengganti baju, mengambil tasku, dan lari keluar. Aku naik ojek sampai halte terluar, lalu aku masuk ke dalam taksi. Selama perjalanan aku hanya bisa berdoa, Tuhan, kalau memang Kau akan mengambil Ibu, biarkan aku melihatnya untuk terakhir kali dalam keadaan hidup. Jangan ambil Ibu sekarang, Tuhan, tunggulah satu jam lagi.
Lalu lintas sore itu cukup padat, seperti hari-hari kerja lainnya. Aku sudah sangat frustrasi. Tante dan salah seorang kakak sepupuku berkali-kali menelepon, “Udah sampe mana?” tanya mereka. “Macet…,” jawabku pasrah. Aku tidak mau bertanya tentang keadaan Ibu dan mereka tidak mengatakan apa pun.
Ketika taksi itu berhenti di depan rumahku, aku langsung terbang keluar, masuk ke dalam rumah dan melempar tasku. Aku sungguh takut Ibu sudah pergi untuk selamanya. Begitu memasuki rumah, aku melihat sebuah ranjang diletakkan di ruang keluarga. Ibuku yang tercinta berbaring di atasnya. Hidup dan bernapas.
Aku segera naik ke sisi kanan Ibu di tempat tidur. Hatiku miris melihat Ibuku yang amat kusayang terbaring lemah, matanya terpejam tetapi bagian putih matanya terlihat sedikit. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan selang infus terpasang di punggung tangan kanannya. Mulutnya terbuka dan terdengar suara berat setiap kali Ibu menarik nafas. Ia sudah tidak mampu lagi menarik nafas lewat hidung. Paru-paru kirinya hanya tinggal sepertiga, bagaimana mungkin Ibu dapat bernafas dengan normal? Ibu berkali-kali mengangkat tangan tanpa sadar, seakan-akan memberontak untuk melepaskan diri.
Aku kecup wajah dan punggung tangan Ibu. Aku letakkan tangannya di atas kepalaku. Tangannya hangat, namun tak bertenaga. Aku tahu aku akan sangat merindukan belaiannya. Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Adikku yang duduk di sebelah kiri Ibu pun bermata merah dan sembab.
Setelah aku agak tenang, kulihat sekeliling ruangan. Banyak sekali orang yang berkumpul di dalam ruangan itu. Adik-adik Bapak, saudara Ibu, teman-teman Ibu, beberapa tetanggaku, semua berwajah sendu. Beberapa tetanggaku dan teman-teman Ibu membacakan Surat Yaasin. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain berdoa mohon Ibu dilapangkan jalannya.
Semalaman keadaan Ibu tetap sama. Nafasnya berat, mulutnya terbuka, kesadarannya hilang. Aku dan adikku meninggalkan Ibu hanya untuk shalat. Beberapa kali Oom Agus, adik Bapak yang berprofesi dokter, memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Ibu. Denyut nadi Ibu sangat cepat, lebih cepat dari orang normal, dan tekanan darah Ibu berkali-kali melonjak dan menurun. Tanganku hampir selalu berada di pergelangan tangan Ibu, supaya aku tahu jika denyut nadi Ibu melemah dan nyawa Ibu mulai lepas.
Adzan subuh terdengar, sinar matahari pagi yang lembut kembali menyinari bumi. Ibu masih bertahan, karena Ibu memang perempuan yang kuat. Namun aku tidak tega melihatnya. Berkali-kali kumohon pada Tuhan, jika memang Ibuku tidak bisa sembuh, tolong jemput Ibu secepatnya. Tubuh Ibu sudah terlalu rusak dan jika Ibu sadar, kesembuhan masih jauh dan hampir mustahil terjadi.Aku tidak rela Ibuku menderita lebih lama lagi.
Hari itu hari Rabu, dan Ibuku masih terus bertahan. Hari itu kembali penuh tangis dan doa. Teman-teman Ibuku terus berdatangan, bahkan yang telah datang hari sebelumnya. Teman-temanku pun datang jam delapan malam. Semua ingin ikut melepas Ibu.
Jam delapan lewat empat puluh lima menit malam itu, setelah aku bertemu teman-temanku, aku kembali ke sisi Ibu dan memegang pergelangan tangan Ibu. Entah mengapa, aku terdorong untuk berbisik di telinga kanannya, “Ibu, lepas ya… Udah cukup. Nanti Ibu nggak sakit lagi. Aku sama Tata udah ikhlas kok. Bapak juga. Kalo Mbah Kakung jemput, Ibu ikut ya. Nanti kalo Ibu liat ada cahaya, ikut yang paling putih, paling terang, paling lurus. Ibu jangan mau kalo jalannya belok-belok, cahayanya nggak terang. Pokoknya cari yang paling lurus dan terang ya Bu...”
Tidak ada air mata setitik pun di mataku. Aku sungguh tenang dan ikhlas. Aku ciumi wajah Ibu, aku letakkan tangannya di pipiku. Aku rasakan denyut nadi Ibu perlahan sama dengan denyut nadiku. Nafas Ibu menjadi pelan. Denyut nadi Ibu semakin melambat. Jam delapan lewat lima puluh menit, denyut nadi Ibu sudah hilang. Ibu tidak lagi bernafas. Aku berteriak sangat keras dan menangis tersedu-sedu, begitu pula adikku dan Bapak. Semua orang melarangku meneteskan air mata, karena akan menahan Ibu.
Aku minta Oom Agus memeriksa denyut nadi, detak jantung, dan tekanan darah Ibu untuk memastikan Ibu benar-benar telah pergi. Sekitar satu jam kemudian Ibu dimandikan dan dikafani, lalu dibaringkan di dalam peti. Aku tahu, Ibu pasti ingin dimakamkan dekat Mbah Kakung di Jogja, maka kami menelepon keluarga di sana untuk mengurus segala keperluan pemakaman.
Sampai saat ini, aku merasa Ibu tidak pergi untuk selamanya. Ibu hanya pergi sebentar keluar kota, untuk urusan dinas atau kongres seperti biasa. Ibu masih di sini. Di dalam hatiku.

Tyagita Silka Hapsari adalah mahasiswa Program Studi Inggris FIB UI.

Sabtu, 10 Januari 2009

Gundoruwo



Cerpen Maya Meta Sandhi

Hari ini aku sangat bahagia. Tanggal 5 Desember adalah tanggal terbaik dari semua tanggal yang pernah aku lalui. Pada hari ini aku resmi menjadi istri Mas Broto. Akhirnya setelah melalui perjalanan cinta yang cukup melelahkan, sang janur kuning pun menyerah pada kegigihan kami menuju pelaminan. Sang janur kuning tidak lagi tegak melainkan melengkung sebagai tanda kekalahannya pada kami.
Di tengah hiruk pikuk pesta, jantungku berdetak sangat hebat. Napasku mulai tidak teratur, tanganku mulai dingin, hingga perutku terasa sangat mual. Kalian jangan salah menduga, yang aku alami ini karena aku takut berdiri di pelaminan. Aku menjadi kacau karena membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam antara aku dan Mas Broto. Aku malu! Tetapi aku harus melakukannya karena ini sudah kewajibanku dan tidak bisa ditunda lagi. Aku harus melakukannya malam ini juga karena esok hari sampai tiga minggu ke depan, Mas Broto akan pergi berlayar.
Aduh…indahnya malam ini. Aku memang bodoh, membayangkan yang aneh-aneh. Ya…aku memang aneh, mempunyai ketakutan-ketakutanku sendiri. Padahal Mas Broto sangatlah romantis dan sabar membimbingku. Kami melakukannya hampir sepanjang malam bahkan saat Mas Broto sudah menggunakan baju layarnya keesokan harinya, kami melakukannya lagi. Ha...ha..ha..ternyata rasanya membuatku ketagihan.
Mas, jangan lama-lama ya perginya, entar tidak ada yang menemaniku di kamar, godaku nakal.
Aduh kamu ini, bajuku jadi lungset nih! Aku akan pulang secepat mungkin. Kamu hati-hati di rumah ya, kalau ada sesuatu telepon aku saja.
Lalu Mas Broto mencium keningku dan ia mulai berjalan dengan gagahnya. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang pasti akan kurindu.
***

Sepeninggal Mas Broto, aku mulai membenahi rumah baru ini yang dirancang untukku dan anak-anak kami kelak. Aku membuka kado-kado dari para tamu dan menyimpannya baik-baik. Ketika sedang mengatur dekorasi rumah, aku teringat pesan mertuaku, kamu pasti akan sering ditinggal sama Broto, sebagai penganten baru kayak kamu, di semua sudut rumah harus kamu tebar dengan peniti atau jarum. Alasannya saat itu adalah agar tidak ada makhluk halus yang mengganggu aku. Ah..tetapi tentu saja aku tidak percaya, aku kan orang modern, masa harus percaya terhadap hal-hal seperti itu.
Akhirnya pekerjaan hari ini selesai juga. Lelah rasanya, untung saja tidak ada Mas Broto jadi aku tidak harus melayaninya. Ketika aku mulai berbaring di atas peraduan, aku mendengar bunyi derum mobil yang aku kenal sebagai bunyi derum mobil Mas Broto. Aku berlari keluar kamar dan menuju pintu utama. Ah..benar saja, ternyata itu Mas Brotoku tersayang. Aku langsung berlari dari persembunyianku di balik pintu dan memeluknya erat-erat.
Kok Mas udah pulang? Katanya tiga minggu, kok ini belum sehari sudah pulang?
Aku kangen.
Ah..Mas nakal nih!! Nanti kerjaannya bagaimana?
Mas dapat izin satu minggu sebagai hadiah perkawinan dari kantor.
Mendengar pernyataannya ini, aku sudah tidak bertanya macam-macam. Lagipula, aku membutuhkan kehadirannya setiap detik yang kulalui. Aku tidak ingin munafik.
Mas Broto membuktikan keperkasaannya padaku lagi. Ia membopongku dari garasi hingga ke tempat peraduan kami. Dari menit itu sampai bunyi ayam berkumandang, kami terus bercinta tanpa mengenal lelah, terlebih lagi Mas Broto. Ketika aku tidak sengaja terlelap, Mas Broto terus saja melumuri seluruh tubuhku dengan air liurnya. Aku juga bingung, mengapa ia mempunyia banyak tenaga untuk semua melakukan ini. Akan tetapi apa peduliku, toh aku sangat menikmatinya. Dalam waktu seminggu tersebut, hal yang kami lakukan dari pagi sampai malam, sama sekali tidak ada perubahan. Sampai akhirnya aku memandangi punggungnya dari balik pintu lagi.
***

Akhirnya setelah dua minggu berlalu, aku mendengar derum mobil Mas Brotoku tersayang. Aku langsung berlari ke arahnya dan menunjukkan tespek.
Mas lihat, lihat! Garisnya ada dua! Ini berarti aku hamil!
Hah yang benar? Wah berarti aku hebat juga ya. Ha..ha..ha..
Betapa bahagianya kami saat itu. Kami jadi tidak sabar menunggu saat-saat yang mengesahkan kami menjadi orang tua. Pada usia kendunganku yang menginjak umur lima bulan, kami melakukan USG. Betapa terkejutnya kami, ketika dari tiga dokter yang kami kunjungi, semuanya menyatakan bahwa aku mengandung anak kembar. Kami berdua menjadi bingung karena jika dirunut dari silsilah, baik dari pihakku maupun Mas Broto, tidak ada bakat mempunyai anak kembar. Akan tetapi kami menyikapi sebagai anugerah dari Allah SWT.
***

Setelah mengalami penantian panjang selama sembilan bulan, akhirnya pada 13 September aku melahirkan bayi kembar tersebut. Di dalam ruang bersalin aku ditemani oleh Mas Broto yang dengan siap mendokumentasikan kelahiran anak kami yang pertama. Persalinanku berjalan dengan normal, hingga ia muncul. Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dengan sekuat tenaga akhirnya aku mampu mengeluarkan bayi mungil dari vaginaku. Aku sempat melihat anakku yang pertama. Ia bayi perempuan dan ia terlihat tetap cantik meskipun masih berlumuran darah dan tali pusar masih menjuntai dari perutnya.
Bu, jangan berhenti, ingat masih ada satu bayi lagi. Ibu harus tetap berjuang, ujar dokter mengingatkanku.
Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Aku begitu lelah dan vaginaku terasa sangat perih. Aku pun melanjutkan perjuanganku. Akan tetapi, mengapa bayi yang satu lagi ini sangat sulit untuk dikeluarkan. Biasanya, pada kelahiran anak-anak kembar yang normal pada umumnya, hanya berselang beberapa menit, atau yah…paling lama tidak satu jam. Akan tetapi, mengapa dalam kasusku sampai pukul 23.30, bayi itu belum juga muncul.
Dok!!! Mengapa lama sekali, saya mulai tidak kuat lagi, napas saya mulai habis, teriakku menahan kesakitan.
Sabar Bu, kami juga tidak tahu apa yang terjadi, sepertinya ada sesuatu yang membelitnya hingga ia sulit keluar.
Dokter bego!!! Dari tadi ngapain aja? Tidak lihat istri saya tidak kuat lagi. Cepat lakukan apa saja! bentak Mas Broto.
Akhirnya tepat pukul 00.00, bayi itu keluar dari vaginaku juga. Saat keluar, vaginaku seperti tertusuk jarum. Lebih perih daripada saat aku mengeluarkan bayiku yang pertama. Entah karena aku sudah lelah dan kesakitan yang tiada tara , sepertinya aku melihat bayi keduaku itu mempunyai banyak bulu hitam yang panjang dan hitam. Ah..mungkin ini hanya bayanganku saja.
***

Ketika terbangun, aku sudah berada di dalam ruang perawatan. Aku dikelilingi oleh Mas Broto dan kedua orang tua dari pihakku maupun Mas Broto. Aku heran mengapa mereka tidak tampak bahagia. Rautnya wajah mereka semuanya tegang.
Mana anak kita, Mas?
Sebentar lagi juga ke sini.
Ah..mengapa jawaban Mas Broto tidak semesra biasanya sih! Dingin sekali. Lalu aku melihat seorang berjubah putih menggunakan sorban masuk ke dalam kamarku sambil membopong dua bayi.
Ah..itu anakku ya. Coba bawa sini, aku mau lihat.
Saya akan bawa ke kamu, tetapi siapkan mentalmu ya, jawab pria bersorban itu.
Ah..jawaban konyol. Mana mungkin aku tidak mau menerima anakku.
Ini anakmu yang pertama, berjenis kelamin perempuan yang lahir pada pukul 22.50. Aku tersenyum melihatnya. Persis seperti dugaanku tadi, ia begitu cantik. Bayi perempuanku itu lalu digendong oleh ibuku.
Ini anakmu yang kedua, berjenis kelamin laki-laki yang lahir pada pukul 00.00.
Aaahhh…!!! Apa itu? Itu bukan bayi. Kalian pasti mempermainkan aku. Iya kan ? Iya kan ? aku melihat sekelilingku tetapi tidak ada yang berani menatapku.
Kamu dikerjain sama gundoruwo, jawab pria bersorban itu.
Hah??? Maksud Bapak?
Coba kamu inget-inget, pernah ndak sekali waktu kamu bercinta dengan lelaki yang menyerupai Broto?
Maksudnya? Jadi maksud Bapak saya ini selingkuh?
Bukan itu, karena ini di luar kuasa kamu. Maksudnya, pernah tidak ketika Broto pergi, tiba-tiba ia cepat kembali dan mengajakmu bercinta terus-menerus?
Oh…kalau itu mah pernah. Kejadiannya saat pertama kali kami baru menikah. Pada saat itu ia bilang akan pergi selama tiga minggu tetapi tiba-tiba malam harinya ia pulang dan tinggal di rumah sampai seminggu.
Hah??? Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Saya ini termasuk orang yang setia terhadap pekerjaan. Jadi jangan aneh-aneh! jawab Mas Broto dengan kasar.
Sudah, sudah! Kalian jangan bertengkar. Tidak ada yang dapat disalahkan, kalau mau, salahkan takdir yang mempermainkan kalian. Orang yang kau maksud itu bukan Broto melainkan gundoruwo yang menyerupai Broto, mendengar hal ini tubuhku bergetar hebat. Aku jijik pada tubuhku ini.
***

Setelah kejadian itu berlalu, kehidupan rumah tanggaku seperti berada di dalam neraka, semakin banyak cobaan yang mnerpa. Cobaan yang pertama, pada saat aku masih lemah dan butuh perawatan di rumah sakit, aku harus cepat-cepat kembali ke rumah. Hal ini disebabkan pihak rumah sakit keberatan dengan bayiku ini berada di dalam ruang perawatan bayi.
Akan tetapi untung saja, bayi perempuanku yang cantik ini tidak menangis jika ad di sebelah kembarannya ini. Bila kuperhatikan baik-baik, bayi lelakiku ini mempunyai wajah yang seram dan seluruh bagian mukanya ditumbuhi banyak rambut. Akan tetapi dari semuanya itu, aku sangat senang melihat matanya yang sayu.
Cobaanku yang kedua adalah ketika keluarga Mas Broto dan justru Mas Broto sendiri, mulai menyudutkanku. Mereka selalu bilang, Ini aib, aib keluaga! mereka mengatakan semua ini seolah akulah yang melakukan perselingkuhan. Padahal aku juga tidak mengetahui hal ini. Lalu untuk menutupi kesalahanku ini, kami sekeluiarga sepakat mengatakan kalau aku tidak jadi mempunyai anak kembar. Ketika ada tamu yang berkunjung ke rumah, kami selalu mengurung anak lelaki kami di dalam kamar. Untungnya ia sangat pengertian, tidak menangis dan tidak juga mengeluh. Kami hanya memamerkan bayi perempuan kami yang cantik.
Aku sebenarnya tidak tega membiarkan anak lelakiku ditelantarkan seperti itu. Akan tetapi apa yang bisa aku perbuat. Aku juga ketakutan menghadapinya, terlebih lagi saat ia meminta air susuku. Ia menyedotnya sangat keras hingga sesudah selesai menetek padaku, dua hari ke depan aku tidak mempunyai air susu lagi yang harus kuberikan pada putriku. Keberadaan putraku hanya bisa diterima olehku dan putriku yang cantik. Yah..bagaimanapun juga putraku ini pernah tinggal di dalam rahimku.
***

Waktu terus berjalan. Kedua anak kembarku kini berusia tujuh tahun. Putriku berwajah cantik dan ia juga mempunyai sikap yang ramah sehingga tidak mengherankan ia disukai banyak orang. Sedangkan putraku, lebih sering terkurung di kamarnya yang gelap dan tentu saja keberadaannya hingga kini masih menjadi rahasia dalam keluarga kami. Wajahnya tambah seram dan rambut yang menyelimuti wajahnya terus tumbuh dan mengembang. Entah karena ikatan batin atau apa, mereka berdua saling menyayangi dan mempunyi ikatan emosional yang sama.
Pernah sekali waktu, Mas Broto sangat kesal dengan putraku ini. Alasannya sangatlah sepele. Ia merasa waktu yang dihabiskan putriku ini, lebih banyak dihabiskan oleh saudara kembarnya di kamar gelap itu. Ketika kesabaran Mas Broto mulai habis, sekali waktu ia menuju kamar putraku dan memecut putraku ini dengan sabuk. Seperti yang kubilang tadi, putraku sangatlah pengertian, ia tidak menangis apalagi membalas. Entah berapa pecutan yang diterimanya. Hatiku sangat pilu melihat ini. Setelah Mas Broto meninggalkan kamar, aku langsung menghampiri putraku dan melihat kalau ada luka. Aku sangat terkejut. Putraku ini tidak terluka sedikit pun, ia hanya melihatku dengan mata sayunya, ia tidak berkata apa pun.
Lalu terdengar teriakan, Kenapa ini? Kenapa anakku tersayang bisa seperti ini? Istriku, mengapa putri kita bisa seperti ini? Coba katakan siapa yang berani berbuat seperti ini? teriak Mas Broto dari dalam kamar putriku.
Aku pun berlari menghampiri suara teriakan itu. Aku melihat sekujur tubuh putriku penuh dengan luka. Teptnya, luka pecutan.
Nak, apa yang terjadi? Kamu kenapa? Siapa yang melakukannya? tanyaku.
Putriku berlari dari pelukan Mas Broto dan menghampiriku.
Ma, Papa yang melakukannya. Tolong aku, aku takut, ujar putriku dengan tubuh gemetar.
Omongan macam apa ini. Bohong, itu tidak benar, teriak Mas Broto.
Aku tidak peduli lagi. Saat itu yang kutahu adalah aku harus mengobati luka putriku yang cantik ini. Lalu karena merasa ganjil dengan kejadian hari ini, Mas Broto memanggil pria bersorban putih yang pernah hadir di rumah sakit.
Pak, tolong jelaskan, sebenarnya apa yang terjadi dengan putri kami? tanya mas Broto tidak sabaran.
Saya hanya dapat berpesan, jangan kau lukai putramu itu.
Ia bukan putraku, bukan!
Iya, iya, baiklah. Intinya jangan kau lukai anak itu. Karena jika kau melukai anak itu, sebenarnya anakmulah yang akan terluka. Anak itu dijaga oleh bapak kandungnya, yaitu gundoruwo. Ia tidak rela anaknya kau perlakukan seperti itu. Maka ia berubah wujud menyerupai dirimu dan melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan terhadap anaknya.
Jadi ini disebabkan gundoruwo keparat itu?
Hati-hati, jaga bicaramu.
Lalu apa tidak ada jalan keluarnya? Apakah kehidupan keluarga kami masih terus dibayang-bayangi oleh gundoruwo itu?
Tadi saya mencoba berdialog kepada gundoruwo. Ia sebenarnya ingin sekali mengambil anak itu kembali, tetapi anak itu tidak ingin pergi dari rumah ini. Rupa-rupanya ia sangat menyayangi putrimu itu.
Persetan!! Apa kita bunuh saja anak itu?
Jaga bicaramu!! Gundoruwo itu ada di sekitar sini. Seperti tadi yang kubilang, apa yang kau lakukan dengan anak itu, maka anak itu tidak akan apa-apa, tetapi anakmulah yang akan mendapat perlakuanmu.
Lalu bagaimana?
Cobalah untuk bersabar, ini jalan Allah untuk kamu.
Mendengar perkataan pria bersorban putih ini, tidak membuat Mas Broto sadar. Ia justru semakin mempersulit kehidupan putraku ini. Ia mengunci kamar putraku hingga putriku tidak dapat lagi bermain dengannya. Akibatnya, baru dua hari ini berjalan, putriku sakit panas yang tidak kunjung sembuh. Ketika ia kupertemukan lagi oleh saudara kembarnyatentu saja tanpa sepengetahuan Mas Brototiba-tiba ia langsung sehat walafiat. Aneh, ya memang aneh!
Tidak cukup sampai di situ, Mas Broto memutuskan tidak memberi makan putraku ini, ia juga mencukur habis semua rambut yang tumbuh di wajahnya. Saat Mas Broto melakukan ini, terdengar jerit pilu dari putraku tersayang. Hatiku pun tambah tersayat mendengarnya. Lalu tanpa sebab musabab yang jelas, Mas Broto mengalami kelumpuhan pada bagian kakinya dan mulutnya. Sampai akhirnya ia hanya menjadi manusia yang hanya bisa berbaring di tempat tidur sampai akhir hayatnya.
Ketika malam hari, ketika tulang rusukku rasanya mau patah, dan ketika aku baru selesai menjerit dalam batin, aku pun terlelap. Akan tetapi aku mengalami sebuah kenyataan, entah mimpi atau kenyataan. Jika mimpi, tetapi ini benar-benar terjadi dan jika ini nyata, sepertinya ini terjadi di alam mimpi. Di dalam peraduanku dengan Mas Broto, tiba-tiba datang tiga sosok dari pintu kamarku. Aku mengenali sosok tersebut. Aku melihat putriku yang tetap cantik meski menggunakan piyamanya, aku juga melihat putraku yang semakin mempunyai wajah yang seram terlebih lagi setelah rambut di wajahnya digunting habis oleh Mas Broto. Sebentar, siapa lagi yang bersama mereka. Aku tidak mengenalinya. Aku hanya melihat sebuah sosok yang sangat besar, tinggi, dan hitam. Aku tidak dapat melihat bentuk wajahnya dengan jelas, begitu banyak rambut yang menutupi wajahnya.
Aku hanya ingin pamit, aku ingin mengajak putrimu. Sebenarnya aku juga tidak mau, tetapi putrimu memaksaku, kata sosok hitam itu dengan suara yang parau dan berat.
Kalian mau ke mana? tanyaku dengan ketakutan.
Yang jelas pergi jauh dari sini, entah kapan akan kembali lagi.
Mama, aku mau pergi dulu ya, aku tidak mau berpisah dengan saudara kembarku. Tetapi bukan berarti aku tidak sayang mama. Aku sayang sekali pada mama. Mama hati-hati ya, jagain papa ya. Nanti pasti aku doain dari tempat yang jauh. Aku tidak bakal melupakan mama dan papa.
Lalu mereka pergi menembus dinding kamarku. Aku pun terbangun dari tidurku. Ah…ternyata hanya mimpi. Tetapi entah mengapa aku langsung berlari melihat kamar kedua anakku. Kosong, kamar mereka kosong. Menerima kenyataan ini, aku hanya bisa menangis sejdi-jadinya. Keesokan harinya, aku menanyakan hal ini kepada pria bersorban putih itu, jawabnya hanyalah Putrimu tersayang memilih mengikuti saudara kembarnya ke alam yang lain. Tetapi kau jangan khawatir, ia tidak mati, hanya pindah ke dimensi yang lain saja mengikuti putramu.
***

Kejadian itu sudah berlalu lima belas tahun yang lalu. Kini aku hidup seorang diri. Semenjak kematian Mas Broto dua tahun silam, tidak ada lagi yang peduli padaku, mereka malah menyangkaku sudah gila. Rambutku kini sudah putih dan kubiarkan tergerai tidak beraturan sangat panjang. Aku selalu duduk di kursi goyangku menghadap ruang tamu, karena aku yakin putri dan putraku pasti akan kembali. Saat aku sedang bersenandung Nina Bobo, tiba-tiba, Halo mama, apa kabar? Mama masih belum lupa dengan putri mama ini kan ?
Ia lalu memelukku dan mencium keningku. Lalu di belakangnya menyusul putraku dan sosok hitam yang dulu mengambil anak-anakku. Ah…bahagianya aku. Kini aku mempunyai keluarga baru lagi.

***

Maya Meta Sandhi adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI.

Rabu, 07 Januari 2009

At Your Side



Cerpen Pratiwi Dayangbuana


Tidak terasa sudah satu tahun aku berpacaran dengan Ivan. Senang sich bisa melalui satu tahun bersama-sama. Tapi kenapa sekarang aku biasa-biasa aja ya? Tadi siang aku kumpul dengan teman-teman di kantin. Mereka ngomongin tentang hubungan mereka dengan pacar mereka masing-masing. Sepertinya mereka bahagia sekali. Ada yang selalu dianterin pulang naik mobil. Ada yang selalu ditelepon sekadar untuk menanyakan kabar, udah makan belum, udah mandi belum. Pokoknya banyak deh, beda banget dengan Ivan. Setelah aku pikir-pikir…iseng-iseng aku menulis list tentang kekurangan Ivan. Jahat gak ya aku? Aah…masa bodo! Minus satu karena dia naik sepeda ke sekolah. Minus satu karena dia jarang memiliki pulsa handphone. Minus satu karena dia gak punya jaket bermerek. Dia hanya mempunyai jaket yang dibelinya di Poncol, Senen. Minus satu karena potongan rambutnya yang aneh. Dan yang lebih memalukan, minus satu karena dia bawa makanan ke sekolah. Duh…dia udah gak punya urat malu ya? Dia kan cowok!
Hari ini aku bertemu dengan teman-temanku. Mereka menanyakan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Ivan. Sebenarnya mereka sudah lama ingin menanyakan hal ini. Apa sich yang menarik dari Ivan. Kenapa juga dulu aku menerimanya menjadi pacarku. Padahal sewaktu Ivan menyatakan cintanya, ada cowok lain yang sedang PDKT –pendekatan- denganku. Namanya Indra. Dilihat dari fisiknya, ia lebih ganteng dari Ivan. Dan dari segi ekonomi, memang kelihatan sekali ia tergolong menengah ke atas. Mobilnya yang mewah selalu ia bawa ke sekolah.
“Apa jangan-jangan gue dipelet ya?” tercetus ucapanku dengan spontan.
“Bisa jadi tuh…,” kata salah satu temanku.
“Jadi kapan lo mau putusin Ivan?”
“Mm…kapan ya? Besok atau lusa deh. Gue gak tahan lagi ma dia. Malu-maluin aja.”
Tiba-tiba salah satu temanku memberikan signal kalau ada sesuatu yang tak beres. Aku tak mengerti. “Gawat! Ada orangnya tuh di belakang lo,” bisik temanku. Aku langsung memalingkan mukaku untuk melihat siapa sebenarnya yang ada di belakangku. Ternyata Ivan. Saat mata kami berdua saling bertemu, ia langsung pergi meninggalkanku. Tanpa satu huruf pun, apalagi kata. Dengan enteng aku berkata “Bagus deh kalo dia denger. Jadi gue gampang mutusin dia.”
Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Ivan. Pada awalnya tidak terasa apa-apa. Biasa aja. Semua berjalan seperti biasa. Hanya saja bila kami bertemu di sekolah, ia sengaja menghindariku. Sekarang aku merasakan sesuatu yang hilang dari hidupku. Terasa hampa dan sunyi. Kesepian. Di sekolah aku tak pernah merasakan hal ini. Tapi ketika di rumah perasaan itu muncul. Terlebih lagi ketika aku tak berhubungan dengan Ivan. Mungkin inilah siklus hidup yang harus kulalui. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Hari ini hujan membasahi Jakarta. Aku hanya berdiam diri di kamar. Membaca buku, majalah, sampai buku pelajaran, menulis diary. Bosan rasanya seharian di kamar. Untuk mengusir kebosanan ini, aku menyalakan radio. Kebetulan hari ini ada program acara kesukaanku di salah satu radio ternama di Jakarta. I’ll be at your side. There’s no need to worry. Together we’ll survive through the haste and hurry....
Lagu At Your Side-The Corrs ini mengingatkanku pada Ivan. Tanpa terasa aku menangis. Menangisi kebodohanku karena menyia-nyiakan orang yang tulus mencintaiku. Tangisanku semakin deras sederas hujan di luar sana. Sang penyiar memberitahu bahwa ada seseorang yang akan mengucapkan Happy Valentine kepada pacarnya. Aah…valentine? Memangnya hari ini valentine? Pikirku dalam hati. Kulihat kalender di atas meja belajarku. Benar. Hari ini tanggal 14 Februari. Valentine’s Day. Pacar saja aku tak punya, apalagi ber-Valentine-ria. Cowok di radio itu mulai berbicara. Namanya Ivan. Aah…pasti bukan Ivan yang aku kenal. Ivan tak mungkin seromantis ini. Aku mendengarkannya dengan seksama. Ivan yang ada di radio menyatakan maaf untuk pacarnya, Tamia. Tamia? Itu namaku. Tak mungkin ada Tamia lain yang juga mempunyai pacar bernama Ivan. Ia menjelaskan bahwa ia masih mencintai Tamia walaupun Tamia merasa malu dengan keadaannya. Ia hanya ingin Tamia hidup bahagia. Ia berjanji akan selalu di sisinya dalam keadaan senang maupun sedih.
Lalu sang penyiar bertanya, “Van, lo dimana sekarang? Kok ada suara hujan?”
“Gue sekarang di depan rumahnya. Gue mau ngasih kado buat dia.”
Tanpa berpikir panjang aku berlari menuju pintu depan dengan air mata yang masih berlinang. Aku berharap Ivan dan Tamia yang aku dengar di radio adalah Ivan dan aku. Segera kubuka pintu. Sesosok tubuh menggigil kedinginan sambil memeluk sebuah boneka beruang. Aku langsung memeluknya dan berbisik, “Maafin aku ya…” Ia tersenyum dan menyerahkan boneka tersebut sebagai hadiah untukku.
Pandanganku tentang Ivan selama ini ternyata salah. Dari lima minus yang ia miliki ada lima ratus plus di dalamnya. Plus seratus untuk sepedanya. Ivan selalu mengantarku pulang ke rumah dengan sepeda itu. Padahal jarak rumah kami cukup jauh. Plus seratus karena walaupun kami jarang ngobrol di telepon, ia rela setiap hari menelponku hanya sekadar untuk mengucapkan, “Selamat tidur sayang. Mimpi indah.” Klise tapi memiliki makna yang dalam. Plus seratus untuk jaketnya. Don’t judge by the cover. Mungkin pepatah ini cocok untuk jaketnya. Walaupun ia tidak memiliki jaket bermerek tapi jaket ini sering kali melindungiku di saat hujan. Plus seratus untuk rambutnya. Model rambut Ivan memang agak aneh, tapi ia tidak pernah complain saat aku salah potong rambut atau bau matahari. Ia tak malu dengan potongan rambutku yang salah. Ia suka sekali mengusap rambutku. Plus seratus karena ia membawa makanan ke sekolah. Memang kurang lazim bila ada cowok yang membawa bekal ke sekolah. Tapi luar biasa untuk Ivan, karena ternyata ia menabung uang jajannya untuk membeli hadiah untukku. Oia, plus seratus untuk kesabarannya menemani di saat aku sedang down karena masalah pribadi maupun sekolah.
Bagiku Ivan bukan saja pacar yang sempurna, tetapi ia kakak, teman, sahabat yang sempurna yang Tuhan berikan untukku. I’ll be at your side. There’s no need to worry. Together we’ll survive through the haste and hurry. I’ll be at your side. If you feel like you’re alone, and you’ve nowhere to turn. I’ll be at your side…

-Tamia-

***

Pratiwi Dayangbuana adalah mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI.

Selasa, 06 Januari 2009

Hancur Sudah



Cerpen Inayah Wahid

Hancur sudah hidupku. Sudah tidak perlu ada lagi yang dipertahankan. Semuanya sia-sia. Ternyata hanya begini saja suratan nasibku. Maafkan aku Ayah, Ibu, Mbak Nina, Riza, Wina dan semua teman-temanku. Hanya sampai sini saja perjumpaan kita. Semoga kelak kita semua dapat berjumpa lagi di surga. Oh iya, dan semoga saja si bajingan dan cewek barunya itu dijerumuskan ke neraka terbawah… Amiiin.
Kulangkahkan kaki kananku ke luar jendela kelas. Kemudian disusul oleh kaki kiriku. Waduh, ternyata tinggi juga ya, batinku gugup. Dengan sedikit gemetar aku berusaha berdiri di pinggiran tembok lantai tiga gedung sekolahku. Tangan kiriku mencengkram pinggiran jendela.
“Aduh, Irma jangan dong…please?” Wina sahabatku berusaha mencegah aksi nekatku. “Masa depan loe masih panjang, masa cuma gara-gara si Johan ninggalin loe, loe mau bunuh diri, sih? Nggak worth it tau gak? Ayo dong, turun!” Wina berusaha menggapai tanganku.
“Loe gak tau rasanya kayak apa, Win. Loe tau kan, kalo gue tuh cinta mati sama dia, Win. Gue selama ini selalu yakin kalo dia itu jodoh gue. Kok tega-teganya dia jadian sama cewek laen. Cewek itu tuh, ga cakep tau ga? Apa sih, yang dia liat dari cewek kurus kering kayak gitu?” aku sudah mulai terisak-isak. Sakit hati.
Wina masih berusaha memegangi tanganku supaya aku tidak nekat meloncat ke bawah. Untung sekolah sudah sepi, jadi tidak ada yang memperhatikan tingkahku. Malu juga rasanya kalau jadi tontonan orang-orang.
Wina masih berusaha membujukku dengan omongannya, tapi aku sudah tidak mendengarkan lagi ocehannya. Kalau sedang berada di titik paling bawah dalam hidupmu, seperti sekarang ini, yang terlihat hanyalah bayangan-bayangan hidupmu. Persis seperti di film-film Hollywood yang sering kutonton. Di depanku sekarang tampak slide demi slide potongan-potongan hidupku. Mulai dari ulang tahunku yang ke-lima, jatuh dari tangga hingga tanganku patah, menstruasi pertama yang memalukan karena rok seragamku merah terkena noda darah ketika aku sedang presentasi di depan kelas dan ketika dirawat di RSPAD karena sakit demam berdarah. Kemudian muncul bayangan orang-orang yang kucintai, Ibu yang sedang membidani kelahiran anak tetangga sebelah, Ayah yang sedang mengotak-ngatik mobil kijang bututnya, Mbak Nina yang genit sedang berdandan, adikku Riza yang sedang sibuk mencuri pakai barang-barangku, sahabat-sahabatku dan yang terakhir bayangan Johan. Cowok yang saat ini kutaksir. Lebih tepatnya bukan taksir, tetapi obsesi. Siang malam yang terbayang hanya Johan seorang. Suatu hari ia menyatakan rasa sukanya padaku (atau lebih tepatnya pasrah, karena lelah kukejar-kejar). Dua bulan aku jadian dengannya, tiba-tiba kemarin kulihat dia jalan dengan anak kelas satu yang kegenitan itu. Tadi pagi ketika kukonfrontasi mengenai hal ini, tanpa rasa bersalah Johan mengiyakan dan menambahkan bahwa dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padaku. Turun sudah derajatku sebagai wanita. Lelaki yang begitu kucintai malah meninggalkanku untuk cewek kerempeng kegenitan. Tidak ada jalan lain, lebih baik aku mati saja.
Bayangan Johan membuatku makin yakin akan niatku. Kulangkahkan kaki kiriku di udara, bersiap untuk terjun. Kudengar suara Wina mulai gemetar, tangannya masih memegangi tanganku dengan kuat. Selamat tinggal dunia. Aku mengedarkan pandangan ke tanah di bawahku yang sudah siap menerima tubuhku. Pandanganku berhenti pada suatu sosok di bawah yang sedang sibuk membuka kunci sepeda motor.
“Itu…sssiapa Win?” tanyaku dengan gemetar
“Hah, siapa, apa?” Wina yang masih dengan suara gemetar karena bingung melongokkan kepala keluar jendela. “Lah, itu sih, si Agus, anak 2-c”
“Kok, gua gak pernah liat. Emangnya loe kenal?”
“Kenal. Dia kan, satu SMP sama gue. Dia kan, masuk pagi, jelas aja loe gak pernah liat. Kenapa emang?” Wina tampak semakin bingung, pegangan tangannya di tanganku mulai melonggar.
“Udah punya cewek?”
“Kayaknya belom deh, kenapa?” sepertinya Wina mulai menangkap maksudku. Pegangan tanganya sudah dilepas.
“Punya nomer telfonnya?” tanyaku sambil membalikkan badan hati-hati, melangkahkan kakiku pelan-pelan memasuki jendela kelas.
***

Inayah Wahid adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI.

Minggu, 04 Januari 2009

Tuhan buat Vasty



Cerpen Dahlia Isnaini


Hujan turun sangat deras ketika bel sekolah berbunyi. Aku segera membereskan alat tulisku dan berjalan ke luar kelas.
“Ra, bawa payung nggak?” Teriak Vasty ketika aku baru keluar dari kelas. Rupanya kelasnya Vasty sudah bubar dari tadi. Kelas IPS memang selalu selesai lebih awal, tidak seperti kelas IPA-ku yang baru selesai tepat ketika bel dibunyikan.
“Ya ampun, nggak bawa tuh! Gimana nih pulangnya? Lo juga nggak bawa payung ya?” aku balas bertanya.
“Iya, tapi gue udah telepon rumah, minta dijemput. Mungkin satu jam lagi Pak Edi baru datang. Katanya di Mampang banjir. Kita tunggu di kantin aja ya, sambil makan, lapar nih!” lanjut Vasty.
Aku berjalan di belakang Vasty. Kami harus berjalan beriringan karena lorong kelas dipenuhi oleh anak kelas satu yang sedang menunggu jemputan.
Ternyata di kantin juga ramai. Banyak teman-temanku yang juga sedang menunggu hujan reda sambil makan dan ngobrol di kantin. Vasty menunjuk ke arah dua bangku kosong di pojok kantin, dekat tukang mie ayam. Hanya tinggal bangku itu yang tersisa.
“Ya udah, duduk di sini aja deh. Gue mau makan mie ayam aja. Lo mau makan apa Ra?”
“Mmmhh, gue nggak lapar. Lo aja yang makan,” jawabku pada Vasty. Sebenarnya aku lapar. Tadi siang jam dua belas aku cuma makan nasi goreng yang aku bawa dari rumah. Sedangkan sekarang sudah jam empat. Tapi uang di kantongku tinggal dua ribu. Pas buat ongkos ke rumah.
“Gue beli es teh manis aja deh, tapi pulangnya gue nebeng sampai rumah ya?” lanjutku kemudian.
“Siip!” kata Vasty.
Ia mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan membaca sms yang baru saja diterimanya. Handphonenya baru, warna biru keperak-perakkan. Itulah enaknya jadi anak tunggal seperti Vasty. Bisa gonta-ganti handphone sesukanya. Segala sesuatu yang ia minta pasti diberikan oleh kedua orangtuanya.
“Ra, lo percaya Tuhan nggak?” tanya Vasty tiba-tiba.
“Percayalah! Parah lo, hari gini masih tanya percaya Tuhan apa nggak!” ledekku sambil kemudian meminum es teh manis di depanku.
“Hehehe, emang lo pernah ketemu Tuhan Ra? Kok lo bisa percaya sama sesuatu yang belum pernah lo lihat?”
Aku menatap Vasty penuh selidik. Kenapa Vasty tiba-tiba ngomong begitu? Sebelumnya Vasty tidak pernah mempertanyakan hal-hal yang filosofis begini. Sudah lima tahun aku mengenalnya. Sejak kami sama-sama duduk di bangku SMP sampai sekarang kami bersekolah di SMA yang sama. Obrolan kami tidak jauh dari masalah sekolah, teman, dan hal-hal ringan lainnya.
“Tuhan memang nggak bisa dilihat Vas, tapi bisa dirasakan keberadaannya. Tuhan tuh...”
Tiba-tiba mata Vasty berkaca-kaca.
“Ra, gue bingung...” ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku semakin bingung. Kenapa sih Vasty?
“Bokap-nyokap gue mau cerai. Lo tahu kan selama ini agama mereka beda. Sekarang mereka tanya masalah pilihan agama gue. Gue nggak mau bikin salah satu dari mereka sedih atau kecewa.”
Cerai? Tanyaku dalam hati. Seingatku selama ini Vasty tidak pernah cerita kalau orangtuanya bermasalah. Kok tiba-tiba keadaannya sudah gawat begini?
“Ya ampun Vas, kenapa baru cerita?” tanyaku sambil memeluk Vasty yang masih menangis tersedu-sedu.
“Tadinya gue pikir gue masih bisa membujuk mereka supaya membatalkan perceraian mereka, tapi semalam mereka bertengkar lagi. Gue nggak tahu mesti gimana lagi, Ra! Gue nggak mau mereka cerai. Cuma mereka yang gue punya Ra.” Vasty berusaha menyeka air matanya. Aku menyodorkan sebungkus tissue kepadanya. Untung kami duduk di pojok, jadi tidak ada satu pun orang di kantin yang menyadari apa yang terjadi di sini.
“Semalam gue bilang kalau gue akan ikut tinggal sama nyokap dan juga akan ikut agama Kristen kayak nyokap. Setelah gue bilang begitu, mereka bertengkar hebat Ra! Kalau udah begitu, gue bingung Ra.”
“Vas, gue tahu ini berat buat lo. Tapi lo tetap harus punya sikap. Lo nggak mungkin bisa menyenangkan semua pihak.” Aku mencoba memberikan pendapat. Aku sendiri nggak tahu harus bicara apa lagi. Di rumah, ayah dan ibuku jarang bertengkar. Paling ibu marah-marah kalau ayah terlalu sering membeli ikan hias yang menurut ibu hanya sebuah pemborosan. Itu pun bukan pertengkaran besar karena pasti ayah hanya senyum-senyum mendengarkan ibu yang marah-marah. Kalau sudah begitu, pasti ibu tidak meneruskan marah-marahnya. Aku sendiri tidak terbayang kalau harus lihat ayah dan ibu bertengkar masalah agama begitu. Pasti bingungnya bukan main.
Tiba-tiba handphone di tangan Vasty berdering.
“Pak Edi, kayaknya dia udah ada di depan sekolah. Kita pulang Ra!” Vasty merapikan rambutnya yang berantakan. Meskipun air matanya telah kering, tapi matanya masih terlihat sembab.
“Yakin nggak apa-apa pulang sekarang? Mata lo masih sembab begitu!” tanyaku padanya.
“Nggak apa-apa Ra, sebenarnya masih banyak yang mau gue ceritain. Tapi gue harus pulang. Tadi nyokap gue sms minta gue pulang. Gue takut ada apa-apa di rumah. Nanti malam gue ke rumah lo ya?” tanya Vasty penuh harap.
Aku hanya mengangguk.

*

Vasty mengantarku sampai depan rumah. Ibu sedang membaca majalah di ruang tamu ketika aku masuk dan mengucapkan salam dengan nada tak bersemangat.
“Lho, muka kamu kenapa bingung begitu Ra?” ibu kebingungan melihat wajahku yang kusut. Aku meletakkan tasku di atas meja kemudian duduk di samping ibu yang langsung mengambil posisi siap mendengarkan ceritaku. Aku menceritakan masalah Vasty pada ibu. Ibu mendengarkan dengan seksama dan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. Ibu agak kaget mendengar cerita tentang Vasty.
“Kok bisa ya Ra? Ibu kira selama ini agama Vasty Islam.”
“Rara pikir juga begitu. Selama ini memang Rara tahu kalau orangtuanya beda agama. Tapi Rara kira Vasty sudah memilih menjadi muslim. Habis, dia juga nggak pernah cerita banyak ke Rara,” kataku sambil merebahkan kepalaku di pangkuan ibu.
“Tadi di mobil Vasty cerita. Dia memang nggak pernah sungguh-sungguh menjalankan salah satu agama orangtuanya. Setiap tahun pasti dia ikut puasa bareng ayahnya, begitu juga kalau natal. Dia pasti ikut misa bersama ibunya di gereja. Menurutnya sama saja. Dia tetap bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang dia terima. Menurut dia, itu yang penting,” ceritaku pada ibu.
“Rara takut Vasty jadi berpikiran ekstrem Bu,” lanjutku.
“Ekstrem gimana Ra?” dahi ibu mengernyit. Bingung rupanya.
“Ya, jadi aneh gitu. Masa tadi di mobil dia bilang dia mau cari Tuhan buat dia dan orangtuanya. Tuhan yang nggak memaksa umat-Nya menggunakan cara tertentu buat menyembah-Nya. Itu kan ekstrem Bu.” Aku sendiri tidak mengerti maksud perkataan Vasty tersebut. Sepertinya masalah perceraian orangtuanya berimbas besar pada keimanannya.
“Ra, Allah enggak pernah memaksa umat-Nya dalam menyembah-Nya. Ia hanya menunjukkan jalan yang Dia ridhoi. Kan ada di Al-quran. Lakum diinukum wa liyadiin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Vasty harus memilih. Bukan karena siapa-siapa. Tapi karena dia percaya pada Tuhan.”
Seandainya Vasty ada di sini untuk mendengarkan nasihat ibu.

**

Malamnya aku menunggu telepon dari Vasty sampai jam satu. Handphonenya tidak aktif waktu kuhubungi. Begitu juga waktu aku mencoba menelepon ke rumahnya. Tidak ada yang menjawab teleponku. Aduh, aku takut terjadi apa-apa dengan Vasty.
Esoknya aku tidak bertemu Vasty di sekolah. Waktu kutanyakan kepada teman-teman sekelasnya, tidak ada seorang pun yang tahu kabarnya. Begitu juga pihak sekolah. Sorenya aku pulang sekolah dengan masih memikirkan Vasty. Sesampaiku di rumah, ibu memelukku sambil berbisik.
“Ra, Vasty meninggal satu jam yang lalu.”
Aku diam dan menangis. Badanku lemas mendengar berita tersebut.
Ibu yang menerima telepon dari salah satu kerabat Vasty. Menurut kerabat Vasty, Vasty dan kedua orangtuanya mengalami kecelakaan mobil dua jam yang lalu. Mereka dalam perjalanan menuju pengadilan negeri ketika kecelakaan itu terjadi. Kedua orangtua Vasty sekarang masih dalam keadaan kritis, sedangkan Vasty meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah.
Malamnya ada seorang kerabat Vasty yang mengantarkan sebuah amplop ke rumahku. Di dalamnya terdapat selembar kertas post-it yang ditulis Vasty untukku.

Rara,
Nggak tahu kenapa. Malam ini gue ngerasa deket banget sama Tuhan. Tadi gue baru aja berdoa ke Tuhan. Gue minta sama Tuhan supaya gue bisa terus deket sama Tuhan. Gue juga minta sama Tuhan supaya gue bisa terus deket sama bokap-nyokap gue. Gue berdoa supaya sidang besok gagal dan orangtua gue nggak jadi cerai. Gue nggak mau pisah sama mereka Ra.


Kertas post-it itu ditemukan di atas tempat tidur Vasty. Sepertinya ia sudah mempunyai firasat atas kejadian yang akan menimpanya. Esok paginya aku kembali menerima kabar duka. Kedua orangtua Vasty gagal melewati masa kritis. Selang lima menit setelah ibunya meninggal, ayahnya juga meninggal. Sepertinya Tuhan mengabulkan doa Vasty. Kini Vasty bisa terus berada di dekat Tuhan dan kedua orangtuanya.

***

Dahlia Isnaini adalah mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI

Kamis, 01 Januari 2009

Aku dan Kapten Nakamura



Cerpen Wida Kristiani

Aku sudah melihat beberapa tentara Jepang yang bermata sipit dan bertubuh pendek dari jendela dapur rumah majikan kami. Teman-temanku yang lain mulai panik dan mencari tempat bersembunyi, seakan kami bisa bersembunyi. Kami semua tahu mengapa mereka datang ke rumah Raden Mas Hatmosarodjo, tuan besar kami. Mereka akan mengambil salah satu dari pembantu perempuan untuk diserahkan pada pemimpin mereka, Kapten Nakamura. Cuih.
Teman-temanku saling mendekatkan diri, seakan dengan berbuat begitu mereka akan selamat. O, tentu saja mereka akan selamat… kali ini aku yang akan diambil oleh tentara-tentara Jepang itu. Majikan kami sudah mengatakannya padaku seminggu yang lalu, setelah Suminten mereka ambil.
Aku ingat, keesokan harinya setelah Suminten kembali, dia tidak bisa berkata apa-apa, hanya terus menangis. Sekujur tubuhnya lebam, di punggungnya ada bekas cambukan yang malang melintang. Sampai sekarang pun dia masih sering menangis. Dia bercerita pada kami kalau orang yang bernama Kapten Nakamura berlaku sangat kejam. Dia menyiksa terlebih dahulu sebelum memperkosanya. Jepang sialan.
Majikan kami menyuruh kami untuk merawat Suminten dengan baik, Suminten bahkan dibebastugaskan selama beberapa saat. Namun, dia tidak bisa melawan kehendak tentara Jepang yang mau mengambil budak perempuannya yang masih perawan. Kalau melawan, kami semua akan mati. Tepat seminggu yang lalu, Raden Ayu berkata dengan penuh penyesalan kalau tentara-tentara itu sudah menunjukku. Jadi, hari ini aku akan ikut bersama mereka untuk melayani pimpinan mereka yang terkenal sadis.
Mereka kira aku bodoh, aku budak, tapi tidak bodoh. Najis menyerahkan keperawananku pada pimpinan mereka. Tentu saja sekarang aku sudah tidak perawan, aku senang akan hal itu. Aku sudah menyerahkan keperawananku pada Karjo, pacarku yang bekerja sebagai supir di rumah Raden Mas Manguntenoyo.

“Tunggu di sini!” Setelah mendorongku masuk ke kamar, salah satu tentara Jepang yang tadi menggiringku berkata dalam bahasa yang bisa kumengerti. Aku melihat ke sekeliling kamar. Perabotnya sedikit, kursi, meja, tempat tidur ukuran besar… lalu mataku tertuju pada benda yang tergantung di dinding. Cambuk.
Aku merasakan keringat mulai menetes dan membasahi keningku. Aku takut. Tanpa kusadari airmata mulai menetes, cepat-cepat kuhapus. Kakiku bergetar karena ketakutan, aku cepat-cepat duduk di kursi di pojok kamar. Aku tahan getaran kakiku dan sebisa mungkin menenangkan diri. Ya, bapak… doakan aku dari surga. Aku mengucapkan doa yang dulu diajarkan almarhum bapakku, namun semakin aku mengucapkannya, semakin besar ketakutanku. Aku tidak tahu seperti apa Kapten Nakamura, tapi aku tahu apa yang dia lakukan pada gadis-gadis yang ditidurinya. Seluruh kampung tahu. Gadis-gadis itu selalu disiksa sampai berteriak-teriak mohon ampun, setelah itu baru dia berhenti menyakiti mereka, namun setelah itu dia akan memperkosa mereka. Kejam. Binatang. Apa yang diajarkan oleh ibu bapaknya sampai dia bisa seperti itu. Bukan hanya dia, aku tahu Jepang jauh lebih pandai menyiksa para tahanan daripada Belanda. Bara api panas, gergaji, pencabut kuku… aku bergidik.
Kriek…suara pintu dibuka.
Jantungku berdegup dengan kencang, kakiku gemetar lebih hebat, keringat dingin membasahi kening dan telapak tanganku. Namun, aku kuatkan hatiku dan menatap langsung pada orang yang baru saja masuk.
Sosoknya membelakangiku, dia berbadan tegap namun tidak terlalu tinggi. Dia melepaskan topi dinasnya dengan tetap membelakangiku. Lalu, aku bisa melihat dia melepaskan satu-satu kancing seragam kebesarannya yang berwarna putih, dia meletakkannya begitu saja di atas meja. Jantungku berdegup lebih kencang, tanganku basah oleh keringat, kakiku gemetaran. Aku menelan ludah karena takut. Namun, aku menguatkan diriku untuk tetap duduk tegak seolah aku berani melawannya. Aku ingin membenahi kain kebayaku, namun ternyata tanganku tidak sanggup untuk bergerak, tanganku terasa sangat sulit digerakkan.
Bapak, doakanlah anakmu ini.
Dia berbalik menghadapku. Aku terkejut melihat wajahnya yang masih muda, bukan seperti yang kuperkirakan. Dia memiliki mata yang sipit, tajam, sangat hitam, mungkin aku akan tersedot ke dalam hitamnya mata itu kalau aku terus menatapnya. Namun, aku kuatkan diri untuk berani menatap langsung pada matanya. Wajahnya begitu tanpa ekspresi, sangat menakutkan untukku, menunjukkan kalau mungkin dia sudah tidak takut lagi akan apapun, bahkan kematian.
Dia memperhatikanku dari atas sampai bawah, tetap dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Lalu, dia tersenyum kecil. Aku merinding, hanya dengan satu senyuman kecil, seluruh raut wajahnya berubah kejam, memperlihatkan dengan jelas luka seperti bekas sabetan pedang yang melintang memanjang dari atas dahi kiri sampai pipi kirinya. Aku sangat takut.
“Tidak perlu takut….” Dia berkata dalam bahasa yang kumengerti dengan terbata-bata. Dia berjalan dengan langkah ringan mendekatiku, membuat seluruh badanku menjadi gemetaran. Setelah cukup dekat dengan aku yang masih duduk di kursi kayu, dia berjongkok sampai mata kami sejajar. Hitamnya mata itu sangat menakutkan, namun aku tidak sudi untuk berpaling terlebih dahulu. Aku balas menatapnya, walaupun aku jantungku sebenarnya berpacu sangat cepat karena perasaan takut yang amat sangat. Dia membelai pipiku dengan tangannya yang kasar, aku langsung meludahinya. Sebenarnya aku ingin menamparnya, namun tanganku masih membeku di tempat, sama sekali tidak bisa digerakkan. Aku memang sudah gila, meludahinya berarti menyediakan diriku untuk lebih mendapat siksaan. Tapi, aku tidak sudi pasrah pada bangsa yang sudah membuat bapakku terbunuh. Bangsa yang mengaku-ngaku sebagai saudara tua kami, tapi mereka bahkan lebih biadab dari Belanda.
Cuih. Aku meludahinya sekali lagi.
PLAKKKK. Dia menamparku dengan sangat keras sampai aku terjatuh dari kursi. Sakit. Aku merasakan darah pada bibirku, aku mengusapnya dengan tangan. Ternyata, hanya seperti ini rasa sakit itu, tidak semenakutkan yang aku bayangkan, kalau hanya seperti ini, aku masih bisa menahannya. Tanpa kusadari aku tersenyum kecil. Lalu, aku kembali duduk di kursi seperti tadi. Aku menatap orang yang berada di hadapanku dengan sewajar mungkin. Ketakutan memang menjalari seluruh tubuhku, namun aku tidak sudi memperlihatkannya, hal itu hanya akan memberinya kesenangan.
Dia tampak terkejut, aku tahu dia pasti berharap aku akan mulai menangis. Huh! Jangan harap. Beberapa saat kemudian, raut mukanya sudah kembali datar, namun dalam beberapa detik, dia mengeluarkan senyum yang bahkan lebih keji dari sebelumnya. Seketika itu juga aku tahu akan ada hal yang lebih buruk. Jantungku berdegup dengan lebih cepat, namun aku menguatkan diri, dan aku tetap bisa menatap langsung pada mata hitamnya.
“Kamu… nama… siapa…?” Dia berdiri dari kejauhan dengan mata yang terus melekat padaku. Perlahan-lahan dia melepas sabuk kulitnya, lalu menyabetkannya ke meja. Nafasku tertahan, aku kembali berkeringat, namun aku sangat pandai bersandiwara dan aku tetap bisa memperlihatkan mimik tidak peduli di hadapannya.
“Kamu… nama… siapa!” Pria itu berteriak kali ini sambil kembali menyabetkan sabuk kulitnya. Aku diam saja, tidak mau menjawab. Dalam sekejap, dia tiba-tiba sudah berada di depanku, menarik kebayaku dan melepasnya dari badanku dengan kasar. Aku masih memakai korset, dia lalu juga menariknya sampai lepas. Aku menutupi dadaku, dia mendorongku sampai aku jatuh terjerembab membentur tembok. Dia memaksaku membelakanginya dan mulai menyabetkan sabuknya itu. Berkali-kali, aku bisa merasakan kulitku terkelupas, perihnya membuatku ingin berteriak, airmata menetes tanpa kusadari. Aku segera mengusapnya dan menggigit lidahku agar jangan sampai aku berteriak.
“Bicara!” Dia berteriak setelah merasa cukup menyabetku dengan sabuk. Aku berbalik menatapnya dengan datar sambil menutupi dadaku yang telanjang. Walaupun aku menahan kesakitan yang amat sangat, namun aku tidak mau mengalah padanya dengan memperlihatkan kesakitanku.
Cuih! Aku meludahinya lagi. Mengapa aku harus menurutinya untuk berbicara, menuruti orang dari bangsa yang membunuh bapak dan teman-temanku. Mereka membuatku tidak bisa lagi belajar dan terpaksa menjadi budak. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk melawan mereka. Mereka tidak tahu aku tergabung dalam kelompok pemberontak. Lihat saja kau Nakamura bangsat, kami akan menghabisimu dan pasukanmu.
Dia kembali menamparku, lalu segera berbalik membelakangiku. Berjalan menuju dinding sebelah kanan. Tempat cambuk itu digantung. Nafasku tertahan ketika dia melepaskan cambuk itu dari tempatnya digantung dan menyabetkannya ke sekeliling, mengahmburkan barang-barang.
Kaki gemetar hebat, aku tahan dengan sekuat tenaga dengan tanganku. Rasa dingin yang aneh menjalari kaki sampai ujung rambutku, aku akan mati, karena ketakutan. Sekali ini aku menunduk, aku merasakan aku akan menangis, tanganku sudah ikut gemetar.
Ceetttarrr.
Dia mencambuk punggungku. Aku tak tahan untuk tidak berteriak, sekali rintihan keluar dari mulutku, buru-buru aku menggigit lidah dengan keras. Tanganku meremas kain dengan keras, menahan kesakitan. Kesakitan yang lebih hebat dari yang pertama tadi. Selama mencambuk, dia terus berteriak dalam bahasa yang tidak kumengerti, yang jelas, dia ingin aku bicara.
Selanjutnya, aku terus menerima cambukan, pukulan, tendangan. Dia sudah merobek-robek kain yang membungkus tubuhku, menelanjangiku sampai aku merasa sangat malu. Ketakutanku perlahan surut, diganti dengan kemarahan yang luar biasa. Aku lampiaskan kemarahanku dengan tidak mengeluarkan suara sedikit pun, hal itu membuatnya sangat marah. Aku senang membuatnya makin kesal. Dia sudah setengah telanjang, namun dia tidak memperkosaku… orang itu malah semakin gencar menyakitiku. Aku tahu dia sangat kesal, dia ingin memaksaku menjerit kesakitan, namun berbicara pun aku tidak mau.
Lalu dia melepaskan celananya, dia telanjang sekarang. Aku menahan diri untuk tidak menangis saat dia menarikku dengan paksa ke tempat tidur. Aku memukul-mukulinya, menjambak rambutnya, menggigit tangannya, namun dia masih terlalu kuat untukku. Aku frustasi sekarang, aku tidak mau melayaninya. Aku jijik pada badannya yang tegap, kulitnya yang kuning, matanya yang sipit. Menjijikkan!
Aku sudah berada di atas tempat tidur, dia sudah menindihku. Aku berontak sekuat tenaga, meraih apa pun di sekitarku untuk menyerangnya, namun dia tetap tidak menyingkir dari atas tubuhku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat dia menggerayangi setiap inci tubuhku dengan tangannya. Namun, dia tidak memperkosaku. Dia tidak mampu melakukannya.
Sampai pagi harinya, dia tetap tidak menyetubuhiku. Sebagai gantinya, aku mengalami luka yang cukup parah. Tubuhku penuh dengan luka cambukan dan pukulan, mukaku penuh dengan lebam, aku sulit berjalan karena kakiku terluka karena tendangannya di tulang keringku. Tapi… aku puas, dia tidak menyetubuhiku, dan aku bisa membuatnya sangat kesal dengan diam saja. Saat aku diseret keluar oleh anak buahnya, aku sempatkan untuk tersenyum padanya, tanda kemenanganku. Aku tertawa dalam hati mengetahui ketidakmampuannya itu.

“Kamu tidak dibunuh, Sri?” Temanku bertanya setengah kagum setengah kasihan saat dia mengobati lukaku. Aku hanya menggeleng dengan lemah, tangisanku yang tak berhenti membuatku sulit bicara.
“Kamu sama saja dengan Suminten, menangis terus. Pasti sangat menakutkan bertemu dengan Kapten Nakamura. Apa jadinya aku kalau belum menikah… Yang sabar, ya, Sri.” Kartini berkata prihatin. Aku hanya bisa mengangguk sementara airmata tak berhenti mengalir dengan deras. Aku menangis bukan karena lukaku, lebih pada melampiaskan semuanya, karena sepanjang malam kemarin, aku begitu ketakutan, namun aku menguatkan diri untuk tidak menangis di depan bajingan itu. Sekaranglah pelampiasanku.
BRAK!! Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dengan paksa. Sekelompok tentara Jepang menyeruak masuk dan langsung menyeretku, aku tidak bisa melawan, badanku terlalu lemah. Kartini yang berusaha menarikku kembali ditendang sampai jatuh, aku ingin menolongnya, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Mengakulah kalau kamu yang menjadi mata-mata!” Seorang penerjemah yang satu bangsa denganku menerjemahkan apa yang dikatakan oleh tentara Jepang di belakangnya. Aku menggelengkan kepala, gagang senjata mendarat di kepalaku dengan keras. Aku sudah terlalu lemah, bahkan untuk meludahi orang itu. Kepalaku terkulai tak berdaya, namun tubuhku tidak dapat begitu saja rebah di tanah, karena ada dua orang yang memegangiku.
“Sri, kamu dalam bahaya, mereka menuduhmu sebagai mata-mata. Kalau kau tidak mau mengakui, kau akan disiksa dengan sangat kejam. Mereka tidak akan peduli kau adalah perempuan. Kalau kau mau mengaku….” Penerjemah itu menghentikan kata-katanya.
“Aku akan langsung dibunuh. Aku tahu hal itu jauh lebih enak… tapi, aku akan dipaksa mengatakan nama teman-temanku. Mereka akan diburu. Aku tidak mau. Lagipula, aku memang bukan mata-mata….” Aku berkata terbata-bata.
Selanjutnya, mereka merantaiku, dengan begitu mereka bisa melemparkan apapun padaku dengan mudah. Kotoran manusia, pistol, batu… apa saja mereka lempar padaku. Aku sudah habis mereka perkosa, aku sudah begitu kotornya dipaksa melayani mereka semua. Tapi, aku tidak akan bicara. Biar saja aku mati! Jepang bangsat! Aku benci mereka! Aku benci bangsa sadis itu! Dari mana mereka belajar untuk menyakiti orang lain seperti itu? Aku yakin, negeri mereka penuh dengan penjahat, perampok, pembunuh… semuanya kejam.
Lalu, tiba-tiba kudengar teriakan kemarahan. Segenap tentara Jepang yang tadi bermain-main dengan diriku langsung siap siaga. Aku tidak kuat untuk melihat siapa yang datang, kepalaku terus terkulai. Aku hanya mendengar bentakan, tamparan, pukulan… lalu aku dilepaskan dari ikatan. Lalu aku tak sadarkan diri.
Ketika aku bangun, Kapten Nakamura berdiri di sampingku. Aku melihat diriku sudah dalam keadaan bersih dengan balutan perban di mana-mana. Melihat aku tersadar, Kapten Nakamura segera menyuruh orang yang merawatku pergi.
“Kau… pergi… cepat… jauh. Akan… mengejar… Saya tidak… menolong… bisa….” Kapten Nakamura berkata terbata-bata, lalu menolongku bangun. Semalam sebelumnya, dia adalah sosok kejam yang menyeramkan, namun saat ini, mata hitam itu tidak menunjukkan kebengisannya, dia tenang.
“Mengapa membantu saya?” Aku berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku. Namun, ternyata tanpa bantuannya, aku tidak bisa berdiri tegak. Dia lalu kembali menolongku berdiri. Kami tidak lewat pintu depan, dia membopongku lewat pintu belakang, tanpa ada orang yang melihat kami.
“Mengapa membantu saya?” Aku kembali bertanya setelah kami berada di luar. Hanya ada satu orang penarik riksaw yang menungguku.
“Saya… tidak… tahu… Pergi, cepat!” Dia mendudukkanku ke atas riksaw. Penarik riksaw lalu langsung berlari menarik riksaw secepat mungkin. Sampai di belokan, aku masih meliaht Kapten Nakamura berdiri menatap kami pergi.
“Bapak kenal dia?” Aku berkata pada penarik riksaw dalam bahasa Jawa.
“Iya. Beliau Kapten Nakamura… sangat kejam, semua orang berkata begitu. Dia suka menyiksa dan memperkosa gadis perawan. Tapi, dia baik kepada saya,” si penarik riksaw memperlambat larinya.
“Kenapa dia menolong saya?”
“Saya juga tidak tahu. Dia memberi saya banyak uang untuk membawa anda ke tempat yang aman. Dia tidak pernah seperti itu, biasanya dia hanya menyuruh saya mengantarnya berkeliling dengan tentara mengawal kami. Sekarang, dia diam-diam menyuruh saya mengantar anda.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya diam sambil berusaha menahan sakit di kemaluanku.

Aku tinggal bersama Bude Kerjo, kakak Bapak, di desa sebelah desa asalku. Tentara Jepang masih mencariku, namun aku bisa menyembunyikan diri. Aku tidak tahu kalau salah satu kelompok kami berbohong dan menyebutku sebagai mata-mata sekutu. Aku dianggap pengkhianat yang harus dihukum mati oleh Jepang. Bude Kerjo sama sekali tidak tahu-menahu soal aku yang menjadi incaran Jepang.
Lalu, aku mendengar kabar itu.
“Kita harus bersyukur kepada Allah SWT. Mulai sekarang, sudah tidak ada lagi pemimpin Jepang yang akan mengincar anak perawan,” Bude berkata padaku setelah dia kembali dari sawah.
“Kenapa Bude? Jepang sudah pergi?” Aku bertanya dengan penuh semangat.
“Bukan semuanya. Pemimpin mereka yang terkenal kejam, Kapten Nakamura. Dia dihukum mati, dituduh bersekongkol dengan sekutu karena menyelamatkan mata-mata pribumi. Alhamdulillah! Kamu bisa tenang, kamu bisa kembali ke rumah majikan kamu. Kamu bisa kembali bekerja…! Alhamdulillah!”
Aku terpaku di tempat. Aku tahu… dia dihukum mati karena aku. Kapten Nakamura… aku membencinya karena menyakitiku dan karena dia berasal dari bangsa yang paling biadab… tapi, dia menyelamatkan nyawaku dan mengorbankan dirinya.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un… Allah, ampunilah dia….” Airmataku menetes mengucapkan doa untuknya.

***

Wida Kristiani adalah mahasiswa Program Studi Cina FIB UI.