Selasa, 06 Januari 2009

Hancur Sudah



Cerpen Inayah Wahid

Hancur sudah hidupku. Sudah tidak perlu ada lagi yang dipertahankan. Semuanya sia-sia. Ternyata hanya begini saja suratan nasibku. Maafkan aku Ayah, Ibu, Mbak Nina, Riza, Wina dan semua teman-temanku. Hanya sampai sini saja perjumpaan kita. Semoga kelak kita semua dapat berjumpa lagi di surga. Oh iya, dan semoga saja si bajingan dan cewek barunya itu dijerumuskan ke neraka terbawah… Amiiin.
Kulangkahkan kaki kananku ke luar jendela kelas. Kemudian disusul oleh kaki kiriku. Waduh, ternyata tinggi juga ya, batinku gugup. Dengan sedikit gemetar aku berusaha berdiri di pinggiran tembok lantai tiga gedung sekolahku. Tangan kiriku mencengkram pinggiran jendela.
“Aduh, Irma jangan dong…please?” Wina sahabatku berusaha mencegah aksi nekatku. “Masa depan loe masih panjang, masa cuma gara-gara si Johan ninggalin loe, loe mau bunuh diri, sih? Nggak worth it tau gak? Ayo dong, turun!” Wina berusaha menggapai tanganku.
“Loe gak tau rasanya kayak apa, Win. Loe tau kan, kalo gue tuh cinta mati sama dia, Win. Gue selama ini selalu yakin kalo dia itu jodoh gue. Kok tega-teganya dia jadian sama cewek laen. Cewek itu tuh, ga cakep tau ga? Apa sih, yang dia liat dari cewek kurus kering kayak gitu?” aku sudah mulai terisak-isak. Sakit hati.
Wina masih berusaha memegangi tanganku supaya aku tidak nekat meloncat ke bawah. Untung sekolah sudah sepi, jadi tidak ada yang memperhatikan tingkahku. Malu juga rasanya kalau jadi tontonan orang-orang.
Wina masih berusaha membujukku dengan omongannya, tapi aku sudah tidak mendengarkan lagi ocehannya. Kalau sedang berada di titik paling bawah dalam hidupmu, seperti sekarang ini, yang terlihat hanyalah bayangan-bayangan hidupmu. Persis seperti di film-film Hollywood yang sering kutonton. Di depanku sekarang tampak slide demi slide potongan-potongan hidupku. Mulai dari ulang tahunku yang ke-lima, jatuh dari tangga hingga tanganku patah, menstruasi pertama yang memalukan karena rok seragamku merah terkena noda darah ketika aku sedang presentasi di depan kelas dan ketika dirawat di RSPAD karena sakit demam berdarah. Kemudian muncul bayangan orang-orang yang kucintai, Ibu yang sedang membidani kelahiran anak tetangga sebelah, Ayah yang sedang mengotak-ngatik mobil kijang bututnya, Mbak Nina yang genit sedang berdandan, adikku Riza yang sedang sibuk mencuri pakai barang-barangku, sahabat-sahabatku dan yang terakhir bayangan Johan. Cowok yang saat ini kutaksir. Lebih tepatnya bukan taksir, tetapi obsesi. Siang malam yang terbayang hanya Johan seorang. Suatu hari ia menyatakan rasa sukanya padaku (atau lebih tepatnya pasrah, karena lelah kukejar-kejar). Dua bulan aku jadian dengannya, tiba-tiba kemarin kulihat dia jalan dengan anak kelas satu yang kegenitan itu. Tadi pagi ketika kukonfrontasi mengenai hal ini, tanpa rasa bersalah Johan mengiyakan dan menambahkan bahwa dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padaku. Turun sudah derajatku sebagai wanita. Lelaki yang begitu kucintai malah meninggalkanku untuk cewek kerempeng kegenitan. Tidak ada jalan lain, lebih baik aku mati saja.
Bayangan Johan membuatku makin yakin akan niatku. Kulangkahkan kaki kiriku di udara, bersiap untuk terjun. Kudengar suara Wina mulai gemetar, tangannya masih memegangi tanganku dengan kuat. Selamat tinggal dunia. Aku mengedarkan pandangan ke tanah di bawahku yang sudah siap menerima tubuhku. Pandanganku berhenti pada suatu sosok di bawah yang sedang sibuk membuka kunci sepeda motor.
“Itu…sssiapa Win?” tanyaku dengan gemetar
“Hah, siapa, apa?” Wina yang masih dengan suara gemetar karena bingung melongokkan kepala keluar jendela. “Lah, itu sih, si Agus, anak 2-c”
“Kok, gua gak pernah liat. Emangnya loe kenal?”
“Kenal. Dia kan, satu SMP sama gue. Dia kan, masuk pagi, jelas aja loe gak pernah liat. Kenapa emang?” Wina tampak semakin bingung, pegangan tangannya di tanganku mulai melonggar.
“Udah punya cewek?”
“Kayaknya belom deh, kenapa?” sepertinya Wina mulai menangkap maksudku. Pegangan tanganya sudah dilepas.
“Punya nomer telfonnya?” tanyaku sambil membalikkan badan hati-hati, melangkahkan kakiku pelan-pelan memasuki jendela kelas.
***

Inayah Wahid adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI.

Minggu, 04 Januari 2009

Tuhan buat Vasty



Cerpen Dahlia Isnaini


Hujan turun sangat deras ketika bel sekolah berbunyi. Aku segera membereskan alat tulisku dan berjalan ke luar kelas.
“Ra, bawa payung nggak?” Teriak Vasty ketika aku baru keluar dari kelas. Rupanya kelasnya Vasty sudah bubar dari tadi. Kelas IPS memang selalu selesai lebih awal, tidak seperti kelas IPA-ku yang baru selesai tepat ketika bel dibunyikan.
“Ya ampun, nggak bawa tuh! Gimana nih pulangnya? Lo juga nggak bawa payung ya?” aku balas bertanya.
“Iya, tapi gue udah telepon rumah, minta dijemput. Mungkin satu jam lagi Pak Edi baru datang. Katanya di Mampang banjir. Kita tunggu di kantin aja ya, sambil makan, lapar nih!” lanjut Vasty.
Aku berjalan di belakang Vasty. Kami harus berjalan beriringan karena lorong kelas dipenuhi oleh anak kelas satu yang sedang menunggu jemputan.
Ternyata di kantin juga ramai. Banyak teman-temanku yang juga sedang menunggu hujan reda sambil makan dan ngobrol di kantin. Vasty menunjuk ke arah dua bangku kosong di pojok kantin, dekat tukang mie ayam. Hanya tinggal bangku itu yang tersisa.
“Ya udah, duduk di sini aja deh. Gue mau makan mie ayam aja. Lo mau makan apa Ra?”
“Mmmhh, gue nggak lapar. Lo aja yang makan,” jawabku pada Vasty. Sebenarnya aku lapar. Tadi siang jam dua belas aku cuma makan nasi goreng yang aku bawa dari rumah. Sedangkan sekarang sudah jam empat. Tapi uang di kantongku tinggal dua ribu. Pas buat ongkos ke rumah.
“Gue beli es teh manis aja deh, tapi pulangnya gue nebeng sampai rumah ya?” lanjutku kemudian.
“Siip!” kata Vasty.
Ia mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan membaca sms yang baru saja diterimanya. Handphonenya baru, warna biru keperak-perakkan. Itulah enaknya jadi anak tunggal seperti Vasty. Bisa gonta-ganti handphone sesukanya. Segala sesuatu yang ia minta pasti diberikan oleh kedua orangtuanya.
“Ra, lo percaya Tuhan nggak?” tanya Vasty tiba-tiba.
“Percayalah! Parah lo, hari gini masih tanya percaya Tuhan apa nggak!” ledekku sambil kemudian meminum es teh manis di depanku.
“Hehehe, emang lo pernah ketemu Tuhan Ra? Kok lo bisa percaya sama sesuatu yang belum pernah lo lihat?”
Aku menatap Vasty penuh selidik. Kenapa Vasty tiba-tiba ngomong begitu? Sebelumnya Vasty tidak pernah mempertanyakan hal-hal yang filosofis begini. Sudah lima tahun aku mengenalnya. Sejak kami sama-sama duduk di bangku SMP sampai sekarang kami bersekolah di SMA yang sama. Obrolan kami tidak jauh dari masalah sekolah, teman, dan hal-hal ringan lainnya.
“Tuhan memang nggak bisa dilihat Vas, tapi bisa dirasakan keberadaannya. Tuhan tuh...”
Tiba-tiba mata Vasty berkaca-kaca.
“Ra, gue bingung...” ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku semakin bingung. Kenapa sih Vasty?
“Bokap-nyokap gue mau cerai. Lo tahu kan selama ini agama mereka beda. Sekarang mereka tanya masalah pilihan agama gue. Gue nggak mau bikin salah satu dari mereka sedih atau kecewa.”
Cerai? Tanyaku dalam hati. Seingatku selama ini Vasty tidak pernah cerita kalau orangtuanya bermasalah. Kok tiba-tiba keadaannya sudah gawat begini?
“Ya ampun Vas, kenapa baru cerita?” tanyaku sambil memeluk Vasty yang masih menangis tersedu-sedu.
“Tadinya gue pikir gue masih bisa membujuk mereka supaya membatalkan perceraian mereka, tapi semalam mereka bertengkar lagi. Gue nggak tahu mesti gimana lagi, Ra! Gue nggak mau mereka cerai. Cuma mereka yang gue punya Ra.” Vasty berusaha menyeka air matanya. Aku menyodorkan sebungkus tissue kepadanya. Untung kami duduk di pojok, jadi tidak ada satu pun orang di kantin yang menyadari apa yang terjadi di sini.
“Semalam gue bilang kalau gue akan ikut tinggal sama nyokap dan juga akan ikut agama Kristen kayak nyokap. Setelah gue bilang begitu, mereka bertengkar hebat Ra! Kalau udah begitu, gue bingung Ra.”
“Vas, gue tahu ini berat buat lo. Tapi lo tetap harus punya sikap. Lo nggak mungkin bisa menyenangkan semua pihak.” Aku mencoba memberikan pendapat. Aku sendiri nggak tahu harus bicara apa lagi. Di rumah, ayah dan ibuku jarang bertengkar. Paling ibu marah-marah kalau ayah terlalu sering membeli ikan hias yang menurut ibu hanya sebuah pemborosan. Itu pun bukan pertengkaran besar karena pasti ayah hanya senyum-senyum mendengarkan ibu yang marah-marah. Kalau sudah begitu, pasti ibu tidak meneruskan marah-marahnya. Aku sendiri tidak terbayang kalau harus lihat ayah dan ibu bertengkar masalah agama begitu. Pasti bingungnya bukan main.
Tiba-tiba handphone di tangan Vasty berdering.
“Pak Edi, kayaknya dia udah ada di depan sekolah. Kita pulang Ra!” Vasty merapikan rambutnya yang berantakan. Meskipun air matanya telah kering, tapi matanya masih terlihat sembab.
“Yakin nggak apa-apa pulang sekarang? Mata lo masih sembab begitu!” tanyaku padanya.
“Nggak apa-apa Ra, sebenarnya masih banyak yang mau gue ceritain. Tapi gue harus pulang. Tadi nyokap gue sms minta gue pulang. Gue takut ada apa-apa di rumah. Nanti malam gue ke rumah lo ya?” tanya Vasty penuh harap.
Aku hanya mengangguk.

*

Vasty mengantarku sampai depan rumah. Ibu sedang membaca majalah di ruang tamu ketika aku masuk dan mengucapkan salam dengan nada tak bersemangat.
“Lho, muka kamu kenapa bingung begitu Ra?” ibu kebingungan melihat wajahku yang kusut. Aku meletakkan tasku di atas meja kemudian duduk di samping ibu yang langsung mengambil posisi siap mendengarkan ceritaku. Aku menceritakan masalah Vasty pada ibu. Ibu mendengarkan dengan seksama dan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. Ibu agak kaget mendengar cerita tentang Vasty.
“Kok bisa ya Ra? Ibu kira selama ini agama Vasty Islam.”
“Rara pikir juga begitu. Selama ini memang Rara tahu kalau orangtuanya beda agama. Tapi Rara kira Vasty sudah memilih menjadi muslim. Habis, dia juga nggak pernah cerita banyak ke Rara,” kataku sambil merebahkan kepalaku di pangkuan ibu.
“Tadi di mobil Vasty cerita. Dia memang nggak pernah sungguh-sungguh menjalankan salah satu agama orangtuanya. Setiap tahun pasti dia ikut puasa bareng ayahnya, begitu juga kalau natal. Dia pasti ikut misa bersama ibunya di gereja. Menurutnya sama saja. Dia tetap bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang dia terima. Menurut dia, itu yang penting,” ceritaku pada ibu.
“Rara takut Vasty jadi berpikiran ekstrem Bu,” lanjutku.
“Ekstrem gimana Ra?” dahi ibu mengernyit. Bingung rupanya.
“Ya, jadi aneh gitu. Masa tadi di mobil dia bilang dia mau cari Tuhan buat dia dan orangtuanya. Tuhan yang nggak memaksa umat-Nya menggunakan cara tertentu buat menyembah-Nya. Itu kan ekstrem Bu.” Aku sendiri tidak mengerti maksud perkataan Vasty tersebut. Sepertinya masalah perceraian orangtuanya berimbas besar pada keimanannya.
“Ra, Allah enggak pernah memaksa umat-Nya dalam menyembah-Nya. Ia hanya menunjukkan jalan yang Dia ridhoi. Kan ada di Al-quran. Lakum diinukum wa liyadiin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Vasty harus memilih. Bukan karena siapa-siapa. Tapi karena dia percaya pada Tuhan.”
Seandainya Vasty ada di sini untuk mendengarkan nasihat ibu.

**

Malamnya aku menunggu telepon dari Vasty sampai jam satu. Handphonenya tidak aktif waktu kuhubungi. Begitu juga waktu aku mencoba menelepon ke rumahnya. Tidak ada yang menjawab teleponku. Aduh, aku takut terjadi apa-apa dengan Vasty.
Esoknya aku tidak bertemu Vasty di sekolah. Waktu kutanyakan kepada teman-teman sekelasnya, tidak ada seorang pun yang tahu kabarnya. Begitu juga pihak sekolah. Sorenya aku pulang sekolah dengan masih memikirkan Vasty. Sesampaiku di rumah, ibu memelukku sambil berbisik.
“Ra, Vasty meninggal satu jam yang lalu.”
Aku diam dan menangis. Badanku lemas mendengar berita tersebut.
Ibu yang menerima telepon dari salah satu kerabat Vasty. Menurut kerabat Vasty, Vasty dan kedua orangtuanya mengalami kecelakaan mobil dua jam yang lalu. Mereka dalam perjalanan menuju pengadilan negeri ketika kecelakaan itu terjadi. Kedua orangtua Vasty sekarang masih dalam keadaan kritis, sedangkan Vasty meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah.
Malamnya ada seorang kerabat Vasty yang mengantarkan sebuah amplop ke rumahku. Di dalamnya terdapat selembar kertas post-it yang ditulis Vasty untukku.

Rara,
Nggak tahu kenapa. Malam ini gue ngerasa deket banget sama Tuhan. Tadi gue baru aja berdoa ke Tuhan. Gue minta sama Tuhan supaya gue bisa terus deket sama Tuhan. Gue juga minta sama Tuhan supaya gue bisa terus deket sama bokap-nyokap gue. Gue berdoa supaya sidang besok gagal dan orangtua gue nggak jadi cerai. Gue nggak mau pisah sama mereka Ra.


Kertas post-it itu ditemukan di atas tempat tidur Vasty. Sepertinya ia sudah mempunyai firasat atas kejadian yang akan menimpanya. Esok paginya aku kembali menerima kabar duka. Kedua orangtua Vasty gagal melewati masa kritis. Selang lima menit setelah ibunya meninggal, ayahnya juga meninggal. Sepertinya Tuhan mengabulkan doa Vasty. Kini Vasty bisa terus berada di dekat Tuhan dan kedua orangtuanya.

***

Dahlia Isnaini adalah mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI

Kamis, 01 Januari 2009

Aku dan Kapten Nakamura



Cerpen Wida Kristiani

Aku sudah melihat beberapa tentara Jepang yang bermata sipit dan bertubuh pendek dari jendela dapur rumah majikan kami. Teman-temanku yang lain mulai panik dan mencari tempat bersembunyi, seakan kami bisa bersembunyi. Kami semua tahu mengapa mereka datang ke rumah Raden Mas Hatmosarodjo, tuan besar kami. Mereka akan mengambil salah satu dari pembantu perempuan untuk diserahkan pada pemimpin mereka, Kapten Nakamura. Cuih.
Teman-temanku saling mendekatkan diri, seakan dengan berbuat begitu mereka akan selamat. O, tentu saja mereka akan selamat… kali ini aku yang akan diambil oleh tentara-tentara Jepang itu. Majikan kami sudah mengatakannya padaku seminggu yang lalu, setelah Suminten mereka ambil.
Aku ingat, keesokan harinya setelah Suminten kembali, dia tidak bisa berkata apa-apa, hanya terus menangis. Sekujur tubuhnya lebam, di punggungnya ada bekas cambukan yang malang melintang. Sampai sekarang pun dia masih sering menangis. Dia bercerita pada kami kalau orang yang bernama Kapten Nakamura berlaku sangat kejam. Dia menyiksa terlebih dahulu sebelum memperkosanya. Jepang sialan.
Majikan kami menyuruh kami untuk merawat Suminten dengan baik, Suminten bahkan dibebastugaskan selama beberapa saat. Namun, dia tidak bisa melawan kehendak tentara Jepang yang mau mengambil budak perempuannya yang masih perawan. Kalau melawan, kami semua akan mati. Tepat seminggu yang lalu, Raden Ayu berkata dengan penuh penyesalan kalau tentara-tentara itu sudah menunjukku. Jadi, hari ini aku akan ikut bersama mereka untuk melayani pimpinan mereka yang terkenal sadis.
Mereka kira aku bodoh, aku budak, tapi tidak bodoh. Najis menyerahkan keperawananku pada pimpinan mereka. Tentu saja sekarang aku sudah tidak perawan, aku senang akan hal itu. Aku sudah menyerahkan keperawananku pada Karjo, pacarku yang bekerja sebagai supir di rumah Raden Mas Manguntenoyo.

“Tunggu di sini!” Setelah mendorongku masuk ke kamar, salah satu tentara Jepang yang tadi menggiringku berkata dalam bahasa yang bisa kumengerti. Aku melihat ke sekeliling kamar. Perabotnya sedikit, kursi, meja, tempat tidur ukuran besar… lalu mataku tertuju pada benda yang tergantung di dinding. Cambuk.
Aku merasakan keringat mulai menetes dan membasahi keningku. Aku takut. Tanpa kusadari airmata mulai menetes, cepat-cepat kuhapus. Kakiku bergetar karena ketakutan, aku cepat-cepat duduk di kursi di pojok kamar. Aku tahan getaran kakiku dan sebisa mungkin menenangkan diri. Ya, bapak… doakan aku dari surga. Aku mengucapkan doa yang dulu diajarkan almarhum bapakku, namun semakin aku mengucapkannya, semakin besar ketakutanku. Aku tidak tahu seperti apa Kapten Nakamura, tapi aku tahu apa yang dia lakukan pada gadis-gadis yang ditidurinya. Seluruh kampung tahu. Gadis-gadis itu selalu disiksa sampai berteriak-teriak mohon ampun, setelah itu baru dia berhenti menyakiti mereka, namun setelah itu dia akan memperkosa mereka. Kejam. Binatang. Apa yang diajarkan oleh ibu bapaknya sampai dia bisa seperti itu. Bukan hanya dia, aku tahu Jepang jauh lebih pandai menyiksa para tahanan daripada Belanda. Bara api panas, gergaji, pencabut kuku… aku bergidik.
Kriek…suara pintu dibuka.
Jantungku berdegup dengan kencang, kakiku gemetar lebih hebat, keringat dingin membasahi kening dan telapak tanganku. Namun, aku kuatkan hatiku dan menatap langsung pada orang yang baru saja masuk.
Sosoknya membelakangiku, dia berbadan tegap namun tidak terlalu tinggi. Dia melepaskan topi dinasnya dengan tetap membelakangiku. Lalu, aku bisa melihat dia melepaskan satu-satu kancing seragam kebesarannya yang berwarna putih, dia meletakkannya begitu saja di atas meja. Jantungku berdegup lebih kencang, tanganku basah oleh keringat, kakiku gemetaran. Aku menelan ludah karena takut. Namun, aku menguatkan diriku untuk tetap duduk tegak seolah aku berani melawannya. Aku ingin membenahi kain kebayaku, namun ternyata tanganku tidak sanggup untuk bergerak, tanganku terasa sangat sulit digerakkan.
Bapak, doakanlah anakmu ini.
Dia berbalik menghadapku. Aku terkejut melihat wajahnya yang masih muda, bukan seperti yang kuperkirakan. Dia memiliki mata yang sipit, tajam, sangat hitam, mungkin aku akan tersedot ke dalam hitamnya mata itu kalau aku terus menatapnya. Namun, aku kuatkan diri untuk berani menatap langsung pada matanya. Wajahnya begitu tanpa ekspresi, sangat menakutkan untukku, menunjukkan kalau mungkin dia sudah tidak takut lagi akan apapun, bahkan kematian.
Dia memperhatikanku dari atas sampai bawah, tetap dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Lalu, dia tersenyum kecil. Aku merinding, hanya dengan satu senyuman kecil, seluruh raut wajahnya berubah kejam, memperlihatkan dengan jelas luka seperti bekas sabetan pedang yang melintang memanjang dari atas dahi kiri sampai pipi kirinya. Aku sangat takut.
“Tidak perlu takut….” Dia berkata dalam bahasa yang kumengerti dengan terbata-bata. Dia berjalan dengan langkah ringan mendekatiku, membuat seluruh badanku menjadi gemetaran. Setelah cukup dekat dengan aku yang masih duduk di kursi kayu, dia berjongkok sampai mata kami sejajar. Hitamnya mata itu sangat menakutkan, namun aku tidak sudi untuk berpaling terlebih dahulu. Aku balas menatapnya, walaupun aku jantungku sebenarnya berpacu sangat cepat karena perasaan takut yang amat sangat. Dia membelai pipiku dengan tangannya yang kasar, aku langsung meludahinya. Sebenarnya aku ingin menamparnya, namun tanganku masih membeku di tempat, sama sekali tidak bisa digerakkan. Aku memang sudah gila, meludahinya berarti menyediakan diriku untuk lebih mendapat siksaan. Tapi, aku tidak sudi pasrah pada bangsa yang sudah membuat bapakku terbunuh. Bangsa yang mengaku-ngaku sebagai saudara tua kami, tapi mereka bahkan lebih biadab dari Belanda.
Cuih. Aku meludahinya sekali lagi.
PLAKKKK. Dia menamparku dengan sangat keras sampai aku terjatuh dari kursi. Sakit. Aku merasakan darah pada bibirku, aku mengusapnya dengan tangan. Ternyata, hanya seperti ini rasa sakit itu, tidak semenakutkan yang aku bayangkan, kalau hanya seperti ini, aku masih bisa menahannya. Tanpa kusadari aku tersenyum kecil. Lalu, aku kembali duduk di kursi seperti tadi. Aku menatap orang yang berada di hadapanku dengan sewajar mungkin. Ketakutan memang menjalari seluruh tubuhku, namun aku tidak sudi memperlihatkannya, hal itu hanya akan memberinya kesenangan.
Dia tampak terkejut, aku tahu dia pasti berharap aku akan mulai menangis. Huh! Jangan harap. Beberapa saat kemudian, raut mukanya sudah kembali datar, namun dalam beberapa detik, dia mengeluarkan senyum yang bahkan lebih keji dari sebelumnya. Seketika itu juga aku tahu akan ada hal yang lebih buruk. Jantungku berdegup dengan lebih cepat, namun aku menguatkan diri, dan aku tetap bisa menatap langsung pada mata hitamnya.
“Kamu… nama… siapa…?” Dia berdiri dari kejauhan dengan mata yang terus melekat padaku. Perlahan-lahan dia melepas sabuk kulitnya, lalu menyabetkannya ke meja. Nafasku tertahan, aku kembali berkeringat, namun aku sangat pandai bersandiwara dan aku tetap bisa memperlihatkan mimik tidak peduli di hadapannya.
“Kamu… nama… siapa!” Pria itu berteriak kali ini sambil kembali menyabetkan sabuk kulitnya. Aku diam saja, tidak mau menjawab. Dalam sekejap, dia tiba-tiba sudah berada di depanku, menarik kebayaku dan melepasnya dari badanku dengan kasar. Aku masih memakai korset, dia lalu juga menariknya sampai lepas. Aku menutupi dadaku, dia mendorongku sampai aku jatuh terjerembab membentur tembok. Dia memaksaku membelakanginya dan mulai menyabetkan sabuknya itu. Berkali-kali, aku bisa merasakan kulitku terkelupas, perihnya membuatku ingin berteriak, airmata menetes tanpa kusadari. Aku segera mengusapnya dan menggigit lidahku agar jangan sampai aku berteriak.
“Bicara!” Dia berteriak setelah merasa cukup menyabetku dengan sabuk. Aku berbalik menatapnya dengan datar sambil menutupi dadaku yang telanjang. Walaupun aku menahan kesakitan yang amat sangat, namun aku tidak mau mengalah padanya dengan memperlihatkan kesakitanku.
Cuih! Aku meludahinya lagi. Mengapa aku harus menurutinya untuk berbicara, menuruti orang dari bangsa yang membunuh bapak dan teman-temanku. Mereka membuatku tidak bisa lagi belajar dan terpaksa menjadi budak. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk melawan mereka. Mereka tidak tahu aku tergabung dalam kelompok pemberontak. Lihat saja kau Nakamura bangsat, kami akan menghabisimu dan pasukanmu.
Dia kembali menamparku, lalu segera berbalik membelakangiku. Berjalan menuju dinding sebelah kanan. Tempat cambuk itu digantung. Nafasku tertahan ketika dia melepaskan cambuk itu dari tempatnya digantung dan menyabetkannya ke sekeliling, mengahmburkan barang-barang.
Kaki gemetar hebat, aku tahan dengan sekuat tenaga dengan tanganku. Rasa dingin yang aneh menjalari kaki sampai ujung rambutku, aku akan mati, karena ketakutan. Sekali ini aku menunduk, aku merasakan aku akan menangis, tanganku sudah ikut gemetar.
Ceetttarrr.
Dia mencambuk punggungku. Aku tak tahan untuk tidak berteriak, sekali rintihan keluar dari mulutku, buru-buru aku menggigit lidah dengan keras. Tanganku meremas kain dengan keras, menahan kesakitan. Kesakitan yang lebih hebat dari yang pertama tadi. Selama mencambuk, dia terus berteriak dalam bahasa yang tidak kumengerti, yang jelas, dia ingin aku bicara.
Selanjutnya, aku terus menerima cambukan, pukulan, tendangan. Dia sudah merobek-robek kain yang membungkus tubuhku, menelanjangiku sampai aku merasa sangat malu. Ketakutanku perlahan surut, diganti dengan kemarahan yang luar biasa. Aku lampiaskan kemarahanku dengan tidak mengeluarkan suara sedikit pun, hal itu membuatnya sangat marah. Aku senang membuatnya makin kesal. Dia sudah setengah telanjang, namun dia tidak memperkosaku… orang itu malah semakin gencar menyakitiku. Aku tahu dia sangat kesal, dia ingin memaksaku menjerit kesakitan, namun berbicara pun aku tidak mau.
Lalu dia melepaskan celananya, dia telanjang sekarang. Aku menahan diri untuk tidak menangis saat dia menarikku dengan paksa ke tempat tidur. Aku memukul-mukulinya, menjambak rambutnya, menggigit tangannya, namun dia masih terlalu kuat untukku. Aku frustasi sekarang, aku tidak mau melayaninya. Aku jijik pada badannya yang tegap, kulitnya yang kuning, matanya yang sipit. Menjijikkan!
Aku sudah berada di atas tempat tidur, dia sudah menindihku. Aku berontak sekuat tenaga, meraih apa pun di sekitarku untuk menyerangnya, namun dia tetap tidak menyingkir dari atas tubuhku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat dia menggerayangi setiap inci tubuhku dengan tangannya. Namun, dia tidak memperkosaku. Dia tidak mampu melakukannya.
Sampai pagi harinya, dia tetap tidak menyetubuhiku. Sebagai gantinya, aku mengalami luka yang cukup parah. Tubuhku penuh dengan luka cambukan dan pukulan, mukaku penuh dengan lebam, aku sulit berjalan karena kakiku terluka karena tendangannya di tulang keringku. Tapi… aku puas, dia tidak menyetubuhiku, dan aku bisa membuatnya sangat kesal dengan diam saja. Saat aku diseret keluar oleh anak buahnya, aku sempatkan untuk tersenyum padanya, tanda kemenanganku. Aku tertawa dalam hati mengetahui ketidakmampuannya itu.

“Kamu tidak dibunuh, Sri?” Temanku bertanya setengah kagum setengah kasihan saat dia mengobati lukaku. Aku hanya menggeleng dengan lemah, tangisanku yang tak berhenti membuatku sulit bicara.
“Kamu sama saja dengan Suminten, menangis terus. Pasti sangat menakutkan bertemu dengan Kapten Nakamura. Apa jadinya aku kalau belum menikah… Yang sabar, ya, Sri.” Kartini berkata prihatin. Aku hanya bisa mengangguk sementara airmata tak berhenti mengalir dengan deras. Aku menangis bukan karena lukaku, lebih pada melampiaskan semuanya, karena sepanjang malam kemarin, aku begitu ketakutan, namun aku menguatkan diri untuk tidak menangis di depan bajingan itu. Sekaranglah pelampiasanku.
BRAK!! Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dengan paksa. Sekelompok tentara Jepang menyeruak masuk dan langsung menyeretku, aku tidak bisa melawan, badanku terlalu lemah. Kartini yang berusaha menarikku kembali ditendang sampai jatuh, aku ingin menolongnya, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Mengakulah kalau kamu yang menjadi mata-mata!” Seorang penerjemah yang satu bangsa denganku menerjemahkan apa yang dikatakan oleh tentara Jepang di belakangnya. Aku menggelengkan kepala, gagang senjata mendarat di kepalaku dengan keras. Aku sudah terlalu lemah, bahkan untuk meludahi orang itu. Kepalaku terkulai tak berdaya, namun tubuhku tidak dapat begitu saja rebah di tanah, karena ada dua orang yang memegangiku.
“Sri, kamu dalam bahaya, mereka menuduhmu sebagai mata-mata. Kalau kau tidak mau mengakui, kau akan disiksa dengan sangat kejam. Mereka tidak akan peduli kau adalah perempuan. Kalau kau mau mengaku….” Penerjemah itu menghentikan kata-katanya.
“Aku akan langsung dibunuh. Aku tahu hal itu jauh lebih enak… tapi, aku akan dipaksa mengatakan nama teman-temanku. Mereka akan diburu. Aku tidak mau. Lagipula, aku memang bukan mata-mata….” Aku berkata terbata-bata.
Selanjutnya, mereka merantaiku, dengan begitu mereka bisa melemparkan apapun padaku dengan mudah. Kotoran manusia, pistol, batu… apa saja mereka lempar padaku. Aku sudah habis mereka perkosa, aku sudah begitu kotornya dipaksa melayani mereka semua. Tapi, aku tidak akan bicara. Biar saja aku mati! Jepang bangsat! Aku benci mereka! Aku benci bangsa sadis itu! Dari mana mereka belajar untuk menyakiti orang lain seperti itu? Aku yakin, negeri mereka penuh dengan penjahat, perampok, pembunuh… semuanya kejam.
Lalu, tiba-tiba kudengar teriakan kemarahan. Segenap tentara Jepang yang tadi bermain-main dengan diriku langsung siap siaga. Aku tidak kuat untuk melihat siapa yang datang, kepalaku terus terkulai. Aku hanya mendengar bentakan, tamparan, pukulan… lalu aku dilepaskan dari ikatan. Lalu aku tak sadarkan diri.
Ketika aku bangun, Kapten Nakamura berdiri di sampingku. Aku melihat diriku sudah dalam keadaan bersih dengan balutan perban di mana-mana. Melihat aku tersadar, Kapten Nakamura segera menyuruh orang yang merawatku pergi.
“Kau… pergi… cepat… jauh. Akan… mengejar… Saya tidak… menolong… bisa….” Kapten Nakamura berkata terbata-bata, lalu menolongku bangun. Semalam sebelumnya, dia adalah sosok kejam yang menyeramkan, namun saat ini, mata hitam itu tidak menunjukkan kebengisannya, dia tenang.
“Mengapa membantu saya?” Aku berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku. Namun, ternyata tanpa bantuannya, aku tidak bisa berdiri tegak. Dia lalu kembali menolongku berdiri. Kami tidak lewat pintu depan, dia membopongku lewat pintu belakang, tanpa ada orang yang melihat kami.
“Mengapa membantu saya?” Aku kembali bertanya setelah kami berada di luar. Hanya ada satu orang penarik riksaw yang menungguku.
“Saya… tidak… tahu… Pergi, cepat!” Dia mendudukkanku ke atas riksaw. Penarik riksaw lalu langsung berlari menarik riksaw secepat mungkin. Sampai di belokan, aku masih meliaht Kapten Nakamura berdiri menatap kami pergi.
“Bapak kenal dia?” Aku berkata pada penarik riksaw dalam bahasa Jawa.
“Iya. Beliau Kapten Nakamura… sangat kejam, semua orang berkata begitu. Dia suka menyiksa dan memperkosa gadis perawan. Tapi, dia baik kepada saya,” si penarik riksaw memperlambat larinya.
“Kenapa dia menolong saya?”
“Saya juga tidak tahu. Dia memberi saya banyak uang untuk membawa anda ke tempat yang aman. Dia tidak pernah seperti itu, biasanya dia hanya menyuruh saya mengantarnya berkeliling dengan tentara mengawal kami. Sekarang, dia diam-diam menyuruh saya mengantar anda.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya diam sambil berusaha menahan sakit di kemaluanku.

Aku tinggal bersama Bude Kerjo, kakak Bapak, di desa sebelah desa asalku. Tentara Jepang masih mencariku, namun aku bisa menyembunyikan diri. Aku tidak tahu kalau salah satu kelompok kami berbohong dan menyebutku sebagai mata-mata sekutu. Aku dianggap pengkhianat yang harus dihukum mati oleh Jepang. Bude Kerjo sama sekali tidak tahu-menahu soal aku yang menjadi incaran Jepang.
Lalu, aku mendengar kabar itu.
“Kita harus bersyukur kepada Allah SWT. Mulai sekarang, sudah tidak ada lagi pemimpin Jepang yang akan mengincar anak perawan,” Bude berkata padaku setelah dia kembali dari sawah.
“Kenapa Bude? Jepang sudah pergi?” Aku bertanya dengan penuh semangat.
“Bukan semuanya. Pemimpin mereka yang terkenal kejam, Kapten Nakamura. Dia dihukum mati, dituduh bersekongkol dengan sekutu karena menyelamatkan mata-mata pribumi. Alhamdulillah! Kamu bisa tenang, kamu bisa kembali ke rumah majikan kamu. Kamu bisa kembali bekerja…! Alhamdulillah!”
Aku terpaku di tempat. Aku tahu… dia dihukum mati karena aku. Kapten Nakamura… aku membencinya karena menyakitiku dan karena dia berasal dari bangsa yang paling biadab… tapi, dia menyelamatkan nyawaku dan mengorbankan dirinya.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un… Allah, ampunilah dia….” Airmataku menetes mengucapkan doa untuknya.

***

Wida Kristiani adalah mahasiswa Program Studi Cina FIB UI.

Rabu, 31 Desember 2008

Menaka



Cerpen Siffa Arimbi Putri

Menaka berjalan lunglai di sepanjang koridor rumah sakit yang gelap. Beberapa perawat terlihat mondar-mandir dengan membawa baskom merah berisi air hangat yang uapnya menguap ke udara, sementara seorang anak kecil dengan wajah penuh koreng meraung tanpa henti dan para perawat tidak mempedulikannya. Mereka terus sigap berjalan menuju beberapa kamar pasien.
Menaka menghembuskan napasnya dalam-dalam. Ia menarik mantelnya lebih erat. Udara malam membuatnya menggigil. Sebenarnya ia ingin menghampiri anak itu serta mengelus rambut hitam lebatnya, mengatakan padanya bahwa di dunia yang jahat ini sebaiknya tidak usah merasa aneh jika ia memiliki keinginan untuk melompatkan diri ke jurang curam. Bunuh diri adalah hal paling wajar yang pernah disaksikan di muka bumi. Seharusnya para malaikat mengernyitkan dahi dengan manusia-manusia yang memilih untuk bertahan hidup dengan menyaksikan perang di mana-mana. Manusia-manusia yang betah menghirup udara di mana anak-anak perempuan mereka diperkosa oleh sekumpulan binatang buas. Manusia-manusia yang betah menghirup udara di mana mereka mesti mengandalkan hidup pada tembakau demi mengikis keperihan batin. Manusia-manusia malang. Menaka tersipu dengan pikiran gilanya. Ia pun terkekeh geli sambil menyaksikan bunglon-bunglon yang mengumpet di antara daun-daun tebal pohon pisang.
Anak lelaki yang berumur enam tahun itu bernama Wisnu. Ia dirawat sejak empat hari yang lalu di koridor rumah sakit. Selang-selang infus bergelantungan di sebagian tubuh kurusnya. Ia pernah mendadak stres, menggigit selang-selang, lalu mencopotnya keras hingga darahnya berceceran membentuk danau kecil di lantai koridor. Tadinya Menaka bingung mengapa Wisnu mesti dirawat di koridor rumah sakit, lalu seorang petugas kebersihan menjelaskan padanya jika kamar rumah sakit telah terisi penuh, tidak memungkinkan jika anak yang sekarat itu harus digotong lagi ke rumah sakit di ujung kota. Ia bisa keburu meninggal. Tapi menurut Menaka hal itu sama saja, sebab anak kecil itu sebentar lagi pasti akan terserang demam parah kemudian mati karena gigitan nyamuk yang berkeliaran bebas di koridor.
Hari ini adalah hari kesembilan Menaka berada di rumah sakit. Bapak menyuruhnya untuk menjaga ibunya yang tengah koma. Beberapa minggu lalu, ibunya menyayat pergelangan tangan dengan silet cukur karena tingkah Bapak yang kerap meniduri banyak perempuan. Sayangnya, cara murahan untuk bunuh diri itu tidak berjalan sempurna. Menaka sungguh kesal. Ia berpikir jika ibunya bukanlah orang yang pintar maupun sukses, sebab untuk membunuh dirinya saja ia gagal. Hal itulah yang membuat ibunya ada di rumah sakit. Menaka rindu pulang, meski dengan kepulangannya ia harus berhadapan dengan Bapak. Ia bosan mengendus bau obat-obatan yang menyiksa hidungnya. Lebih mengerikan ketimbang bau mayat yang ia simpan di bawah kolong ranjangnya. Tepatnya, mayat bayi perempuan yang ia panggil Tala. Menaka membunuh Tala karena tidak ada seorangpun yang menginginkan bayinya, termasuk bapak bayi itu sendiri. Dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, ia menaruh tubuh mungil Tala yang telanjang bulat di dalam keranjang rotan setelah ia menyusuinya sambil mendengungkan Lela Ledung. Ia mengajak Tala ke hutan pinus yang lebat agar seekor macan menemukan Tala, kemudian mencabik Tala dengan taring-taringnya yang runcing. Menaka tidak sanggup menyakiti Tala dengan tangannya sendiri. Ia butuh seekor macan untuk membawa Tala pergi ke alam lain.
Keesokan paginya, Menaka datang lagi ke hutan itu untuk memastikan apakah Tala sudah menjadi bangkai. Ia terkejut bukan kepalang tatkala mendapati Tala tertidur pulas di dalam keranjang rotan. Bahkan nampaknya keranjang rotan itu tidak bergeser sedikit pun. Maneke bertanya-tanya sendiri, kemanakah binatang-binatang buas yang mencari mangsa di malam hari? Mengapa mereka tidak menerkam Tala? Seakan tidak percaya dengan penglihatannya, ia mendekati Tala, memperhatikannya begitu lama sampai akhirnya Menaka tersadar jika Tala tidak tertidur. Ia meraba denyut jantung Tala. Tidak berdetak. Tala sudah mati. Menaka berteriak kencang, membangunkan para penghuni hutan yang masih terlelap. Lalu ia membawa Tala kembali pulang ke rumah, menaruhnya di bawah kolong ranjang bersama buku-buku bekas yang sudah jarang dibaca.
Wajah cantik Tala yang merah jambu, senyum kecilnya dengan bibir menguncup dan terutama mata hijaunya yang bercahaya selalu terngiang di kepala Menaka. Jika Tala sudah besar, ia yakin Tala akan menjadi aktris panggung terkenal seperti dirinya. Ia akan menjaga Tala dari pengaruh luar yang membahayakan seperti laki-laki pengecut yang tidak lebih dari seonggok daging mentah. Bagi Menaka, hubungan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya hanya didasari oleh nafsu. Keinginan kekasih-kekasihnya yang terdahulu cuma berharap dapat melucuti celana dalamnya dan menidurinya diikuti desahan persis babi. Tidak ada cinta. Ia sudah lama ingin membunuh cinta.
*
Dua hari sebelumnya Menaka merasa jika ia tidak akan pernah bertemu belahan jiwanya.
Cahaya bulan tampak merona di langit. Dari kejauhan, Menaka bisa melihat seekor serigala di atas bukit hijau. Serigala itu tengah berdiri dengan kepala mendongak, nampak tenang dengan keadaan malam hari. Menaka ikut senang dengan suasana yang jauh dari kebisingan itu. Ia pergi keluar kamar bernomor 013, membeli lima balon dari seorang nenek berpunuk seperti unta yang sering berlalu lalang di rumah sakit untuk berjualan. Menaka membayar balon-balon itu tiga kali lipat dari harga yang nenek itu minta, tapi nenek itu menolaknya mentah-mentah. Ketika Menaka mengajaknya berdansa di sepanjang koridor rumah sakit, nenek itu malah memandangnya dengan raut jijik. Menaka tidak peduli. Ia meliuk-liukan tubuhnya sembari menyanyikan lagu-lagu The Beatles seolah malam yang agung itu akan bertahan selamanya.
Menaka berhenti bersiul-siul gembira ketika seorang perempuan setengah baya berpakaian serba hitam memanggil dirinya untuk duduk di kursi kayu dekat halaman rumah sakit. Ia mengiyakan permintaan perempuan yang suaranya sangat halus itu. Seketika perutnya mual saat ia menyergap bau dupa yang menyengat dari sosok perempuan itu.
“Siapa namamu?”
“Menaka.”
“Kau sedang gembira ya?”
“Iya, begitulah.”
“Tapi hidupmu begitu perih, kan?”
“Hahaha..kau bertingkah seperti peramal gadungan.”
“Saya memang peramal. Saya bisa melihat masa lalumu.”
“Oya? Bagaimana masa lalu saya?”
“Seseorang membencimu setengah mati, karena kau pernah mengandung bayinya.”
“Hmm..saya tidak peduli jika ia membenci saya. Saya harap ia mati terlindas kereta api.”
“Kau mencintainya?”
“Cinta? Entah. Menurutmu apakah definisi cinta?”
“Cinta itu bagai tuhan, semua orang begitu ingin mempercayainya.”
“Ya, betul sekali. Cinta dan tuhan tidak eksis. Bagaimana bisa kita mengharap mereka membahagiakan kita jika mereka tidak pernah tumbuh dekat di sisi kita?”
Mereka berdua berpandangan mata sambil tersenyum tipis. Sesuatu yang menyentuh hati Menaka terjadi begitu tidak diduga: bibir mereka bertemu.
*
Ritme hidup berputar cepat, sementara Menaka berjalan amat lambat. Ia merasa ketinggalan. Ia masih bernapas, tapi sebenarnya ia sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Oleh karena itu, ia seringkali merasa bosan. Biasanya, untuk melenyapkan kebosanan ia akan memutar film-film yang ia rajut sendiri di dalam kepalanya. Di sana ia bisa berperan sebagai gadis muda lugu yang disekap di dalam sebuah benteng tua, didandani persis ratu dan digilir oleh sejumlah laki-laki berpakaian tuksedo. Atau seorang penjual korek api yang membalas dendam pada orang-orang yang tidak ingin membeli koreknya dengan membakar rumah mereka satu persatu.
Ibu kerap menasehatinya agar ia bisa tumbuh seperti anak-anak sebaya lainnya yang ceria, pergi berpetualang ke desa-desa terpencil dan berdandan cantik ala putri dongeng. Tapi Menaka tidak ingin dan tidak bisa. Ia lebih senang menghabiskan waktu di kamarnya yang penuh kedamaian di mana ia bisa leluasa menulis puisi dan melukis. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan menganggunya, karena itulah ia sering mengunci pintu kamarnya selama berhari-hari tanpa makan. Ya, ia mampu hidup tanpa makan. Ia mempunyai semacam ketakutan tak beralasan kalau makanan yang disuguhkan padanya itu terdiri atas racun-racun yang dapat membunuhnya dalam hitungan detik. Menaka memang takut mati, sekaligus takut hidup.
Kadang ia menyulut tembakau juga demi kepuasan sementara, tapi setelahnya ia akan menjedoti kepalanya lagi ke dinding sampai membiru. Terlebih lagi jika bapaknya sedang kumat, ia ingin lari kabur dari rumah, tapi ia terlalu takut untuk berhadapan dengan dunia luar sendirian. Ia terasing dalam keramaian, tidak suka berkumpul dan mengobrol dengan orang-orang. Tapi ia juga bersikukuh tidak ingin terlalu lama mendekam di rumah yang lambat laun akan melempar dirinya menjadi orang tidak berguna.
Ia pernah bermimpi ia masuk kembali ke dalam rahim ibu. Di sana ia menemukan dunia baru yang mencengangkan. Ternyata rahim Ibu adalah sekolah asrama khusus perempuan yang terbuat dari kayu dan sangat sempit sehingga untuk bergerak saja sulit. Kaki kita pasti akan terantuk benda-benda kecil yang terhampar sembarangan di lantai. Berbagai macam benda unik menghiasi setiap sudut: payung bergagang tubuh ular yang sudah mengeras diberi raksa, topeng-topeng badut sebesar kepala bayi, karpet lama yang akan bergelombang persis ombak ketika disentuh dan sebagainya. Apa yang dipikirkan Menaka ialah bahwa suasana sekolah itu sepertinya pernah ia temui di suatu tempat. Mungkin ia pernah akrab dengan sekolah semacam itu di sebuah film yang ia tonton di masa kecil, ia lupa, atau berdasarkan imajinasinya atas buku Malory Towers karangan Enid Blyton yang sangat ia suka sampai dibaca berkali-kali tanpa merasa jemu.
Sekolah asrama yang sederhana itu memiliki dua lantai di mana setiap lantai dihuni anak-anak kecil berpakaian cerah bak pelangi di pagi hari. Mereka bukan anak-anak kecil yang bisa mengubah semut menjadi kodok. Mereka anak-anak kecil biasa yang senang membaca buku dan melempar barang-barang sambil tertawa jahil. Hal yang membuatnya merasa aneh adalah bahwa mereka semua berambut pirang dan berwajah khas kaukasia. Tidak ada yang berambut legam seperti dirinya. Namun mereka semua baik terhadapnya. Setiap hari Menaka belajar berhitung bersama mereka, bergosip tentang ibu guru yang memakai lipstik berwarna merah norak, menggoda poster Andy Warhol sambil bermasturbasi. Menaka sangat bahagia. Nyatanya, kebahagiaan itu menendangnya keras saat Menaka terbangun dari mimpi dengan kasur basah berbau amis. Ia mengompol.
*

Menaka berhenti berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Tungkai kakinya lemas. Matanya kabur, terhalang genangan air mata. Ia pun berbalik badan. Dan ia sungguh terperanjat saat menemukan banyak anak kecil berambut pirang berlari-lari di taman rumah sakit. Mereka memanggil-manggil namanya. Ada yang merentangkan tangan ingin dipeluk. Ada yang melambaikan tangan. Ada yang menyodorkan senjata api.
Menaka seakan dipukul palu godam. Ia menarik kaki-kakinya ke belakang satu dua langkah. Dadanya berdebar kencang. Segera bayangan Tala menghampiri dirinya. Ia tahu ia merindukan Tala, sekaligus rindu untuk memberitahukan kebenaran pada ibunya. Ia tidak peduli jika kebenaran itu akan membuat kesehatan ibunya makin parah. Bahwa Tala adalah anaknya sekaligus anak Bapak.
Suara-suara anak kecil yang parau itu makin mendekat, mendekat dan mendekat. “Menaka! Menaka!”

***

Siffa Arimbi Putri adalah mahasiswa Program Studi Rusia FIB UI

Selasa, 30 Desember 2008

Malam Cintaan



Cerpen Ratih Dewi

Malam berhasrat hampir tiba, para bintang mulai bermunculan—bergilir bercinta dengan rembulan. Manusia-manusia yang rindu akan percintaannya dengan Tuhan, sebentar lagi akan mulai bersenandung memuji nama-Nya.
Entah mengapa, kau lebih memilih untuk bersamaku, menemaniku pulang kampung. Katamu kau ingin mengenal keluargaku—persiapan pertama untuk menjadi seorang istri. Sejak awal aku jatuh cinta kepadamu, aku sudah tahu kamu gadis baik-baik yang akan menjadi istriku kelak. Sehingga betapa gembiranya aku saat kau mau pergi bersamaku.
Sayang, kegembiraan itu berubah. Kemacetan yang menjadi-jadi setiap mudik membuatku kesal dan menumpahkan amarahku kepadamu. Padahal aku tahu kau juga lelah, berulang kali di tiap pemberhentian bus kau mengganti kerudungmu yang lembap karena keringat. Kemacetan pun memakan waktu perjalanan yang seharusnya singkat.
“Mas, aku capek...” bisikmu lirih.
“Kita pasti sampai besok pagi, Rin. Kamu sabar ya,” aku berusaha menenangkannya.
“Mas, kita...turun saja, yuk,”
“Eh? Kita mau ke mana?”
“Mas, aku lihat ada penginapan di situ. Aku capek sekali, Mas...aku mau tidur.”
“Ah, sudahlah, Rin. Nggak aman,”
“Tapi aku mau istirahat, Mas...”
Tanpa mengulang permintaannya untuk yang ketiga kali, aku mengiyakan.
Sesungguhnya aku tidak menyesal bahwa aku bohong kepadamu, Rin. Aku bilang tadi kamarnya hanya ada satu. Sebenarnya masih ada tiga kamar lagi, tapi aku ingin tidur bersamamu, Rin. Kukira kamu akan menolak atau apa, ternyata kamu menurut saja masuk ke kamar itu. Aku tidak menyesal, tapi aku juga merasa bersalah. Apakah aku menjerumuskanmu, Rin? Aku hanya ingin tidur di pangkuanmu saja.
Tak berapa lama tidur-tidur ayam di pangkuanmu, ternyata keinginanku cepat berubah seperti kegembiraanku yang tadi berubah wujud menjadi kekesalan. Perasaanku kok, sekarang ingin...mengakrabkan tubuhku dengan tubuhmu.
“Rin, kamu benar-benar mau jadi istri Mas, ‘kan?”
Kau mengangguk.
“Rin, Mas punya satu permintaan. Boleh Mas mengecup keningmu?”
Kau terdiam sejenak. Berpikir.
Akhirnya kau mengangguk meski ragu-ragu.
Begitu mendapat jawaban, seketika aku bangun dan duduk di sebelahmu. Wajahku kudekatkan, lantas aku mengecup keningmu. Namun kemudian bibirmu merekah—entah kau sengaja atau tidak—aku pun mendekatkan bibirku ke bibirmu, dan menciumnya. Ada suatu dorongan untuk terus lekat dengan bibirmu, magnet atau apa aku tidak tahu, yang jelas aku menciummu lagi. Kamu membalas. Kita berciuman mesra.
Setelah beberapa menit berlalu, setelah puluhan cium dan rabaan terlewati, hasratku semakin meninggi. Kancing pertama blus panjang putih yang kau kenakan itu kubuka tanpa kau sadar. Demikian pula dengan kancing kedua, ketiga, dan keempat. Pada kancing kelima, kau menahanku halus.
“Mas, Rini...”
“Sstt. Sudah, jangan bilang apa-apa. Mas yang salah. Mas tidur di bawah saja.”
Rini, Rini. Sesungguhnya aku sama sekali tak berniat tidur di bawah. Aku tahu sifatmu, kamu yang begitu baik dan mencintaiku, pasti tidak akan membiarkanku seperti itu.
“Mas, jangan. Tidur di atas saja,” katamu, mencegahku menghamparkan selimut di lantai. Aku memandangmu sejenak, tapi tetap menghamparkan selimut itu.
Kau diam memperhatikanku.
Aku telah menyandarkan kepalaku di hamparan selimut itu ketika kau mengeluarkan suaramu, “Mas, Rini...mau ke kamar mandi dulu.”
Kau beranjak pergi mengambil tasmu, melenggang ke kamar mandi. Saat kau menutup pintunya, jantungku benar-benar berdegup kencang.
Aku lama menunggumu. Apa yang kamu lakukan di dalam sana, Rini?
Tiba-tiba dalam redup keremangan, disitulah kau terpaku, berdiri tepat di hadapanku. Pandanganku tergugah pada sutera ungu tipis yang sedikit menghalau keindahan tersembunyi di balik tubuhmu. Penasaranku memuncak, melarikan bayangan-bayangan liar diriku dan dirimu. Namun sekilas aku tahu, oh aku sangat tahu.. kau hanya menaruh piyamamu begitu saja di luar, sementara kau tak mengenakan apapun lagi di dalamnya; terlihat dari buah dadamu yang menggunung, mencuat menggemaskan. Tinggal aku sedapat mungkin menahan nafsu ini, membendung keinginan tuk segera, secepatnya...
“Rini! Kamu...kamu yakin mau melakukan ini?” aku agak terkejut. Namun ucapan basa-basi yang terlontar dari bibirku tak membuat tatapanku beralih ke tempat lain.
Kau mengangguk pelan. Aku bangkit, hampir terlonjak mungkin karena sudah tak sabar lagi.
“Tapi...”
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, kamu telah menaruh telunjukmu di bibirku. Sudah, sudah cukup introduksinya.
“Kalau begitu, kamu tenang saja ya, Ni.. Aku akan melangkah satu demi satu,”
Denyutmu terasa keras di dadaku ketika aku memelukmu lembut. Kulepaskan simpul tali piyamamu, dan kubiarkan terjatuh di lantai. Kini tiada lagi yang menjadi penutup tubuh sintalmu. Kukecup samping lehermu dan sekilas kau memejamkan mata. Kau mendesah singkat dan menegakkan punggungmu—reaksi alamiah ketika tubuh seorang wanita yang sedang berhasrat disentuh laki-laki. Semakin lama, gerakanku kupercepat. Kurebahkan dirimu ke atas ranjang, kau berbaring menggeliat lembut. Aku mulai melucuti seluruh pakaianku. Kita pun menjadi seperti manekin-manekin yang dibuat manusia sebelum didandani.
Namun tiba-tiba kau terkesiap, seakan sadar telah melakukan perbuatan yang berdosa. Kau bergegas bangun dan bermaksud mengambil piyamamu yang teronggok di lantai. Aku menahanmu.
“Aah, Rini. Kamu kenapa sih? Cepat ke sini, ah!” setengah memerintah aku berseru.
Kau diam saja. Kini kau duduk membelakangi ranjang. Aku gemas.
“Rini, Rini sayangku, ayolah...” kuberanikan diri berdiri di hadapanmu. Kepalamu yang semula menunduk, cepat-cepat kau alihkan. Pandanganmu jatuh ke sudut ruangan. Mungkin kau begitu karena tadi tak sengaja melihat tongkat saktiku sudah tegap tegak, sejajar dengan kedua matamu.
Melihat gelagatmu yang tak mau melanjutkan permainan, dengan sigap aku memanfaatkan kesempatan. Tangan kirimu yang nganggur kuambil dan kugesekkan pelan menyentuh mesin benihku. Kau tersentak. Lalu buru-buru menarik tanganmu. Aku semakin tidak sabar.
“Rin, aku mau...”
“Aku nggak mau. Aku takut...Aku mau pulang.” Serta merta kau bergegas menuju kamar mandi. Aku bingung dan heran. Jelas-jelas kau yang mengusulkan bermalam di losmen ini, tapi sekarang kau tidak mau melakukannya.
“Lho, yang mau ‘kan kamu, Rin. Sekarang kita udah kayak gini, kamu nggak mau. Gimana sih?” aku menghentikanmu masuk ke dalam kamar mandi dan memandangmu tajam.
“Iya, tapi bukan dengan tujuan seperti ini, Mas!”
“Bukan dengan tujuan seperti ini bagaimana? Lantas buat apa kamu bawa baju tidur sutra ungu itu kalau bukan untuk begini?”
Kau terdiam lagi. Sial.
“Mas nggak ngerti perasaan Rini. Rini takut, Mas...Rini takut Mas akan meninggalkan Rini, nanti...” di pelupuk matamu airmata terbendung.
“Ya ampun, Rini. Mas ‘kan tunanganmu, sayang. Mas nggak akan sia-siain kamu...Mas cinta sama Rini,” aku membelai wajahmu yang murung itu. Dasar wanita, mereka suka memancing, tapi mereka tidak mau basah.
Kau menangis. Aku mendekapmu.
“Mas janji, ya nggak akan ninggalin Rini?” tanyamu, sendu. Aku menggangguk.
Sebenarnya untuk apa wanita mempertahankan keperawanannya? Untuk dinikmati laki-laki yang dicintainya ‘kan? Lalu mengapa mereka sok menangis segala, padahal dalam permainan itu mereka juga senang.
“Rini cinta sama Mas, ‘kan? Rini mau membahagiakan Mas, ‘kan?” aku ganti bertanya. Pertanyaan klise yang akan membuatnya takluk malam ini.
Kau mengangguk. Aku puas mendengarnya.
“Kalau begitu tolong buat Mas bahagia malam ini,”
Kau langsung memandangku dalam-dalam, seakan ingin melumat dan menerkamku saat itu juga. Apa kau tahu apa yang kupikirkan barusan?
Setelah beberapa detik berlalu, kau putuskan berjalan kembali ke arah ranjang, menaikinya, lalu berbaring di atasnya. Rambutmu yang panjang, tergerai indah sempurna. Senyumku mengembang. Kau lebih cantik seperti ini, seharusnya dari dulu kau tidak usah memakai kerudung.
“Cuma sebentar kok, Rin. Mas janji akan membahagiakanmu,” aku ikut naik ke ranjang dan telah berada di atasmu, tapi kutahan dulu tubuhku dengan kedua tangan. Aku ingin sungguh-sungguh merasai kesucianmu, Rini.
Kusingkap kedua pahamu: terlihatlah surga duniawi. Nafasmu tak beraturan.
Rasaku memuncak. Aku menindihmu. Menciumimu. Tak kupedulikan lagi suara isak tangismu yang terdengar bersamaan dengan seruan takbir sayup-sayup.

Sebelah Tol Jagorawi, Maret 06

Ratih Dewi adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI