Rabu, 31 Desember 2008

Menaka



Cerpen Siffa Arimbi Putri

Menaka berjalan lunglai di sepanjang koridor rumah sakit yang gelap. Beberapa perawat terlihat mondar-mandir dengan membawa baskom merah berisi air hangat yang uapnya menguap ke udara, sementara seorang anak kecil dengan wajah penuh koreng meraung tanpa henti dan para perawat tidak mempedulikannya. Mereka terus sigap berjalan menuju beberapa kamar pasien.
Menaka menghembuskan napasnya dalam-dalam. Ia menarik mantelnya lebih erat. Udara malam membuatnya menggigil. Sebenarnya ia ingin menghampiri anak itu serta mengelus rambut hitam lebatnya, mengatakan padanya bahwa di dunia yang jahat ini sebaiknya tidak usah merasa aneh jika ia memiliki keinginan untuk melompatkan diri ke jurang curam. Bunuh diri adalah hal paling wajar yang pernah disaksikan di muka bumi. Seharusnya para malaikat mengernyitkan dahi dengan manusia-manusia yang memilih untuk bertahan hidup dengan menyaksikan perang di mana-mana. Manusia-manusia yang betah menghirup udara di mana anak-anak perempuan mereka diperkosa oleh sekumpulan binatang buas. Manusia-manusia yang betah menghirup udara di mana mereka mesti mengandalkan hidup pada tembakau demi mengikis keperihan batin. Manusia-manusia malang. Menaka tersipu dengan pikiran gilanya. Ia pun terkekeh geli sambil menyaksikan bunglon-bunglon yang mengumpet di antara daun-daun tebal pohon pisang.
Anak lelaki yang berumur enam tahun itu bernama Wisnu. Ia dirawat sejak empat hari yang lalu di koridor rumah sakit. Selang-selang infus bergelantungan di sebagian tubuh kurusnya. Ia pernah mendadak stres, menggigit selang-selang, lalu mencopotnya keras hingga darahnya berceceran membentuk danau kecil di lantai koridor. Tadinya Menaka bingung mengapa Wisnu mesti dirawat di koridor rumah sakit, lalu seorang petugas kebersihan menjelaskan padanya jika kamar rumah sakit telah terisi penuh, tidak memungkinkan jika anak yang sekarat itu harus digotong lagi ke rumah sakit di ujung kota. Ia bisa keburu meninggal. Tapi menurut Menaka hal itu sama saja, sebab anak kecil itu sebentar lagi pasti akan terserang demam parah kemudian mati karena gigitan nyamuk yang berkeliaran bebas di koridor.
Hari ini adalah hari kesembilan Menaka berada di rumah sakit. Bapak menyuruhnya untuk menjaga ibunya yang tengah koma. Beberapa minggu lalu, ibunya menyayat pergelangan tangan dengan silet cukur karena tingkah Bapak yang kerap meniduri banyak perempuan. Sayangnya, cara murahan untuk bunuh diri itu tidak berjalan sempurna. Menaka sungguh kesal. Ia berpikir jika ibunya bukanlah orang yang pintar maupun sukses, sebab untuk membunuh dirinya saja ia gagal. Hal itulah yang membuat ibunya ada di rumah sakit. Menaka rindu pulang, meski dengan kepulangannya ia harus berhadapan dengan Bapak. Ia bosan mengendus bau obat-obatan yang menyiksa hidungnya. Lebih mengerikan ketimbang bau mayat yang ia simpan di bawah kolong ranjangnya. Tepatnya, mayat bayi perempuan yang ia panggil Tala. Menaka membunuh Tala karena tidak ada seorangpun yang menginginkan bayinya, termasuk bapak bayi itu sendiri. Dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, ia menaruh tubuh mungil Tala yang telanjang bulat di dalam keranjang rotan setelah ia menyusuinya sambil mendengungkan Lela Ledung. Ia mengajak Tala ke hutan pinus yang lebat agar seekor macan menemukan Tala, kemudian mencabik Tala dengan taring-taringnya yang runcing. Menaka tidak sanggup menyakiti Tala dengan tangannya sendiri. Ia butuh seekor macan untuk membawa Tala pergi ke alam lain.
Keesokan paginya, Menaka datang lagi ke hutan itu untuk memastikan apakah Tala sudah menjadi bangkai. Ia terkejut bukan kepalang tatkala mendapati Tala tertidur pulas di dalam keranjang rotan. Bahkan nampaknya keranjang rotan itu tidak bergeser sedikit pun. Maneke bertanya-tanya sendiri, kemanakah binatang-binatang buas yang mencari mangsa di malam hari? Mengapa mereka tidak menerkam Tala? Seakan tidak percaya dengan penglihatannya, ia mendekati Tala, memperhatikannya begitu lama sampai akhirnya Menaka tersadar jika Tala tidak tertidur. Ia meraba denyut jantung Tala. Tidak berdetak. Tala sudah mati. Menaka berteriak kencang, membangunkan para penghuni hutan yang masih terlelap. Lalu ia membawa Tala kembali pulang ke rumah, menaruhnya di bawah kolong ranjang bersama buku-buku bekas yang sudah jarang dibaca.
Wajah cantik Tala yang merah jambu, senyum kecilnya dengan bibir menguncup dan terutama mata hijaunya yang bercahaya selalu terngiang di kepala Menaka. Jika Tala sudah besar, ia yakin Tala akan menjadi aktris panggung terkenal seperti dirinya. Ia akan menjaga Tala dari pengaruh luar yang membahayakan seperti laki-laki pengecut yang tidak lebih dari seonggok daging mentah. Bagi Menaka, hubungan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya hanya didasari oleh nafsu. Keinginan kekasih-kekasihnya yang terdahulu cuma berharap dapat melucuti celana dalamnya dan menidurinya diikuti desahan persis babi. Tidak ada cinta. Ia sudah lama ingin membunuh cinta.
*
Dua hari sebelumnya Menaka merasa jika ia tidak akan pernah bertemu belahan jiwanya.
Cahaya bulan tampak merona di langit. Dari kejauhan, Menaka bisa melihat seekor serigala di atas bukit hijau. Serigala itu tengah berdiri dengan kepala mendongak, nampak tenang dengan keadaan malam hari. Menaka ikut senang dengan suasana yang jauh dari kebisingan itu. Ia pergi keluar kamar bernomor 013, membeli lima balon dari seorang nenek berpunuk seperti unta yang sering berlalu lalang di rumah sakit untuk berjualan. Menaka membayar balon-balon itu tiga kali lipat dari harga yang nenek itu minta, tapi nenek itu menolaknya mentah-mentah. Ketika Menaka mengajaknya berdansa di sepanjang koridor rumah sakit, nenek itu malah memandangnya dengan raut jijik. Menaka tidak peduli. Ia meliuk-liukan tubuhnya sembari menyanyikan lagu-lagu The Beatles seolah malam yang agung itu akan bertahan selamanya.
Menaka berhenti bersiul-siul gembira ketika seorang perempuan setengah baya berpakaian serba hitam memanggil dirinya untuk duduk di kursi kayu dekat halaman rumah sakit. Ia mengiyakan permintaan perempuan yang suaranya sangat halus itu. Seketika perutnya mual saat ia menyergap bau dupa yang menyengat dari sosok perempuan itu.
“Siapa namamu?”
“Menaka.”
“Kau sedang gembira ya?”
“Iya, begitulah.”
“Tapi hidupmu begitu perih, kan?”
“Hahaha..kau bertingkah seperti peramal gadungan.”
“Saya memang peramal. Saya bisa melihat masa lalumu.”
“Oya? Bagaimana masa lalu saya?”
“Seseorang membencimu setengah mati, karena kau pernah mengandung bayinya.”
“Hmm..saya tidak peduli jika ia membenci saya. Saya harap ia mati terlindas kereta api.”
“Kau mencintainya?”
“Cinta? Entah. Menurutmu apakah definisi cinta?”
“Cinta itu bagai tuhan, semua orang begitu ingin mempercayainya.”
“Ya, betul sekali. Cinta dan tuhan tidak eksis. Bagaimana bisa kita mengharap mereka membahagiakan kita jika mereka tidak pernah tumbuh dekat di sisi kita?”
Mereka berdua berpandangan mata sambil tersenyum tipis. Sesuatu yang menyentuh hati Menaka terjadi begitu tidak diduga: bibir mereka bertemu.
*
Ritme hidup berputar cepat, sementara Menaka berjalan amat lambat. Ia merasa ketinggalan. Ia masih bernapas, tapi sebenarnya ia sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Oleh karena itu, ia seringkali merasa bosan. Biasanya, untuk melenyapkan kebosanan ia akan memutar film-film yang ia rajut sendiri di dalam kepalanya. Di sana ia bisa berperan sebagai gadis muda lugu yang disekap di dalam sebuah benteng tua, didandani persis ratu dan digilir oleh sejumlah laki-laki berpakaian tuksedo. Atau seorang penjual korek api yang membalas dendam pada orang-orang yang tidak ingin membeli koreknya dengan membakar rumah mereka satu persatu.
Ibu kerap menasehatinya agar ia bisa tumbuh seperti anak-anak sebaya lainnya yang ceria, pergi berpetualang ke desa-desa terpencil dan berdandan cantik ala putri dongeng. Tapi Menaka tidak ingin dan tidak bisa. Ia lebih senang menghabiskan waktu di kamarnya yang penuh kedamaian di mana ia bisa leluasa menulis puisi dan melukis. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan menganggunya, karena itulah ia sering mengunci pintu kamarnya selama berhari-hari tanpa makan. Ya, ia mampu hidup tanpa makan. Ia mempunyai semacam ketakutan tak beralasan kalau makanan yang disuguhkan padanya itu terdiri atas racun-racun yang dapat membunuhnya dalam hitungan detik. Menaka memang takut mati, sekaligus takut hidup.
Kadang ia menyulut tembakau juga demi kepuasan sementara, tapi setelahnya ia akan menjedoti kepalanya lagi ke dinding sampai membiru. Terlebih lagi jika bapaknya sedang kumat, ia ingin lari kabur dari rumah, tapi ia terlalu takut untuk berhadapan dengan dunia luar sendirian. Ia terasing dalam keramaian, tidak suka berkumpul dan mengobrol dengan orang-orang. Tapi ia juga bersikukuh tidak ingin terlalu lama mendekam di rumah yang lambat laun akan melempar dirinya menjadi orang tidak berguna.
Ia pernah bermimpi ia masuk kembali ke dalam rahim ibu. Di sana ia menemukan dunia baru yang mencengangkan. Ternyata rahim Ibu adalah sekolah asrama khusus perempuan yang terbuat dari kayu dan sangat sempit sehingga untuk bergerak saja sulit. Kaki kita pasti akan terantuk benda-benda kecil yang terhampar sembarangan di lantai. Berbagai macam benda unik menghiasi setiap sudut: payung bergagang tubuh ular yang sudah mengeras diberi raksa, topeng-topeng badut sebesar kepala bayi, karpet lama yang akan bergelombang persis ombak ketika disentuh dan sebagainya. Apa yang dipikirkan Menaka ialah bahwa suasana sekolah itu sepertinya pernah ia temui di suatu tempat. Mungkin ia pernah akrab dengan sekolah semacam itu di sebuah film yang ia tonton di masa kecil, ia lupa, atau berdasarkan imajinasinya atas buku Malory Towers karangan Enid Blyton yang sangat ia suka sampai dibaca berkali-kali tanpa merasa jemu.
Sekolah asrama yang sederhana itu memiliki dua lantai di mana setiap lantai dihuni anak-anak kecil berpakaian cerah bak pelangi di pagi hari. Mereka bukan anak-anak kecil yang bisa mengubah semut menjadi kodok. Mereka anak-anak kecil biasa yang senang membaca buku dan melempar barang-barang sambil tertawa jahil. Hal yang membuatnya merasa aneh adalah bahwa mereka semua berambut pirang dan berwajah khas kaukasia. Tidak ada yang berambut legam seperti dirinya. Namun mereka semua baik terhadapnya. Setiap hari Menaka belajar berhitung bersama mereka, bergosip tentang ibu guru yang memakai lipstik berwarna merah norak, menggoda poster Andy Warhol sambil bermasturbasi. Menaka sangat bahagia. Nyatanya, kebahagiaan itu menendangnya keras saat Menaka terbangun dari mimpi dengan kasur basah berbau amis. Ia mengompol.
*

Menaka berhenti berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Tungkai kakinya lemas. Matanya kabur, terhalang genangan air mata. Ia pun berbalik badan. Dan ia sungguh terperanjat saat menemukan banyak anak kecil berambut pirang berlari-lari di taman rumah sakit. Mereka memanggil-manggil namanya. Ada yang merentangkan tangan ingin dipeluk. Ada yang melambaikan tangan. Ada yang menyodorkan senjata api.
Menaka seakan dipukul palu godam. Ia menarik kaki-kakinya ke belakang satu dua langkah. Dadanya berdebar kencang. Segera bayangan Tala menghampiri dirinya. Ia tahu ia merindukan Tala, sekaligus rindu untuk memberitahukan kebenaran pada ibunya. Ia tidak peduli jika kebenaran itu akan membuat kesehatan ibunya makin parah. Bahwa Tala adalah anaknya sekaligus anak Bapak.
Suara-suara anak kecil yang parau itu makin mendekat, mendekat dan mendekat. “Menaka! Menaka!”

***

Siffa Arimbi Putri adalah mahasiswa Program Studi Rusia FIB UI

Selasa, 30 Desember 2008

Malam Cintaan



Cerpen Ratih Dewi

Malam berhasrat hampir tiba, para bintang mulai bermunculan—bergilir bercinta dengan rembulan. Manusia-manusia yang rindu akan percintaannya dengan Tuhan, sebentar lagi akan mulai bersenandung memuji nama-Nya.
Entah mengapa, kau lebih memilih untuk bersamaku, menemaniku pulang kampung. Katamu kau ingin mengenal keluargaku—persiapan pertama untuk menjadi seorang istri. Sejak awal aku jatuh cinta kepadamu, aku sudah tahu kamu gadis baik-baik yang akan menjadi istriku kelak. Sehingga betapa gembiranya aku saat kau mau pergi bersamaku.
Sayang, kegembiraan itu berubah. Kemacetan yang menjadi-jadi setiap mudik membuatku kesal dan menumpahkan amarahku kepadamu. Padahal aku tahu kau juga lelah, berulang kali di tiap pemberhentian bus kau mengganti kerudungmu yang lembap karena keringat. Kemacetan pun memakan waktu perjalanan yang seharusnya singkat.
“Mas, aku capek...” bisikmu lirih.
“Kita pasti sampai besok pagi, Rin. Kamu sabar ya,” aku berusaha menenangkannya.
“Mas, kita...turun saja, yuk,”
“Eh? Kita mau ke mana?”
“Mas, aku lihat ada penginapan di situ. Aku capek sekali, Mas...aku mau tidur.”
“Ah, sudahlah, Rin. Nggak aman,”
“Tapi aku mau istirahat, Mas...”
Tanpa mengulang permintaannya untuk yang ketiga kali, aku mengiyakan.
Sesungguhnya aku tidak menyesal bahwa aku bohong kepadamu, Rin. Aku bilang tadi kamarnya hanya ada satu. Sebenarnya masih ada tiga kamar lagi, tapi aku ingin tidur bersamamu, Rin. Kukira kamu akan menolak atau apa, ternyata kamu menurut saja masuk ke kamar itu. Aku tidak menyesal, tapi aku juga merasa bersalah. Apakah aku menjerumuskanmu, Rin? Aku hanya ingin tidur di pangkuanmu saja.
Tak berapa lama tidur-tidur ayam di pangkuanmu, ternyata keinginanku cepat berubah seperti kegembiraanku yang tadi berubah wujud menjadi kekesalan. Perasaanku kok, sekarang ingin...mengakrabkan tubuhku dengan tubuhmu.
“Rin, kamu benar-benar mau jadi istri Mas, ‘kan?”
Kau mengangguk.
“Rin, Mas punya satu permintaan. Boleh Mas mengecup keningmu?”
Kau terdiam sejenak. Berpikir.
Akhirnya kau mengangguk meski ragu-ragu.
Begitu mendapat jawaban, seketika aku bangun dan duduk di sebelahmu. Wajahku kudekatkan, lantas aku mengecup keningmu. Namun kemudian bibirmu merekah—entah kau sengaja atau tidak—aku pun mendekatkan bibirku ke bibirmu, dan menciumnya. Ada suatu dorongan untuk terus lekat dengan bibirmu, magnet atau apa aku tidak tahu, yang jelas aku menciummu lagi. Kamu membalas. Kita berciuman mesra.
Setelah beberapa menit berlalu, setelah puluhan cium dan rabaan terlewati, hasratku semakin meninggi. Kancing pertama blus panjang putih yang kau kenakan itu kubuka tanpa kau sadar. Demikian pula dengan kancing kedua, ketiga, dan keempat. Pada kancing kelima, kau menahanku halus.
“Mas, Rini...”
“Sstt. Sudah, jangan bilang apa-apa. Mas yang salah. Mas tidur di bawah saja.”
Rini, Rini. Sesungguhnya aku sama sekali tak berniat tidur di bawah. Aku tahu sifatmu, kamu yang begitu baik dan mencintaiku, pasti tidak akan membiarkanku seperti itu.
“Mas, jangan. Tidur di atas saja,” katamu, mencegahku menghamparkan selimut di lantai. Aku memandangmu sejenak, tapi tetap menghamparkan selimut itu.
Kau diam memperhatikanku.
Aku telah menyandarkan kepalaku di hamparan selimut itu ketika kau mengeluarkan suaramu, “Mas, Rini...mau ke kamar mandi dulu.”
Kau beranjak pergi mengambil tasmu, melenggang ke kamar mandi. Saat kau menutup pintunya, jantungku benar-benar berdegup kencang.
Aku lama menunggumu. Apa yang kamu lakukan di dalam sana, Rini?
Tiba-tiba dalam redup keremangan, disitulah kau terpaku, berdiri tepat di hadapanku. Pandanganku tergugah pada sutera ungu tipis yang sedikit menghalau keindahan tersembunyi di balik tubuhmu. Penasaranku memuncak, melarikan bayangan-bayangan liar diriku dan dirimu. Namun sekilas aku tahu, oh aku sangat tahu.. kau hanya menaruh piyamamu begitu saja di luar, sementara kau tak mengenakan apapun lagi di dalamnya; terlihat dari buah dadamu yang menggunung, mencuat menggemaskan. Tinggal aku sedapat mungkin menahan nafsu ini, membendung keinginan tuk segera, secepatnya...
“Rini! Kamu...kamu yakin mau melakukan ini?” aku agak terkejut. Namun ucapan basa-basi yang terlontar dari bibirku tak membuat tatapanku beralih ke tempat lain.
Kau mengangguk pelan. Aku bangkit, hampir terlonjak mungkin karena sudah tak sabar lagi.
“Tapi...”
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, kamu telah menaruh telunjukmu di bibirku. Sudah, sudah cukup introduksinya.
“Kalau begitu, kamu tenang saja ya, Ni.. Aku akan melangkah satu demi satu,”
Denyutmu terasa keras di dadaku ketika aku memelukmu lembut. Kulepaskan simpul tali piyamamu, dan kubiarkan terjatuh di lantai. Kini tiada lagi yang menjadi penutup tubuh sintalmu. Kukecup samping lehermu dan sekilas kau memejamkan mata. Kau mendesah singkat dan menegakkan punggungmu—reaksi alamiah ketika tubuh seorang wanita yang sedang berhasrat disentuh laki-laki. Semakin lama, gerakanku kupercepat. Kurebahkan dirimu ke atas ranjang, kau berbaring menggeliat lembut. Aku mulai melucuti seluruh pakaianku. Kita pun menjadi seperti manekin-manekin yang dibuat manusia sebelum didandani.
Namun tiba-tiba kau terkesiap, seakan sadar telah melakukan perbuatan yang berdosa. Kau bergegas bangun dan bermaksud mengambil piyamamu yang teronggok di lantai. Aku menahanmu.
“Aah, Rini. Kamu kenapa sih? Cepat ke sini, ah!” setengah memerintah aku berseru.
Kau diam saja. Kini kau duduk membelakangi ranjang. Aku gemas.
“Rini, Rini sayangku, ayolah...” kuberanikan diri berdiri di hadapanmu. Kepalamu yang semula menunduk, cepat-cepat kau alihkan. Pandanganmu jatuh ke sudut ruangan. Mungkin kau begitu karena tadi tak sengaja melihat tongkat saktiku sudah tegap tegak, sejajar dengan kedua matamu.
Melihat gelagatmu yang tak mau melanjutkan permainan, dengan sigap aku memanfaatkan kesempatan. Tangan kirimu yang nganggur kuambil dan kugesekkan pelan menyentuh mesin benihku. Kau tersentak. Lalu buru-buru menarik tanganmu. Aku semakin tidak sabar.
“Rin, aku mau...”
“Aku nggak mau. Aku takut...Aku mau pulang.” Serta merta kau bergegas menuju kamar mandi. Aku bingung dan heran. Jelas-jelas kau yang mengusulkan bermalam di losmen ini, tapi sekarang kau tidak mau melakukannya.
“Lho, yang mau ‘kan kamu, Rin. Sekarang kita udah kayak gini, kamu nggak mau. Gimana sih?” aku menghentikanmu masuk ke dalam kamar mandi dan memandangmu tajam.
“Iya, tapi bukan dengan tujuan seperti ini, Mas!”
“Bukan dengan tujuan seperti ini bagaimana? Lantas buat apa kamu bawa baju tidur sutra ungu itu kalau bukan untuk begini?”
Kau terdiam lagi. Sial.
“Mas nggak ngerti perasaan Rini. Rini takut, Mas...Rini takut Mas akan meninggalkan Rini, nanti...” di pelupuk matamu airmata terbendung.
“Ya ampun, Rini. Mas ‘kan tunanganmu, sayang. Mas nggak akan sia-siain kamu...Mas cinta sama Rini,” aku membelai wajahmu yang murung itu. Dasar wanita, mereka suka memancing, tapi mereka tidak mau basah.
Kau menangis. Aku mendekapmu.
“Mas janji, ya nggak akan ninggalin Rini?” tanyamu, sendu. Aku menggangguk.
Sebenarnya untuk apa wanita mempertahankan keperawanannya? Untuk dinikmati laki-laki yang dicintainya ‘kan? Lalu mengapa mereka sok menangis segala, padahal dalam permainan itu mereka juga senang.
“Rini cinta sama Mas, ‘kan? Rini mau membahagiakan Mas, ‘kan?” aku ganti bertanya. Pertanyaan klise yang akan membuatnya takluk malam ini.
Kau mengangguk. Aku puas mendengarnya.
“Kalau begitu tolong buat Mas bahagia malam ini,”
Kau langsung memandangku dalam-dalam, seakan ingin melumat dan menerkamku saat itu juga. Apa kau tahu apa yang kupikirkan barusan?
Setelah beberapa detik berlalu, kau putuskan berjalan kembali ke arah ranjang, menaikinya, lalu berbaring di atasnya. Rambutmu yang panjang, tergerai indah sempurna. Senyumku mengembang. Kau lebih cantik seperti ini, seharusnya dari dulu kau tidak usah memakai kerudung.
“Cuma sebentar kok, Rin. Mas janji akan membahagiakanmu,” aku ikut naik ke ranjang dan telah berada di atasmu, tapi kutahan dulu tubuhku dengan kedua tangan. Aku ingin sungguh-sungguh merasai kesucianmu, Rini.
Kusingkap kedua pahamu: terlihatlah surga duniawi. Nafasmu tak beraturan.
Rasaku memuncak. Aku menindihmu. Menciumimu. Tak kupedulikan lagi suara isak tangismu yang terdengar bersamaan dengan seruan takbir sayup-sayup.

Sebelah Tol Jagorawi, Maret 06

Ratih Dewi adalah mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI