Rabu, 25 Maret 2009

Catatan Perjalananku



Cerpen Silvi Fitri Ayu

Pekerjaanku sebagai reporter di sebuah stasiun televisi swasta begitu menyenangkan, walaupun pekerjaan ini begitu banyak menyita waktuku. Tetapi semenjak tiga hari yang lalu, aku mulai tidak menikmati pekerjaanku sebagai reporter, semenjak aku dipindahkan dari divisi olahraga ke divisi berita lokal. Dulu aku meliput acara-acara olahraga bergengsi, tidak hanya di Indonesia tetapi bahkan sampai keluar negeri, itulah pekerjaanku. Kini pekerjaanku yang menyenangkan itu hanya tinggal kenangan, karena sekarang aku harus meliput berita-berita dalam negeri yang rata-rata isinya monoton dan bahkan terkadang membosankan.
Mungkin sebenarnya pekerjaan baruku ini tidak akan seburuk yang aku bayangkan jika aku meliput situasi menjelang pemilu 2009 atau peristiwa aktual yang berbobot lainnya, setidaknya aku dapat mewawancarai tokoh-tokoh terkenal dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkualitas. Tetapi yang terjadi sekarang, aku harus terjebak di dalam mobil yang sedang menuju sebuah dusun kecil bernama Kedungsari, Kabupaten Jombang hanya untuk meliput sebuah berita yang tidak masuk akal tentang seorang anak kecil berumur tidak lebih dari sepuluh tahun yang mampu mengobati orang sakit dengan batu ajaib miliknya. Aku tidak bisa percaya dan mengerti mengapa seorang anak desa seperti ini bisa menyedot perhatian banyak orang serta mengapa hal yang tidak masuk akal seperti ini bisa begitu populer di kalangan masyarakat negeri ini. Yang terlintas dalam otakku bahwa hal ini hanya bentuk pengeksploitasian terhadap anak-anak dan hanya untuk mencari popularitas semata.
*
Memasuki dusun ini, aku disambut dengan banyaknya warung-warung dadakan yang menjajakan makanan hingga ember yang memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Mobil yang dikemudikan Pak Udin mulai menepi dan akhirnya berhenti sama sekali. Ditemani oleh seorang juru kamera, dengan sangat enggan aku melangkahkan kaki menuju rumah Ponari, sang dukun cilik. Sesampainya aku di sana, aku dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang sangat luar biasa, di depan mataku terbentang lautan manusia yang jumlahnya mungkin ratusan orang bahkan ribuan orang. Sebenarnya aku tidak perlu seterkejut ini, karena semenjak aku memasuki dusun kecil ini suasana hiruk pikuk telah menyambutku.
Setelah menemui Bapak Kepala Desa yang bernama Muhlison dan memperkenalkan diri serta memperlihatkan id card, aku diantarnya menuju rumah Ponari. Sebuah dusun kecil tidak tersentuh oleh pembangunan dengan jalan-jalan kecil yang becek seperti yang aku bayangkan, ternyata tidak terlalu aku temui di sini. Sebuah jalan sepanjang 100 meter yang tertata rapi oleh paving block, membuat jalanan dusun ini terasa nyaman walaupun tidak terlihat kontras dengan rumah-rumah sederhana dari bilik bambu yang berada di sekitarnya. Dari keterangan yang aku dapat dari kepala desa ini, bahwa pembangunan jalanan tersebut didapat dari sumbangan pasien Ponari.
“Desa ini bisa seperti sekarang, semuanya berkat ponari Pak,” jawab sang Kepala Desa ketika aku menanyakan hal ini. “Dananya didapat dari pasien Ponari, anak itu dan batunya memang pembawa berkah untuk desa ini.”
Aku tersenyum sedikit mengejek kepada sang Kepala Desa ketika mendengar jawabannya. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran orang tua seperti Bapak Kepala Desa dan sebuah pertanyaan terlintas di otakku, inikah gambaran orang-orang berpendidikan rendah di negeri ini? Rasa penasaranku terhadap Ponari pun semakin bertambah.
*
Tidak terasa aku sudah sampai di depan rumah Ponari. Aku datang ke rumahnya di saat Ponari sedang beristirahat dari kegiatan praktiknya. Ketika aku masuk ke dalam rumah yang ukurannya mungkin tidak lebih dari 5x7 meter itu, orangtua Ponari menyambutku dengan sangat baik dan mengajakku menemui Ponari. Rumah Ponari terasa sangat sederhana dan tidak ada barang berharga di dalamnya, kecuali sebuah televisi berukuran 14 inci. Sesaat aku terperanjat ketika melihat Ponari, inikah anak ajaib yang sedang heboh diberitakan itu? Dia tidak terlihat ajaib, penampilannya sama saja dengan anak-anak sebayanya.
Ponari menyambutku dengan sangat ramah dan dia langsung tidur dengan manjanya di pangkuanku. Sesaat perasaan aneh menghinggapiku, melihat anak kecil yang ada di pangkuanku ini begitu polos dan dia begitu asyik memainkan handphone yang ada di tangan kirinya. Aku merasa bersalah telah merendahkannya selama perjalananku untuk menemuinya.
“Ponari, sedang apa?” tanyaku.
“Aku lagi main hp, om. Ini kemarin dikasih sama bapak-bapak dari Surabaya.”
“Oh…Ponari sekarang umurnya berapa? Sekolah di mana?” Aku bertanya lagi.
Dengan gaya yang manja Ponari menjawab, “SD Balongsari I, kelas tiga…Om, datang dari mana?”
“Om dari Jakarta. Ponari kenapa ga ngobatin orang?” Sambil mengelus kepalanya dengan lembut, aku bertanya.
“Capek, mau main dulu…” Dia menjawab dengan singkat dan tetap sibuk bermain dengan handphonenya.
“Ponari, sejak kapan punya batunya? Dapat dari mana? Kok tahu batunya bisa ngobatin orang?”
“Waktu itu main hujan sama teman-teman, terus aku kesambar petir. Ya… setelah itu tiba-tiba ada batu di dekat aku, terus aku bawa pulang.” Dia menjawab dengan logat Jawa yang kental. “Waktu adik Lintang sakit, aku coba masukin batunya ke dalam air, aku suruh adik lintang minum. Sembuh! Terus anaknya eyang Djamil, mbak Luluk… Aku kasih minum yang udah dicelupin batu itu, sekarang bisa ngomong.”
“Om boleh liat batunya ga?” Aku semakin menikmati pembicaraanku dengan Ponari.
“Ga boleh.” Jawabnya dengan lantang. “Nanti Rono marah.”
“Rono? Itu siapa?”
“Yang tinggal di dalam batu.” Dia menjawab tanpa melihat wajahku. “Nanti kalau Rono marah, dia ga mau main lagi sama aku.”
“Oh…” Aku hanya bisa menjawab singkat. Aku tidak ingin memaksanya, karena dia mulai terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaanku. “Ponari sampai kapan mau mengobati orang? Sekolahnya masih rajin kan?”
“Aku capek, mau main. Mau sekolah sama teman-teman. Tapi orang yang berobat banyak. Kasihan.” Dia menjawab dengan lesu dan tertunduk.
Dari wajahnya yang polos dan nada suaranya yang manja, aku bisa merasakan bahwa anak kecil ini mulai lelah dengan rutinitasnya sebagai seorang dukun cilik. Aku baru menyadari bahwa dia adalah anak kecil yang masih ingin menikmati masa kecilnya, tetapi di satu sisi aku merasa kagum pada Ponari. Di dalam tubuh kecilnya, Ponari telah memiliki rasa peduli yang besar kepada orang lain, yang mungkin orang dewasa sekalipun sangat jarang memilikinya, termasuk aku.
Rasa bersalah kembali menghinggapi hatiku. Ternyata kemiskinan tidak membuat orangtua Ponari berniat untuk mengeksploitasi anaknya, mereka sebenarnya merasa sedih melihat kondisi Ponari yang tidak dapat bermain dengan bebas lagi dan mereka ingin Ponari dapat menikmati masa kecilnya.
“Sebenarnya Mas, saya tidak mau anak saya menjadi dukun. Dia masih kecil, kasihan. Gara-gara ini Ponari ga bisa main dengan teman-temannya, sekolahnya juga terganggu.” Suara ibu muda itu terasa sangat memilukan, sambil menarik napas beliau melanjutkan ucapannya, “Tapi orang yang mau diobatin juga banyak, jadi kita belum tahu sampai kapan Ponari akan praktik. Terus Pak Dauk sebagai ketua panitia praktiknya Ponari juga tidak mau praktik Ponari berhenti. Katanya kasihan orang kampung nanti ga punya pekerjaan.” Ibu Ponari menatap kosong ke arah pintu dan wajah beliau memperlihatkan betapa besarnya beban pikiran yang beliau tanggung saat ini.
*
Ketika juru kameraku sedang sibuk mengabadikan kesibukan orang-orang di depan rumah Ponari, ternyata di antara para pasien itu ada beberapa petugas kesehatan dari Departemen Kesehatan Kabupaten Jombang yang sedang mengambil sample. Setelah melakukan wawancara singkat dengan mereka, aku baru mengetahui bahwa mereka bermaksud meneliti air celupan batu ponari dan seberapa besar air tersebut berkhasiat untuk kesehatan.
“Setelah kami teliti berdasarkan sample yang ada, ternyata air tersebut mengandung bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan seseorang dapat terjangkit diare,” ujar dokter Heru yang merupakan ketua rombongan dari Depkes. “Sebenarnya kesembuhan para pasien Ponari itu bukan oleh air tersebut, tetapi hanya sugesti saja.” Dokter Heru mencoba menjelaskannya secara singkat.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada dokter Heru, aku mencoba mencari keterangan dari para pasien dan para tetangga Ponari.
“Ibu tahu kabar tentang Ponari dari siapa?” tanyaku pada seorang wanita paruh baya bernama ibu Karomah yang ternyata datang dari Solo.
“Saya dapet kabar ini dari sodara saya. Sodara saya itu dulu sakit paru-paru, sekarang udah mulai sembuh. Jadi saya juga mau coba ngobatin sakit ginjal saya.”
“Kenapa ibu tidak pergi ke dokter saja? Kenapa lebih percaya kepada Ponari?”
“Wah…Boro-boro mau ke dokter. Mahal! Di sini saya cuma bayar 5.000 saja udah bisa sembuh. Ya, saya jelas lebih memilih ke sinilah. Semenjak kesini sakit saya mulai berkurang.” Wajah Ibu Karomah terlihat sangat yakin ketika menjawab pertanyaanku. Perasaanku begitu sedih mendengar jawaban ibu Karomah.
*
Akhirnya perjalananku ditutup dengan mewawancarai seorang tetangga Ponari. Ternyata semenjak Ponari membuka praktiknya, kehidupan ekonomi dusun tersebut mulai mengalami kemajuan. Masyarakat di sana mulai dapat merasakan hidup yang layak. Karena warung-warung makan yang ada di sekitar tempat tersebut ramai dikunjungi oleh para pasien yang ingin berobat kepada Ponari. Selain itu pemuda-pemuda desa mendapat pekerjaan sebagai tim pengaman untuk praktik Ponari dan mendapatkan bayaran yang layak.
“Bagaimana perasaan Bapak semenjak Ponari membuka praktiknya?” tanyaku penasaran.
“Ya, jelas senang Mas. Sekarang saya dan teman-teman punya pekerjaan, desa ini juga jadi lebih maju. Pokoknya hidupnya jadi lebih enak.” Tetangga Ponari ini menjawab dengan wajah yang bahagia.
“Apa harapan Bapak kedepan terhadap praktik Ponari ini?”
“Saya maunya ya terus, jangan berhenti. Walau banyak ulama bilang ini syirik tapi tetap saja gara-gara Ponari jadinya saya punya pekerjaan. Wong mereka ga bisa kasih saya makan. Cuma bisa komentar saja. Pokoknya Ponari itu pembawa berkah.” Tetangga Ponari terlihat sedikit emosi.
*
“Pemirsa, seperti yang anda lihat di belakang saya. Beginilah suasana di Rumah Ponari setiap harinya. Beribu-ribu orang datang untuk mendapatkan kesembuhan dari Ponari. Walaupun banyak ahli dari berbagai bidang memberikan komentar-komentar positif maupun negatif tentang fenomena Ponari ini, tetapi Ponari telah memberikan sumbangan kehidupan dan harapan kepada beratus-ratus orang. Perekonomian Dusun ini pun mulai mengalami kemajuan. Para Penduduk mulai mendapatkan kehidupan yang layak. Tetapi di satu sisi, ini merupakan sebuah pekerjaan rumah untuk pemerintah tentang betapa menyedihkannya sistem kesehatan dan ekonomi di negara ini. Pemerintah harus mulai menyadari keadaan yang saat ini berkembang di masyarakat kita. Saya Harya Pelita Shidiq, Agus Kuncoro, melaporkan dari Jombang, Jawa Timur.”
*
Mobil mulai bergerak menjauhi Dusun Kedungsari, sembari merebahkan diri ke sandaran kursi, ada perasaan lega dan menyesal menghinggapi pikiranku. Baru kali ini dalam hidupku, aku merasa sangat bersyukur atas pekerjaan yang aku jalani. Ternyata pengalamanku meliput Ponari lebih berharga dari perjalanan-perjalanan liputanku ke luar negeri. Fenomena Ponari telah mengajarkan aku tentang arti kehidupan dan mengenal kehidupan rakyat di tanah airku yang sangat menyedihkan. Mulai detik ini aku berjanji akan menghargai semua pekerjaan yang diberikan padaku dan aku berharap dapat bertemu peristiwa-peristiwa lain seperti fenomena Ponari yang membuat mataku terbuka. Dengan tulus hatiku berkata “Terima Kasih Ponari.”
***

Silvi Fitri Ayu adalah mahasiswa Program Studi Korea FIB UI

Kamis, 05 Maret 2009

Agonia



Cerpen Rieke Saraswati

Ia menggelung syal hitamnya lebih merapat di leher. Tubuhnya hampir bobrok. Punggungnya nanar seperti dilecut berkali-kali oleh cemeti. Ia menarik napas dalam-dalam.

Cericit tikus-tikus berbau busuk di dekat tong sampah mengejutkannya bukan kepalang. Napasnya terputus beberapa detik. Ia pun menggerutu. Tak ada hal apapun yang dapat menghangatkannya, kecuali kembali ke dalam perut Ibu, mendapatkan asupan makanan lezat dari sana dan bersenang-senang dengan kembarannya yang tidak sempat menikmati dunia. “Ofelia mati untuk menyelamatkanku,” itulah yang selalu ia ucapkan ketika ia menziarahi kuburan kembarannya, yang bersebelahan dengan kuburan Ibu, maupun Kakek.

Jalanan makin sepi. Suara-suara di kejauhan membuat bulu kuduknya berdiri setegak tiang saka. Urat-uratnya terasa sangat lunglai. Ia seketika ingat kembali pada mimpi kemarin malam. Ia bermimpi sedang bermain boneka dengan Ofelia di sebuah taman bunga. Boneka itu bukan seperti boneka anak perempuan pada umumnya. Boneka itu berwajah bulat telur dengan banyak noda hitam, yang jika digabungkan akan menjelma tompel yang amat besar menyelimuti sebagian wajah. Terlebih lagi, boneka itu gempal berbulu, hingga kau bisa menjadikannya bola dan ditendang kesana kemari. Bapak memandang mereka dari jauh tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Tak lama kemudian Bapak menghampiri mereka sambil mengernyitkan dahinya yang telah berkerut. Ia tidak segan-segan merebut boneka itu, melemparkannya ke kolam ikan, seraya bernyanyi senang dengan raut wajah menyeramkan, “Boneka anjing! Boneka jelek! Di mana Barbie kalian yang cantik jelita? Barbie oh Barbie yang cantik jelita. Di mana kamu, Sayangku?” Bapak mendadak tidak gagap ketika menyanyi atau mengolok-olok mereka, padahal di depan umum Bapak seringkali gagap. Bapak memang selalu bertingkah makin bodoh semenjak ditinggal istri keduanya. Bapak tidak pernah mencintai Ibu, ia lebih suka mendatangi tiap bar untuk menyewa pelacur-pelacur. Ketika Ibu tiada, ia langsung menikah dengan salah satu pelacur yang sering ditidurinya. Pelacur itu sungguh manis dan lugu. Ia tidak mengerti mengapa perempuan itu mau dinikahi oleh bapaknya yang dekil. Beberapa tahun kemudian, si pelacur gantung diri dengan mata mencelat. Ia masih dapat merekam beberapa kejadian yang selalu membuatnya mual. Kerap si pelacur meringis seperti anak kecil saat mendapati Bapak keluar malam hingga subuh tanpa kabar. Ketika Bapak pulang, si pelacur akan diberikannya banyak uang dari hasil judi, dan mereka akan tertawa-tawa di ruang tamu sembari memakai mariyuana. Si pelacur juga pernah mengeluh akan bagian rahimnya yang sakit terus menerus sepanjang hari. Ketika ia mengantarkan si pelacur ke rumah sakit, ternyata ditemukan alat pembuka botol di dalam rahim. Bapak pernah memasukkan alat itu saat mereka tengah bercinta. Bapak memang orang brengsek yang mengerikan. Dan akhir mimpinya adalah akhir yang menyedihkan. Ofelia pamit dijemput sesosok perempuan yang wajahnya berbintil-bintil rusak penuh koreng. Si perempuan berjanji akan menjaga Ofelia, sebab ia adalah perempuan kesepian yang membutuhkan teman untuk bersenda gurau.

Rintik-rintik hujan datang membasahi kepalanya. Ia merasa kedinginan, kemudian menyesali dirinya yang tidak membawa jaket atau payung. Kepalanya mulai berat, matanya pusing membentuk gambar episentrum dan gigi-geliginya bergemeretuk. Ia menepi sejenak di bawah pohon rindang tak berbunga. Ia butuh rokok. Namun uang di dalam dompetnya telah ludes untuk bersenang-senang. Lagipula warung-warung terdekat sudah tutup. Jam berapa sekarang? Ia tak bisa menerka. Hatinya tertekan bara api yang menyulutnya dalam-dalam. Ia sudah tak bisa berpikir apa-apa. Kosong.

Hujan berhenti. Kedua kakinya terasa berat untuk kembali melangkah menuju rumah. Rumah yang lebih menyesakkan ketimbang jalanan berpolusi. Bunyi klakson terdengar dari ujung yang berbeda dengan tempatnya saat ini. Ia merasa agak tenang dengan bunyi-bunyian apapun dan dari manapun. Ia tidak pernah takut kegelapan, tetapi ia takut kesunyian di malam hari; menerkam mengutuk menghisap.

Bisa ia rasakan kerinduannya akan lagu-lagu Sinatra yang sering dinyanyikan Bapak. Suara berat Bapak kadang menyesakkan dada kadang menghangatkan dada. Ketika ia mendengar nyanyian Bapak yang muncul dari lubang-lubang di atas pintu kamar mandi, ia takkan bisa mengerjakan apa-apa, selain mendengarkan dengan khusyuk, kemudian tertidur lelap. Tetapi ia pernah mendengar suara Bapak diselingi isak tangis si pelacur. Ia keluar kamar, masuk kamar si pelacur, lalu menenangkan si pelacur jika gonorrhea yang ia derita pasti akan sembuh. Si pelacur menggelengkan kepala dengan pasti. Baginya kesembuhan hanyalah mimpi belaka yang terkubur dalam tanah.

“Kau takkan pernah tahu bagaimana rasanya terbakar di saat buang air kecil. Perih sekali. Dan bapakmu hanya bisa menyanyi,” keluh si pelacur dengan nada marah yang tertahan. Air mata beningnya terurai pelan. Si pelacur makin cantik saat ia menangis.

Ia bingung harus berkata apa, lalu semenit kemudian ia memutuskan untuk memberikan si pelacur jalan keluar terbaik. “Mengapa kau tak menggantungkan dirimu saja dengan seutas tali untuk bertemu Tuhan?”

“Aku tak mengenal Tuhan. Aku hanya mengenal bapakmu.”

“Setidaknya dengan mati, kau akan bebas.”

“Mengapa kau berpikir begitu?”

Ia mengangkat bahu, bangkit menuju kamar tidurnya dan meninggalkan si pelacur sendirian. Bapak masih menyanyi merdu. Si pelacur masih menangis sesenggukan. Ia meraih boneka beruang berbaju anak sekolah, memeluknya erat dan mendendangkannya lagu Lela Ledung yang biasa dinyanyikan Ibu untuknya di malam hari sebelum tidur. Ibu adalah sosok perempuan yang selalu membuatnya tak pernah kesepian. Ia bisa merasakan ciuman Ibu kala tangan Bapak menampar kedua pipinya. Ia bisa merasakan pelukan Ibu kala ia menggubris makian Bapak yang tak putus-putus. Dan ia bisa merasakan kehadiran Ibu sekaligus Ofelia dalam mimpi-mimpi indah.

Suatu hari, Bapak pernah memaksanya keluar kamar untuk melayani seorang lelaki tua berumur hampir enam puluhan di ruang tamu. Ia memberontak, tetapi fisik Bapak jauh lebih kuat. Bapak merampas boneka beruang dari tangannya dengan kasar, lalu melempar boneka beruang ke dinding hingga kapas-kapas putih di dalamnya keluar. Ia ketakutan setengah mati dan akhirnya menyerah. Di ruang tamu, si lelaki tua langsung melucuti pakaiannya. Tak ada waktu untuk gemetaran. Pakaiannya sudah terlepas nyalang tanpa sempat ia kabur, karena ia tahu kalau Bapak mengintip mereka melalui lubang pintu kamar. Ia pikir si lelaki tua akan menjilat tubuhnya dengan liur yang kehausan, lalu memasukkan alat pembuka botol seperti yang dilakukan Bapak pada si pelacur. Ternyata si lelaki tua hanya memagut bibir merahnya, kemudian membacakan dongeng Putri Rapunzel dengan suara lembut. Tak ada air mata yang menetes. Ia merasa bahagia. Ia jatuh cinta pada si lelaki tua. Sebelum si lelaki tua pulang, ia diberikannya beberapa receh uang yang terdengar bergemerincing seperti harta karun. Ia kecewa. Ia ingin sesuatu yang bukan materi. Ia ingin dicium kembali.

Ujung genting rumahnya sudah hampir terlihat. Burung-burung gagak menapakkan kaki-kaki kurusnya di sana sambil menggemakan suara-suara serak. Jantungnya berdegup tak normal. Apakah yang hendak ia lakukan di rumah setelah perjalanan panjang ini? Ia bertanya berkali-kali pada dirinya sendiri, hingga terhuyung hampir jatuh. Sepatunya masuk ke dalam genangan lebar penuh air bekas hujan. Ia makin basah kuyup. Sialan! rutuknya kesal. Ia merogoh sakunya, mengambil sapu tangan milik si pelacur. Sapu tangan yang ia curi dari lemari si pelacur karena ia sangat menyukai sapu tangan berbordir kupu-kupu merah muda itu. Tetapi Bapak malah memberikannya untuk si pelacur sebagai hadiah ulang tahun. Ia menghembuskan napas, mengelap titik-titik air kecil di wajahnya dengan gusar dan mulutnya tak henti mengeluarkan kata-kata kotor.

Tas ranselnya semakin lama semakin berat. Ia ingin cepat-cepat menaruhnya di kamar, lalu enyah ke kota Praha, tinggal di salah satu gereja gotik seperti pemulung susah tanpa harus kembali ke rumah. Ia selalu berkeinginan untuk menetap di salah satu negara Eropa, merencanakan untuk memiliki anak jenius bermata hijau lewat bank sperma dan hidup bahagia tanpa seorang suami. Pikirannya begitu nyeri bagaikan ditusuk-tusuk pisau saat ia menyadari bahwa khayalan-khayalan itu cuma sesuatu yang berlebihan.

Sebelum Bapak terkena penyakit jantung, ia pernah mencoba untuk kabur. Betapa tak beruntungnya ia, karena Bapak memergokinya memanjati pintu pagar. Ia mengira Bapak sudah tidur pulas. Bapak menghampirinya dengan hanya memakai sarung, menjambak rambutnya, menyeretnya untuk kembali ke dalam kamar sambil berteriak lantang, “Besok kamu sekolah anak tengik! Tidur sana!”

Keesokan hari, Bapak malah membelikannya banyak permen warna-warni yang kenyal. Di dalam permen-permen itu ada gula coklat yang membuatnya sakit gigi di kemudian hari. Ia tak tahu mengapa Bapak berubah menjadi baik hati. Si pelacur berkata padanya jika Bapak takut kehilangan anak perempuan satu-satunya, oleh karena itu Bapak berusaha menyenangkan hatinya supaya ia tak kabur lagi. Anehnya, ia tidak senang, sebab ia pernah sakit hati mendengar ucapan Bapak ketika Bapak sedang mabuk. Bapak bergumam jika memiliki anak perempuan tak lebih untuk mendapatkan banyak uang. Ucapan itu benar-benar dibuktikan oleh Bapak. Ia kerap dirapati oleh banyak lelaki di malam hari yang tak pernah ia hapal wajah-wajahnya. Kebanyakan dari mereka hadir dengan senyum serigala yang menakutkan, serta parang panjang yang berkilat pekat. Dan di pagi hari ia selalu menemukan dirinya sudah terbungkus selimut katun dengan tidak ada siapa-siapa di sampingnya.

Ia menundukkan kepala, memperhatikan langkah-langkah kakinya dan tertawa kecil penuh kemirisan. Percakapan musim kemarau di bulan lalu adalah percakapan terakhirnya dengan Bapak. Ia sudah semakin jarang bertemu dengan Bapak, meski mereka berada di satu atap. Ketika ia pergi sekolah, Bapak masih tidur mengorok ditemani pigura si pelacur. Ketika ia pulang sekolah, Bapak belum beranjak dari tempat judi. Kendati demikian, Bapak kadang menyiapkan sarapan pagi kesukaannya tanpa diminta; jus jeruk, nasi goreng hitam manis yang dimasak dengan kecap seperempat botol dan telur setengah matang dicampur garam.

Bapak mengira jika ia sudah bahagia dengan sarapan pagi buatannya. Padahal ia lebih membutuhkan Ibu yang tak akan pernah tega menawarkan tubuhnya pada lelaki-lelaki asing. Ia lebih membutuhkan Ofelia yang bisa membuatnya nyaman hanya dengan bermain petak umpet di pekarangan rumah. Ia lebih membutuhkan si lelaki tua yang senang membacakan dongeng-dongeng yang selalu membuat dirinya serasa terbang ke negeri ajaib Alice. Ia yakin jika Bapak tak pernah tahu bahwa ia sering mengecap sarapan pagi dengan air mata, hingga jus jeruk yang ia minum terasa makin asam.

Keringatnya menetes perlahan dari pelipis. Ia melihat seekor ular di dekat selokan gelap. Ular sepanjang dua meter itu bersisik emas dengan bintik-bintik hitam di sekujur kulit lincirnya. Tengkuk lehernya menggeriap. Ia membayangkan ular itu berubah menjadi seorang lelaki yang siap menggerogoti setiap jengkal tubuhnya. Lelaki itu mendesis-desis dengan lidah kecil menjulur yang bergoyang-goyang bagaikan siap mencatuknya. Tubuh lengket lelaki memalunnya seolah tak membiarkannya melarikan diri. Kepala besar lelaki lalu mendekati selangkangannya dengan gerak pelan yang makin lama makin gesit. Lelaki itu akan membuatnya kehabisan darah tanpa sempat terselamatkan. Lebih baik begitu, bukan? Aku bisa segera bertemu bertemu Ibu dan Ofelia, pikirnya sinis.

Lehernya tercekat seperti kekurangan oksigen. Imajinasi yang ada di dalam kepalanya benar-benar seperti kenyataan. Ular itu seakan memang telah mencekiknya dengan kejam. Air matanya sudah tak tertahan lagi. Ia melewati jalan-jalan beraspal bolong-bolong dengan cepat hampir berlari. Ia tak ingin mengingat Bapak kembali. Kedua mata suramnya menatap sisi kirinya dengan hati tak karuan. Rumah kayunya yang kecil tegap berdiri. Lampu-lampu tak dinyalakan seolah ini adalah malam Halloween di mana lampu-lampu sengaja dipadamkan. Alang-alang jangkung di depan halaman membuat rumah itu terlihat seperti tempat tinggal hantu. Ia berhenti sejenak. Menutup kedua matanya. Apakah ia harus lari atau menetap di rumah itu? Menghabiskan masa tuanya sendirian bersama bayangan-bayangan masa lalu?

Ia melangkahkan kaki-kakinya kembali dengan langkah yang lebih pasti. Pintu pagar berderit keras saat ia membukanya dengan tangan bergetar. Ia buru-buru mengambil kunci di dalam saku celananya, memutar gagang pintu dapur yang terhubung dengan kamar tidurnya. Tiba-tiba bau jahe manis menyergap hidungnya. Ibu ada di dekatku. Langkah-langkah kakinya sudah sangat lemas ketika ia memasuki kamar tidurnya yang lembab. Ia segera melempar tas ranselnya di atas lantai, membuka resleting dan mengambil sebilah pisau berlengkung tajam berbercak merah dari dalam tas.

“Bapak, maafkan aku yang telah memenggal kepalamu.”

Setelah membakar pisau yang ia pakai untuk membunuh Bapak diam-diam di tempat pelacuran itu pada perapian hangat, ia menghilang di balik kelengangan malam. Ia mungkin akan ke kota Praha, tinggal di salah satu gereja gotik seperti pemulung susah tanpa harus kembali ke rumah.
***

Rieke Saraswati adalah mahasiswa Program Studi Rusia FIB UI.