Jumat, 13 Februari 2009

Munir Gugur di Musim Gugur



Cerpen Rizky Amelia

Perpisahan dengan anak-anak adalah hal yang paling kubenci. Selama beberapa bulan aku terpaksa meninggalkan istri tercinta dan dua buah hatiku, Rendra dan Nia. Mereka mungkin akan sedih. Namun setidaknya mereka tidak khawatir dengan kepergian ayahnya kali ini. Kali ini untuk menuntut ilmu di negara Kincir Angin, tidak untuk berdemo menyuarakan hak orang-orang kecil yang dirampas oleh para petinggi negeri ini.
Bisa dibilang aku jarang sekali di rumah. Aku sibuk dengan masalah hak asasi manusia. Aku terlalu lantang menyuarakan ketidakadilan di negeri ini. Entah mengapa kehausanku akan keadilan nampaknya sebanding dengan kecintaanku dengan keluarga.
Malam ini pukul sembilan malam aku akan terbang ke Belanda. Uci istriku, Rendra dan Nia mengantar kepergianku. Rendra dan Nia yang tampak mengantuk, kusuruh bersandar di bahuku. Kuusap-usap rambutnya. Biasanya jika aku mengusap kepala kedua anakku, mereka akan segera tertidur. Selagi anak-anakku tertidur, aku memeriksa segala kelengkapanku. Paspor, tiket, dan berkas-berkas lainnya kusimpan rapi di tas jinjing hitam yang melingkar di tubuh kecilku. Uci berkali-kali menasihatiku agar tidak terlambat makan. Ini memang kebiasaan burukku. Jika sudah melakukan aktivitas yang kusenangi, hal lainnya menjadi tidak penting-termasuk makan. Maka dari itulah aku merapatkan hatiku di pelabuhan hati Uci. Sosok wanita tangguh yang bisa mendukung kegiatan yang nyawa taruhannya sekaligus menjadi sosok istri dan ibu yang sempurna buatku dan anak-anakku.
Sudah saatnya boarding. Aku berpamitan, kupeluk dan kucium kening mereka. Aku melangkah pasti sambil beberapa kali berbalik ke arah mereka dan melambaikan tangan. Wajah mereka sudah tidak tertangkap pandanganku lagi. Setelah boarding, aku kembali menunggu. Kali ini sendiri tanpa istri dan anak-anakku. Daripada diam menunggu, kuambil sebuah buku dan mulai membacanya. Aku tidak dapat tenang membaca. Mataku berkali-kali menatap layar televisi besar yang menginformasikan jadwal keberangkatan. Ya, suara halus wanita itu menginformasikan bahwa pesawat yang kutumpangi GA 974 akan segera terbang. Segera kukemasi barang-barangku lalu berjalan menuju pesawat.
40 A. Aku terus mencari kursi dengan nomor tersebut. Nah, ini dia. Kursi kelas ekonomi dan dekat dengan jendela. Jadi sepanjang perjalanan aku bisa memandangi indahnya ciptaan Tuhan yang tampak sangat kecil dari udara. Aku menyandarkan diriku di kursi tersebut sambil terus memangku tas jinjing hitamku. Beberapa menit kemudian pesawat berkapasitas sekitar 380 orang penumpang ini sudah hampir terisi seluruhnya. Rencananya aku akan menghabiskan waktu selama perjalanan dengan membaca buku. Semoga saja buku ini bisa rampung ketika aku tiba di Belanda.
Hampir satu jam pesawat ini terbang di angkasa. Dari kejauhan kulihat dua orang pramugari mulai menawari makanan. Namun aku masih fokus dengan bukuku. Tidak lama berselang, mereka sudah berada di sampingku. Mereka menyodorkan semangkok bakmi dan menanyakan minuman yang kuinginkan.
“Jus saja!” ujarku sambil menerima segelas jus buah.
Kututup buku yang sedang kubaca dan beralih ke mie-mie panjang hangat yang siap untuk disantap. Aku memang tidak pandai menggunakan sumpit! Maka dari itu kugunakan sendok dan garpu untuk menikmati bakmi itu. Setelah perut terisi, aku meneguk jus buah itu dalam satu kali tegukan. Para pramugari itu kembali mengumpulkan sampah-sampah bekas makanan kami. Aku membersihkan meja tempatku menyantap bakmi kemudian melipatnya ke bangku di depanku. Aku pun kembali melanjutkan membaca buku.
Setelah dua jam di udara, kami mendarat di Changi Airport untuk transit. Begitu menuruni pesawat aku buru-buru mencari toilet terdekat. Perutku sangat mual hingga harus berkali-kali keluar masuk toilet. Akhirnya reda juga mual di perutku. Aku mengirim pesan singkat ke Uci memberitahu bahwa perutku mual.
Saat duduk menunggu keberangkatan, aku berkenalan dengan Dokter Taher. Beliau adalah dokter dari Rumah Sakit Harapan yang sedang melakukan studi banding dengan rumah sakit di Belanda. Aku sempat membicarakan banyak hal yang berhubungan dengan pekerjaanku. Beliau amat tertarik dengan kerjaku sebagai aktifis Hak Asasi Manusia (HAM).
“Anda ini hebat!! Berani menyuarakan penyelewengan HAM di negeri ini,” begitu katanya.
Perbincangan kami pun terhenti karena sepuluh menit kemudian kami harus kembali ke pesawat melanjutkan perjalanan ke Belanda. Sebenarnya selain berkenalan dengan Dokter Taher, aku juga berbincang dengan seorang pilot yang saat ini sedang tidak bertugas.
Aku kembali ke kursi 40 A sementara Dokter Taher masuk lewat pintu satu E di kelas bisnis.
Tiga jam kemudian, aku kembali mengeluh sakit pada perutku dan badanku pun ikut melemas. Mungkin aku telah kehilangan banyak cairan saat aku muntah barusan. Setidaknya aku sudah enam kali bolak-balik ke toilet. Aku memanggil pramugari meminta dipanggilkan dokter Taher. Untunglah, di saat seperti ini aku punya kenalan yang bisa menangani keluhanku. Beberapa menit kemudian Dokter Taher datang. Aku bisa melihat dari matanya kalau dia baru saja terbangun dari tidurnya.
“Maaf ya Dok! Saya jadi menyusahkan. Tapi perut saya sakit sekali. Sudah enam kali saya muntah!!” jelasku dengan muka pucat.
“Mas, emang tadi makan apa? Kok bisa sampai begini? Tadi jajan ya, waktu lagi transit di Changi?” Dokter Taher memeriksa kondisiku.
“Dokter ini bisa aja!! Sayang uangnya Dok! Mendingan untuk jajan nanti di Belanda!! Saya cuma makan bakmi dan jus buah. Tadi di Jakarta minum susu coklat.”
“Nah, kebetulan saya punya obat untuk mengurangi frekuensi muntah Mas ke toilet.”
Aku menenggak butiran obat dari Dokter Taher. Obat itu hanya bekerja sebentar. Setidaknya aku sudah dua kali muntah setelah minum obat itu. Aku tidak bisa jauh-jauh dari toilet. Aku memutuskan untuk tidur di lantai dekat toilet. Kondisiku agak membaik. Seorang pramugari memberikan secangkir teh hangat campur garam dan air putih campur garam. Selanjutnya Dokter Taher juga memberiku obat penenang dengan dosis ringan.
Saat aku tertidur, seseorang membangunkanku dan menyuruhku beristirahat di kursi nomor empat kelas bisnis. Karena kebetulan kursi tersebut letaknya tidak jauh dari toilet aku menerimanya. Kalau aku tidak salah dengar ada seseorang yang merelakan kursi kelas bisnisnya di tukar dengan kursi kelas ekonomi milikku. Namun aku tak tahu persis siapa orangnya. Aku bersandar di kursi tersebut dan kembali melanjutkan tidurku.
Selimut biru tebal melindungiku dari dinginnya AC. Aku meringkuk, memeluk dengkulku dan kemudian terlelap. Kututup mataku, menghirupkan napas dalam-dalam dan tidur nyenyak dalam balutan selimut. ***

Rizky Amelia adalah mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI.

Kamis, 22 Januari 2009

Yogyamu, Jakartaku



Cerpen Dania Diniari

Surya namanya. Dia yang selalu mengisi benakku tiga tahun terakhir ini. Aku heran mengapa baru sekarang aku menyadari perasaan ini.
“Wah, enak dong di Jakarta cowoknya kan ganteng-ganteng. Kok kamu masih jomblo sih? Nyama-nyamain aja nih. Hehehe…” Entah aku harus senang atau tidak mendengar pertanyaannya barusan.
“Modal tampang doang tapi otaknya kosong. They aren’t my type, “ ujarku sambil nyengir ke arahnya.
“Yee dasar. Ya udah buruan gih, orang rumah udah pada nunggu nih.”
Saat ini kami berada di salah satu minimarket dekat rumah Surya. Bude Watiek, ibunda Surya, menyuruh kami membeli beberapa bahan untuk makan malam nanti. Keluarga besar kami sedang berkumpul di rumah Bude Watiek sekarang. Mumpung lagi liburan panjang, jadi kami semua bersilaturahmi ke rumah kerabat selama beberapa hari. Rumah Bude Watiek di daerah Kaliurang, Yogyakarta inilah yang selalu menjadi basecamp keluarga besar kami. Bude Watiek adalah kakak dari ayahku. Ya, Surya itu sepupuku. Mengapa aku menyukai sepupuku sendiri ya? Padahal perasaanku dulu terhadap Surya tidak ada yang istimewa. Malah, waktu masih di bangku sekolah dasar, aku sering sekali bertengkar dengannya. Ia kerap menjambak rambutku dan selalu membuatku menangis. Aku dan dia suka tersenyum geli saat mengingat konyolnya kami dulu. Tak kusangka ia akan tumbuh menjadi Surya yang tampan, ramah, dan idealis seperti ini. Ia berbeda sekali dengan teman-teman pria sebayaku di Jakarta. Meskipun terkadang konyol, ia memiliki pemikiran-pemikiran yang dewasa dan cenderung bijaksana. Ia selalu memiliki pandangan tersendiri pada masalah-masalah hangat di negeri ini. Terutama yang menyangkut Yogyakarta, kota yang amat dicintainya, dan Jakarta, kota yang sedikit dibencinya.
Surya memang tinggal di Yogyakarta dan aku tentu saja menetap di Jakarta. Usia kami sama. Meskipun tinggal berjauhan, kami sering sekali mengobrol lewat sms. Banyak topik yang menjadi pembicaraan kami. Mulai dari masalah ringan seputar kampus kami, sampai masalah yang menyangkut kebijakan-kebijakan di kota kami. Ya, kami sering sekali memperdebatkan mana yang lebih baik, Jakarta atau Yogyakarta. Pada akhirnya sih kami sepakat bahwa masing-masing kota tersebut memiliki hal-hal positif dan negatifnya sendiri.

* * *

Selesai makan malam. Aku menyusul Surya ke teras. Udara Yogya sangat sejuk, bahkan dingin, di malam hari. Tak heran ia sering menghabiskan waktu di sini. Kami juga sering mengobrol di sini.
“Kenapa sih kamu nggak suka Jakarta? Nggak semua remajanya hedonis kok. Remaja-remaja yang alim juga banyak, tapi emang sih segalanya tuh mungkin kalo di Jakarta. Yang halal bisa jadi haram.” Aku langsung nyerocos. Memang menyebalkan mengetahui orang yang kita sayang ternyata membenci tempat dimana kita tinggal. Sebenarnya aku juga sama saja dengannya. Siapa yang tidak kesal dengan sopir angkot yang suka seenaknya berhenti di jalan. Siapa yang tidak kesal dengan polisi lalu lintas yang kadang berlagak bagai pemalak berseragam. Bandingkan dengan warga Yogya yang ramah dan bersahabat. Mereka lebih polos dibandingkan orang-orang di Jakarta. Kesopanan dan ketradisionalan merekalah yang membuatku turut jatuh hati dengan kota pelajar ini. Bahkan aku bertekad jika telah menikah nanti, aku akan menetap di Yogyakarta. Namun tetap saja Jakarta adalah bagian dari hidupku. Sudah belasan tahun aku menetap di sini. Aku meminum airnya pun dari sini.
“Di Jakarta itu susah membedakan mana yang benar dan yang salah, Rin. Coba deh, menurut kamu penggusuran tuh salahnya siapa? Aparat atau warganya?” Surya buka mulut. Aku suka sekali melihat Surya seperti ini. Cerdas tetapi tidak sombong. Kutatap lekat wajahnya. Ia terlihat sangat menawan dengan sepasang mata sayu yang dibingkai kacamata, hidung mancung, dan pancaran wajah yang ramah.
“Hei, kok bengong? Nah, kamu bingung ya?” Ia tersenyum jail penuh kemenangan padaku.
Gawat. Jangan sampai ia melihatku menatapnya seperti tadi. Rasa suka, sayang, cinta memang dapat membuatmu melakukan hal-hal bodoh. Tidak apa-apa lah, toh bodoh itu kan subjektif.
Aku tak mau kalah dengannya. Aku juga bertanya tentang Yogyakarta, “Di Yogya juga sama aja kan. Coba deh kamu pikir, kenapa banyak orang yang nggak setuju kalo Sultan mau melepas jabatannya sebagai gubernur? Itu kan hak beliau.”
“Mungkin masalah identitas. Takut kehilangan identitas. Yogya kan daerah istimewa yang sejak dulu dipimpin oleh keturunan keraton. Kalau gubernur Yogya nanti bukan dari kalangan keraton, mereka takut Yogya akan kehilangan identitasnya sebagai kota yang jadul dan njaweni ini. Aku nggak kebayang deh kalo di sini nantinya banyak gedung-gedung seperti di Jakarta itu. Kita nggak bisa jalan-jalan bareng ke Malioboro, Pasar Beringharjo, atau Keraton lagi dengan tenang. Pasti polusi udara juga akan bertambah,” jelasnya panjang lebar sambil tersenyum padaku.
Lagi-lagi senyuman itu. Apa aku menyayanginya karena keindahan fisik yang dimilikinya ya? Ah aku tidak mau menjadi orang yang hanya tergoda bungkusan luar sesaat. Namun kurasa tidak demikian denganku. Surya memiliki hati yang baik. Aku tahu ia juga menyayangiku. Yang aku tak tahu adalah ia menyayangiku sebagai sepupu atau lebih dari itu. Mengapa aku harus memiliki hubungan sepupu dengannya? Memangnya kenapa kalau aku naksir sepupuku sendiri? Hal itu bukanlah hal yang baru dalam dunia percintaan. Ibunda temanku menikahi sepupunya sendiri. Mereka satu kakek dan nenek, sama seperti aku dan Surya. Aku sendiri belum yakin apakah benar ini cinta atau hanya simpati yang mendalam. Kunikmati saja perasaan ini selama itu tidak menyakiti seorang pun termasuk diriku.
Kami terus mengobrol. Surya berkata padaku bahwa akulah orang yang paling asyik untuk diajak berdiskusi macam-macam topik, walaupun kuakui obrolan kami juga tak terlalu berbobot.
“Kamu kenapa nggak kuliah di Yogya aja? Bukankah kamu menyukai Yogya juga sepertiku? Nanti kan kita bisa berangkat ke kampus bareng. Sayang ya kamu tinggal berjauhan denganku. Padahal aku seneng banget menghabiskan waktu sama kamu.”
Wah! Ucapannya barusan membuatku sumringah setengah mati. Aku berusaha menyembunyikannya. Surya tidak berbohong. Aku mengetahuinya karena sudah lama sekali kami berteman. Sadarlah Sabrina, senang menghabiskan waktu denganku bukan berarti ia memiliki perasaan lebih terhadapku.
“Aku sih pengen banget tinggal di sini, tapi gimana ya, dari lahir aku sudah besar di Jakarta. Pasti asing rasanya kalau tiba-tiba aku kuliah di sini. Lagipula aku kan memang tidak lulus SPMB kemarin, jadi nggak bisa kuliah di UGM bareng kamu juga dong, hehehe…”
Surya nyengir, “Iya juga ya, hehe… Eh, mau ikut aku keliling kompleks ini sebentar nggak? Jalan-jalan aja. Kalau malam gini suasananya enak lho. Biar nggak susah tidur juga nanti.”
Kuturuti saja ajakannya. Berjalan-jalan di sekitar rumah sebelum tidur malam memang kebiasaanku dari dulu. Bila di Jakarta, aku sering melakukan kegiatan itu bersama ibu. Mengasyikkan saja melihat rumah-rumah tetangga kami yang lengang dan beberapa penghuninya yang siap bertualang ke alam nan indah. Biasanya aku dan ibu sering membeli sekoteng dan menikmatinya di warung Pak Haji, bersama dengan Pak Haji yang gemar guyon dan istrinya yang ramah.

* * *

Aku dan Surya berjalan kaki mengitari kompleks rumah Surya. Kami sudah berpamitan pada Bude Watiek dan ibuku tentu saja. Beberapa pria setengah baya tampak berbincang ringan di teras salah satu rumah tetangga Surya. Lalu ada seorang remaja pria yang asyik memainkan gitar di rumah sebelahnya. Suasana yang tak jauh beda dengan kompleks rumahku.
“Apa cita-citamu?” tanya Surya memecah keheningan yang menyelimuti kami sejak tadi.
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, “Hah, kok kayak nanya anak SD sih? Citaku-citaku banyak banget! Nih ya aku urutin. Waktu SD aku pengen banget jadi astronot. Terus begitu tahu kalo astronot harus pintar fisika dan matematika, aku beralih pengen jadi arkeolog. Asyik aja waktu nonton film-film tentang perburuan benda-benda antik dan kuno. Aku kan sampai sekarang suka banget Yunani. Aku pengen banget suatu saat bisa ke Athena, Kairo, Venisia, juga London. Kalo sekarang sih aku belum tahu lagi mau jadi apa, hehehe… Pengennya sih kerja di surat kabar… Kamu sendiri gimana?”
“Aku pengen jadi dosen,” jawabnya mantap. “Tapi buat jadi dosen kan paling nggak aku harus lulus S2 dan itu pasti lama banget. Nanti aku nikahnya gimana dong.”
“Nikah ya nikah aja kok ribet?” Aku geli mendengar ucapannya tadi.
Surya berucap lagi, “Ih, maksud aku siapa yang bakalan jadi istriku coba? Pacaran aja aku belum pernah. Lagipula mana ada perempuan yang mau nikah sama pria yang sibuk banget kayak aku.”
“Pede banget sih kamu!” Aku terkikik mendengarnya. “Tenang aja, pasti banyak deh cewek yang mau sama kamu.”
“Iya ya? Kamu juga mau?”
Aku senang bercampur kaget. Aku menoleh.
“Mau nggak ya? Hehehe… Kita sepupu gitu, emang bisa nikah? Tapi kalo kamu nanti seganteng Andrea Pirlo boleh juga deh,” candaku.
“Yee, muka orang mana mungkin berubah. Sudahlah lupakan yang tadi. Tapi setahu aku sih sepupu itu boleh menikah asalkan menaati aturan-aturan yang berlaku.”
“Nah, berarti itu topik debat kita selanjutnya,” ujarku bersemangat. Tidak ada habisnya bila mengobrol dengan Surya.
“Oke, kita lanjut besok. Pulang yuk, udah jam setengah sepuluh.”
Kami lalu berjalan menuju rumah Bude Watiek. Ah malam yang indah. Biarlah aku menjaga persahabatan dengan sepupuku tersayang ini. Let it flow, itulah prinsipku sejak dulu. Bukannya aku malas berusaha, tapi untuk apa merusak segala keindahan yang sudah banyak tercipta ini. Bila tiba waktunya, kau harus mengetahui perasaanku ini, sepupuku. Karena yang namanya cinta itu harus diungkapkan. Hanya orang yang terlalu cinta pada dirinya sendiri yang tidak berani mengungkapkannya. Begitulah yang tertulis dalam salah satu novel favoritku.

***

Dania Diniari adalah mahasiswa Program Studi Jepang FIB UI.

Senin, 19 Januari 2009

Mbak Rani



Cerpen Evlin

Sudah dua bulan aku berada di Jakarta. Aku sudah lancar berbahasa Jakarta dari percakapan sehari-hari dengan tetangga di sini. Kehidupan di sini ternyata berbeda jauh dari apa yang tetanggaku katakan di kampung. Mereka mengatakan hidup di Jakarta enak. Segala macam fasilitas memang ada di sini. Pusat hiburan, restoran, serta hotel-hotel berbintang menjamur di kota ini. Semua memang bisa didapat di Jakarta. Namun, tidak semua orang bisa menjalani hidup enak dan mendapatkan apa yang mereka mau. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati fasilitas tersebut, lebih tepatnya hanya orang-orang yang mempunyai uang yang bisa. Untuk mendapatkan semua fasilitas tersebut, banyak orang yang tidak mampu memilih jalan yang salah. Untungnya, aku bukan orang yang seperti itu. Walaupun baru sekali ke Jakarta, aku tidak terlalu berminat untuk menjelajahi kota ini. Lagipula, di Jakarta, aku dan kakakku, yah…kakakku, hidup sederhana.
Aku tidak berminat keluar untuk berjalan-jalan karena masih mengingat kematian ibuku belum lama ini. Sebelum pindah ke sini, aku dan ibuku tinggal berdua di kampung. Bapakku sudah lama meninggal. Sebagai orangtua tunggal, ibuku membiayai uang sekolahku serta semua kebutuhan kami seorang diri. Ibuku memang orang yang gigih. Ia bisa menyekolahkan aku sampai tamat SMA. Padahal, kami hanya bergantung dari hasil panen sawah kami yang hanya beberapa petak dan beternak bebek. Sampai sekarang, aku masih bingung bagaimana ia mencukupi semua kebutuhan kami dengan pekerjaan tersebut.
“Ngelamun lagi, Tar?” mbak Rani mengejutkanku. Ternyata ia masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Sudah Mbak bilang, kamu jangan terlalu sedih dengan kematian Ibu, biar Ibu tenang di sana.”
“Kok, Mbak nggak ngetok pintu dulu, sih?” jawabku ketus. Terlihat sekali ia sedih dengan jawabanku tadi.
Biar saja! Aku tidak peduli dengan perasaannya! Ia juga tidak pernah peduli dengan aku dan ibuku! Aku masih bisa terima jika ia hanya tidak memedulikan aku, tapi ini… Ibunya sendiri! Ibu yang melahirkannya ke dunia ini! Aku masih tidak habis pikir dengan sikapnya itu. Sejak kecil, aku tidak pernah melihat mbak Rani datang ke kampung menjenguk kami. Berkirim surat pun tidak. Aku hanya tahu tentang mbak Rani dari ibu dan pamanku. Waktu Ibu meninggal pun ia tidak hadir! Aku diantarkan ke Jakarta oleh pamanku. Aku masih heran kenapa aku harus tinggal dengannya setelah Ibu meninggal. Jika saja ibu tidak memintaku untuk tinggal dengan mbak Rani di saat-saat terakhirnya, aku lebih memilih tinggal dengan pamanku. Paman juga masih bersedia menampungku di kampung. Kenapa harus mbak Rani? Seseorang yang sama sekali tidak kukenal. Ia menelantarkan aku dan ibuku di kampung, padahal ia tahu bapak sudah meninggal. Ia membiarkan ibu mencari biaya untuk kami berdua. Oleh karena itu, aku membencinya. Sangat membencinya. Aku pernah memberitahu hal ini kepada ibu. Namun, ia langsung marah besar begitu mandengarnya.
“Tari, cukup! Kamu tidak tahu apa-apa soal mbakmu itu!” ibu langsung menangis histeris di depanku. Ia terlihat sangat sedih. Oleh karena itu, aku tidak pernah lagi menyinggung masalah itu.
Ibu sangat menyayangi mbak Rani. Ia selalu menyuruhku menghormati mbak Rani. Ia juga selalu mengatakan suatu saat, aku akan tinggal bersama mbak Rani, dan di sinilah aku sekarang.
“Maaf, Tar. Mbak buru-buru. Lagipula, sarapannya sudah siap. Mbak ke kantor dulu. Hati-hati di rumah,” mbak Rani keluar dari kamarku dengan tergesa. Begitu mendengar pintu luar ditutup, aku keluar dari kamarku.
Aku berjalan ke meja makan. Ketika melewati kamar mbak Rani, tiba-tiba aku ingin masuk ke kamarnya. Aku belum pernah masuk ke kamarnya. Biasanya, kamar itu selalu terkunci. Aku iseng mencoba memutar gagang pintu. Tidak terkunci! Pasti tadi mbak Rani lupa mengunci pintu kamarnya karena terlambat pergi ke kantor. Aku berpikir lagi. Sepertinya tidak enak masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuan mbak Rani. Namun, akhirnya aku memutuskan untuk masuk, lagi pula aku belum terlalu lapar untuk makan. Aku yakin mbak Rani tidak akan tahu karena ia baru akan pulang sore nanti.
Ketika masuk, mataku langsung menyapu seluruh bagian ruangan. Terdapat satu tempat tidur berdempet dengan dinding. Setelahnya, ada sebuah meja kayu kecil dengan dua laci. Di atasnya, terdapat sebuah jam weker dan beberapa alat kosmetiknya. Di samping meja, terdapat lemari yang juga berdempetan dengan sisi dinding yang lain. Lemari tersebut sudah sangat tua dan terdapat kaca setengah badan yang menempel pada pintu lemari. Di dinding depan tempat tidur, digantung kalender, jam dinding, dan sebuah foto dengan bingkai tua. Aku tertarik dengan foto itu. Foto itu menggambarkan seorang gadis yang sedang hamil. Ketika kuteliti lagi, sepertinya aku kenal dengan gadis dalam foto tersebut. Ya, Tuhan! Itu mbak Rani! Jadi ternyata, ia pernah punya seorang anak! Aku langsung berpikir yang tidak-tidak. Ketika aku mencoba menyentuh foto itu untuk memastikannya, bingkai foto yang sudah tua itu bergoyang lalu terjatuh. Foto itu keluar dari kaca pigura yang telah pecah. Aku sangat kaget dan ketakutan. Apa yang akan aku katakan kepada mbak Rani saat dia melihat fotonya sudah tidak berbingkai lagi? Ketika aku mengambil foto itu, aku melihat tulisan yang ada di balik foto tersebut.
“Ibu…” belum sempat aku membaca tulisan itu sampai tuntas, mbak Rani sudah ada di depan pintu kamar. Ia pasti ingat belum mengunci pintu kamarnya dan kembali lagi untuk menguncinya. Ia langsung menangis begitu melihatku memegang foto itu. Aku bertanya-tanya kenapa ia bersikap seperti itu. Aku melanjutkan membaca tulisan yang ada di balik foto.
“Mbak… apa maksud tulisan ini?” aku mulai gemetar. Suaraku tercekat seakan tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Mbak Rani menjatuhkan dirinya ke lantai sambil menutup mukanya dengan tangan. Aku langsung menghampirinya dan mengguncang-guncangkan bahunya.
“Jawab Tari, Mbak!” aku berteriak di depan mukanya dan mulai menangis. Aku ikut menjatuhkan diri di depannya dan menangis sejadi-jadinya. Setelah beberapa lama, mbak Rani membuka tangannya dan menatapku.
“Sudah waktunya…kamu mengetahui semuanya, Tar…” ia mengusap air matanya yang terus menerus mengalir.
“Dulu, Mbak tinggal di Jakarta dan kerja sebagai pembantu. Setelah beberapa lama, Mbak jatuh cinta dengan majikan Mbak. Ternyata, cinta Mbak dibalas. Kami… Kami akhirnya melakukan hal yang tidak pantas dilakukan pasangan yang belum menikah…” tangisnya meledak lagi.
“Sebulan kemudian, Mbak hamil,” ia menangis sambil menggelengkan kepalanya dan memukul dirinya sendiri.
“Waktu Mbak minta pertanggungjawabannya, ia malah memaki dan mengusir Mbak… Akhirnya, Mbak pulang ke kampung. Di kampung, kehamilan Mbak sudah tidak dapat lagi disembunyikan. Mbak diejek orang-orang di kampung, Tar. Puncaknya, Mbak diusir. Waktu itu, mereka sangat marah dan mengancam akan membakar rumah kita… Mbak menyerah dengan pergi dari kampung setelah… Melahirkan anak perempuan…” Ia kini menangis tak bersuara. Bukan… Bukan itu maksudnya, aku terus meyakinkan diri bahwa pikiranku salah.
“Waktu itu, Mbak tidak tahu harus ke mana membawa anak Mbak. Akhirnya, Ibu menyuruh menitipkan anak itu kepadanya…” Aku mulai menutup kupingku dan menangis sekeras-kerasnya agar tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya.
“Anak itu kamu, Tar! Ibumu ini tidak pernah ke kampung menemuimu dan Ibu karena tidak diperbolehkan menginjak kampung itu lagi! Ibu disangka pembawa aib bagi mereka! Ya, Tuhan! Apa salah hamba sampai harus menanggung semua cobaan ini!” Ia berteriak di depan mukaku. Aku mulai menjauh darinya dan mencoba ke luar rumah. Ia menangkapku dan mencoba memelukku. Aku mendorongnya sampai terjatuh.
“Tari, aku ibumu, nak… Ibu tidak pernah menelantarkanmu… Ibu selalu mengirim uang untuk membiayai semua kebutuhan kalian. Ibu sangat merindukanmu! Namun, waktu Ibu nekat ingin pulang dan menemuimu, Ibu dihalangi oleh nenekmu. Ia takut terjadi apa-apa dengan Ibu. Ibu sangat sayang padamu, Tar…” Ia bangun dan mendekatiku perlahan.
Sekarang, aku mengerti semuanya, sikap ibu saat mendengar aku membenci mbak Rani, sumber penghasilan ibu untuk membayar kebutuhan kami, ketidakhadiran mbak Rani selama bertahun-tahun… Perasaanku campur aduk. Ya, Tuhan… Bagaimana ini? Jadi selama ini yang kuanggap ibu adalah nenekku sendiri dan mbak Rani adalah… Aku tidak sanggup memikirkannya lagi. Suara mbak Rani atau siapa pun dia terdengar menjauh, tubuhku terasa lemas… Sesaat kemudian, segalanya kelam…

***

Evlin adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI.

Sabtu, 17 Januari 2009

Teman Sunyi



Cerpen Cempaka Fajriningtyas

“Papa kangen kamu, Ga.”
“Iya, Pa. Jingga tahu. Jingga juga kangen banget sama Papa.”
“Dulu kamu sering peluk Papa.”
“Sekarang Jingga kan juga lagi peluk Papa. Aaah, Papa masih saja pakai minyak rambut itu ya? Baunya sudah kuno, Pa.”

Lelaki setengah abad itu mengusap-usap rambut putih di kepalanya. Sesekali ia merapikan anak-anak rambut yang membandel di dahinya sampai tangan keriput itu lengket oleh minyak rambut beraroma lavender.

“Papa lebih ganteng kalau nggak pakai minyak rambut. Minyak rambut itu bikin Papa jadi seperti mafia-mafia Italia yang klimis itu. Sudah gitu, baunya itu loh...”
“Papa tahu kamu nggak suka sama aroma lavender.”
“Loh kok, malah Papa pakai terus minyak rambut itu? Gimana sih?”
“Sengaja, Jingga. Biar kamu ngambek setiap kali kamu peluk Papa.”
“Kok gitu?”
“Suara cempreng kamu terdengar sangat lucu tiap kali kamu ngambek. Papa selalu kangen saat-saat seperti itu.”
“Sini aku peluk Papa lagi. Aku juga kangen...”

Aku memeluk Papa dengan erat. Begitu erat sampai-sampai minyak rambut lavender yang membanjiri rambut lelaki yang sangat kucintai itu menempel di pipiku. Papa hanya diam. Ia malah mengambil satu album foto tua dari tumpukan buku di nakas.

“Kamu lucu sekali di foto-foto ini. Waktu umur kamu baru lima tahun ya?”
“Sudahlah, Pa. Jangan terlalu sering melihat album foto itu.”
“Hari ini usia kamu sudah 29 tahun ya, Ga?’
“Dengerin Jingga dong, Pa. Tutup saja album foto itu. Untuk apa Papa lihat- lihat foto itu. Jingga ada di sini. Lihat Jingga saja...”
“2 Pebruari. Selamat ulang tahun, Sayang”

Ia tersenyum getir sambil memandang foto-foto masa kecilku. Bandel sekali orang tua ini, sudah berapa kali aku melarangnya untuk melihat foto-foto itu. Tapi itulah Papa. Keras kepala.

“Papa bikin wafel coklat kesukaan kamu loh, Ga. Sengaja Papa taruh di meja makan supaya kalau kamu pulang, bisa langsung makan.”
“Jingga tadi sudah ke meja makan kok. Terima kasih ya, Pa...”
“Habiskan ya, Ga. Papa bikin spesial buat kamu. Kamu kan habis dari perjalanan jauh, pasti kamu lapar.”
“Maaf, Pa, Jingga nggak bisa makan wafel spesial Papa.”
“Habiskan ya, Ga.”
“Jingga ingin sekali, Pa. Tapi Jingga nggak bisa. Maafin Jingga...”
“Sekali ini saja, Ga. Habiskan wafel itu. Papa cuma minta itu dari kamu.”

Pelupuk mata yang terbingkai keriput milik lelaki setengah abad itu mulai basah. Lagi-lagi ia menangis. Lagi-lagi aku penyebabnya. Aku ingin sekali menghabiskan wafel buatanmu, Pa. Tapi aku nggak bisa. Mengertilah, Pa.

“Kenapa kamu pergi lama sekali, Ga?”
“Jangan dibahas lagi lah, Pa... Kita berdua tahu itu bukan salah Papa dan Mama.”
“Kapan kamu pulang, Ga? Cepat pulang. Pulang, Ga... Papa letih menunggu kamu di sini.”
“Jingga sudah pulang, Pa. Lihat Jingga dong! Jingga selalu ada di dekat Papa!”
“Pulang, Ga... Cepat pulaaaaaang... Papa sangat rindu kamu...”
“Papa! Ini Jingga, Pa! Jingga di sini!”
“Jinggaaaaaa......! Pulang, Nak. Papa kangen... Papa ingin ketemu kamu, Papa mau lihat senyum kamu.”
“Jingga selalu tersenyum, Pa. Makanya Papa lihat Jingga dulu.”
“Papa salah sama kamu, Nak. Papa bikin kamu sedih terus... Papa bikin kamu kecewa...”
“Nggak, Pa. Papa nggak pernah punya salah sama Jingga, Jingga juga nggak kecewa sama Papa.”
“Papa cuma mau kamu bahagia, Nak... Punya istri yang cantik, punya anak-anak yang lucu... Cuma itu, Nak...”
“Lihat Jingga, Pa! Jingga bahagia! Jingga sudah menemukan kebahagian yang lebih indah dari yang Papa bayangkan.”
“Pulaaaaaang lah, Nak... Papa mohooon...”

Tubuh kurus Papa yang dulu kekar itu segera kupeluk dengan erat. Namun, kali ini ia meronta-ronta. Berteriak-teriak memanggil namaku. Terus saja begitu sampai suaranya serak lalu habis. Kalau suaranya sudah habis, maka lelaki yang dulu sering menyisiri rambutku itu akan memukul-mukulkan tangannya ke kepalanya. Selalu begitu. Dan setiap kali Papa melakukan itu, tidak sedetikpun aku melepaskannya dari pelukanku. Seperti yang sekarang sedang kulakukan.

“Berhenti, Pa. Jangan teriak-teriak, Pa, Jingga mohon. Nanti mereka datang...”
“Jinggaaaaa...! Jingga anakku...! Pulang, Nak... Pulaaaaang... Jinggaaaa...!”
“Sssshhh... Diam dulu, Pa. Sssshh... Jingga di sini, Pa, Jingga sudah pulang...”
“Kenapa kamu tinggalin Papa, Nak? Papa kan sudah minta maaf...”
“Jingga nggak pernah marah sama Papa. Sssshh... sekarang Papa diam dulu, nanti mereka datang.”
“Jinggaa...! Sini, Nak... Papa kangen... Papa nggak tahan lagi... Jinggaaaaa...! Papa kangeeeeen... Di sini sepi... Papa kesepian, Nak...”
“Sssssshh... Ssssshhh... Sssshh... Iya... iya... Tenang... Tenang dulu, Pa. Ini Jingga sudah pulang. Papa nggak akan kesepian lagi.”

Kutepuk-tepuk punggung Papa dengan lembut agar beliau tenang. Namun, sepertinya aku terlambat. Langkah-langkah kaki mereka yang berseragam putih mulai terdengar dari balik pintu kamar. Semakin mendekat... mendekat... mendekat... BRAK!

“Siapa kalian? Mana Jingga?”
“Papa! Jangan berteriak terus. Nanti mereka suntik Papa lagi!”
“Mana Jingga? Mana dia?”

Mereka yang berseragam putih langsung memegangi Papa. Satu orang memegangi kepala Papa, empat orang menekan tangan-tangan Papa, dan dua orang lagi terlihat berusaha mati-matian menahan kaki Papa.

“Pegangi dia!”
“Cepatlah, kuat sekali tenaga Pak Tua ini.”
“Pegang tangannya! Nanti jarumnya patah kalau dia berontak terus.”
“Ayo cepat!”

“Jangan sakiti Papa! Pergi kalian! Pergi! Hey, kamu! Ya, kamu! Lepaskan kepala Papa. Dia lebih tua dari kamu, Brengsek! Apa kamu tidak punya sopan santun?”

“Cepatlah, suntikkan saja, dia berontak terus”

“Jangan! Jangan suntik Papa lagi! Dia nggak gila! Dia cuma kangen aku. Hey, jangan suntik dia atau kuhajar kalian!”

Kepalan tanganku tepat mengenai pelipis salah seorang manusia berseragam putih yang memegang jarum suntik itu. Aku yakin pukulan itu sangat keras. Aku yakin sekali. Tapi orang seperti angin. Ia malah semakin mantap mendekati Papa dan dengan angkuhnya, ia menusukkan jarum itu ke lengan Papa.

“Akhirnya tenang juga dia...”
“Kuat sekali orang ini, tangan saya sampai sakit semua waktu memegangi kakinya.”
“Kasihan dia. Begitu merindukan anaknya, sampai-sampai nggak menyadari kalau anaknya sudah meninggal.”
“Padahal sudah 24 tahun yang lalu ya...”
“Sudahlah, dia sudah tidur lagi. Biarkan saja dulu. Nanti kita cek lagi pada saat makan malam.”
“Cepat telepon istrinya. Biar Pak Tua ini ditemani istrinya agar tidak mengamuk lagi seperti tadi.”
“Baik, nanti saya segera telepon istrinya.”

KLIK. Mereka mengunci pintu kamar Papa. Lagi-lagi begini. Papa tertidur dan aku hanya bisa memandangi wajahnya. Perlahan, kudekati ranjangnya, kurapikan setiap helai rambutnya yang kusut masai akibat dipegangi perawat tadi. Aroma lavender menusuk hidungku, tapi aku tidak peduli. Baju tidur Papa yang berantakan kurapikan juga. Tapi tidak bisa. Rambutnya tetap kusut dan baju tidurnya pun tetap berantakan. Selalu saja begini. Kalau sudah seperti ini, aku hanya bisa duduk di samping Papa, menatap wajahnya dan menunggunya samapai ia sadar. Wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya, seperti sudah berumur 70 tahun, seperti digerogoti sepi dan rindu. Namun, bagiku ia tetap tampan.
Kesedihan rupanya tidak mampu mengalahkan ketampanannya. Hanya saja, tubuhnya tidak tegap lagi seperti terakhir kali aku melihatnya. Maksudku, terakhir kali ketika aku masih hidup.
***

Hari itu hari ulang tahunku yang ke lima, 2 Pebruari 1984, 24 tahun yang lalu. Papa dan Mama mengajakku jalan-jalan ke Monas sebagai hadiah ulang tahunku sekaligus untuk merayakan kesembuhanku. Aku baru saja sembuh dari sakit demam. Dua hari yang lalu, suhu tubuhku sempat tinggi, namun hari ini aku sudah merasa segar dan sangat bersemangat.
Angin sore itu cukup dingin karena memang masih musim hujan. Papa dan Mama membungkusku dengan jaket tebal, celana panjang dari bahan wool, sarung tangan, kaus kaki dan topi yang dirajut sendiri oleh Mama. Sore itu merupakan sore yang paling indah dalam hidupku. Setelah puas mengagumi Monas, Papa mengajariku menaikkan layang-layang sedangkan Mama tidak henti-hentinya menyemangatiku yang terus-terusan gagal menerbangkan layang-layang itu. Kami bertiga tertawa, tertawa, tertawa dan tertawa. Kami begitu bahagia. Aku sangat bahagia.
Semua bahagia itu menguap dengan sangat cepat ketika suhu tubuhku kembali tinggi. Aku sempat mendengar Mama mengatakan pada Papa bahwa suhu tubuhku mencapai derajat ke 40. Papa sayang kamu, Jingga. Itulah kata terakhir yang kudengar sebelum semuanya gelap dan sunyi. Ketika tersadar, aku sudah berada di rumahku. Saat itu, Papa sedang memeluk Mama. Mereka menangis sambil memeluk fotoku. Aku memanggil-manggil nama mereka. Menarik-narik tangan Mama. Memeluk Papa. Berteriak-teriak. Berguling-guling di lantai. Meloncat-loncat. Menjambak rambut Mama. Mencubit hidung Papa. Kujulurkan lidah di depan wajah mereka. Sampai akhirnya aku menangis karena kelelahan. Mereka tetap tak acuh. Mama tetap sibuk menangis sesenggukan. Papa tetap memeluk tubuh Mama yang gemetaran menahan duka.

“Kamu jadi begitu gara-gara Papa... Maafkan Papa, Ga...”
“Kenapa Tuhan memilih anak kita, Pa? Masih ada ribuan anak lain di dunia ini, kenapa Jingga? Tuhan kan tahu cuma Jingga yang kita miliki...”
“Ssshh... Tuhan nggak pernah salah, Ma. Kita yang salah. Kita nggak bisa menjaga Jingga...”
“Tapi kenapa cepat sekali Tuhan mengambil Jingga dari kita? Kenapa Jingga yang harus terkena radang otak? Kenapa Tuhan... Kenapaaaa...? Papa! Tanya sama Tuhan, Pa, kenapa Tuhan ambil Jingga?”
“Jangan marah sama Tuhan...”
“Kenapa cepat sekali kamu meninggalkan kami, Ga?”

Saat itu aku bingung, yang aku tahu aku hanya sakit. Tetapi aku tidak pernah pergi meninggalkan Papa dan Mama. Detik menjadi menit, menit berganti jam, jam melaju hari, hari melangkah minggu dan minggu menyapa bulan. Mama dan Papa tetap tak mengacuhkanku. Mereka tetap menjalani hari-hari mereka dan aku tetap berada di sekitar mereka. Aku tahu Papa sering bersembunyi di bawah tangga untuk menangis sendirian lalu berpura-pura tegar jika Mama datang. Aku juga tahu Mama sering menangis sebelum tidur. Tangis itu ditahan Mama sesunyi mungkin agar Papa tidak terbangun. Aku tahu, mereka sebenarnya selalu menangis di dalam hati dan selalu berpura-pura tegar di hadapan semua orang. Aku tahu semua, kecuali kematianku.
Akhirnya setahun pun berlalu. Aku pun bersiap-siap merayakan ulang tahunku yang ke enam. Hari itu hari ulang tahunku yang ke enam, 2 Pebruari 1985. Namun, tidak ada pesta, tidak ada kemeriahan, tidak ada acara jalan-jalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya ada Mama, Papa, wafel coklat kesukaanku dan fotoku.

“Sudah setahun kamu meninggal, Ga.”
“Mama dan Papa kangen banget sama kamu.”
“Selamat ulang tahun, Jingga Anakku.”

***

Cempaka Fajriningtyas adalah mahasiswa Program Studi Jepang FIB UI.

Selasa, 13 Januari 2009

Ibu



Cerpen Tyagita Silka Hapsari

Kubuka mataku begitu alarm telepon genggamku berbunyi nyaring pada jam tujuh pagi. Aku lihat adikku masih terlelap di sampingku, di atas sofa bed. Ayahku tidak terlihat, namun terdengar gemericik air dari arah kamar mandi. Aku lihat ibuku terbaring lemah di ranjang, di rumah sakit ini. Ibu tidak tidur, matanya menatapku kosong. Aku bangkit dan menghampirinya, memberinya kecupan selamat pagi. Ibu tampak teramat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Sudah beberapa hari ini Ibu tidak mau tidur. Takut dijemput malaikat maut saat terlelap.
Ibuku sakit. Sejak tahun 2001 payudara kirinya digerogoti sel-sel kanker yang ganas. Ia menolak untuk dioperasi, karena ayahnya yang menderita kanker pankreas meninggal beberapa saat setelah dioperasi. Operasi hanya mempercepat kematian, kata Ibu setiap saat. Ibu trauma pada rumah sakit karena Mbah Kakung meninggal di sana. Ibu memilih pengobatan alternatif. Apa pun jenisnya, Ibu mencobanya tanpa henti. Kami tidak kaya, namun rupiah tidak menjadi masalah. Kesembuhan Ibu adalah yang paling utama.
Ibu tidak berhenti berusaha, sel-sel kanker pun tidak berhenti bekerja. Perlahan tapi pasti, payudara kiri Ibu habis dimakannya. Tidak puas dengan payudara, paru-paru kiri Ibu pun dilahap. Tulang belakang Ibu disantap. Tungkai kanan Ibu dibuat keropos.
Pertengahan Maret 2005, Ibu tidak bisa berjalan karena kaki kanannya terlalu sakit untuk digerakkan. Walaupun Ibu sudah terbatuk-batuk dari bulan Januari, baru pada awal Juni Ibu sulit bernapas. Ibu tidur dalam keadaan duduk di kursi roda. Apa yang semula kami kira batuk biasa menjadi sebuah tanda bahaya.
Kami membawa Ibu ke rumah sakit di ujung selatan Jakarta yang lebih berkesan seperti hotel dibanding sebagai rumah sakit, supaya Ibu merasa tenang. Ibu benci rumah sakit. Ibu selalu menarik lepas selang infusnya. Ibu selalu minta pulang. Seminggu di rumah sakit, tidak terjadi perubahan yang berarti. Dokter sudah angkat tangan karena paru-paru dan tulang Ibu sudah tidak dapat dipulihkan. Kehancuran yang terjadi sudah sangat parah, dan dokter hanya dapat memberikan morfin untuk menghilangkan rasa sakit supaya Ibu bisa tertidur.
Tapi Ibu tidak mau tidur, takut dijemput Malaikat Maut saat terlelap. Ibu pun memaksa kami semua untuk menemaninya saat ia terjaga. Di malam hari, Ibu sering meracau. Berteriak-teriak pada orang-orang yang tak terlihat. Kami tahu, Malaikat Maut sudah datang beberapa kali ke kamar kami, tapi Ibu berjuang menolaknya. Mbah Kakung pun sudah datang untuk menjemput Ibu, tapi Ibu tidak mau ikut. Ibu tidak mau meninggal di rumah sakit. Beberapa hari kami lewatkan dengan penuh air mata dan permohonan maaf, serta berkata pada Ibu untuk pergi jika memang sudah tiba waktunya.
Ibu menangis dan meminta maaf pada kami semua. “Maaf, ya Pak, aku nggak bisa sampe selese,” kata Ibu pada Bapak. “Maaf, ya, Sil,” kata Ibu padaku. Satu kata singkat yang mengandung banyak arti. “Nggak apa-apa, Bu,” jawabku. Aku tak mau menangis di depan Ibu, tetapi air mataku mengalir tanpa dapat kuhentikan. Aku tahu suatu saat Ibuku akan dipanggil Tuhan, namun aku tak pernah mengira Ibuku yang selalu ceria dan awet muda akan pergi saat aku belum lagi lulus kuliah.
Ada kuliah yang harus kuhadiri, maka aku diantar Bapak ke kampus. Seusai kuliah aku pulang ke kos. Aku tidak kembali ke rumah sakit karena aku ada kuliah keesokan harinya. Saat itu kondisi Ibu stabil, sehingga aku berani meninggalkannya. Saat aku sedang makan siang di kantin, kakak sepupuku menelepon, dan bertanya benarkah Ibu akan dibawa pulang hari itu. Aku tidak tahu, karena memang tidak ada rencana untuk membawa Ibu pulang. Aku telepon Bapak, dan benar saja, Ibu memang akan dibawa pulang. Aku tidak berpikiran macam-macam saat itu. Bahkan dengan polos aku berharap Ibu dibawa pulang supaya dapat beristirahat lebih enak di lingkungan yang Ibu kenal dengan baik. Aku salah.
Sekitar jam setengah enam sore, Bapak meneleponku, “Silka, kamu di mana?”
“Di kos,” jawabku, “Kenapa, Pak? Ibu jadi dibawa pulang?”
“Jadi. Di sana ada siapa? Ada yang bawa mobil nggak?”
“Ada Sandra. Aku tanya dulu, nanti kalo dia ternyata nggak bawa, aku naik taksi deh.”
“Ya udah. Cepetan ya.”
Bapak tidak mengatakan apa pun tentang Ibu. Berarti sesuatu yang buruk terjadi. Sandra, teman sekamarku, tidak membawa mobil. Aku segera mengganti baju, mengambil tasku, dan lari keluar. Aku naik ojek sampai halte terluar, lalu aku masuk ke dalam taksi. Selama perjalanan aku hanya bisa berdoa, Tuhan, kalau memang Kau akan mengambil Ibu, biarkan aku melihatnya untuk terakhir kali dalam keadaan hidup. Jangan ambil Ibu sekarang, Tuhan, tunggulah satu jam lagi.
Lalu lintas sore itu cukup padat, seperti hari-hari kerja lainnya. Aku sudah sangat frustrasi. Tante dan salah seorang kakak sepupuku berkali-kali menelepon, “Udah sampe mana?” tanya mereka. “Macet…,” jawabku pasrah. Aku tidak mau bertanya tentang keadaan Ibu dan mereka tidak mengatakan apa pun.
Ketika taksi itu berhenti di depan rumahku, aku langsung terbang keluar, masuk ke dalam rumah dan melempar tasku. Aku sungguh takut Ibu sudah pergi untuk selamanya. Begitu memasuki rumah, aku melihat sebuah ranjang diletakkan di ruang keluarga. Ibuku yang tercinta berbaring di atasnya. Hidup dan bernapas.
Aku segera naik ke sisi kanan Ibu di tempat tidur. Hatiku miris melihat Ibuku yang amat kusayang terbaring lemah, matanya terpejam tetapi bagian putih matanya terlihat sedikit. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan selang infus terpasang di punggung tangan kanannya. Mulutnya terbuka dan terdengar suara berat setiap kali Ibu menarik nafas. Ia sudah tidak mampu lagi menarik nafas lewat hidung. Paru-paru kirinya hanya tinggal sepertiga, bagaimana mungkin Ibu dapat bernafas dengan normal? Ibu berkali-kali mengangkat tangan tanpa sadar, seakan-akan memberontak untuk melepaskan diri.
Aku kecup wajah dan punggung tangan Ibu. Aku letakkan tangannya di atas kepalaku. Tangannya hangat, namun tak bertenaga. Aku tahu aku akan sangat merindukan belaiannya. Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Adikku yang duduk di sebelah kiri Ibu pun bermata merah dan sembab.
Setelah aku agak tenang, kulihat sekeliling ruangan. Banyak sekali orang yang berkumpul di dalam ruangan itu. Adik-adik Bapak, saudara Ibu, teman-teman Ibu, beberapa tetanggaku, semua berwajah sendu. Beberapa tetanggaku dan teman-teman Ibu membacakan Surat Yaasin. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain berdoa mohon Ibu dilapangkan jalannya.
Semalaman keadaan Ibu tetap sama. Nafasnya berat, mulutnya terbuka, kesadarannya hilang. Aku dan adikku meninggalkan Ibu hanya untuk shalat. Beberapa kali Oom Agus, adik Bapak yang berprofesi dokter, memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Ibu. Denyut nadi Ibu sangat cepat, lebih cepat dari orang normal, dan tekanan darah Ibu berkali-kali melonjak dan menurun. Tanganku hampir selalu berada di pergelangan tangan Ibu, supaya aku tahu jika denyut nadi Ibu melemah dan nyawa Ibu mulai lepas.
Adzan subuh terdengar, sinar matahari pagi yang lembut kembali menyinari bumi. Ibu masih bertahan, karena Ibu memang perempuan yang kuat. Namun aku tidak tega melihatnya. Berkali-kali kumohon pada Tuhan, jika memang Ibuku tidak bisa sembuh, tolong jemput Ibu secepatnya. Tubuh Ibu sudah terlalu rusak dan jika Ibu sadar, kesembuhan masih jauh dan hampir mustahil terjadi.Aku tidak rela Ibuku menderita lebih lama lagi.
Hari itu hari Rabu, dan Ibuku masih terus bertahan. Hari itu kembali penuh tangis dan doa. Teman-teman Ibuku terus berdatangan, bahkan yang telah datang hari sebelumnya. Teman-temanku pun datang jam delapan malam. Semua ingin ikut melepas Ibu.
Jam delapan lewat empat puluh lima menit malam itu, setelah aku bertemu teman-temanku, aku kembali ke sisi Ibu dan memegang pergelangan tangan Ibu. Entah mengapa, aku terdorong untuk berbisik di telinga kanannya, “Ibu, lepas ya… Udah cukup. Nanti Ibu nggak sakit lagi. Aku sama Tata udah ikhlas kok. Bapak juga. Kalo Mbah Kakung jemput, Ibu ikut ya. Nanti kalo Ibu liat ada cahaya, ikut yang paling putih, paling terang, paling lurus. Ibu jangan mau kalo jalannya belok-belok, cahayanya nggak terang. Pokoknya cari yang paling lurus dan terang ya Bu...”
Tidak ada air mata setitik pun di mataku. Aku sungguh tenang dan ikhlas. Aku ciumi wajah Ibu, aku letakkan tangannya di pipiku. Aku rasakan denyut nadi Ibu perlahan sama dengan denyut nadiku. Nafas Ibu menjadi pelan. Denyut nadi Ibu semakin melambat. Jam delapan lewat lima puluh menit, denyut nadi Ibu sudah hilang. Ibu tidak lagi bernafas. Aku berteriak sangat keras dan menangis tersedu-sedu, begitu pula adikku dan Bapak. Semua orang melarangku meneteskan air mata, karena akan menahan Ibu.
Aku minta Oom Agus memeriksa denyut nadi, detak jantung, dan tekanan darah Ibu untuk memastikan Ibu benar-benar telah pergi. Sekitar satu jam kemudian Ibu dimandikan dan dikafani, lalu dibaringkan di dalam peti. Aku tahu, Ibu pasti ingin dimakamkan dekat Mbah Kakung di Jogja, maka kami menelepon keluarga di sana untuk mengurus segala keperluan pemakaman.
Sampai saat ini, aku merasa Ibu tidak pergi untuk selamanya. Ibu hanya pergi sebentar keluar kota, untuk urusan dinas atau kongres seperti biasa. Ibu masih di sini. Di dalam hatiku.

Tyagita Silka Hapsari adalah mahasiswa Program Studi Inggris FIB UI.

Sabtu, 10 Januari 2009

Gundoruwo



Cerpen Maya Meta Sandhi

Hari ini aku sangat bahagia. Tanggal 5 Desember adalah tanggal terbaik dari semua tanggal yang pernah aku lalui. Pada hari ini aku resmi menjadi istri Mas Broto. Akhirnya setelah melalui perjalanan cinta yang cukup melelahkan, sang janur kuning pun menyerah pada kegigihan kami menuju pelaminan. Sang janur kuning tidak lagi tegak melainkan melengkung sebagai tanda kekalahannya pada kami.
Di tengah hiruk pikuk pesta, jantungku berdetak sangat hebat. Napasku mulai tidak teratur, tanganku mulai dingin, hingga perutku terasa sangat mual. Kalian jangan salah menduga, yang aku alami ini karena aku takut berdiri di pelaminan. Aku menjadi kacau karena membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam antara aku dan Mas Broto. Aku malu! Tetapi aku harus melakukannya karena ini sudah kewajibanku dan tidak bisa ditunda lagi. Aku harus melakukannya malam ini juga karena esok hari sampai tiga minggu ke depan, Mas Broto akan pergi berlayar.
Aduh…indahnya malam ini. Aku memang bodoh, membayangkan yang aneh-aneh. Ya…aku memang aneh, mempunyai ketakutan-ketakutanku sendiri. Padahal Mas Broto sangatlah romantis dan sabar membimbingku. Kami melakukannya hampir sepanjang malam bahkan saat Mas Broto sudah menggunakan baju layarnya keesokan harinya, kami melakukannya lagi. Ha...ha..ha..ternyata rasanya membuatku ketagihan.
Mas, jangan lama-lama ya perginya, entar tidak ada yang menemaniku di kamar, godaku nakal.
Aduh kamu ini, bajuku jadi lungset nih! Aku akan pulang secepat mungkin. Kamu hati-hati di rumah ya, kalau ada sesuatu telepon aku saja.
Lalu Mas Broto mencium keningku dan ia mulai berjalan dengan gagahnya. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang pasti akan kurindu.
***

Sepeninggal Mas Broto, aku mulai membenahi rumah baru ini yang dirancang untukku dan anak-anak kami kelak. Aku membuka kado-kado dari para tamu dan menyimpannya baik-baik. Ketika sedang mengatur dekorasi rumah, aku teringat pesan mertuaku, kamu pasti akan sering ditinggal sama Broto, sebagai penganten baru kayak kamu, di semua sudut rumah harus kamu tebar dengan peniti atau jarum. Alasannya saat itu adalah agar tidak ada makhluk halus yang mengganggu aku. Ah..tetapi tentu saja aku tidak percaya, aku kan orang modern, masa harus percaya terhadap hal-hal seperti itu.
Akhirnya pekerjaan hari ini selesai juga. Lelah rasanya, untung saja tidak ada Mas Broto jadi aku tidak harus melayaninya. Ketika aku mulai berbaring di atas peraduan, aku mendengar bunyi derum mobil yang aku kenal sebagai bunyi derum mobil Mas Broto. Aku berlari keluar kamar dan menuju pintu utama. Ah..benar saja, ternyata itu Mas Brotoku tersayang. Aku langsung berlari dari persembunyianku di balik pintu dan memeluknya erat-erat.
Kok Mas udah pulang? Katanya tiga minggu, kok ini belum sehari sudah pulang?
Aku kangen.
Ah..Mas nakal nih!! Nanti kerjaannya bagaimana?
Mas dapat izin satu minggu sebagai hadiah perkawinan dari kantor.
Mendengar pernyataannya ini, aku sudah tidak bertanya macam-macam. Lagipula, aku membutuhkan kehadirannya setiap detik yang kulalui. Aku tidak ingin munafik.
Mas Broto membuktikan keperkasaannya padaku lagi. Ia membopongku dari garasi hingga ke tempat peraduan kami. Dari menit itu sampai bunyi ayam berkumandang, kami terus bercinta tanpa mengenal lelah, terlebih lagi Mas Broto. Ketika aku tidak sengaja terlelap, Mas Broto terus saja melumuri seluruh tubuhku dengan air liurnya. Aku juga bingung, mengapa ia mempunyia banyak tenaga untuk semua melakukan ini. Akan tetapi apa peduliku, toh aku sangat menikmatinya. Dalam waktu seminggu tersebut, hal yang kami lakukan dari pagi sampai malam, sama sekali tidak ada perubahan. Sampai akhirnya aku memandangi punggungnya dari balik pintu lagi.
***

Akhirnya setelah dua minggu berlalu, aku mendengar derum mobil Mas Brotoku tersayang. Aku langsung berlari ke arahnya dan menunjukkan tespek.
Mas lihat, lihat! Garisnya ada dua! Ini berarti aku hamil!
Hah yang benar? Wah berarti aku hebat juga ya. Ha..ha..ha..
Betapa bahagianya kami saat itu. Kami jadi tidak sabar menunggu saat-saat yang mengesahkan kami menjadi orang tua. Pada usia kendunganku yang menginjak umur lima bulan, kami melakukan USG. Betapa terkejutnya kami, ketika dari tiga dokter yang kami kunjungi, semuanya menyatakan bahwa aku mengandung anak kembar. Kami berdua menjadi bingung karena jika dirunut dari silsilah, baik dari pihakku maupun Mas Broto, tidak ada bakat mempunyai anak kembar. Akan tetapi kami menyikapi sebagai anugerah dari Allah SWT.
***

Setelah mengalami penantian panjang selama sembilan bulan, akhirnya pada 13 September aku melahirkan bayi kembar tersebut. Di dalam ruang bersalin aku ditemani oleh Mas Broto yang dengan siap mendokumentasikan kelahiran anak kami yang pertama. Persalinanku berjalan dengan normal, hingga ia muncul. Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dengan sekuat tenaga akhirnya aku mampu mengeluarkan bayi mungil dari vaginaku. Aku sempat melihat anakku yang pertama. Ia bayi perempuan dan ia terlihat tetap cantik meskipun masih berlumuran darah dan tali pusar masih menjuntai dari perutnya.
Bu, jangan berhenti, ingat masih ada satu bayi lagi. Ibu harus tetap berjuang, ujar dokter mengingatkanku.
Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Aku begitu lelah dan vaginaku terasa sangat perih. Aku pun melanjutkan perjuanganku. Akan tetapi, mengapa bayi yang satu lagi ini sangat sulit untuk dikeluarkan. Biasanya, pada kelahiran anak-anak kembar yang normal pada umumnya, hanya berselang beberapa menit, atau yah…paling lama tidak satu jam. Akan tetapi, mengapa dalam kasusku sampai pukul 23.30, bayi itu belum juga muncul.
Dok!!! Mengapa lama sekali, saya mulai tidak kuat lagi, napas saya mulai habis, teriakku menahan kesakitan.
Sabar Bu, kami juga tidak tahu apa yang terjadi, sepertinya ada sesuatu yang membelitnya hingga ia sulit keluar.
Dokter bego!!! Dari tadi ngapain aja? Tidak lihat istri saya tidak kuat lagi. Cepat lakukan apa saja! bentak Mas Broto.
Akhirnya tepat pukul 00.00, bayi itu keluar dari vaginaku juga. Saat keluar, vaginaku seperti tertusuk jarum. Lebih perih daripada saat aku mengeluarkan bayiku yang pertama. Entah karena aku sudah lelah dan kesakitan yang tiada tara , sepertinya aku melihat bayi keduaku itu mempunyai banyak bulu hitam yang panjang dan hitam. Ah..mungkin ini hanya bayanganku saja.
***

Ketika terbangun, aku sudah berada di dalam ruang perawatan. Aku dikelilingi oleh Mas Broto dan kedua orang tua dari pihakku maupun Mas Broto. Aku heran mengapa mereka tidak tampak bahagia. Rautnya wajah mereka semuanya tegang.
Mana anak kita, Mas?
Sebentar lagi juga ke sini.
Ah..mengapa jawaban Mas Broto tidak semesra biasanya sih! Dingin sekali. Lalu aku melihat seorang berjubah putih menggunakan sorban masuk ke dalam kamarku sambil membopong dua bayi.
Ah..itu anakku ya. Coba bawa sini, aku mau lihat.
Saya akan bawa ke kamu, tetapi siapkan mentalmu ya, jawab pria bersorban itu.
Ah..jawaban konyol. Mana mungkin aku tidak mau menerima anakku.
Ini anakmu yang pertama, berjenis kelamin perempuan yang lahir pada pukul 22.50. Aku tersenyum melihatnya. Persis seperti dugaanku tadi, ia begitu cantik. Bayi perempuanku itu lalu digendong oleh ibuku.
Ini anakmu yang kedua, berjenis kelamin laki-laki yang lahir pada pukul 00.00.
Aaahhh…!!! Apa itu? Itu bukan bayi. Kalian pasti mempermainkan aku. Iya kan ? Iya kan ? aku melihat sekelilingku tetapi tidak ada yang berani menatapku.
Kamu dikerjain sama gundoruwo, jawab pria bersorban itu.
Hah??? Maksud Bapak?
Coba kamu inget-inget, pernah ndak sekali waktu kamu bercinta dengan lelaki yang menyerupai Broto?
Maksudnya? Jadi maksud Bapak saya ini selingkuh?
Bukan itu, karena ini di luar kuasa kamu. Maksudnya, pernah tidak ketika Broto pergi, tiba-tiba ia cepat kembali dan mengajakmu bercinta terus-menerus?
Oh…kalau itu mah pernah. Kejadiannya saat pertama kali kami baru menikah. Pada saat itu ia bilang akan pergi selama tiga minggu tetapi tiba-tiba malam harinya ia pulang dan tinggal di rumah sampai seminggu.
Hah??? Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Saya ini termasuk orang yang setia terhadap pekerjaan. Jadi jangan aneh-aneh! jawab Mas Broto dengan kasar.
Sudah, sudah! Kalian jangan bertengkar. Tidak ada yang dapat disalahkan, kalau mau, salahkan takdir yang mempermainkan kalian. Orang yang kau maksud itu bukan Broto melainkan gundoruwo yang menyerupai Broto, mendengar hal ini tubuhku bergetar hebat. Aku jijik pada tubuhku ini.
***

Setelah kejadian itu berlalu, kehidupan rumah tanggaku seperti berada di dalam neraka, semakin banyak cobaan yang mnerpa. Cobaan yang pertama, pada saat aku masih lemah dan butuh perawatan di rumah sakit, aku harus cepat-cepat kembali ke rumah. Hal ini disebabkan pihak rumah sakit keberatan dengan bayiku ini berada di dalam ruang perawatan bayi.
Akan tetapi untung saja, bayi perempuanku yang cantik ini tidak menangis jika ad di sebelah kembarannya ini. Bila kuperhatikan baik-baik, bayi lelakiku ini mempunyai wajah yang seram dan seluruh bagian mukanya ditumbuhi banyak rambut. Akan tetapi dari semuanya itu, aku sangat senang melihat matanya yang sayu.
Cobaanku yang kedua adalah ketika keluarga Mas Broto dan justru Mas Broto sendiri, mulai menyudutkanku. Mereka selalu bilang, Ini aib, aib keluaga! mereka mengatakan semua ini seolah akulah yang melakukan perselingkuhan. Padahal aku juga tidak mengetahui hal ini. Lalu untuk menutupi kesalahanku ini, kami sekeluiarga sepakat mengatakan kalau aku tidak jadi mempunyai anak kembar. Ketika ada tamu yang berkunjung ke rumah, kami selalu mengurung anak lelaki kami di dalam kamar. Untungnya ia sangat pengertian, tidak menangis dan tidak juga mengeluh. Kami hanya memamerkan bayi perempuan kami yang cantik.
Aku sebenarnya tidak tega membiarkan anak lelakiku ditelantarkan seperti itu. Akan tetapi apa yang bisa aku perbuat. Aku juga ketakutan menghadapinya, terlebih lagi saat ia meminta air susuku. Ia menyedotnya sangat keras hingga sesudah selesai menetek padaku, dua hari ke depan aku tidak mempunyai air susu lagi yang harus kuberikan pada putriku. Keberadaan putraku hanya bisa diterima olehku dan putriku yang cantik. Yah..bagaimanapun juga putraku ini pernah tinggal di dalam rahimku.
***

Waktu terus berjalan. Kedua anak kembarku kini berusia tujuh tahun. Putriku berwajah cantik dan ia juga mempunyai sikap yang ramah sehingga tidak mengherankan ia disukai banyak orang. Sedangkan putraku, lebih sering terkurung di kamarnya yang gelap dan tentu saja keberadaannya hingga kini masih menjadi rahasia dalam keluarga kami. Wajahnya tambah seram dan rambut yang menyelimuti wajahnya terus tumbuh dan mengembang. Entah karena ikatan batin atau apa, mereka berdua saling menyayangi dan mempunyi ikatan emosional yang sama.
Pernah sekali waktu, Mas Broto sangat kesal dengan putraku ini. Alasannya sangatlah sepele. Ia merasa waktu yang dihabiskan putriku ini, lebih banyak dihabiskan oleh saudara kembarnya di kamar gelap itu. Ketika kesabaran Mas Broto mulai habis, sekali waktu ia menuju kamar putraku dan memecut putraku ini dengan sabuk. Seperti yang kubilang tadi, putraku sangatlah pengertian, ia tidak menangis apalagi membalas. Entah berapa pecutan yang diterimanya. Hatiku sangat pilu melihat ini. Setelah Mas Broto meninggalkan kamar, aku langsung menghampiri putraku dan melihat kalau ada luka. Aku sangat terkejut. Putraku ini tidak terluka sedikit pun, ia hanya melihatku dengan mata sayunya, ia tidak berkata apa pun.
Lalu terdengar teriakan, Kenapa ini? Kenapa anakku tersayang bisa seperti ini? Istriku, mengapa putri kita bisa seperti ini? Coba katakan siapa yang berani berbuat seperti ini? teriak Mas Broto dari dalam kamar putriku.
Aku pun berlari menghampiri suara teriakan itu. Aku melihat sekujur tubuh putriku penuh dengan luka. Teptnya, luka pecutan.
Nak, apa yang terjadi? Kamu kenapa? Siapa yang melakukannya? tanyaku.
Putriku berlari dari pelukan Mas Broto dan menghampiriku.
Ma, Papa yang melakukannya. Tolong aku, aku takut, ujar putriku dengan tubuh gemetar.
Omongan macam apa ini. Bohong, itu tidak benar, teriak Mas Broto.
Aku tidak peduli lagi. Saat itu yang kutahu adalah aku harus mengobati luka putriku yang cantik ini. Lalu karena merasa ganjil dengan kejadian hari ini, Mas Broto memanggil pria bersorban putih yang pernah hadir di rumah sakit.
Pak, tolong jelaskan, sebenarnya apa yang terjadi dengan putri kami? tanya mas Broto tidak sabaran.
Saya hanya dapat berpesan, jangan kau lukai putramu itu.
Ia bukan putraku, bukan!
Iya, iya, baiklah. Intinya jangan kau lukai anak itu. Karena jika kau melukai anak itu, sebenarnya anakmulah yang akan terluka. Anak itu dijaga oleh bapak kandungnya, yaitu gundoruwo. Ia tidak rela anaknya kau perlakukan seperti itu. Maka ia berubah wujud menyerupai dirimu dan melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan terhadap anaknya.
Jadi ini disebabkan gundoruwo keparat itu?
Hati-hati, jaga bicaramu.
Lalu apa tidak ada jalan keluarnya? Apakah kehidupan keluarga kami masih terus dibayang-bayangi oleh gundoruwo itu?
Tadi saya mencoba berdialog kepada gundoruwo. Ia sebenarnya ingin sekali mengambil anak itu kembali, tetapi anak itu tidak ingin pergi dari rumah ini. Rupa-rupanya ia sangat menyayangi putrimu itu.
Persetan!! Apa kita bunuh saja anak itu?
Jaga bicaramu!! Gundoruwo itu ada di sekitar sini. Seperti tadi yang kubilang, apa yang kau lakukan dengan anak itu, maka anak itu tidak akan apa-apa, tetapi anakmulah yang akan mendapat perlakuanmu.
Lalu bagaimana?
Cobalah untuk bersabar, ini jalan Allah untuk kamu.
Mendengar perkataan pria bersorban putih ini, tidak membuat Mas Broto sadar. Ia justru semakin mempersulit kehidupan putraku ini. Ia mengunci kamar putraku hingga putriku tidak dapat lagi bermain dengannya. Akibatnya, baru dua hari ini berjalan, putriku sakit panas yang tidak kunjung sembuh. Ketika ia kupertemukan lagi oleh saudara kembarnyatentu saja tanpa sepengetahuan Mas Brototiba-tiba ia langsung sehat walafiat. Aneh, ya memang aneh!
Tidak cukup sampai di situ, Mas Broto memutuskan tidak memberi makan putraku ini, ia juga mencukur habis semua rambut yang tumbuh di wajahnya. Saat Mas Broto melakukan ini, terdengar jerit pilu dari putraku tersayang. Hatiku pun tambah tersayat mendengarnya. Lalu tanpa sebab musabab yang jelas, Mas Broto mengalami kelumpuhan pada bagian kakinya dan mulutnya. Sampai akhirnya ia hanya menjadi manusia yang hanya bisa berbaring di tempat tidur sampai akhir hayatnya.
Ketika malam hari, ketika tulang rusukku rasanya mau patah, dan ketika aku baru selesai menjerit dalam batin, aku pun terlelap. Akan tetapi aku mengalami sebuah kenyataan, entah mimpi atau kenyataan. Jika mimpi, tetapi ini benar-benar terjadi dan jika ini nyata, sepertinya ini terjadi di alam mimpi. Di dalam peraduanku dengan Mas Broto, tiba-tiba datang tiga sosok dari pintu kamarku. Aku mengenali sosok tersebut. Aku melihat putriku yang tetap cantik meski menggunakan piyamanya, aku juga melihat putraku yang semakin mempunyai wajah yang seram terlebih lagi setelah rambut di wajahnya digunting habis oleh Mas Broto. Sebentar, siapa lagi yang bersama mereka. Aku tidak mengenalinya. Aku hanya melihat sebuah sosok yang sangat besar, tinggi, dan hitam. Aku tidak dapat melihat bentuk wajahnya dengan jelas, begitu banyak rambut yang menutupi wajahnya.
Aku hanya ingin pamit, aku ingin mengajak putrimu. Sebenarnya aku juga tidak mau, tetapi putrimu memaksaku, kata sosok hitam itu dengan suara yang parau dan berat.
Kalian mau ke mana? tanyaku dengan ketakutan.
Yang jelas pergi jauh dari sini, entah kapan akan kembali lagi.
Mama, aku mau pergi dulu ya, aku tidak mau berpisah dengan saudara kembarku. Tetapi bukan berarti aku tidak sayang mama. Aku sayang sekali pada mama. Mama hati-hati ya, jagain papa ya. Nanti pasti aku doain dari tempat yang jauh. Aku tidak bakal melupakan mama dan papa.
Lalu mereka pergi menembus dinding kamarku. Aku pun terbangun dari tidurku. Ah…ternyata hanya mimpi. Tetapi entah mengapa aku langsung berlari melihat kamar kedua anakku. Kosong, kamar mereka kosong. Menerima kenyataan ini, aku hanya bisa menangis sejdi-jadinya. Keesokan harinya, aku menanyakan hal ini kepada pria bersorban putih itu, jawabnya hanyalah Putrimu tersayang memilih mengikuti saudara kembarnya ke alam yang lain. Tetapi kau jangan khawatir, ia tidak mati, hanya pindah ke dimensi yang lain saja mengikuti putramu.
***

Kejadian itu sudah berlalu lima belas tahun yang lalu. Kini aku hidup seorang diri. Semenjak kematian Mas Broto dua tahun silam, tidak ada lagi yang peduli padaku, mereka malah menyangkaku sudah gila. Rambutku kini sudah putih dan kubiarkan tergerai tidak beraturan sangat panjang. Aku selalu duduk di kursi goyangku menghadap ruang tamu, karena aku yakin putri dan putraku pasti akan kembali. Saat aku sedang bersenandung Nina Bobo, tiba-tiba, Halo mama, apa kabar? Mama masih belum lupa dengan putri mama ini kan ?
Ia lalu memelukku dan mencium keningku. Lalu di belakangnya menyusul putraku dan sosok hitam yang dulu mengambil anak-anakku. Ah…bahagianya aku. Kini aku mempunyai keluarga baru lagi.

***

Maya Meta Sandhi adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI.

Rabu, 07 Januari 2009

At Your Side



Cerpen Pratiwi Dayangbuana


Tidak terasa sudah satu tahun aku berpacaran dengan Ivan. Senang sich bisa melalui satu tahun bersama-sama. Tapi kenapa sekarang aku biasa-biasa aja ya? Tadi siang aku kumpul dengan teman-teman di kantin. Mereka ngomongin tentang hubungan mereka dengan pacar mereka masing-masing. Sepertinya mereka bahagia sekali. Ada yang selalu dianterin pulang naik mobil. Ada yang selalu ditelepon sekadar untuk menanyakan kabar, udah makan belum, udah mandi belum. Pokoknya banyak deh, beda banget dengan Ivan. Setelah aku pikir-pikir…iseng-iseng aku menulis list tentang kekurangan Ivan. Jahat gak ya aku? Aah…masa bodo! Minus satu karena dia naik sepeda ke sekolah. Minus satu karena dia jarang memiliki pulsa handphone. Minus satu karena dia gak punya jaket bermerek. Dia hanya mempunyai jaket yang dibelinya di Poncol, Senen. Minus satu karena potongan rambutnya yang aneh. Dan yang lebih memalukan, minus satu karena dia bawa makanan ke sekolah. Duh…dia udah gak punya urat malu ya? Dia kan cowok!
Hari ini aku bertemu dengan teman-temanku. Mereka menanyakan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Ivan. Sebenarnya mereka sudah lama ingin menanyakan hal ini. Apa sich yang menarik dari Ivan. Kenapa juga dulu aku menerimanya menjadi pacarku. Padahal sewaktu Ivan menyatakan cintanya, ada cowok lain yang sedang PDKT –pendekatan- denganku. Namanya Indra. Dilihat dari fisiknya, ia lebih ganteng dari Ivan. Dan dari segi ekonomi, memang kelihatan sekali ia tergolong menengah ke atas. Mobilnya yang mewah selalu ia bawa ke sekolah.
“Apa jangan-jangan gue dipelet ya?” tercetus ucapanku dengan spontan.
“Bisa jadi tuh…,” kata salah satu temanku.
“Jadi kapan lo mau putusin Ivan?”
“Mm…kapan ya? Besok atau lusa deh. Gue gak tahan lagi ma dia. Malu-maluin aja.”
Tiba-tiba salah satu temanku memberikan signal kalau ada sesuatu yang tak beres. Aku tak mengerti. “Gawat! Ada orangnya tuh di belakang lo,” bisik temanku. Aku langsung memalingkan mukaku untuk melihat siapa sebenarnya yang ada di belakangku. Ternyata Ivan. Saat mata kami berdua saling bertemu, ia langsung pergi meninggalkanku. Tanpa satu huruf pun, apalagi kata. Dengan enteng aku berkata “Bagus deh kalo dia denger. Jadi gue gampang mutusin dia.”
Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Ivan. Pada awalnya tidak terasa apa-apa. Biasa aja. Semua berjalan seperti biasa. Hanya saja bila kami bertemu di sekolah, ia sengaja menghindariku. Sekarang aku merasakan sesuatu yang hilang dari hidupku. Terasa hampa dan sunyi. Kesepian. Di sekolah aku tak pernah merasakan hal ini. Tapi ketika di rumah perasaan itu muncul. Terlebih lagi ketika aku tak berhubungan dengan Ivan. Mungkin inilah siklus hidup yang harus kulalui. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Hari ini hujan membasahi Jakarta. Aku hanya berdiam diri di kamar. Membaca buku, majalah, sampai buku pelajaran, menulis diary. Bosan rasanya seharian di kamar. Untuk mengusir kebosanan ini, aku menyalakan radio. Kebetulan hari ini ada program acara kesukaanku di salah satu radio ternama di Jakarta. I’ll be at your side. There’s no need to worry. Together we’ll survive through the haste and hurry....
Lagu At Your Side-The Corrs ini mengingatkanku pada Ivan. Tanpa terasa aku menangis. Menangisi kebodohanku karena menyia-nyiakan orang yang tulus mencintaiku. Tangisanku semakin deras sederas hujan di luar sana. Sang penyiar memberitahu bahwa ada seseorang yang akan mengucapkan Happy Valentine kepada pacarnya. Aah…valentine? Memangnya hari ini valentine? Pikirku dalam hati. Kulihat kalender di atas meja belajarku. Benar. Hari ini tanggal 14 Februari. Valentine’s Day. Pacar saja aku tak punya, apalagi ber-Valentine-ria. Cowok di radio itu mulai berbicara. Namanya Ivan. Aah…pasti bukan Ivan yang aku kenal. Ivan tak mungkin seromantis ini. Aku mendengarkannya dengan seksama. Ivan yang ada di radio menyatakan maaf untuk pacarnya, Tamia. Tamia? Itu namaku. Tak mungkin ada Tamia lain yang juga mempunyai pacar bernama Ivan. Ia menjelaskan bahwa ia masih mencintai Tamia walaupun Tamia merasa malu dengan keadaannya. Ia hanya ingin Tamia hidup bahagia. Ia berjanji akan selalu di sisinya dalam keadaan senang maupun sedih.
Lalu sang penyiar bertanya, “Van, lo dimana sekarang? Kok ada suara hujan?”
“Gue sekarang di depan rumahnya. Gue mau ngasih kado buat dia.”
Tanpa berpikir panjang aku berlari menuju pintu depan dengan air mata yang masih berlinang. Aku berharap Ivan dan Tamia yang aku dengar di radio adalah Ivan dan aku. Segera kubuka pintu. Sesosok tubuh menggigil kedinginan sambil memeluk sebuah boneka beruang. Aku langsung memeluknya dan berbisik, “Maafin aku ya…” Ia tersenyum dan menyerahkan boneka tersebut sebagai hadiah untukku.
Pandanganku tentang Ivan selama ini ternyata salah. Dari lima minus yang ia miliki ada lima ratus plus di dalamnya. Plus seratus untuk sepedanya. Ivan selalu mengantarku pulang ke rumah dengan sepeda itu. Padahal jarak rumah kami cukup jauh. Plus seratus karena walaupun kami jarang ngobrol di telepon, ia rela setiap hari menelponku hanya sekadar untuk mengucapkan, “Selamat tidur sayang. Mimpi indah.” Klise tapi memiliki makna yang dalam. Plus seratus untuk jaketnya. Don’t judge by the cover. Mungkin pepatah ini cocok untuk jaketnya. Walaupun ia tidak memiliki jaket bermerek tapi jaket ini sering kali melindungiku di saat hujan. Plus seratus untuk rambutnya. Model rambut Ivan memang agak aneh, tapi ia tidak pernah complain saat aku salah potong rambut atau bau matahari. Ia tak malu dengan potongan rambutku yang salah. Ia suka sekali mengusap rambutku. Plus seratus karena ia membawa makanan ke sekolah. Memang kurang lazim bila ada cowok yang membawa bekal ke sekolah. Tapi luar biasa untuk Ivan, karena ternyata ia menabung uang jajannya untuk membeli hadiah untukku. Oia, plus seratus untuk kesabarannya menemani di saat aku sedang down karena masalah pribadi maupun sekolah.
Bagiku Ivan bukan saja pacar yang sempurna, tetapi ia kakak, teman, sahabat yang sempurna yang Tuhan berikan untukku. I’ll be at your side. There’s no need to worry. Together we’ll survive through the haste and hurry. I’ll be at your side. If you feel like you’re alone, and you’ve nowhere to turn. I’ll be at your side…

-Tamia-

***

Pratiwi Dayangbuana adalah mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI.